Rabu, 05 Maret 2014

Lost In You (Revisi)

"Andara, ayo kita pergi. Aku tahu tempat yang sangat indah sekali."

"Kita mau pergi kemana, Mark?" Tanyaku sambil memalingkan wajahku menatapnya.

"Rahasia, yang jelas kau ikut saja bersamaku." Timpal Mark sambil tersenyum simpul.

Aku hanya bisa menurut ketika Mark menarik tanganku. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan yang tak jauh dari tempat tinggalku dan Mark.

"Mark, apakah tempatnya masih jauh? Aku sudah sangat lelah sekali, Mark." Keluhku sambil berjongkok dan bertumpu pada kedua lututku dengan nafas yang tersengal-sengal.    

"Sebentar lagi, ayolah Andara kita akan terlambat jika tidak segera bergegas." Ucap Mark sambil sambil berjalan ke arahku.

"Aku lelah Mark... aku  sudah tak sanggup lagi berjalan." aku menjatuhkan tubuhku terduduk di atas tanah.

Lalu Mark mendekatiku, berjongkok di depanku dan memunggungiku. "Apa yang kau lakukan, Mark?" Tanyaku dengan kening berkerut.

"Cepatlah naik di punggungku, Andara." Perintahnya.

"Tidak Mark." Tolakku mentah-mentah.
               
"Ayolah Andara, jangan memulai untuk berdebat denganku. Aku tidak ingin kita terlambat sampai ke tempat itu." Mark sedikit membentakku.

Dengan gemetaran akhirnya aku naik ke atas punggung Mark dan berpegangan erat agar tidak terjatuh.

Debaran jantungku tidak bisa di ajak bekerja sama. Karena detakannya sangat cepat sekali. Dan Mark-lah yang telah membuatku jadi seperti ini. Membuat seluruh tubuhku seperti terkena aliran listrik.

Perasaan apakah ini? Mengapa aku jadi merasa gugup dan canggung seperti ini? keluhku di dalam hati.

Dan akhirnya kami sampai di danau Hazelwood. Mark menurunkanku dengan perlahan. Lalu mengajaku duduk di sebuah batu besar yang berada di sana.

"Mark, untuk apa kau mengajakku kemari?" Tanyaku yang lagi-lagi kebingungan.

"Duduklah dengan tenang di sampingku, Andara. Lihatlah ke arah sana." ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya, "Sebentar lagi akan segera di mulai." Lanjutnya sambil berbisik tepat di samping telingaku.

Aku mengikuti arah telunjuk Mark. Tak lama kemudian ada semburat berwarna jingga yang muncul dari balik bukit. Dan pemandangan itu sangat indah sekali. Aku memang sering sekali datang ke tempat ini, namun aku jarang menghabiskan waktuku sampai senja tiba.

Mataku membulat sempurna karena takjub melihat pemandangan yang berada di depanku kali ini, "Ya Tuhan, sunsetnya sangat indah sekali, Mark." aku mengalihkan pandanganku menatap Mark. Rupanya Mark sedang memperhatikanku, "Kau... Apa yang sedang kau lihat?" tanyaku tergugu dengan wajah yang memanas.

"Sedang menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah." Jawabnya santai, sambil terus menerus menatapku dengan begitu lekat.

"Kau... Apa yang sedang kau lakukan? Jangan menggodaku, Mark." aku memalingkan wajahku, dari Mark.

"Jangan memalingkan wajahmu, Andara. Aku mohon." Pintanya sambil menangkup kedua pipiku.

Aku terdiam, pandangan matanya langsung mengunci pandanganku. Wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus. Getaran-getaran listrik itu semakin terasa kuat mengaliri sekujur tubuhku.

Tiba-tiba Mark mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas menerpa wajahku. Lalu sesuatu  yang lembab dan panas mengunci bibirku. Bibir Mark.

Tubuhku tersentak, menegang terkena aliran listrik jutaan volt. Mark menciumku, ya Tuhan. Tubuhku terasa kaku, namun seperti melayang-layang di udara. Kedua kakiku rasanya lemas tak bertenaga.

Lalu Mark melepaskan ciumannya, "Aku mencintaimu Andara, sudah sejak lama." Ungkapnya sambil membelai pipiku.

"Aku... Aku..." lidahku langsung kelu. Terbesit perasaan ragu di hatiku ketika mendengar ucapannya.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku, Andara." Ucapnya lagi.

Astaga... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku memang menyukai Mark sudah sejak lama. Hanya saja aku tidak berani beharap untuk menjadi kekasihnya.

"Andara... Kau mau kan jadi kekasihku?" Akhirnya ia mengucapkan kata-kata yang selalu ada di dalam bayanganku.

"Mark... Aku... Aku..." lagi-lagi aku tergugu sambil mengatur pernafasanku, "Aku tak tahu, aku memang menyukaimu sudah sejak lama. Hanya saja aku berpikir aku tak pantas berada di sampingmu, Mark. Apalagi sebagai kekasihmu." Ucapku dalam satu tarikan nafas.

"Astaga Andara, mengapa kau memiliki pemikiran yang lucu seperti itu?" Timpalnya sambil tersenyum. Senyuman yang selalu membuat jantungku berdebar hebat.

"Karena di sekolah kau sangat populer, Mark. Gadis-gadis cantik di sekolah selalu mengelilingimu, aku tak pantas untukmu, Mark. Kau terlalu tinggi untuk kugapai." Ungkapku sambil menundukkan kepala.

"Tapi aku mencintaimu, Andara. Demi Tuhan, hanya kaulah satu-satunya gadis yang aku cintai." Mark mempererat genggaman tangannya. "Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar membuatmu yakin kepadaku?" Tanyanya dengan sungguh-sungguh.

Aku menggeleng kepalaku pelan, "Kau tak perlu membuktikan apapun kepadaku, Mark."

"Andara, tatap mataku." Dengan ragu aku pun menatap matanya, mata berwarna biru yang selalu memberikan keteduhan untukku dan aku sangat mencintainya.

"Katakan kepadaku, Andara." Desakknya.

"Tidak perlu, Mark. Harus berapa kali aku katakan, kau tak perlu membuktikan apapun kepadaku. Karena aku... aku... aku sangat memcintaimu,Mark." ucapku sambil menundukkan kepala.

Tiba-tiba Mark merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Ia mencium keningku dengan penuh kasih sayang.

"Kau mau jadi kekasihku kan, Andara?" Tanyanya lagi.

Aku mengangguk di dalam pelukannya, "Ya, aku mau jadi kekasihmu, Mark." aku mempererat pelukanku.

Sejak hari itu, hubungan kami berjalan baik-baik saja. Sampai akhirnya Mark memberitahuku bahwa ia akan melanjutkan  pendidikannya di Amerika Serikat.

Malam itu sepulang dari acara prom night. Mark mengajakku untuk makan malam di sebuah kafe.

"Kau akan pergi meninggalkanku, Mark?" mataku mulai sembab dengan tangisan yang terisak.

Mark menggenggam erat tanganku, "Aku pasti akan kembali, Andara. Percayalah kepadaku."

"Aku tak tahu, Mark. Aku..." tangisanku kembali pecah.

Mark langsung memelukku, "Tidak Andara, kumohon jangan menangis." Mark terus berusaha untuk menghentikan tangisanku, "Biarpun kita berpisah aku akan tetap mencintaimu."

Aku melepaskan diri dari pelukannya, berusaha untuk menghentikan tangisku, "Kapan kau akan berangkat?"

"Besok pagi, aku ingin bertemu denganmu sebelum pergi. Maukah kau menemuiku di bandara besok pagi?" Tuturnya.

"Aku akan datang, Mark." Aku kembali memeluk tubuhnya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya dan menguncinya rapat-rapat di dalam ingatanku.
Aku pasti akan sangat merindukannya.

Keesokan harinya aku berangkat ke bandara dengan tergesa-gesa.Semoga aku tidak terlambat dan masih sempat untuk bertemu dengan Mark.

"Andara..." aku berhenti berlari ketika mendengar suara Mark.

Aku langsung berbalik ke arahnya. "Maaf aku terlambat, Mark." ucapku sambil mengatur nafasku yang tersengal-sengal.

"Tidak apa-apa yang penting kau sudah datang. Andara dengar, maukah kau berjanji untuk menungguku?" Timpalnya.

"Aku akan menunggumu, sampai kapanpu, Mark." Ucapku.

"Aku ingin kau menyimpan liontin ini. Ingatlah aku jika kau merindukanku." Mark memakaikan liontin antik berbentuk hati itu di leherku.

"Liontin ini sangat indah, Mark. Aku akan menjaganya." Ucapku sambil memandangi liontin yang kini terpasang di leherku.

"Sayang, aku harus segera berangkat. Jaga diri baik-baik." Mark memelukku.

"Berhati-hatilah di sana, aku akan menunggumu, Mark." Ungkapku.

"Aku mencintaimu Andara, tunggulah aku kembali." Mark melepaskan pelukannya lalu mencium bibirku. "Aku pergi..." pamitnya.

Aku hanya bisa mengangguk sambil menahan air mataku yang mulai jatuh. Mark lalu masuk, sedangkan aku hanya bisa terisak memandangi sosoknya diantara orang-orang yang memiliki penerbangan ke Amerika.

Aku tetap berdiam di sana hingga sosoknya benar-benar menghilang dari pandanganku.

"Aku akan menunggu kembali, Mark. Sampai kapanpun aku akan menunggumu." Ucapku dengan lirih sambil menatap kepergiannya.

***

Suara ketukan di pintu kamarku membuyarkan semua lamunanku empat tahun yang lalu. Aku bergegas turun dari tempat tidurku dan membukakan pintu.

Dengan malas aku membuka pintu kamarku. Ternyata Ana sahabatku yang datang.       

"Apa yang sedang kau lakukan? Mengurung diri di akhir pekan seperti ini." tegurnya sambil menaikan sebelah alisnya.

"Tidak ada, aku hanya sedang ingin berdiam diri di rumah saja, Ana." Jawabku dengan malas.

"Ayo kita pergi keluar untuk berdansa di Sunshine Club banyak pria tampan di sana." Ana begitu bersemangat sekali menceritakan rencananya.

"Aku tidak tertarik, Ana." Timpalku malas, sambil berjalan menuju ke sofa kemudian merebahkan tubuhku di sana.

"Andara, ayolah. Tak ada salahnya kan kau bersenang-senang." Paksanya.

"Kau pikir aku terlihat seperti orang yang frustasi, begitu?" aku menaikan sebelah alisku.

"Ya, kau seperti itu. Kau masih saja percaya bahwa Mark akan kembali lagi. Astaga Andara, kapan kau akan sadar jika kau sudah di bodohi oleh pria itu." Protesnya dengan gemas.

"Mark pasti kembali, Ana. Dan aku yakin dengan kata hatiku." Jawabku singkat.

"Dengar Andara, apakah kau lupa sudah hampir empat tahun ia pergi. Dan sudah dua tahun ia tidak menghubungimu." jelas Ana.

Aku terdiam, terpaku dengan kenyataan yang telah di lemparkan Ana tepat di depan mukaku.

"Aku tidak mau tahu, pokoknya nanti malam kau harus menemaniku. Ayo kita bongkar lemarimu, apakah kau mempunyai sesuatu yang pantas untuk di kenakan nanti malam." Ujarnya bersemangat sambil menyeretku ke kamar.

Setelah sampai di kamarku, Ana berjalan menuju ke lemari pakaianku dan mulai mencari pakaian yang dia anggap "pantas" untuk aku gunakan.

Begitulah Ana, ia orangnya sangat keras dan pemaksa, namun aku merasa sangat beruntung sekali memiliki sahabat seperti dia. Aku sangat menyayangi sahabatku ini.

"Sudahlah, Ana. Aku tak ingin pergi kemanapun malam ini." Ucapku malas sambil berjalan ke arah tempat tidurku.

"Jangan berdebat denganku, Andara. Ya Tuhan, semua pakaianmu sangat mengerikan. Bahkan kau tidak memiliki gaun cocktail di lemarimu." pekiknya sambil terus membongkar lemari pakaianku.

"Sudah kubilang, kan? Lagipula aku tidak menyukai pesta, jadi untuk apa aku memiliki gaun." Timpalku.

Ana berbalik padaku sambil melipat kedua tangannya, "Cepat ganti pakaianmu, Andara. Karena sekarang kita akan berbelanja." Perintahnya dengan suara tegas.

"Tidak, aku tidak suka pergi berbelanja, Ana." Tolakku.

"Sudah kubilang jangan mulai untuk berdebat denganku. Cepat ganti atau aku akan menyeretmu." Pekiknya.

Sambil menggerutu akhirnya aku mengganti pakaianku. Aku memakai celana jins lusuhku dan memadukannya dengan blus berwarna hitam. Ana sempat memprotes pakaian yang kukenan, namun aku tak menghiraukan kicauannya itu.

Menggunakan mobil milik Ana, kini kami sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang berada di kota Dublin. Setelah sampai Ana langsung menyeretku masuk ke berbagai butik dan toko sepatu. Ana mulai sibuk mencari berbagai macam pakaian dan sepatu untukku. Sedangkan aku hanya mengikuti saja dari belakang.

Setelah selesai berbelanja kami memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran untuk makan. Lalu kami pulang menuju ke rumahku.

Selesai membersihkan diri, Ana mulai melakukan make over pada wajah dan rambutku. Aku bersin-bersin ketika Ana mengusapkan sesuatu di wajahku. Setiap kali aku protes Ana langsung memarahiku.

"Diam Andara, jangan banyak bergerak. Aku tinggal memakaikan blush on ini saja dan selesai." Ana menyapukan blush on berwarna merah muda di kedua pipiku. "Ya, selesai. Lihat, kau sangat cantik Andara. Sayangnya kau menyembunyikan kecantikanmu itu." Pujinya sambil tersenyum puas.

Aku memperhatikan pantulan wajahku di cermin. Bibir yang penuh dengan lipstik bewarna merah muda, mata yang bulat dengan riasan mata kucing dengan bulu mata tebal yang lentik. Astaga apakah ini benar-benar wajahku? Ternyata aku memang cantik, gumamku dalam hati.

"Ehem, sudah puas mengagumi hasil karyaku? Sekarang cepat ganti pakaianmu." Ana memberikan gaun peplum berwarna lavender. Gaunnya benar-benar melekat dengan pas di tubuhku. Dan sekali lagi aku mengagumi pantulan diriku di cermin.

"Ayo, kita berangkat sekarang. Dan aku pastikan akan banyak sekali pria yang mengantri untuk berdansa denganmu nanti." Ucapnya dengan antusias.

"Ana, berhentilah membuatku malu." Timpalku.

"Kau memang sangat cantik Andara. Ayo, kita pergi sekarang." Ungkapnya meyakinkanku.

Lalu kami berdua pergi menuju ke Sunshine Club. Ketika kami sampai dan masuk ke dalam semua mata langsung memandang kami berdua.

"Andara, kau lihatkan semua orang memperhatikan kita." Bisiknya.

"Itu karena kau sangat cantik, Ana." Aku menimpali.

"Tidak, itu karena aku datang bersamamu Cinderella. Ayo kita mencari meja." Celetuknya.

Aku dan Ana memilih sebuah meja yang posisinya berada di pojok. Ana memesan dua gelas cocktail untuk kami berdua. Dan ternyata Ethan ada di sini.

Aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan hingar bingar tempat ini. Secara spontanitas aku mulai menggoyangkan kepalaku mengikuti alunan musik yang di mainkan oleh Dj.

Saat ini Ana sedang berdansa dengan Ethan kekasihnya di lantai dansa. Sedangkan aku lebih memilih untuk duduk sambil memperhatikan sekitar.

Tiba-tiba mataku menatap sosok yang amat sangat aku kenal dan aku rindukan. MARK. Nama itu langsung bergema di kepalaku. Ya, itu Mark. Pria yang aku tunggu selama bertahun-tahun.

Namun pemandangan yang aku saksikan malam ini benar-benar membuat hatiku sakit dan hancur berkeping-keping. Ujung mataku mulai memanas. Aku merasakan sakit yang teramat sangat. Ya Tuhan, mengapa Mark tega berbuat seperti ini kepadaku.

Tuhan, ternyata apa yang sudah aku lakukan selama ini percuma. Janji yang selama bertahun-tahun aku pegang menjadi sia-sia seperti ini. Aku terus memandang Mark, aku berharap ia akan menyadari kehadiranku di sini. Namun apa yang terjadi, ketika pandangan kami bertemu Mark tidak bereaksi apa-apa. Ia malah kembali mencium wanita berambut pirang yang sedang bergelayut manja di lengannya.

Ya Tuhan, aku benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi kesakitanku ini. Ketika Ana kembali ke meja aku pamit untuk pergi ke toilet.

Aku memandang cermin dengan tatapan yang nanar. Seluruh kepercayaan yang aku jaga rutuh dalam waktu beberapa detik. Tidak, aku tidak boleh menangis, aku akan membuktikan bahwa aku kuat dan baik-baik saja.

Dengan lunglai aku keluar dari dalam toilet. Lalu aku bertemu dengan Ethan, yang merupakan sahabat dan sepupu dari Mark. Ethan terkejut bertemu denganku, terlebih lagi melihat penampilanku pada malam ini.

"Andara... Astaga aku pikir bukan kau." Sapanya.

"Hai, Ethan." Sapaku dengan singkat.

"Hey, ada apa apa?" Tanyanya penasaran.

"Aku rasa kau sudah tahu ada apa denganku." Jawabku lesu.

"Ah, jadi kau sudah bertemu dengan, Mark." Tebaknya.
               
"Tidak bertemu, aku melihatnya berada disini dan... dan... ia bermesraan dengan seorang wanita. Aku mengerti kenapa ia sudah tidak pernah menghubungiku selama dua tahun ini." Tuturku dengan suara yang mulai bergetar. Aku tidak boleh menangis.

"Andara, ini tidak seperti yang kau lihat." Timpal Ethan.

"Cukup Ethan, apa yang aku lihat malam ini sudah menjelaskan semuanya. Penantianku selama bertahun-tahun tak berarti sama sekali. Apa yang kujaga selama ini, benar-benar tak berarti." Tukasku sambil memberikam kode agar ia tak melanjutkan ucapannya lagi.

"Astaga Andara, kau salah paham. Kau harus mendengarkan penjelasan dariku." Cecarnya.

"Ethan, kumohon aku tak mau mendengar apapun lagi." Pintaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Andara..." suara Ethan melunak, namun aku menggelengkan kepalaku.

"Cukup Ethan, sebaiknya aku pergi dari sini sekarang. Permisi." Pamitku.

Aku berbalik meninggalkan Ethan yang masih mematung di belakangku. Ekspresi wajahnya terlihat kalut dan terlihat juga perasaan bersalah. Tapi aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darinya tentang Mark sampai kapanpun.

Aku langsung kembali ke mejaku dan mengajak Ana untuk pulang. "Ana, ayo kita pulang sekarang juga." Ajakku pada Ana.

"Ada apa denganmu Andara? Apa yang terjadi?" Tanya Ana dengan kening yang berkerut.

"Aku hanya ingin pulang, Ana. Jika kau tidak mau aku bisa pulang menggunakan taksi." Maaf aku membohongimu Ana.

Aku mengambil clutch-ku yang berada di atas meja dan bergegas meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak menghiraukan Ana yang memanggil-manggil namaku.

Ketika di luar aku langsung memberhentikan sebuah taksi. Aku terdiam selama perjalanan menuju ke rumahku. Tuhan, mengapa harus seperti ini? Aku benar-benar tak memiliki tempat untuk mengadu. Mama dan Papa meninggal dalam kecelakaan setahun yang lalu. Dan sekarang aku harus kehilangan orang yang paling aku sayangi lagi.

***

Keesokan harinya aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhku. Rasanya aku malas sekali untuk masuk kerja hari ini. Apapun yang terjadi aku harus tetap bekerja. Satu-satunya sumber penghasilanku adalah pekerjaanku saat ini. Menjadi seorang editor di perusaahan koran besar memang menjadi impianku.

Setelah mandi aku membuka lemari pakaianku, aku terkejut karena semua pakaian lamaku tidak berada di sana. Pasti Ana sudah mengganti dan membuangnya. Dengan terpaksa aku harus memakai pakaian yang sudah di belikan oleh Ana. Akhirnya aku memutuskan memakan rok pensil berwarna hitam yang aku padukan dengan stoking hitam, serta atasan blus berwarna putih tanpa lengan dengan blazer berwarna abu-abu.

Aku mengamati pantulan diriku di dalam cermin. Lumayan, mungkin aku akan terbiasa dengan semua pakaian-pakaian itu. Setelah selesai memulaskan riasan tipis di wajahku. Aku mengambil sepatu berwarna hitam bertumit tinggi. Setelah mengambil tas kerjaku, aku bergegas turun ke bawah untuk membuat sarapan kesukaanku.

Setelah selesai aku bergegas ke garasi untuk memanaskan mesin mobil peninggalan orang tuaku. Di dalam mobil aku memutar musik kesukaanku.

"There's no more waiting. Holding out for love. You are my Godsend. That I have been forever dreaming of. My angel from above. You are my guardian..."

Aku memejamkan mataku, meresapi alunan musik yang mengalun lembut itu. Pikiranku kembali melayang pada kejadian tadi malam.

"Heaven knows,  I'm head over heels and it shows, I've played every field I suppose. But there's something about you. When you're around.Baby I have found I get lost in you."

Tak terasa air mataku mulai jatuh membasahi pipiku. Buru-buru aku menghapusnya dan segera menjalankan mobilku menuju ke kantor.

Aku harus bisa fokus dengan semua pekerjaanku. Inilah satu-satunya cara agar aku bisa mengeluarkan semua hal yang berhubungan tentang Mark dari dalam otakku.

***

Kerja kerja kerja dan kerja. Itulah yang aku lakukan akhir-akhir ini. Bahkan aku tak menghiraukan ocehan Ana. Seperti hari itu Ana datang mengunjungiku di rumah.

"Jika kau memaksaku untuk pergi menemanimu ke klub, itu takkan berhasil." Tolakku sambil menggelengkan kepalaku.

"Tidak, aku hanya ingin pergi berjalan-jalan dan mengobrol di kedai kopi. Akhir-akhir ini yang kau lakukan hanya kerja, Andara." Jawab Ana yang yang akhirnya melunak.

Aku mengerutkan keningku, "Baiklah, berikan aku waktu sepuluh menit untuk mengganti pakaianku."

"Cepat bersiap-siap, aku akan menunggumu disini." Teriaknya ketika aku mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua.

Setelah selesai mengganti pakaian aku bergegas menemui Ana di bawah. Ketika menuruni tangga tiba-tiba aku merasakan sakit yang teramat sangat di bagian tulang belakangku.

Aku terpaku beberapa saat di tangga, karena rasa sakit itu membuatku tak bisa menggerakkan tubuhku. Setelah rasa sakit itu mereda aku memaksakan diriku untuk bergerak meskipun terasa sangat sakit.

"Ayo kita pergi sekarang, Ana." Ajakku.

"Baiklah, kau baik-baik saja?" Tanya Ana dengan suara khawatir.

"Ya, aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?" Tukasku dan balik bertanya.

"Wajahmu terlihat sangat pucat. Jika kau merasa tidak sehat sebaiknya kita tidak usah kemana-mana." Ungkapnya dengan ekspresi khawatir.

"Aku baik-baik saja, Ana." aku berusaha memberikan senyuman andalanku untuk meyakinkannya.

"Jangan tersenyum seperti itu, Andara. Baiklah, ayo kita bersenang-senang." Akhirnya Ana berhasil di yakinkan.

Kami pergi ke tempat yang biasa di gunakan para pemuda dan pemudi di kota Sligo. Aku dan Ana sedang mengobrol di salah satu kedai kopi ternama di sana.

"Ana, bagaimana hubunganmu dengan Ethan?" Tanyaku di sela-sela kegiatanku menikmati kopi.

"Kami baik-baik saja, Andara." jawabnya sambil tersipu malu.

"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Dengan begitu aku tak perlu khawatir lagi jika harus meninggalkanmu." Jawabku sambil tersenyum penuh syukur. Namun tiba-tiba Ana menjatuhkan sendok kopi yang sedang di pegangnya. "Kau kenapa, Ana?" Tanyaku kebingungan.

"Kau... Apa yang kau katakan barusan? Kau tidak bermaksud untuk pergi, kan?" Cecarnya dengan suara yang tergugu.

"Tidak Ana, aku tidak akan pergi kemana-mana. Hanya kau yang aku miliki di dunia ini." Timpalku.

"Tapi kata-katamu membuatku takut. Seolah-olah kau akan pergi jauh dan meninggalkanku." Gumamnya dengan suara yang terdengar sedih.

"Aku masih disini, Ana." Aku meyakinkannya lagi.

Ketika sedang asyik bercanda, lagi-lagi aku melihat sosok Mark bersama wanita yang aku lihat ketika di klub beberapa waktu yang lalu. Ana menyadari perubahan sikapku, karena dengan tiba-tiba Ana meremas tanganku.

"Aku baik-baik saja, Ana. Aku sudah merelakan semuanya. Mark memang bukan untukku. Aku sudah mengubur jauh-jauh perasaan yang aku jaga untuk Mark. Aku takkan mengusiknya." Ungkaku dengan suara yang meyakinkan.

"Ethan sudah menceritakan semuanya. Dengar Andara kau harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya." Tutur Ana sambil menundukkan kepalanya

"Kenyataan apa, Ana? Kenyataan bahwa Mark dan wanita itu sudah bertunangan dan akan segera menikah?" Tanyaku tak mengerti.

Ana tersentak kaget mendengar ucapanku, "Itu memang benar, Andara. Tapi kau harus mendengarkan kenyataan yang lainnya."

"Tidak Ana, kumohon. Kita akhiri semua pembicaraan tentang Mark, aku tak mau mendengar apapun tentangnya, kumohon." Kilahku sambil menunjukkan ekspresi tidak setuju.

"Jika itu yang kau pinta, baiklah. Aku takkan membicarakannya lagi." Akhirnya Ana mengalah.

"Terima kasih, Ana." Ana mengangguk sambil tersenyum. Meskipun aku berkata baik-baik saja, sebenarnya hatiku teriris-iris. Sakit yang teramat sangat.

***

Semakin lama aku semakin sering merasakan sakit di seluruh tubuhku. Bahkan terkadang aku tidak bisa menggerakan tanganku yang terasa sangat kaku di sertai rasa sakit.

Sakit itu mulai menghambat seluruh kegiatan yang aku kerjakan. Sudah beberapa kali aku tidak masuk kerja. Untung saja Ethan mau mengerti keadaanku. Dan sepertinya hari ini aku tidak bisa masuk kerja lagi. Aku memutuskan untuk mengirim pesan  kepada Ethan.

"Ethan, maaf sepertinya hari ini aku belum bisa masuk kerja. Aku akan pergi ke rumah sakit."

Tak lama kemudian aku menerima pesan balasan dari Ethan.

"Tidak apa-apa Andara. Masuklah jika kau sudah lebih baik."
               
Aku segera membalas pesannya dengan ucapan terima kasih. Setelah itu aku bergegas mengambil kunci mobilku dan pergi menuju ke rumah sakit.

Setelah menceritakan sakit yang sering aku alami kepada dokter. Aku mulai menjalani berbagai macam tes kesehatan. Dua jam kemudian hasil tes milikku keluar. Aku merasa seperti di tabrak oleh truk yang melaju dengan kecepatan penuh. Katena Dokter memvonis bahwa aku mengidap penyakit kanker tulang stadium lanjut dan harus segera melakukan kemoterapi.

Meskipun dokter tidak yakin dengan kemoterapi akan menghilangkan atau memperlambat pertumbuhan seluruh sel kanker yang sudah terlanjur menyebar di seluruh organ vital tubuhku. Harapanku untuk hidup sangat kecil sekali. Aku berjalan lunglai menuju ke mobilku. Berulang kali aku memandangi kertas hasil lab itu. Kanker. Astaga, bagaimana bisa aku terkena penyakit mematikan itu?? Tuhan, cobaan apalagi yang berikan untukku???

Keesokan harinya aku memutuskan untuk masuk kantor. Aku tidak mau terpuruk setelah mengetahui penyakitku. Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku yang tidak lama lagi.

"Hai Andara, syukurlah kau masuk hari ini." Sapa Ethan.

"Hai Ethan, aku sudah sehat. Makanya aku memutuskan untuk masuk hari ini." Balasku sambil tersenyum.

"Apakah kau yakin sudah benar-benar sehat?" Tanyanya khawatir.

"Aku baik-baik saja, Ethan." Timpalku.

"Wajahmu tidak menunjukkan seperti itu. Kau terlihat seperti vampir." Ucapnya.

"Leluconmu sangat lucu sekali, Ethan. Jadi apakah ada yang bisa aku bantu?" Tukasku sambil tertawa.

"Ah, aku hampir saja lupa bahwa aku membutuhkanmu di ruang rapat lima menit lagi." Ucapkan kemudian.

"Aku akan segera ke sana, Ethan. Terima kasih." Balasku.

"Jika kau belum merasa sehat kau tidak perlu menghadirinya." Tuturnya lagi.

"Aku baik-baik saja, Ethan. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menjaga Ana." Aku kembali harus meyakinkan Ethan.

"Kau tahu bahwa aku sangat mencintainya." Ucapnya tulus.

"Bagusnya, aku jadi lebih tenang sekarang." Ungkapku, "Ayo, kita ke ruang rapat bersama-sama." Aku menenarik tangat Ethan dan menuju ke ruang rapat.

Ternyata rapat itu menghadirkan presiden direktur di tempatku bekerja. Aku langsung lemas  ketika mengetahui Mark adalah pemimpin tertinggi di perusahaan ini. Setelah rapat selesai aku langsung menarik Ethan.

"Mengapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, Ethan?" Cecarku setelah rapat selesai.

"Maafkan aku, Andara. Aku tahu bahwa selama ini kau sedang menghindari Mark." Jelasnya.

"Mark seperti orang lain untukku saat ini, Ethan." suaraku melemah.

"Karena Mark kehilangan sebagian memori ingatannya, Andara." Ucap Ethan.

"Apa maksudmu?" Aku tersentak mendengar ucapan Ethan.

"Mark mengalami amnesia, Andara. Dua tahun yang lalu tepatnya di tahun ke tiga Mark tinggal di Amerika. Mark mengalami kecelakaan, benturan keras yang terjadi membuatnya kehilangan sebagian ingatannya. Dan wanita yang sering kau lihat adalah orang yang mendonorkan ginjalnya untuk Mark. Itulah sebabnya selama dua tahun terakhir ia tidak menghubungimu." Jelasnya panjang lebar.

"Mendonorkan ginjalnya?" aku mengerutkan kening tak mengerti.

"Ya, karena kecelakaan itu sudah merusak kedua ginjal Mark, Andara. Lalu Kate dengan senang hati menawarkan ginjalnya dan ternyata cocok." Lanjut Ethan.

"Mengapa... Mengapa kau tak memberitahuku, Ethan." Tanyaku dengan suara tertahan.

"Maafkan aku, Andara." Ucapnya.

Aku mengacak rambutku karena fruatasi, "Semua sudah terlambat, bukan." Desisku frustasi.

"Ingatan Mark bisa kembali kapan saja, Andara." Ethan meyakinkan.

"Tetap saja semua sudah terlambat. Biarlah dia tetap seperti ini, dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang. Aku harus kembali ke ruanganku, Ethan." Tukasku sambil bergegas meninggalkan Ethan yang kebingungan dan kembali ke ruanganku.

***

Sudah tiga bulan aku menjalani hari-hariku menahan rasa sakit. Aku tidak mau menjalani kemoterapi, aku tidak mau rambutku menjadi rontok. Dan membuat orang-orang di sekitarku bertanya-tanya apa yang terjadi kepadaku. Dan akhirnya mereka akan mengetahui penyakitku.

Namun hari ini adalah puncak dari rasa sakit yang selama ini aku tahan-tahan. Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Untuk menjalani pengobatan yang menyakitkan ini. Beberapa jam setelah kemoterapi, aku terkulai lemas di ruang pemulihan. Aku mengalami muntah berkali-kali, dan itu membuat tubuhku semakin lemas.

"Mama, Papa andaikan kalian masih hidup. Aku pasti takkan merasakan kesepian yang teramat sangat seperti ini." air mataku jatuh tak tertahankan lagi. Aku hanya sendiri di ruangan ini, aku menangis sambil menggenggam erat liontin pemberian Mark beberapa tahun yang lalu.

Dokter sebenarnya memintaku untuk menjalani rawat inap. Namun aku memaksa untuk pulang hari ini juga. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit sambil terseok-seok. Tubuhku terasa sangat lemah sekali. Lalu aku melihat sosok Ana dan Ethan bersama seorang wanita di depan sebuah ruangan.

Dengan perasaan yang kacau aku memutuskan mendekati mereka semua. "Ana ada apa?" tanyaku ketika sampai di sana. Dan aku tahu bahwa wanita yang bersama mereka adalah Kate.

"Andara, kau kemana saja seharian ini? Mengapa kau tidak bilang sedang sakit." Tanya Ana setelah melepaskan pelukannya.

"Aku sudah tidak apa-apa, Ana. Ethan ada apa sebenarnya?" Tanyaku.

"Mark mengalami kecelakaan, Andara." Jawab Ethan singkat.

"Apa? Kau bercandakan, Ethan?" Pekikku tertahan.

"Aku sedang tidak bercanda, Andara." Ethan meyakinkan.

Aku langsung terduduk lemas di kursi sambil menutup wajahku. Tiba-tiba suster keluar.

"Suster bagaimana keadaan tunangan saya?" Kate langsung berlari menghampiri suster.

"Maaf, apa anda yang bernama Andara?" Tanya suster.

"Andara? Saya Kate suster." Jawab Kate bingung.

"Apakah anda kenal dengan seseorang yang bernama Andara?" Suster kembali bertanya.

"Saya Andara, suster. Ada apa?" tanyaku dengan suara lemah.

"Pasien terus saja memanggil-manggil nama anda, jadi dokter meminta saya untuk memanggil anda. Segeralah masuk ke dalam." suster itupun masuk kembali.

Kate menghampiriku dan tiba-tiba menampar wajahku. "Kau... Punya hubungan apa kau dengan tunanganku? Jangan harap kau bisa merebutnya dari tanganku wanita jalang." Pekiknya penuh amarah.

"Kate, hentikan. Kau tidak tahu apa-apa tentang Andara." Ethan menarik tubuh Kate menjauh dari hadapanku.

"Ethan, mengapa kau lebih membelanya daripada membelaku?" Desis Kate.

"Karena jika kecelakaan itu tidak terjadi aku yakin Mark dan Andara sudah hidup bahagia." Jelas Ethan.

"Apa maksud dari perkataanmu itu, Ethan?" Tanya Kate penuh tanya.

Aku hanya membisu menyaksikan semua ini. Sampai akhirnya Ana menengahi pertengkara  yang terjadi di antara Kate dan Ethan.

"Sayang, sudahlah. Tahan emosimu ingat kita sedang berada di rumah sakit. Dan kau Andara sebaiknya kau cepat masuk. Mark sudah menunggumu di dalam." Ana menengahi.

Aku langsung masuk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Aku masuk kedalam ruangan itu. Aku melihat sosok Mark terbaring lemah. Hatiku langsung terasa sakit. Aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang Mark.

"Mark... Mengapa kau bisa seperti ini, Mark." ucapku sambil menangis terisak dan menggenggam tangannya.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang membelai rambutku.

"J-jangan menangis An-An-Andara." Ucap Mark terputus-putus.

"Mark, kau sudah sadar. Terima kasih ya Tuhan, aku akan memanggil dokter." Aku tersentak kaget namun bersyukur karena Mark sudah sadar.

"Ti-tidak... Kau yang aku butuhkan, sayang." Ucapnya sambil menahan tanganku.

"Tapi kau membutuhkan dokter, Mark." Jawabku.

"Aku butuh kau, Andara. Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita. Maaf membiarkanmu sendiri ketika orang tuamu..." aku langsung menyela ucapannya.

"Tidak Mark, aku baik-baik saja." Ucapku buru-buru.

"Liontin itu, ternyata kau masih menyimpannya." Mark mengalihkan pandangannya pada liontin yang kupakai.

"Aku sudah berjanji padamu, Mark." Tuturku.

Akhirnya Mark di pindahkan ke ruang pemulihan. Ketika aku sedang berbincang-bincang dengan Mark. Tiba-tiba Kate masuk ke dalam, menarik tanganku dan mendorong tubuhku.

"Pergi kau dari sini wanita jalang sialan." Teriak Kate.

Ana yang masuk bersama Ethan langsung membantuku bangun.

"Apa yang kau lakukan, Kate?" Tanya Ethan.

"Menjauhkan wanita jalang ini dari tunanganku, Ethan." Tukas Kate.

"Sudah jangan bertengkar lagi. Kau tenang saja Kate, aku akan pergi. Bahkan tak akan ada yang bisa menemukanku lagi." Aku menengahi.

"Baguslah, sebaiknya kau mati saja." Timpal Kate sengit.

Mendengar ucapan Kate Mark langsung marah, "Berani-beraninya kau berkata seperti itu kepada kekasihku, Kate." Pekik Mark dengan suara yang lemah.

"Aku tunanganmu Mark, bukan wanita jalang itu." Ucap Kate dengan ekspresi wajah yang terluka.

"Berhenti memanggilnya wanita jalang. Andara itu gadis baik-baik." Bentak Mark.

"Mark sudah, aku tak apa-apa. Semua sudah terlambat Mark, kau harus mulaie mencintai Kate. Karena dia sangat mencintaimu." Aku kembali menengahi.

"Tapi aku sangat mencintaimu, Andara." Ucap Mark.

"Aku tahu, tapi aku tak bisa memilikimu. Mark, kau tahu terkadang cinta itu tak harus saling memiliki. Satu yang pasti, aku akan selalu mencintaimu hingga maut menjemputku." Lalu aku melepas liontin pemberian Mark, "Tugasku selesai untuk menjaga liontin ini. Terima kasih untuk waktu-waktu yang sangat menyenangkan yang pernah kau berikan kepadaku." aku menyimpan liontin itu di genggaman tangannya, "Aku pergi, selamat tinggal." aku mengecup keningnya sambil menahan air mataku.

Aku langsung keluar dari ruangan Mark. Dan ketika di luar air mataku tumpah tak tertahankan lagi. Aku menangis terisak sambil bersandar di dinding rumah sakit.

Tiba-tiba Ana memelukku, "Andara... Katakan bahwa kau tak akan pergi kemana-mana." Ucapnya.

Aku tertawa ketir, "Aku tak akan kemana-mana Ana. Aku kan sudah mengatakannya berkali-kali."

Ana melepaskan pelukannya, "Aku takut Andara. Sepertinya kau akan pergi jauh, akhir-akhir ini kau sangat aneh."

"Kau lucu sekali Ana, aku tak akan kemana-mana. Aku ingin pulang, hari ini sangat melelahkan sekali."

"Baiklah, biar aku mengantarkanmu." Ucap Ana.

Ketika hendak berjalan, tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerang. Rasa sakitnya seribu kali lebih sakit dari biasanya. Aku terduduk di lantai sambil menahan rasa sakit.

"Andara, kau kenapa?" Ana panik melihat keadaanku.

"Sakit sekali Ana, sak..." tiba-tiba semuanya gelap.

***

Aku panik melihat Andara kesakitan. Aku tak tahu ada apa dengannya.

"Andara, kau kenapa Anadara. " aku menepuk-nepuk pipinya,  "Suster... Tolong aku suster..." teriakku.

Beberapa suster langsung datang, mereka membawa tubuh Andara ke ruang ICU. Aku sangat panik sekali. Tak lama kemudian Ethan datang.

"Sayang ada apa? Ada apa dengan Andara?" Ethan tiba-tiba muncul.

Aku langsung memeluk Ethan dan menangis di pelukannya, "Aku tak tahu Ethan. Aku sangat takut sekali." Racauku di dalam pelukan Ethan.

"Shhh, aku disini sayang. Andara pasti baik-baik saja." Ucap Ethan sambil mengelus punggungku lembut.

Tak lama kemudian dokter keluar. Melihat itu aku langsung menghampiri dokter itu sambil ketakutan. "Dokter, bagaimana dengan Andara?" Tanyaku panik.

"Sel kankernya sudah menyerang otak. Padahal tadi pagi kami baru saja melakukan kemoterapi." Jelas dokter.

"Kanker? Jadi Andara mengidap kanker dokter?" Suaraku tertahan.

"Benar, Andara mengidap kanker tulang." Jawab dokter.

Aku hanya bisa menangis mendengar penjelasan dokter. Ya Tuhan, mengapa Andara menyembunyikan semua ini.

"Lalu bagaimana keadaan Andara sekarang?" Ethan bertanya kepada dokter.

"Kami sudah berusaha semampu kami. Namun ternyata kondisi tubuhnya semakin menurun, Andara harus menjalani perawatan meskipun kami tidak tahu sampai kapan ia bisa terus bertahan hidup." Dokter kembali melanjutkan penjelasannya.

Seperti petir di siang hari. Aku sangat terpukul mendengar ucapan dokter. Andara, sahabatku tersayang sedang sekarat. Tidak. Tidak. Tidak.

"Ada kemungkinan Andara akan sembuhkan, Dok?" Tabya Ethan.

"Kami akan berusaha semampu kami, semua tergantung dari tubuh Andara sendiri." Lanjut dokter.

"Tidak..... Ethan ini tidak mungkin Ethan, Andara." Aku kembali menangis.

"Dokter apakah kami bisa melihatnya?" Tanya Ethan.

"Silakan." Dokter mempersilakan.

Sambil menangis aku dan Ethan masuk ke dalam. Aku langsung memeluk Ethan ketika melihat tubuh Andara yang terbaring lemas tak sadarkan diri.

"Ya Tuhan..." aku langsung mendekati tubuh Andara dan memeluknya, "Andara... Ayo bangun... Andara... Mengapa kau tega melakukan ini kepadaku Andara... Ayo bangun Andara..." suaraku serak karena terus menangis. "Mengapa kau merahasiakan semua ini dariku..." racauku.

"A-A-Ana... J-Jangan menangis, kau terlihat jelek jika menangis." Andara akhirnya membuka matanya dan berkata.

"Andara, akhirnya kau sadar juga." Aku menyeka air mata yang jatuh di pipiku, "Jangan bercanda Andara. Mengapa kau merahasiakan semua ini?"

"Aku tidak ingin membuatmu sedih, Ana." Dengan suara lemah Andara bersusah payah untuk menjelaskannya kepadaku, "Aku baik-baik saja, Ana. Aku sangat menyayangimu Ana." Ucap Andara.

"Sudah Andara, jangan berbicara lagi. Kau harus beristirahat, kami ingin kau sembuh." Ethan menengahi.

"Penyakitku tidak dapat di sembuhkan, Ethan. Sel kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuhku. Aku tak tahu sampai kapan akan bertahan."

"Berhenti berkata seperti itu, Andara. Kau membuatku semakin sedih." Bentakku.

Sudah hampir satu minggu Andara menjalani pengobatan di rumah sakit. Namun belum ada perubahan yang menggembirakan. Meskipun saat ini Andara terlihat lebih baik dan bisa kembali tertawa  bersama kami. Namun aku tetap merasa sangat takut. Takut kehilangan satu-satunya sahabat yang aku sayangi.

***
               
Hari itu Mark datang menemuiku, sepertinya Ana dan Ethan sudah memberitahu Mark tentang penyakit kanker yang sedang menggerogoti tubuhku saat ini.
               
"Sayang, demi Tuhan, mengapa kau menyembunyikan semua ini?" wajahnya terlihat sangat sedih sekali.
               
"Aku tidak apa-apa, Mark. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya." Jawabku sambil berusaha tetap terlihat biasa saja.
               
"Aku takut... Aku takut kehilanganmu, sayang." Keluhnya dengan suara yang parau.

"Aku tak akan pergi kemana-mana, Mark." Aku meyakinkan Mark.

"Aku sangat mencintaimu, Andara. Sampai kapanpun akan selalu mencintaimu." Ucapnya lagi.

"Begitupun juga denganku, Mark. Aku sangat mencintaimu sampai akhir hidupku. Mark, boleh aku meminta sesuatu darimu?" Pintaku.

"Apapun, sayang. Aku akan melakukannya untukmu." Jawabnya.

"Nyanyikan sebuah lagu untukku. Kumohon, Mark." Ucapku.

"Baiklah, sayang. Aku akan menyanyikannya untukmu." Jawab Mark menyanggupi permintaanku.

There's no more wating
Holding out for love,
you are  my Godsend.
That I have been forever dreaming of 

Ternyata Mark masih ingat lagu kesukaanku, aku tersenyum mendengarnya bernyanyi,

My angel from above.
Heaven knows,
I'm head over heels and it shows.
I've played every field I  suppose,
but there's something about you
when you around.
Baby I have found
I get lost in you.

Mataku mulai terpejam, meresapi setiap lirik yang di nyanyikannya, suara Mark membuatku merasa damai.

What is this feeling,
I've never known before.
That I should touch you,
swearing to surrender ever more. That's what I come here for...

***
               
Aku terus menyanyikan lagu kesukaan Andara, namun sebelum aku menyelesaikannya Andara sudah tertidur. Kemudian aku menghentikan nyanyianku.
               
Aku membelai rambutnya dengan penuh cinta, "Cepat sembuh, sayang. Aku sangat merindukanmu." Kemudian aku mencium kening dan bibirnya.
               
Namun ada yang aneh, ketika aku mencium bibirnya aku tidak merasakan desahan nafasnya. Seketika itu aku langsung panik dan memanggil dokter. Dengan perasaan yang kacau aku berjalan mondar mandir di depan ruangan Andara. Lalu datanglah Ethan dan Ana bersama kedua orang tuaku.
               
"Mark, apa yang terjadi?" wajah Ana langsung terlihat pucat.
               
"Aku tidak tahu, Ana. Dokter sedang berada di dalam." Jawabku dengan tatapan nanar yang tak pernah lepas dari pintu kamar perawatan Andara.
               
"Mark, sayang. Kau yang sabar ya, Mama yakin Andara akan sembuh." Mama memelukku.
               
"Aku takut, Maa." Aku melepaskan pelukan Mama ketika mendengar dokter keluar dari ruangan Andara.
               
"Dokter, bagaimana keadaan Andara? Dia baik-baik saja, kan?" namun dokter hanya menggelengkan kepalanya, "Dok, dia baik-baik saja, kan?" Desakku.
               
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun nyawanya sudah tidak tertolong." Jawab dokter.
                
Mendengar jawaban dokter aku merasa seperti di lempar ke jurang berbatu tanpa dasar. Tidak, Andara tidak mungkin meninggal. Aku langsung terduduk lesu di lantai sambil menutup wajahku dan menangis.
               
"Kau yang tabah ya, Nak." Maa menepuk bahuku menguatkan.
               
Aku memandang wajah Mama, "Maa, Andara sudah pergi Maa. Dokter tidak bisa menyelamatkannya." Racauku dengan air mata yang sudah tak sanggup lagi kutahan.
               
Setelah dokter pergi kami semua masuk ke dalam. Melihat tubuh Andara yang terbujur kaku dan sudah tak bernyawa. Membuat ruangan ini di penuhi oleh isak dan tangis.

"Sayang, ayo bangun sayang. Ini aku... Aku ada disini sayang, ayo bangun..." Namun mata yang indah itu kini telah tertutup selamanya. Mata yang selalu berbinar dan yang paling aku rindukan itu sudah tidak ada lagi.

"Sayang, Andara sudah tidak ada." Ucap Mom.

"Andara hanya tidur Maa dan dia kedingingin. Tubuhnya sangat dingin. Tenang sayang, sebentar tubuhmu akan segera menghangat." Kemudian aku memeluk tubuh Andara sambil menangis.

Keesokan harinya Andara di makamkan di samping makam kedua orang tuanya. Di iringi oleh isak tangis dari orang-orang yang menyayanginya.

Selamat jalan Andara Stevannia Smith, kaulah kekasih terhebat. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Beristirahatlah yang tenang disana, sayang. Kami semua sangat mencintaimu ♡♡

when faced with the darkest day
with an endless night when I lay awake
only thought of you can pull me
through
when shadowed by greyest cloud
weighed down by darkest self doubt
memory of your smile
can pull me out
all I feel is you
all I feel is you
how can it be that
all I feel is you
and when I close my eyes
world drifts away
all is far behind
where do my thoughts rush to
they race till they find you
in the deepest sleep
in the middle of my most secret dream
it’s your face I see
your eyes following me
all I feel is you
all I feel is you
how can it be that
all I feel is you

(All I Feel Is You - HOURS OST)

         ~~~ TAMAT ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar