Kehidupan pernikahanku dan James kini semakin baik. James semakin menunjukan seluruh perhatian, cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Namun sikap posesif dan overpritektifnya semakin menjadi. Apalagi setelah kejadian Alex menculikku beberapa waktu lalu.
Jika mengingat kembali kejadian yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya itu perubahan sikap James menjadi semakin waspada aku rasa itu hal yang sangat wajar. Pria mana yang mau istri dan calon bayinya mengalami hal-hal yang tidak di inginkan dan bisa mengancam nyawanya. Aku rasa tidak ada yang mau.
Saat ini kehamilanku sudah memasuki usia sembilan bulan dan menurut perkiraan dokter beberapa hari lagi bayiku akan terlahir kedunia. Perasaan gugup menanti kedua malaikatku terlahir kedunia ini sering sekali kurasakan.
Ah, aku hampir saja lupa memberitahu bahwa James sangat bahagia ketika mengetahui bahwa aku akan melahirkan sepasang anak kembar. Yup, bayiku berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jangan tanya betapa bahagianya kami berdua ketika mengetahuinya.
Lucunya aku dan James terkadang terlibat perdebatan kecil saat menentukan nama untuk bayi kembar kami. Setelah telah melalui perdebatan yang cukup panjang dan cukup alot akhirnya kami sepakat dengan nama Kenzo Adrianno Arthur dan Kimberly Adrianna Arthur. Ken dan Kim bukankah nama panggilan mereka sangat menggemaskan, bukan.
Siang itu tepatnya hari Minggu aku tengah menikmati waktu santai siangku. Semenjak kehamilanku semakin membesar James memindahkan kamar kami ke lantai bawah, alasannya klise karena perutnya yang semakin besar. Ia tidak mau aku harus bolak balik naik turun tangga.
Saat itu aku sedang duduk bersantai di salah satu kursi di dekat kolam renang yang di naungi oleh sebuah payung berukuran sangat besar. Sebuah kacamata hitam bertengger dengan kokoh di wajahku. Merebahkan tubuh sambil membelai perutku yang besar, terkadang juga aku bisa merasakan gerakan-gerakan yang di lakukan oleh bayiku di dalam sana adalah hal yang sangat menyenangkan.
Rasa syukur tak henti-hentinya aku ucapkan. Karena anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya ini. Tuhan telah mengirim James untukku, meskipun di awal aku tidak yakin bisa menjalani sebuah hubungan yang normal dengannya. Tapi ternyata aku dan James akhirnya bisa saling mencintai, menyayangi dan saling menjaga satu sama lain.
James benar-benar tipe suami idaman para wanita. Ketampanan yang di milikinya tak perlu di ragukan lagi, meskipun James masih saja menunjukan ekspresi wajah datar dan dinginnya di depan banyak orang, para wanita yang melihatnya masih saja memandangingan dengan tatapan kelaparan. Itu membuatku terkadang di landa oleh perasaan cemburu.
Ketika aku menceritakannya kepada Lila sahabatku, ia hanya tertawa. Lila bercerita bahwa sejak menikah dengan Zac ia berubah menjadi singa betina yang siap bertarung jika ada betina lain yang berusaha untuk mendekati pasangannya.
***
Tiba-tiba saja perutku terasa sakit. Rasanya seperti di peras-peras dengan kekuatan penuh. Semakin lama rasa sakit di perutku semakin menjadi. Ya Tuhan, sepertinya aku akan segera melahirkan. Sambil mengerang kesakitan aku terus berteriak memanggil James.
Meskipun aku tak yakin bahwa James akan mendengar teriakanku, karena saat ini James sedang berada di dalam ruang kerjanya. James sedang melakukan beberapa permbicaraan dengan kliennya via Skype.
Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, aku meraih ponsel yang ada di atas meja. Dengan gemetaran aku menekan tombol speed dial nomor James. Sudah enam kali berdering namun James tak kunjung mengangkatnya. Barulah pada deringan ke tujuh James menjawab panggilannya.
Dan aku langsung berteriak, "JAMES... CEPAT KEMARI...." teriakku dengan nafas yang putus-putus.
"Ada apa sayang, mengapa kau berteriak seperti itu?" Tanyanya di seberang sana.
"POKOKNYA KAU CEPAT KEMARI, JAMES..." teriakku lagi.
"Aku masih melakukan pembicaraan dengan klienku, sayang." Tolak James halus.
"AKU TAK PEDULI.... ARGH..." aku mengerang kesakitan dengan begitu keras. Demi Tuhan, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Kepanikanku semakin menjadi ketika aku merasakan air ketubanku yang terus menerus keluar tanpa bisa kuhentikan.
"Sayang, kau baik-baik saja, kan?" Suara James kini terdengar panik.
"Breng-sek k-au Jam-es, argh..." dengan suara yang terputus-putus aku memaki suamiku. Dan selanjutnya yang terjadi adalah ponselku terjatuh ke lantai.
***
Di tengah-tengah tele-confrence tiba-tiba saja Hanna menghubungiku. Namun baru saja aku hendak mengatakan halo Hanna langsung berteriak-teriak menyuruhku menemuinya. Karena sedang melakukan pertemuan dengan klien aku menolaknya dengan halus.
Tapi yang terjadi Hanna malah semakin marah. Setelah mengeluarkan beberapa makian kepadau tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Ketakutan langsung kurasakan, akhirnya aku menghentikan pertemuan yang sedang kulakukan dan berjanji akan menghubungi lagi mereka.
Setelah mematikan laptop, aku langsung keluar dari ruang kerjaku. Aku berlari menuju ke halaman belakang, karena biasanya Hanna selalu berada di sana. Tepat seperti dugaanku, Hanna memang berada di sana.
Namun aku mendapatinya sedang mengerang kesakitan di atas kursi. Wajahnya pucat, keringat sudah membasahi wajahnya yang cantik. Tanpa banyak kata aku langsung menggendonh tubuh Hanna dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
Hanna dan bayiku harus segera di tangani oleh medis. Mereka bertiga harus selamat, aku tak akan membiarkan salah satu dari mereka mengalami sesuatu yang tidak di inginkan. Meskipun aku tengah panik namun sebisa mungkin aku tetap bersikap tenang.
Setidaknya aku bisa menyetir dengan kepala dingin dan menenangkan Hanna yang kesakitan di sampingku. Ku injak pedal gas dengan kuat, memaksimalkan kecepatan mobilku. Aku harus cepat sampai rumah sakit. Harus. Tidak boleh terlambat sedikit pun.
"Argh... J-J-James... Ak-ku.. Argh..." Hanna kesulitan berbicaea karena raaa sakit yang tengah di rasakannya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan segera sampain di rumah sakit." Ucapku sambil menggenggam erat tangannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan akhirnya aku berhasil sampai di rumah sakit dengan selamat. Sesampainya di sana Hanna langsung di tangani oleh paramedis, aku tetap setia mendampinginya sambil terus memberikan semangat.
"Sudah saatnya bayinya terlahir, namun..." dokter menggantung kata-katanya.
"Namun apa, dok?" Tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa takut yang kurasakan.
"Namun jalan satu-satunya adalah melalui jalan operasi. Karena air ketuban yang membantu proses istri anda selama melahirkan telah habis." Jelas dokter.
"Lakukan apapun yang terbaik, dok. Selamatkan istri dan anak-anak saya." Jawabku.
"Baiklah kalau begitu saya akan segera menyiapkan ruang operasi. Permisi." Dokter pun pamit.
Dan disinilah aku sekarang. Berdiri di depan ruang operasi dengan perasaan yang tak menentu. Seharusnya operasi sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Namun kenyataannya dokter masih belum keluar padahal Hanna sudah hampir satu jam lebih berada di dalam.
Tuhan, aku mohon selamatkan istri dan kedua malaikatku Tuhan. Biarkan aku melihat mereka bertiga. Aku berjanji akan merawat dan melingdungi Ken dan Kim dengan nyawaku. Aku tak hent-hentinya memanjatkan doa kepada Tuhan untuk keselamatan istri dan anakku.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Tanyaku ketika melihat seorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Bersyukurlah Tuan, istri dan anak-anak anda selamat. Kami sempat kesulitan mengeluarkan putri anda karena lehernya terbelit tali pusat. Selain itu istri anda mengapalami pendarahan yang cukup hebat. Untung saja sekarang semuanya sudah lewat." Jelas dokter panjang lebar.
"Apakah saya boleh melihat keadaan mereka berdua, dok?"
"Sebentar lagi anda bisa melihat keadaan istri dan anak-anak anda. Permisi." Dokter itu pun akhirnya pergi setelah menyalamiku memberikan selamat.
***
Sekarang Hanna sudah berada di ruangan perawatan, karena Hanna akhirnya sadar pada keesokkan harinya. Kebetulan sekali kedua bayi kami sedang berada bersama kami. Hanna terlihat begitu bahagia melihat kedua malaikat kami. Air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi kedua pipinya.
"Aku benar-benar tidak percaya telah melahirkan kedua bayi yang tampan dan cantik ini, James." Gumamnya sambil memandangi Kim yang tengah terlelap di pangkuannya.
"Terima kasih untuk semuanya, sayang. Bahkan sebanyak apapun ucapan terima kasih yang kuucapkan takkan pernah cukup. I love you." Ucapku sambil mengecup bibirnya lembut.
"I love you too, James." Jawabnya sambil tersenyum kepadaku dengan penuh cinta.
Tuhan, terima kasih engkau telah mendengarkan doaku. Terima kasih telah menyelamatkan mereka bertiga. Karena aku takkan sanggup jika harus hidup tanpa salah satu dari mereka bertiga. Aku berjanji akan menjaga mereka bertiga. Hartaku yang paling berharga.
♡THE END♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar