Sabtu, 01 Maret 2014

Between Love And Speed 2

Oh my God, he's Valentino Rossi my man, my hero. Astaga, aku tak menyangka bahwa pada akhirnya aku bisa melihat Vale dari jarak yang sedekat ini. Dan aku terus berdiri memandangi idolaku tanpa berkedip sedikitpun. Takut bahwa semua ini hanya mimpi dan fatamorgana semata. Indisa-chan your dream come true, finally.

"Nona, kau baik-baik saja kan?" Tanya Vale dengan kening yang berkerut.

Aku tersentak ketika ia bertanya kepadaku. Bisa kalian bayangkan bagaimana bahagianya aku? Tak bisa ku ungkapkan, bahkan ketika Valentino Rossi menanyakan kabarku, hatiku langsung bersorak bahagia dan menari-nari. "Ah, ak-ak-aku b-b-baik-baik saja." Jawabku tergugu. Tiba-tiba aku ingat bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan yang langka ini, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. "Bisakah aku berfoto denganmu?" Pintaku dengan suara yang bergetar karena gugup.

"Tentu saja." Jawab Vale singkat sambil tersenyum ramah. Astaga, he's smiling to me. Kemudian aku segera mengeluarkan ponsel dan kamera digital milikku yang berada di dalam tas. Setelah sesi foto-foto selesai aku langsung meminta Vale untuk menandatangani semua pernak pernik kesayanganku yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Karena entah mengapa aku selalu yakin bahwa suatu hari nanti aku akan bertatap muka lansung dengan idolaku, Valentino Rossi. And finally the day has come.

Akhirnya aku berhasil melengkapi semua koleksiku. Rasanya tak sabar sekali untuk memberitahukan semua ini kepada Naima. Dengan wajah yang berseri aku melangkah keluar dari paddock Valentino Rossi. Baru beberapa langkah aku langsung berhenti karena teringat sesuatu.

"Astaga, aku lupa bertanya di mana letak paddock team Repsol Honda. Bagaimana ini, aku tidak mungkin masuk lagi ke dalam dan meminta bantuan Vale. Mau di taruh di mana wajahku ini." Gerutu kesal sambil mengehentak-hentakan kakiku dan menepuk keningku.

"Indisa-chan..." Aku langsung memutar tubuhku ke arah sumber suara yang memanggilku.

"Huah, Naima..." aku berlari ke arahnya, "Tega sekali kau meninggalkanku di parkiran. Kau tahu aku tersesat di sini." Cecarku dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Maafkan aku Indisa-chan." Naima meminta maaf sambil tersenyum meringis.

"Jadi dia yang akan menjadi mekanik baru di team-ku, Kak? Apa tidak salah?" Celetuk seorang pria yang tiba-tiba. Dan menurut tebakkanku pria ini pasti adiknya Naima.

"Benar Marc, ini Indisa-chan sahabatku yang akan menjadi team mekanikmu." Jelas Naima sambil memperkenalkan kami berdua.

Marc hanya memandangiku dari atas sampai bawah sambil mengernyitkan keningnya. Dan itu sangat menyebalkan sekali, sepertinya Marc meremehkan kemampuanku sebagai seorang mekanik.

"Apa kakak yakin dia tahu tentang mesin motor dan bagian-bagiannya? Yang nanti dia malah menghancurkan motor balapku." Celetuk Marc dengan tatapan meremehkan kepadaku.

"Marc, kau belum tahu dan melihat sendiri kemampuam Indisa-chan seperti apa. Ia sangat menguasai bidangnya, percayakan saja semuanya kepada Indisa-chan." Jelas Naima panjang lebar.

"Kita lihat saja nanti, awas saja kalau kau tidak seperti yang di katakan oleh kakakku. Ah, sebaiknya aku kembali ke ke paddock. Hari ini sangat melelahkan." Ujar Marc sambil melenggang pergi meninggalkan aku dan Naima.

"Dia itu benar-benar adikmu?" Tanyaku sambil menyipitkan kedua mataku memandangi punggung Marc yang semakin lama semakin menjauh.

"Tentu saja dia adikku, memangnya kenapa?" Tanya Naima.

"Kalian tidak mirip, kau tahu adikmu itu sangat menyebalkan sekali. Meremehkan kemampuanku, padahal dia belum tahu dan melihatnya sama sekali." Tuturku masih dengan perasaan yang kesal.

Naima hanya tertawa mendengar penuturanku, "Kau ini ada-ada saja, adikku sebenarnya sangat ramah, Indisa-chan. Kau hanya belum mengenalnya saja." Jelas Naima meyakinkanku sambil menepuk pelan bahuku. "Ayo kita ke paddock saja." Ajaknya kemudian.

"Naima kau tahu tidak tadi aku bertemu siapa?" Ucapku ketika kami sedang berjalan menuju ke paddock milik Marc.

"Siapa?" Tanyanya sambil menghenyitkan keningnya.

"Aku bertemu dengan Valentino Rossi. Ah, the best day of my life. Tadi aku salah masuk, yang aku masuki malah paddock Vale. Astaga, aku benar-benar malu sekali." Tuturku sambil menutupi wajahku yang memanas selama menceritakan detailnya kepada Naima.

"Wajahmu memerah Indisa-chan." Naima terus saja menggodaku dan ia baru berhenti ketika kami sudah sampai di paddock Marc.

"Astaga, lama sekali kalian sampainya. Apa yang kalian lakukan, huh?" Tegur Marc sambil bersungut-sungut kesal.

"Ada apa denganmu, Marc? Mengapa kau cepat sekali emosi hari ini?" Cecar Naima sambil melipat kedua tangannya.

"Aku hanya lelah ingin segera kembali ke hotel dan beristirahat. Kakak juga hari ini banyak sekali bicara, tidak seperti biasanya." Timpal Marc.

"Ah, sudah-sudah jangan bertengkar. Sebaiknya kita pergi dari sini saja. Makan kemudian beristirahat, besok aku harus sudah ada di sini pagi-pagi sekali." Aku menengahi kedua kakak beradik yang mulai bertengkar ini.

Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pergi meninggalkan sirkuit Laguna Seca. Kami menuju ke hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sirkuit. Selama perjalanan menuju ke hotel aku dan Marc masih saja terlibat dalam perdebatan-perdebatan yang menurutku tidak penting. Sedangkan Naima tenggelam dalam dunianya sendiri, tanpa terganggu oleh keributanku dan Marc di sepanjang perjalanan.

"Hey Indisa-chan kau sudah lama bersahabat dengan kakakku?" Tanya Marc sambil berbisik.

"Tentu saja, kami sudah lama sekali bersahabat. Tepatnya sejak pertama kali Naima datang ke Amerika. Ada apa memangnya?" Tanyaku bingung.

"Apakah sekarang kakakku sedang memiliki kekasih atau dekat dengan seorang pria?" Tanya Marc tanpa bisa menutupi rasa penasarannya.

"Tidak ada Marc, Naima tidak memiliki kekasih ataupun dekat dengan pria manapun. Terkadang aku heran, apa lagi yang di inginkan olehnya, padahal pria yang mendekatinya banyak, Marc." Tuturku sambil menghela nafas. Terkadang aku bingung dengan Naima yang bersikap begitu dingin kepada pria-pria yang mendekatinya.

"Rupanya kakakku masih belum bisa move on. Padahal sudah enam tahun lewat." Celetuk Marc dengan suara yang berubah menjadi sedih.

"Memangnya ada apa?" Tanyaku penasaran dengan kening yang berkerut.

"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan. Kita sudah sampai. Kak, ayo kita turun jangan melamun saja." Tegur Marc sambil menepuk bahu Naima dan membuatnya tersentak kaget.

"Ah maaf, aku tidak sadar bahwa kita sudah sampai." Timpal Naima.

Kami pun turun dari mobil dan masuk ke dalam hotel untuk beristirahat. Hari yang sangat melelahkan namun sangat membahagiakan bagiku.

***

"Kak, kau mau ikut keluar bersamaku, Indisa-chan dan yang lain tidak?" Tanya Marc dari balik pintu balkon hotel.

"Tidak Marc, aku mau di kamar saja. Sampaikan maafku pada Indisa-chan." Timpalku sambil memutar tubuhku menghadap Marc.

"Kakak baik-baik saja, kan?" Tanya Marc khawatir.

"Aku baik-baik saja Marc, sungguh. Bersenang-senanglah." Jawabku meyakinkan.

"Mau aku bawakan sesuatu?" Tanyanya lagi.

"Bawakan aku pizza dan segelas besar smoothies coklat." Jawabku santai.

"Ah, baiklah kalau begitu aku pergi. Kak, jangan diam di kamar terus menerus. Turunlah untuk berjalan-jalan." Tuturnya penuh simpati.

"Jika aku bosan aku akan pergi keluar, Marc. Tak perlu mengkhawatirkanku seperti itu." Timpalku sambil tertawa kecil. Marc berbalik dan hendak pergi namun aku memanggilnya, "Marc, terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ucapku tulus.

"Kau kakakku, sudah sewajarnya jika aku khawatir kepadamu, Kak. Kalau begitu aku pergi." Pamitnya dan menghilang dari hadapanku.

Sepeninggalan Marc aku kembali memutar tubuhku ke posisi semula dan memandangi suasana kota di malam hari. Kerlap kerlip lampu yang berasal dari gedung-gedung di sekitar terlihat sangat indah. Ah, tapi aku mulai bosan. Sebaiknya aku pergi berjalan-jalan saja.

Setelah bersiap-siap aku langsung pergi meninggalkan kamar hotel. Aku mulai berjalan menyusuri trotoar, berharap menemukan sesuatu yang menarik minatku. Seperti kota-kota lain yang berada di negeri ini, keramaian mulai tercipta ketika malam menjelang. Aku terus menyusuri jalan sambil mengedarkan pandanganku ke sekitar.

Kakiku berhenti di sebuah taman kota yang terletak beberapa blok dari hotel tempatku menginap. Sambil bersenandung aku melangkahkan kakiku memasuki kawasan taman tersebut. Aku langsung memilih untuk duduk di sebuah kursi yang berada di dekat lampu taman dan mulai menikmati suasana taman itu.

Taman ini tak sesepi perkiraanku sebelumnya. Banyak orang yang menghabiskan sisa malam mereka di taman ini. Kebanyakan pria dan wanita yang berpasangan di sini, membuatku sedikit risih dan tidak nyaman. Namun terlepas dari itu semua aku tetap berusaha tak peduli dengan suasana di sekitarku.

***

Malam ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang ada di sekitar hotel. Keramaian taman di malam hari cukup membuatku tidak merasa suntuk. Meskipun sebenarnya aku cukup risih melihat tingkah polah beberapa pasangan yang mengumbar kemesraan mereka.

Tapi aku mencoba untuk tidak terganggu dengan tingkah mereka. Karena aku kemari bukan untuk melihat pasangan-pasangan itu bermesraan. Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang cukup familiar di mataku, meskipun kami baru bertemu hari ini untuk yang pertama kalinya.

Meskipun pertemuan kami tidak berkesan, namun entah mengapa wajahnya selalu membayangiku. Entah mengapa ada sesuatu di dalam diri wanita itu yang membuatku tertarik dan merasa penasaran. Aku mengakui bahwa wanita itu memiliki pesona yang luar biasa. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku jatuh terperosok ke dalam pesonanya. Yang namanya wanita itu penuh tipu daya.

Namun tiba-tiba aku melihat segerombolan pria yang menghampiri wanita cerewet itu. Tentu saja wanita itu langsung berdiri, tubuhnya bergetar karena ketakutan, karena salah satu dari pria itu ada yg mencekal kedua tangannya. Aku langsung berlari menghampiri tempat wanita itu dan langsung mendaratkan pukulanku kepada pria yang mulai mendekatinya.

Baku hantam sempat terjadi, aku hampir kewalahan karena harus menghadapi empat orang sekaligus seorang diri. Untung saja ada beberapa pengunjung yang ikut membantuku mengusur para pria itu. Akhirnya gerombolan pria itu pergi.

"Kau tidak apa-apa?" Tanyaku, namun wanitu itu hanya menganggukkan kepalanya sambil menundukkan kepala. Ketakutan masih terpancar jelas di wajah cantiknya yang kini seputih kertas.

"Terima kasih sudah menolongku." Ucapnya sambil mendongkakkan wajahnya menatapku, "Kau..." pekiknya terkejut. Mungkin ia tak menyangka bahwa akulah yang telah menyelamatkannya.

"Kenapa? Kecewa karena aku yang telah menolongmu?" Celetukku sambil membalikkan tubuhku bergegas untuk pergi meninggalkan wanita itu. Namun tiba-tiba aku merasakan sebuah cengkraman di lengan kananku, "Ada apa lagi?" Tanyaku malas.

"Aku... Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Dan, biarkan aku mengobati luka-lukamu." Tuturnya sambil melepaskan cengkramannya di tanganku dengan gugup. Seketika aku merasakan aliran listrik di tubuhku ketika tangannya yang halus dan lembut menyentuh tanganku.

"Baiklah." Jawabku singkat.

Kemudian wanita itu mengeluarkan sebuah kotak P3K berukuran kecil dari dalam tasnya dan mulai membersihkan luka-luka di sudut bibirku sebelum memberikan obat di atas lukaku itu. Jari-jarinya yang lentik itu terkadang tanpa sengaja menyentuh wajahku. Membuat tubuhku menegang dan di aliri oleh gelenyar-gelenyar aneh yang membuat hatiku menghangat. Sepertinya wanita ini tidak menyadari bahasa tubuh yang kutunjukkan karena terlaku fokus mengobati luka-luka di wajahku.

Dalam jarak yang sangat dekat seperti ini alu bisa lebih jelas memperhatikan wajahnya. Bibirnya yang merah merekah, hidungnya yang mancung serta sepasang bola matanya yang berwarna biru es, sangat indah namun begitu penuh misteri, bahkan matanya ini sanggup membuat lawan bicaranya menjadi tersesat di dalam sana. Astaga, apa yang sedang kau pikirkan Dani, rutukku dalam hati.

"Sudah selasai." ucapnya bersamaan dengan gerakan tangannya yang baru saja menempelkan sebuah plester di sudut bibirku yang terluka.

Namun aku tak langsung menjawabnya. Seperti yang aku katakan sebelumnya, ia memiliki sepasang mata yang mampu menyesatkan. Karena yang aku lakukan saat ini adalah memandangi kedua manik matany.

Hingga akhirnya aku melakukan gerakan tiba-tiba dan mengecup bibir merahnya itu. Kedua matanya membulat sempurna karena terkejut. Tapi aku tidak berniat untuk segera menarik bibirku dari bibirnya yang ternyata terasa begitu lembut, hangat dan manis.

3 komentar:

  1. Weeeh...lsg nyosor aja ckckck

    Marquez mana Marquez....
    Kknya noh disosor soang..eh Dani...

    #cipokbadaitsunamihalilintarcetarmembahanaMarquez
    :******************

    BalasHapus
    Balasan
    1. Etdah main cipok cipok marquez aje dah ini...
      Ckkkk..

      Gpp lah di sosor juga pan di tempat gelap ini gak ada yg liat. Toh Marquez lagi pergi sama indisa-chan sama yg lain juga :P

      Hapus
    2. Marquez is mine...
      #usiryglain
      #melipirbarengMarquez

      ^3^

      Hapus