LILA
Bukan seperti ini yang aku mau dan aku harapkan. Terjebak di antara dua orang pria yang memiliki hubungan darah. Demi Tuhan, aku takkan mau tetlibat dengan mereka berdua jika sejak awal sudah mengetahui kebenarannya.
Ya, kebenaran bahwa Max dan Zac itu adalah saudara kandung. Mereka berdua kakak beradik. Dan yang lebih parah aku baru mengetahuinya setelah lima tahun mengenal mereka berdua.
Wahai tanah yang kupijak, demi langit yang tanpa ujung. Aku benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa kepada mereka berdua. Karena masalahnya adalah aku MENCINTAI dan MENYAYANGI mereka bedua. Terserahlah kalian akan menyebutku apa, aku tak peduli. Aku egois karena ingin memiliki mereka berdua. Hanya untukku seorang.
Aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan perasaan mereka berdua. Bahkan memberikan harapan kepada mereka, hanya saja kenyataan yang terjadi padaku memang begini adanya. Aku mencintai dan menyayangi mereka berdua. Jauh sebelum aku mengetahui fakta bahwa mereka adalah kakak beradik. Sebelumnya tahu saja aku sudah merasa dilema, dan sekarang kadar dilema yang aku alamai semakin bertambah menjadi berkali-kali lipat.
ZAC
Pertama kali melihatnya di sebuah taman kota entah mengapa aku merasakan tubuhku seperti tersengat oleh arus listrik. Dan ketika tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan tatapanku jantungku rasanya langsung berhenti berdetak.
Namun bukan tatapannya saja yang membuatku salah tingkah. Senyumannya. Yup, senyumannya langsung membuat seluruh tubuhku berdesir oleh perasaan yang tak aku mengerti sebelumnya. Perasaan yang tak pernah muncul dan aku rasakan saat aku bertemu atau bersama teman-teman wanitaku.
Berbeda. Itulah kata yang terlintas di kepalaku ketika pada akhirnya aku bisa mengenalnya, karena kami berkuliah di universitas dan jurusan yang sama. Namun kebersamaan kami harus terusik karena kehadiran seseorang. Ya, seseorang itu adalah KAKAKKU, demi Tuhan pemilik semesta alam. Aku harus bersaing dengan kakak kandungku untuk mendapatkan Lila. Bisa kalian bayangkan bagaimana kacaunya aku. Tapi, aku takkan mau mengalah atau menyerah. Akan aku buktikan bahwa akulah yang pantas untuk bersanding dengan Lila.
MAX
Bersahaja. Cantik. Lemah lembut. Mandiri. Rendah hati. Anggun. Tidak pernah akan pernah cukup kata-kata untuk menggambarkan sosok dari seorang Kyla Adam. Adik kelasku ketika di SMU, sejak jaman sekolah Lila memang merupakan sosok yang menarik perhatian para pria di sekolah.
Karena sifatnya yang ramah membuatnya gampang di sukai oleh siapapun. Tak terkecuali aku. Yang notabennya seorang senior yang populer dan terkenal playboy. Namun semua pesonaku sebagai seorang playboy musnah sudah jika berhadapan dengan Lila.
Dia selalu membuatku salah tingkah dan mati kutu. Berada du dekatnya membuat kinerja jantungku berkerja tidak beraturan. Yang bisa membuatku merasakan perasaan seperti itu hanya Lila.
Tak pernah ada sedikitpun pemikiran untuk mempermainkan Lila seperti wanita-wanita yang selama ini selalu mengejar-ngejarku. Aku ingin melindungi Lila dan menjaganya dari orang-orang. Meskipun Lila bukan tipe wanita yang manja dan lemah.
Meskipun Lila tidak menjauh saat aku berusaha dengan keras untuk mendekatinya. Tapi ketika aku menyatakan perasaanku Lila menolaknya dengan halus. Lila ingin fokus dengan sekolahnya, dan itu bukan hanya sekedar alasan klise yang biasa di lontarkan wanita untuk menolak seorang pria.
Lila memiliki nilai akademis yang nyaris sempurna. Berbagai penghargaan atas prestasinya di bidang akademis di terimanya. Karena itu aku tidak merasa begitu kecewa dan memutuskan untuk tetap mendekatinya dengan kedok seorang sahabat.
Namun kini aku ragu dengan perasaanku setelah bertahun-tahun berhasil menjaga perasaanku kepadanya. Karena ada seseorang yang tengah mendekatinya dengan gencar. Orang itu adalah ADIKKU, ya kalian tidak salah mendengar. Adikku ternyata memiliki perasaan yang aku rasakan kepada Lila. Dan kami harus bersaing.
Bersaing untuk mendapatkannya. Jika biasanya aku selalu mengalah demi Zac. Namun kali ini aku takkan mau mengalah kepada adikku. Ini urusan hati, aku tak peduli bahwa rivalku adalah adikku sendiri. Aku yakin bisa mendapatkan Lila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar