GLAD
Aku benar-benar terkejut dengan pernyataan yang di ungkapkan oleh Jake semalam. Kepalaku berdenyut, mengingat semua perkataannya. Ia memintaku untuk menjadi kekasihnya, seharusnya aku senang karena pada akhirnya perasaanku bersambut. Tapi pada kenyataannya aku tidak langsung menjawab permintaannya itu.
Aku butuh waktu untuk berpikir, semua ini cukup mengejutkanku dan begitu tiba-tiba. Tapi seharusnya aku tak perlu berpikir lama karena sudah jelas Jake meminta bantuanku untuk melepaskan diri dari masa lalunya. Bukankah itu artinya Jake mau belajar untuk mencintaiku? Tak menutup kemungkinan aku bisa memiliki hati Jake sepenuhnya, bukan.
Baiklah, sepertinya aku tahu jawaban apa yang harus aku berikan kepada Jake. Ya, karena siang ini Jake berjanji akan menjemputku dan mengajaku untuk makan malam dan berjalan-jalan di akhir pekan. Jadi lebih baik aku segera mempersiapkan diriku untuk nanti siang.
Setengah jam kemudian aku sudah selesai bersiap-siap. Dan kini aku tengah mematut diriku di depan cermin. Dress berwarna salem selutut dan berbahan lembut membungkus setiap lekuk tubuhku dengan pas. Aku tidak sadar bahwa akhir-akhir ini aku jadi lebih sering berpakaian "normal" karena biasanya pakaian yang aku pakai tidak karuan. Ketukan di pintu kamar membuat kegiatanku di depan cermin terpaksa harus kuhentikan. Dengan sedikit tergesa aku menyambar tas tangan berwarna senada dengan pakaianku. Kemudian menyampirkannya di bahu sebelah kiriku, lalu membuka pintu.
"Woooo, adikku benar-bener sangat cantik. Kalian mau kencan kemana?" Goda Kak Leon.
"Kami tidak pergi kencan Kak, hanya makan malam saja." Jawabku sambil berjalan meninggalkan Kak Leon.
Sesampainya di bawah aku melihat Jake sedang duduk di ruang tamu. Malam ini penampilan Jake sangat kasual, tidak seperti biasanya yang selalu tampil dengan pakaian resminya. Namun meskipun begitu Jake tetap terlihat tampan, aku sangat yakin bahwa para wanita akan memandanginya dengan tatapan kelaparan. Dan aku tidak suka dengan hal itu, oke mungkin aku harus membiasakan diri untuk sabar jika sedang bersamanya nanti.
"Glad, kau cantik sekali." Ucap Jake menginterupsi pikiran-pikiran tidak penting yang mondar mandir di dalam kepalaku.
"Hai Jake, sudah lama menunggu?" Tanyaku sambil tersenyum untuk menutupi sikap gugup yang entah mengapa tiba-tiba datang menyerang.
"Tidak Glad, aku baru sampai. Apakah kau sudah siap untuk berangkat?" Tanyanya dengan lembut. Berbeda dengan Jake yang biasa aku temui selama ini.
Aku menggangguk. Setelah berpamitan, kami berdua langsung pergi menuju ke sebuah restoran yang menurut Jake telah ia pesan khusus untuk malam ini. Selain itu ia juga berharap bahwa malam ini aku akan memberikan sebuah jawaban yang akan membuatnya bahagia. Yang bisa kulakukan saat mendengar kata-katanya hanya tersenyum dan tersipu.
Selama dalam perjalan Jake tak henti-hentinya menggodaku. Dan sudah bisa di pastikan bahwa wajahku kini seperti kepiting rebus. Jake seperti menunjukkan sisi lain dari dalam dirinya, karena Jake yang kini ada di sampingku adalah Jake yang banyak bicara dan senang sekali menggodaku. Sepertinya Jake mulai menyukai kebiasaan barunya, apalagi jika bukan menggodaku?
"Jake, berhenti menggodaku seperti itu. Kau benar-benar membuatku kesal." Aku merajuk sambil mengerucutkan bibirku seperti bebek.
"Aku suka melihatmu marah, Glad. Karena ketika marah kau terlihat amat menggemaskan dan sangat cantik." Godanya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Ya ya ya. Terserah kau sajalah, Jake." Gerutuku kesal sambil memalingkan wajahku menatap pemandangan di luar melalui kaca jendela mobil.
Jake terlihat berbeda sejak malam itu. Malam ketika ia mengungkapkan perasaannya kepadaku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Perubahannya ini merupakan perubahan yang baik, karena senyuman kini tak pernah sirna dari wajah tampannya. Tentu saja hal itu membuatku merasa senang dan semakin jatuh cinta kepadanya. Terlebih lagi dengan sikapnya yang selalu menggodaku, terkadang godaannya sedikit mengesalkan tapi aku dengan senang menanggapi semua godaannya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya kami sampai di sebuah restoran yang berada di dekat pantai. Restoran ini memiliki pemandangan yang langsung mengarah ke laut lepas. Dan kami mendapatkan tempat yang sangat pas untuk menikmati pemandangan laut yang terhampar luas di depan kami. Setelah memesan makanan kami kembali melakukan percakapan kami.
"Jadi Glad, apakah kau sudah memiliki jawaban untuk permintaanku kemarin malam?" Ekspresi wajah Jake tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Ah, ya aku sudah memiliki jawabannya." Timpalku sambil berusaha untuk menenangkan debaran jantungku yang sedang melompat-lompat ini.
"Lalu apa jawabanmu?" Tanya Jake sambil mengenggam kedua tanganku dengan begitu erat.
"Jake, aku..." kata-kataku terpotong karena para pelayan datang membawakan makanan pesanan kami.
"Jangan dulu di jawab Glad, sebaiknya kita makan dulu. Biarkan aku memiliki tenaga untuk mendengarkan kemungkinan yang terburuk." Ucapnya dengan suara di buat terdengar putus asa. Aku membalas candaannya dengan mencubit lengannya. Tapi Jake malah tertawa lepas.
Setelah selesai kami kembali berbincang sambil menyesap wine dan menikmati pemandangan malam hari yang tersaji di depan kami. Kami memilih berbincang-bincang di sebuah sofa yang berada di teras yang langsung menghadap lautan. Bintang-bintang bertaburan menghiasi pekatnya langit di malam hari. Malam terasa semakin indah karena bulan pun muncul menampakkan keindahannya.
"Jadi, bolehkah aku mendapatkan jawabanku?" Suara Jake memecah keheningan di antara kami.
Aku mengalihkan pandanganku menatapnya kemudian tersenyum, "Baiklah Mr. Alderman, aku akan memberikan jawabannya kepadamu sekarang juga." Dengan gerakan yang tiba-tiba aku langsung mengecup bibirnya kilat. "Itu jawabanku, Jake." Lanjutku sambil tersenyum.
"Apakah, apakah yang barusan itu artinya, ya?" Tanya Jake dengan ekspresi wajahnya yang masih terkejut.
Dengan pasti aku menganggukkan kepalaku. Jake tersenyum lebar kemudian merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Mendekapku begiru erat, sepertinya aku betah berada di pelukannya selama berjam-jam. Ternyata dadanya begitu hangat membuatku merasa nyaman dan terlindungi. Aku akan membuatmu mencintaiku dan menyerahkan seluruh hatimu kepadaku, Jake. Tak peduli rintangan apa yang akan aku hadapi nanti, karena aku pasti akan memepertahankanmu agar tetap di sisiku.
"Aku mencintaimu, Jake. Sangat mencintaimu." Gumamku, masih di dalam pelukannya. Jake hanya menghembuskan nafasnya dan mempererat pelukannya.
Suatu hari kau akan mengatakan kata-kata cinta kepadaku Jake. Aku tahu bahwa saat ini kau masih sulit untuk mengatakan hal itu. Namun akan ku pastikan bahwa kau akan mengatakannya kepadaku seiring dengan berjalannya waktu dan kebersamaan kita.
"Bagaimana jika kita berjalan-jalan?" Ajak Jake yang asyik memainkan anak-anak rambutku yang berterbangan di terpa angin laut. "Kau mau kita pergi kemana?"
"Kemana pun kau membawaku, Jake. Aku akan ikut tanpa protes sedikit pun." Jawabku sambil menatap wajahnya.
"Berarti jika aku membawamu pergi ke toilet kau juga akan itu?" Celetuknya sambil menghenyitkan keningnya.
"Tidak. Tidak, bukan seperti itu maksudku, Jake." Aku mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirku. Jake tertawa begitu lepas dan tanpa beban mendengar ucapanku. Tentu saja itu membuatku semakin memberengut kesal.
"Hei hei, jangan marah. Aku hanya bercanda." Ucapnya kemudian. Tapi aku tetap saja memasang wajah kesalku.
"Rupanya benar-benar marah, ya. Hmmm..." celetuknya sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti. Dan ketika lengah tiba-tiba saja Jake menciumku.
Tubuhku langsung menegang, rasanya seperti tersengat oleh listrik berkekuatan jutaan volt yang langsung melumpuhkan seluruh sistem syaraf tubuhku. Hangat dan lembut. Itu yang aku rasakan ketika bibirnya menyentuh bibirku. Bibirnya dengan lembut terus menggodaku agar aku membalas setiap ciuman yang di lancarkannya.
Setelah berhasil mendapatkan kembali kendali atas tubuhku dari keterkejutan. Aku mulai membalas ciumannya, kedua tanganku melingkar di lehernya yang kokoh. Sedangkan Jake membelai tengkukku sambil sesekali menekannya dan membuat ciumanan kami semakin dalam.
Sepertinya salah satu dari kami tak ada yang berniat untuk mengakhiri kegiatan kami ini. Entah berapa lama bibir kami saling berpagutan, Jake baru menarik diri ketika nafasku mulai tersengal karena kekurangan pasokan oksigen. Jake menyentuh bibir bawahku yang agak bengkak akibat ciumannya. Ia tersenyum penuh arti.
"Maaf membuatmu kehabisan nafas dan membuat bibirmu menjadi bengkak." Ucapnya sambil terus mengusap bibirku.
"Tak perlu meminta maaf, Jake. Karena kau tidak melakukan kesalahan ataupun menyakitiku." Timpalku sambil meraih tangannya yang tengah mengusap bibirku. Kemudian menempatkan tangannya itu di salah satu pipiku.
"Ayo kita pergi." Ajaknya.
Kami meninggalkan restoran itu dengan tangan yang saling bertautan. Wajah Jake terlihat lebih santai dan berseri-seri. Jangan tanya apa yang terjadi dengan wajahku, karena Jake tak henti-hentinya membuat wajahku memanas.
Kami berkendara meninggalkan daerah pantai. Sepama perjalanan aku terus menerka-nerka tempat apa yang akan di datangi oleh Jake kali ini. Kerutan di keningku mulai muncul ketika mobil memasuki jalur jalan bebas hambatan. Setelah cukup jauh dari keramaian Jake membelokan mobilnya ke sebuah jalan setapak. Kemudian ia membukakan pintu dan membantuku turun dari mobil.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke sebuah padang rumput berwarna hijau yang terhampar luas. Banyak pohon pinus yang tumbuh di sekitar padang rumput ini. Tempat ini pasti akan terliat jauh lebih indah jika di lihat siang hari, gumamku dalam hati.
Kami terus berjalan melintasi padang rumput itu. Jake membawaku kesebuah kursi kayu yang berada di sana. Dan ketika sampai pemandangan di depan kami tak kalah indahnya dari pemandangan di pantai tadi.
Di bawah sana ada ribuan bola lampu yang berasal dari gedung-gedung. Cahaya yang di hasilkan oleh lampu-lampu itu begitu indah dan beraneka warna. Jake sudah melepas jaketnya dan memakaikannya kepadaku. Kami duduk dan menikmati pemandangan kota pada malah hari dari ketinggian sambil berpegangan tangan. Menikmati keheningan yang menenangkan ini.
Kepalaku menyandar di bahu kokoh milik Jake. Aroma tubuhnya langsung memenuhi indera penciumanku. Ku hirup dalam-dalam aroma musk yang bercampur dengan aroma teh yang menenangkan sekaligus memabukkan. Oke, aku harus bisa mengontrol diriku agar tidak tergoda oleh aroma tubuhnya yang berbahaya.
Diam-diam aku menengadahkan kepalaku menatapnya, kemuduan mulai memperhatikan Jake yang sedang menatap lurus pemandangan di depannya. Wajahnya memang tampan, rahangnya yang kuat seperti sengaja di pahat dengan sempurna. Sorot matanya yang setajam elang, berkali-kali membuatku tersesat ketika menatapnya. Sungguh indah dan sempurnanya ciptaanmu ini Tuhan.
Tiba-tiba Jake mengalihkan pandangannya, keningnya berkerut penuh tanya ketika memergokiku yang sedang asyik memandangi wajahnya sambil sesekali tersenyum seperti orang bodoh. Kau memang bodoh Glad, rutukku dalam hati dengan geram.
"Sedang memandangi apa?" Tanyanya masih dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"Ah, ti-tidak. Tidak ada." Jawabku tergesa-gesa kemudian mengubah posisi dudukku dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Namun tak di sangka-sangka Jake meraih daguku agar menghadapnya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kembali bibirnya di bibirku. Ia menciumku dengan ritme yang sedikit tergesa-gesa kemudian ritmenya berubah menjadi lembut. Ciumannya sangat lembut bahkan dan begitu intens. Membuat kepalaku pening karena sensasi yang di akibatkan oleh ciumannya.
Membuat seluruh tubuhku meremang karena gelenyar-gelenyar panas yang mendera tubuhku. Bisa kurasakan kedua kakiku yang mulai terasa lemas. Apa yang sudah kau lakukan kepadaku Jake? Teriakku di dalam hati.
"Aku mencintaimu Candice."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar