Malam itu Max memutuskan untuk pergi ke club langgananya. Ia membutuhkan hiburan, pikiranku benar-benar sangat penat. Masih dengan menggunakan stelan kerjanya, akhirnya Max sampai di tempat itu. Tempat yang memiliki sejuta kesenangan dan sejuta dosa dalam satu tempat.
Hingar bingar musik di dalam sebuah klub tidak menyurutkan langkah dari seorang pria yang memiliki penampilan bak adonis. Tubuhnya yang sempurna terbalut oleh setelan jas mahal dengan kain yang terbaik. Dia adalah Max. Seorang taipan muda bertangan dingin.
Sepasang matanya yang berwarna abu-abu mengawasi setiap sudut klub yang di datanginya itu dengan tajam. Ia sedang mencari objek yang bisa menjadi tempat pelampiasannya.
Matanya menangkap sesosok wanita yang sedang asyik bergoyang mengikuti alunan musik ditengah lantai dansa. Tubuhnya terbungkus oleh pakaian yang sangat minim dan ketat sekali. Bahan pakaiannya yang tipis membuat sesuatu yang berada di balik pakaian itu bisa dengan jelas terlihat. Banyak pula pria yang berusaha mendekati dan menyentuh wanita itu. Namun si wanita terlihat tak peduli dan tertarik dengam sekitarnya.
Dengan langkah mantap Max langsung berjalan menuju si wanita berada. Aura yang menguar dari tubuh Max membuat beberapa orang menyingkir dan menjauh. Tanpa banyak kata Max langsung menarik lengan si wanita yang ternyata sedang dalam keadaan setengah mabuk itu keluar dari area lantai dansa.
Langkah kaki mereka menuju ke arah sebuah private room yang memang disediakan oleh pihak club. Max langsung saja menyerbu wanita itu dengan ciuman-ciuman yang panas dan liar. Tanpa ampun dan tanpa jeda sedetikpun, seperti dikejar oleh sesuatu yang sangat mendesak dan memaksanya untuk melakukannya dengan cepat.
Si wanita yang semula kaget kini terlihat lebih rileks dan sangat menikmati cumbuan yang diberikan oleh si pria. Tanpa basa basi Max langsung mendorong turun gaun si wanita dan menangkup kedua payudaranya, meremas dan memilin bagian putingnya dengan keras, membuat si wanita melenguh keras karena nikmat.
Kini bibirnya menggantikan tangannya yang sejak tadi bermain-main di kedua gundukan kenyal itu, karena kini tangannya telah menyusup masuk ke dalam thonk si wanita dan merobeknya. Mencari titik paling sensitif yang akan membuat wanita itu berteriak-teriak.
Saat ia menemukan apa yang dicarinya, tanpa ampun Max memainkan jari-jarinya di sana, membuatnya semakin membengkak dan cairan kenikmatan tak henti-hentinya keluar dari lubang vagina si wanita. Kini jari-jarinya yang panjang dan besar tengah bersarang dan mulai mengaduk-aduk dinding vagina si wanita.
Dua jari kini telah bersarang di dalam vaginanya. Max menggerakkan kedua jari-jarinya itu dengan cepat. Membuat si wanita mengerang dan menggerakkan pinggulnya untuk mendapatkan kenikmatannya. Tapi Max tak begitu saja memberikannya, karena dengan cepat ia mengeluarkan jarinya dari dalam sana.
Dengan cepat ia membuka restleting dan ikat pinggangnya, membebaskan penisnya yang sudah mengacung tegak dan keras. Ia meraih kepala si wanita dan mengarahkan penisnya masuk ke dalam mulut mungil si wanita. Awalnya si wanita merasa kesulitan karena ukuran penis Max yang memiliki ukuran yang cukup besar. Susah payah ia mengulum dan menjilat penis besar itu. Memasukannya hingga mengenai dinding tenggorokannya dan hampir tersedak.
Max mencengkram kuat rambut si wanita sambil menggerakkan badannya. Geraman terdengar dari Max ketika ia hampir mencapai pelepasannya. Akhirnya ia memuntahkan semua benihnya di dalam mulut si wanita dan menahannya. Sehingga mau tak mau si wanita menelan habis cairan sperma milik Max. Saking banyaknya sperma itu meleleh keluar dari mulutnya.
Si wanita terlihat terkulai lemah di atas sofa, namun itu tak menyurutkan Max untuk terus melampiaskan nafsunya. Terlebih lagi penisnya masih dalam keadaan keras dan siap untuk kembali bertempur. Ia mengeluarkan seutas tali yang sudah terpotong menjadi dua bagian dari dalam saku jasnya.
Ia memutar tubuh si wanita dalam posisi menungging dan menumpu tubuh bagian atasnya di atas meja. Membuka lebar-lebar kedua kakinya, lalu dengan terampil mengikat masing-masing kaki dan tangannya menjadi satu dengan tali yang ia bawa. Itu memungkinkan untuk memperkecil gerakan si wanita.
Tanpa peringatan Max langsung menyerang vagina si wanita dengan mulutnya. Ia menjilat lipatan vagina itu dengan rakus, lidahnya yang kasar mencecap setiap inchi vagina itu. Lidahnya dengan cepat menusuk liangnya membuat tubuh si wanita bergetar dengan erangan yang tertahan. Ia terus melakukan itu dan dengan cepat menghentikannya ketika si wanita hampir mendapatkan pelepasannya.
Erangan frustasi pun keluar dari mulut si wanita namun itu tak membuat Max bergeming. Dengan gerakan tiba-tiba ia memukul pantat si wanita dan membuatnya menjerit. Begitu seterusnya hingga pantat si wanita berwarna merah dan terasa panas. Liang vagina si wanita kini sudah basah kuyup oleh cairannya.
Dengan sekali hentakan ia menghujamkan penisnya ke dalam vagina si wanita. Lalu memompanya dengan begitu keras sambil sesekali memberikan tamparan di pantatnya. Suara erangan, tamparan dan gesekan tubuh mereka berdua memenuhi semua sudut ruangan yang sengaja dibuat kedap suara.
Max mencengkram pinggang si wanita dengan keras, seirama dengan gerakannya yang semakin cepat menusuk vagina si wanita. Otot-otot vagina si wanita mulai bereaksi dan mulai meremas penisnya tanpa ampun. Beberapa tusukan dalam dan keras ia hujamkan, dan merasakan cairan hangat yang menyembur di dalam sana. Dua kali tusukan Max membalik tubuh si wanita dan memuntahkan semua spermanya di atas payudara si wanita dengan lenguhan panjang.
Setelah penisnya mengecil ia mengeluarkan tissue basah untuk membersihkan penisnya dan merapikan kembali pakaiannya. Kemudian ia melepaskan ikatan wanita itu lalu mengeluarkan segepok uang dan menyimpannya di atas meja. Max pergi meninggalkan si wanita yang terbaring lemas di sofa.
"Dasar wanita jalang." Gumam Max saat mencapai pintu keluar.
***
Keesokkan harinya aku datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Aku ingin melihay sekretaris baru yang telah di pilihkan oleh Alan. Semoga saja sekretarisku itu cantik dan seksi. Astaga, singkirkan pikiran kotormu itu Max. Ingat dengan prinsipmu untuk tidak memakai karyawanmu sebagai pelampiasan nafsu binatangmu Max, cibir kata hatiku.
Tepat pukul delapan aku sudah sampai di depan ruanganku. Aku melihat Alan sedang berbincang dengan seorang wanita. Aku berasumsi bahwa wanita yang sedang di ajak bicara oleh Alan itu adalah sekretarisku.
Tapi apa benar wanita itu sekretarisku? Astaga, apa Alan tidak salah pilih? Wanita itu penampilannya tidak menarik sedikitpun, yah setidaknya wanita yang menjadi sekretarisku tidak berpenampilan kuno seperti itu. Sekretarisku harus berpenampilan menarik agar indah di pandang, tapi ini... Ya Tuhan, lahir di jaman apa wanita itu? Mengapa penampilannya benar-bengar sangat mengerikan?
Aku langsung bersikap dingin seperti biasa setelah semakin dekat dengan mereka, "Selamat pagi." Sapaku dengan datar.
"Ah, kebetulan sekali kau sudah datang. Ini sekretaris barumu Max, namanya Annabella Devine, dan Anna ini adalah Maximilliano atasanmu." Alan memperkenalkan.
"Selamat pagi Mr Alderman, senang bisa bekerja dan bergabung di perusahaan anda." Sapa Anna dengan bersemangat. Sepertinya dia cukup supel meskipun penampilannya terlihat err mengerikan.
"Ya, selamat datang di perusahaan kami." Jawabku datar. "Alan, bisakah kita berbicara di ruanganku?" Pintaku.
"Tentu saja." Timpal Alan singkat. Kemudian aku dan Alan masuk ke dalam ruanganku.
"Jadi bagaimana pendapatmu tentang sekretaris barumu itu?" Tanta Alan dengan seringaian yang menjadi khasnya.
"Alan, apa kau gila? Kau tahu bukan salah satu syarat untuk menjadi sekretarisku seperti apa! Tapi..." aku menggantung kata-kataku.
"Ya ya ya, aku tak melupakan syaratmu itu, Max. Tapi apakah kau tidak melihat penampilannya seperti apa? Oke aku akui bahwa ia memiliki nama yang cantik dan indah, tapi tidak dengan penampilannya. Astaga, Alan." Dengusku kesal, namun Alan hanya tertawa terbahak-bahak. "Tidak ada yang lucu, Alan." Aku melemparkan pena yang kupegang ke arah Alan.
"Aku hanya bercanda, Max. Kau ini seperti anak kecil saja." Kekeh Alan sambil berusaha menghentikan tawanya.
Aku tak menggubrisnya yang kembali tertawa. Bahkan kini tawanya jauh lebih keras daripada sebelumnya. Kakakku benar-benar menyebalkan. Hanya di depan Mom dan Alan aku bisa bersikap kekanak-kanakan.
"Dengar Max, alasanku memilih Annabella karena ia memiliki potensi yang ada di atas rata-rata dan kemampuan yanh di milikinya melebihi kandidat yang lain." Jelas Alan dengan nada suara yang berubah menjadi serius, "Setidaknya dengan kehadiran Annabella pekerjaanmu akan sedikit terbantu dan berkurang. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Alan sambil menepuk bahuku kemudian ia pergi meninggalkan ruanganku.
"Terima kasih, Kak." Gumamku lirih.
Setelah Alan pergi aku langsung memanggil Anna ke ruanganku. Setidaknya aku harus membuktikan perkataan Alan tentang kemampuannya.
"Aku ingin kau menyelesaikannya tepat saat jam makan siang nanti, Anna. Sekalian siapkan materi yang akan aku bawa saat pertemuan jam dua nanti. Apa kau mengerti?" Perintahku dengan tegas kepada Anna.
"Saya mengerti Sir, apa ada lagi yang harus saya kerjakan?" Tanyanya dengan mantap, tak terlihat kegugupan sedikitpun di wajahnya. Ini tak pernah terjadi, biasanya orang-orang yang baru bergabung di perusahaanku dan bertemu denganku akan gugup, hingga melakukan kesalahan saat mengerjakan tugas yang di berikan olehku.
"Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun, mengerti?" Tegasku.
"Mengerti, akan saya pastikan tak ada kesalahan sedikitpun. Kalau begitu saya permisi, Sir." Pamitnya, kemudian keluar dari ruanganku.
Baiklah jika kau sudah membuktikan bahwa kau tidak gugup berhadapan denganku. Sekarang kita lihat apakah kau sanggup menyelesaikan semua tugas yang aku berikan tanpa kesalahan sedikitpun seperti janjimu, Annabella.
Entah mengapa darahku berdesir saat menyebut namanya. Namanya terdengar begitu seksi saat kuucapkan. Hentikan pikiran kotormu itu Max, bukankah dia bukan tipemu, lagi-lagi kata hatiku mencibir.
Suara deringan ponselku langsung menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Ternyata yang menelepon adalah salah satu informanku.
"Ya, bagaimana?"
"..."
"Kau masih belum juga menemukan anak dari wanita itu?"
"..."
"Dengar aku tak menerima kata-kata gagal. Kau harus menemukannya dengan cara apapun. Kau mengerti."
"..."
Dengan kasar aku meletakkan ponselku di atas meja kerja. Anak wanita iblis itu masih belum juga bisa di temukan. Orang kepercayaanku saja hampir putus asa mencarinya. Tapi aku tak mau tahu, bagaimana pun juga anak itu harus bisa di temukan.
Aku tak tahu mengapa aku begitu ngotot dan terobsesi untuk menemukan anak dari wanita iblis itu. Aku hanya merasa tidak tenang dan selalu gelisah jika teringat tentang hal itu. Sepertinya hidupku akan kembali tenang jika ia sudah di temukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar