Setelah pertemuan itu aku mulai menjalankan satu persatu rencana balas dendam yang telah sekian lama aku rencanakan. Melacak semua aset-aset yang dimiliki oleh wanita itu. Yang wanita itu ambil lebih tepatnya, karena wanita itu telah mengambil semua kekayaan milik keluargaku.
Wanita itu ternyata memiliki saham di beberapa perusahaan yang bonafid. Itu mempermudahku untuk mengambil alih semua saham milik wanita itu. Atau aku akan membuat perusahan-perusahaan yang menjadi tempat wanita itu menyimpan sahamnya mengalami kerugian dan gulung tikar.
"Bagaimana, Andy?" Tanyaku kepada salah satu kaki tanganku.
"..."
"Ambil alih semua sahamnya. Ya, aku mengerti tapi jika mereka tetap menunjukkan sikap yang sulit lakukan saja akuisisi saham-saham yang di tanam di perusahaan mereka."
"..."
"Baiklah, aku serahkan semuanya kepadamu." Aku mengakhiri pembicaraanku dengan Andy. Sebentar lagi aku akan kembali mendapatkan seluruh aset-aset milik keluargaku.
Namun kini yang tengah menjadi fokus utamaku adalah mencari anak dari wanita itu. Menurut informasi yang di berikan oleh salah satu kaki tanganku, wanita itu memiliki seorang anak yang kini tinggal dan bersekolah di luar negeri. Namun masalahnya adalah jenis kelamin, nama dan keberadaannya tidak bisa ditemukan.
Sepertinya wanita itu telah menghilangkan semua data-data yang berhubungan dengan anaknya. Mungkin anaknya itu kini sedang hidup bebas dengan identitas barunya. Hal itu benar-benar membuatku kesal. Apapun yang terjadi aku harus menemukannya. Siang itu aku kembali mendatangi rumah wanita iblis itu.
Ingin rasanya aku mencekik leher wanita iblis yang ada di hadapanku ini. Namun yang kulakukan adalah langsung menendang sebuah vas bunga yang ada di atas meja. Amarahku selalu memuncak ketika berhadapan atau berurusan dengan wanita iblis itu.
"Ternyata kau masih saja tak bergeming. Padahal seluruh kekayaanmu sudah aku ambil alih." Desisku dengan mata yang berkilat marah, "Akan aku pastikan mulai detik ini kau takkan pernah bisa lagi tersenyum atau mungkin kau akan menutup mata selamanya, Claudia." Ancaman pun kembali terlontar dari bibirku.
"Bunuh saja aku sekarang, agar kau merasa puas." Pekik Claudia menahan amarahnya.
"Tidak semudah itu jalang. Aku tidak sudi mengotori kedua tanganku dengan darahmu yang kotor dan menjijikan itu." Cibirku sambil memberikan tatapan membunuhnya.
"Kau pengecut. Jika kau tak berani membunuhku mengapa kau harus jauh-jauh datang kemari?" Teriak Claudia tak kalah sengit.
"Katakan, di mana kau menyembunyikan anakmu? Karena aku akan membunuhmu dengan cara menyiksa anak kesayanganmu." Timpalku dingin, dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
"Tidak. Aku tidak akan mengatakan di mana keberadaan anakku. Karena aku lebih memilih mati daripada harus menyerahkan anakku kepadamu." Lagi-lagi Claudia memekik.
"Permintaan dikabulkan." Aku menjentikkan jariku, tak lama kemudian beberapa orang yang berpakaian hitam dan bertubuh kekar masuk ke dalam. Raut wajah orang-orang yang baru saja masuk itu terlihat datar, sangat datar bahkan. Mereka seperti tidak memiliki emosi.
"Bereskan dengan rapi, karena aku tak menerima kata gagal." Perintahku dengan suara sedingin es. Setelah itu aku melenggang keluar dari rumah wanita itu.
"Kau akan menyesal. Aku bersumpah suati hari nanti kau akan menyesalinya." Teriakan wanita itu terdengar ketika aku sedang berjalan menuju ke arah pintu keluar. Aku tidak peduli dengan teriakannya, karena itu takkan pernah mengubah niat awalku. Balas dendam.
Benar-benar wanita yang menyulitkan. Semua wanita benar-benar merepotkan. Mereka tak lebih hanya sebagai alat pelampiasan dan pemuas nafsu saja. Karena pada dasarnya aku membenci makhluk yang bernama wanita. Ibu kandungku dan ibu angkatku tentu saja tidak termasuk ke dalam wanita-wanita menyebalkan itu.
Dari sana aku memutuskan untuk pergi menuju ke sebuah restoran yang sudah sering aku datangi. Mereka selalu tahu apa yang aku inginkan dan menyiapkannya dengan begitu baik. Terkadang aku selalu berpikir sampai kapan aku akan menghabiskan waktu luangku di tempat seperti ini. Hanya sekedar informasi restoran ini memiliki sebuah club tersembunyi yang bisa kau datangi kapanpun atau jam berapapun.
Mom sudah sering kali mendesakku untuk segera menikah. Entah sudah berapa banyak wanita yang Mom kenalkan kepadaku. Namun tak ada satupun yang menarik perhatian dan minatku sedikitpun.
Alasannya hanya satu, aku membenci wanita, aku benci berkomitmen. Saat di perjalanan ponsel berdering.
"Bagaimana?"
"..."
"Bagus, hilangkan jejak kalian dan buat semuanya seperti kecelakaan."
"..."
"Buatlah seperti biasanya, kau mengerti?"
"..."
"Musnahkan juga semua benda yang kira-kira akan menyulitkan kita di lain hari."
"..."
"Atau kalian bakar saja rumah itu." Desisku dengan suara datar.
"..."
"Sempurna. Kalian memang tak pernah mengecewakanku." Setelahnya aku langsung memutus sambungan teleponnya.
Senyum kemenangan tersungging jelas dibibirku. Dendammu sudah terbalas Maa, kau bisa beristirahat dengan tenang di sana, bisikku dalam hati. Wanita iblis itu sudah mati, mati, aku tertawa penuh kepuasan di dalam hati. Meskipun aku tak memungkiri ada hal yang masih mengganjal di hatiku. Anak dari wanita iblis itu masih belum aku ketahui.
Di tengah perjalanan aku mengubah pikiranku, rasa-rasanya hari ini aku malas menghabiskan waktuku di club yang dipenuhi oleh para penjilat. Aku memerintahkan supir pribadiku untuk mengubah arah ke pemakaman saja.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengunjungi makam kedua orang tuaku. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya aku sampai di sana. Tak lupa aku membawa dua buah karangan bunga lily yang aku beli di tengah perjalanan tadi. Maa pasti senang sekali aku bawakan bunga kesukaannya.
Dan disinilah aku, berdiri di depan pusara kedua orang tuaku. Orang-orang yang dulu sangat menyayangiku, melimpahiku dengan cinta dan kasih sayang yang tak berbatas. Hingga akhirnya semua itu tak lagi kurasa sejak Paa berselingkuh dengan wanita iblis itu.
Kedua orang tuaku mengacuhkanku. Tak ada lagi perhatian yang ditujukan untukku. Bahkan Maa pun seolah tak pernah menganggap ada keberadaanku. Paa dan Maa hanya bertengkar setiap hari, saling melempar dan menghancurkan benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Dendammu sudah terbalaskan, Maa. Jadi beristirahatlah dengan tenang di sana. Orang yang menghancurkan kebahagiaan keluarga kita sudah mendapatkan balasannya." Gumamku di depan pusara Maa, sambil membersihkan pusaranya dari debu-debu yang menempel.
"Paa, aku sudah berhasil mendapatkan kembali aset-aset milik kita. Jadi kau juga bisa tenang disana." Ucapku sambil memandangi pusara Paa. Kemudian aku meletakkan kedua karangan bunga lily di atas pusara kedua orang tuaku. "Maa, Paa aku pulang. Aku pasti akan mengunjungi kalian lagi." Pamitku kemudian berjalan keluar dari area pemakaman.
Hari sudah berubah senja ketika aku meninggalkan area pemakaman. Ingin sekali rasanya aku pergi merayakan kematian wanita iblis itu. Namun aku mengurungkan niatku untuk pergi mendatangi salah satu club ternama di kota ini. Sebaiknya aku pulang saja ke mansionku dan beristirahat. Kejadian yang terjadi hari ini cukup membuatku merasa lelah, tapi semua ini sebanding dengan apa yang aku harapkan.
***
Seminggu setelah kejadian itu seharusnya aku merasa lega. Karena Claudia si wanita iblis itu telah berhasil aku singkirkan. Namun entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku. Bahkan kegelisahan itu semakin menjadi ketika malam tiba. Membuat tidurku tidak tenang.
Aku merasa masih ada beban yang menghimpit dadaku, meskipun beban yang kurasakan kini tak seberat sebelumnya. Shit. Aku tak bisa seperti ini. Gelisah terus menerus, tidak merasa tenang. Secepatnya aku harus menemukan anak wanita itu. Harus. Ketika sedang termenung di meja kerja, tiba-tiba ada seseorang yang menerobos masuk ke ruanganku tanpa permisi.
"Apa yang sedang kau lakukan, Max? Melamun?" Tanyanya sambil duduk di kursi yang tepat berada di depanku.
"Bukan urusanmu, Alan. Apa yang kau inginkan?" Aku balik bertanya.
"Bersantailah sedikit, Max." Jawab Alan dengan santai. "Bagaimana? Apakah semua rencanamu itu berjalan dengan lancar?" Tanyanya sambil menatapku dengan penuh minat.
Ya, Alan memang mengetahui semua rencana balas dendamku. Ia juga tahu alasanku ingin melakukan pembalasan. Selama ini Alan-lah yang selalu mengingatkanku jika aku mulai lepas kendali. Hubunganku dan Alan adalah sahabat dan saudara, karena ia adalah anak semata wayang Mom dan Dad.
Aku sangat bersyukur karena Alan menerimaku dengan tangan terbuka ketika Mom dan Dad membawaku ke rumah mereka. Alan mengajarkanku banyak hal, ia adalah sosok kakak yang tak pernah aku miliki selama ini.
"Semuanya berjalan sesuai rencana, hanya saja..." aku menggantung kata-kataku, "... hanya saja entah mengapa aku masih merasa gelisah." Lanjutku di akhiri oleh hembusan nafasku yang frustasi.
"Gelisah, eh?" Tanya Alan sambil menaikan sebelah alisnya.
"Aku juga tidak tahu dan tidak begitu mengerti, Alan. Setiap malam kegelisahan itu semakin menjadi, rasanya masih ada beban yang menghimpit dadaku." Jelasku sambil mengerang frustasi.
"Hmmm, apa kau masih belum menemukan anak dari wanita itu?" Tanya Alan sambil menggosok-gosok dagunya. Aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
"Saranku, sebaiknya kau melupakan niatmu untuk membalas dendam kepada anak wanita itu. Bukankah yang bersalah itu ibunya? Jadi biarkan saja anak itu menjalani kehidupannya." Jelas Alan sambil beranjak dari kursi, "Pikirkanlah perkataanku baik-baik, dik." Lanjutnya sambil menepuk bahuku, kemudian ia berbalik bergegas meninggalkan ruanganku.
Namun saat langakahnya baru mencapai pintu Alan memutar tubuhnya menghadapku, "Ah, aku sampai lupa dengan tujuan awalku kemari. Sekretaris barumu akan mulai bekerja mulai besok." Setelah mengucapkan itu Alan langsung keluar dari ruanganku.
Sepeninggalan Alan aku kembali tenggelam dalam pikiranku. Kata-kata Alan terus menerus berputar di dalam kepalaku. Jujur saja perkataannya tadi cukup menohokku. Haruskah aku mengikuti dan menjalankan apa yang telah Alan katakan? Atau aku tetap dengan pendirianku, membuat anak dari wanita itu menderita!!!
"Argh..." aku menjambak rambutku dengan frustasi. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Seharusnya saat ini aku bisa menjalani kehidupanku dengan tenang, bukan? Tapi... tapi...
Dengan perasaan yang kacau aku memutuskan untuk pergi dari kantor. Berada di sini hanya akan membuatku semakin merasa tertekan. Biarkan saja Alan yang mengambil alih seluruh pekerjaanku hari ini. Salah siapa ia malah membuat kepalaku semakin pusing.
Aku membutuhkan sesuatu yang dapat mengalihkan seluruh pikiranku hari. Sebuah pelepasan dan pengalih pikiran. Dan aku tahu di mana bisa mendapatkan keduanya sekaligus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar