Aku hanya ingin menceritakan kisahku, ya meskipun aku tahu bahwa kisahku ini sangat klise. Tapi hey aku punya hak untuk mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan, bukan? Oh ayolah, jangan mencibirku seperti itu. Toh kisahku ini takkan merugikan kalian, bahkan akupun tak mengharapkan rasa simpati atau belas kasihan dari kalian.
Ah aku hampir lupa memperkenalkan namaku, perkenalkan aku Andini Khairunisa Putri Pratama. Umurku? Tak usah kalian tahu umurku berapa yang jelas umurku tidak tua dan tidak juga muda. Ya ya ya, aku tahu bahwa kata-kataku membingungkan baiklah aku akan mengatakan pada kalian. Umurku baru menginjak angka 24 tahun tiga hari yang lalu. Umur yang pas dan siap untuk berumah tangga, bukan.
Tapi sepertinya pernikahan indah yang aku impikan hanya akan terjadi di dalam khayalanku saja. Impian yang akan tetap menjadi sebuah mimpi. Entah kapan keinginan itu akan terwujud. Tidak. Tidak. Kalian salah jika mengatakan aku tidak memiliki kekasih, yang terjadi malah kebalikannya. Aku memiliki seorang kekasih yang tampan dan memiliki pekerjaan yang mapan. Dua hal itu adalah bonus yang aku dapatkan karena yang terpenting bagiku adalah akhlaq dan agamanya.
Jadi, apakah kalian benar-benar ingin mendengarkan kisahku secara lengkap? Ayolah aku tahu kalian sebenarnya tergelitik dan penasaran dengan kisahku, bukan. Meskipun sekali lagi aku tegaskan bahwa kisahku ini sangat klise. Ah ya, baiklah kalau begitu aku akan menceritakannya, duduk manis dan siapkan telinga kalian untuk mendengarkan kisah kliseku ini. Oke oke tahu aku banyak bicara, maafkan. Jangan tertawa oke!
***
Semuanya terjadi dua tahun yang lalu. Dua tahun yang benar-benar menjadi tahun yang aku benci dalam hidupku. Karena kejadian-kejadian yang terjadi saat dua tahun yang lalu itulah membuatku jadi takut untuk berkomitmen. Aku benci pria, tak percaya dengan kata cinta dan sangat menbenci kata ataupun hal-hal yang berhubungan dengan "pernikahan".
Semua ini karena ulah seseorang. Seseorang yang menempati tempat istimewa di hatiku, pada saat itu. Abimana Irwansyach Saputra, dia adalah kekasihku sejak masih SMA. Tapi saat ini ia bukan lagi kekasihku, dia hanya mantan kekasih yang sekaligus jadi orang yang paling aku benci.
Tadinya aku pikir Abi akan menjadi masa depanku. Menjadi imamku dan ayah untuk anak-anakku kelak. Dengannya pula aku memiliki impian tentang pernikahan yang manis. Aku sangat ingin memiliki pernikahan yang indah nanti.
Abi memiliki wajah yang tampan, perangainya pun baik. Ia adalah pria idaman para wanita, tak sedikit wanita yang terang-terangan mengejarnya. Namun Abi tetap tak bergeming, jika sudah seperti itu Abi akan bersikap posesif kepadaku. Menunjukkan kepada semua orang bahwa ia adalah milikku dan aku adalah miliknya.
Senang? Bahagia? Tentu saja aku merasa senang dan bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Abi. Namun semua itu berubah, tepatnya dua tahun yang lalu. Tiba-tiba saja aku merasa sikap Abi tak seperti biasanya. Entahlah mungkin hanya perasaanku saja, meskipun teman-temanku mengatakan bahwa sikap Abi tidak berubah namun tidak dengan hatiku.
Rasa-rasanya Abi menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang entahlah aku tak ingin menebak atau menerka-nerka. Sebisa mungkin aku menyingkirkan semua pikiran-pikiran negatif dari kepalaku. Aku tak ingin berpikiran buruk terhadap kekasihku sendiri. Apalagi kamu sudah bersama dalam waktu yang lama.
Kebersamaan kami yang sudah terjalin selama enam tahun rasanya cukup untuk membangun kepercayaan terhadap satu sama lain. Ya, aku mempercayai Abi, sangat bahkan. Meskipun aku tak memungkiri terkadang aku selalu memiliki prasangka buruk terhadap Abi.
Jika ada yang bilang cinta itu buta dan tak ada logika. Maka aku akan membenarkan pendapat itu. Seperti itulah aku terhadap Abi. Mencintainya dengan mata tertutup, tak memeperhatikan lingkungan sekitarku. Yang ada di mataku hanya Abi, Abi, dan Abi. Bahkan kesalah yang di buat Abi pun aku seakan menutup mata, tak melihatnya sama sekali.
Hari ini aku sedang sibuk berkeliling di salah satu mall terbesar di Jakarta. Aku sedang mencari hadiah untuk ulangtahun Abi. Hari ini Abi ulangtahun dan nanti malam akan ada perayaan ulangtahunnya yang ke 22 tahun. Sebuah pesta yang sengaja di adakan, Abi bilang ia ingin mengundang semua teman-teman kami saat masih SMA dalam pesta tersebut.
Setelah dua jam berkeliling akhirnya aku mendapatkan hadiah yang tepat. Tak lupa pula aku membeli sebuah gaun yang baru untuk di kenakan nanti malam. Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan diri dan bersiap-siap. Aku tak ingin tampil biasa-biasa saja di pesta ulangtahun kekasihku. Maka dari itu sejak sore aku sudah sibuk mempersiapkan penampilanku untuk malam ini.
Dan saat ini aku sudah berada di hotel tempat pesta ulangtahum Abi di selenggarakan. Ternyata banyak sekali tamu-tamu yang datang dan aku tidak mengenalnya. Aku berasumsi bahwa Abi juga mengundang rekan-rekan bisnisnya. Saat mencari keberadaan Abi di dalam ballroom aku berpapasan dengan beberapa teman baikku saat di SMA dulu. Kami jarang sekali bertemu karena kesibukkan masing.
"Andin, senang sekali akhirnya bisa bertemu lagi." Sapa Ghisya sahabatku.
"Ghisya, senang sekali bisa bertemu denganmu." Timpalku sambil memeluknya.
"Aku lebih banyak mengurus butikku yang ada di Singapura, kebetulan kemarin aku sedang berada di Jakarta untuk pembukaan cabang baru." Jelas Ghisya, "Kita harus pergi keluar berdua nanti. Banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan kepadamu." Lanjutnya bersemangat.
"Tentu saja, Ghisya." Jawabku singkat. "Ah, itu Abi aku akan menemuinya dulu. Kau tidak apa-apa, kan?
"Tidak apa-apa, temuilah pangeranmu." Gumam Ghisya sambi terkikik geli.
Aku hanya tertawa sambil berlalu meninggalkan Ghisya. Sahabatku itu ternyata masih belum berubah. Di perjalanan menuju ke tempat Abi berada aku bertemu dengan dia. Pria menyebalkan, entah kenapa ia selalu saja menggangguku. Dia adalah Rifky Nugraha, teman sekelasku.
Entah apa yang membuat Rifky begitu benci kepada Abi. Rifky selalu menampilkan wajah tak suka sejak tahu aku dan Abi berpacaran. Tapi aku tak ambil pusing.
"Andin..." panggil Rifky.
Otomatis langkahku terhenti, "Hai Rifky, apa kabar?" Sapaku.
"Aku ingin bicara denganmu Andin, ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu." Cecar Rifky tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku hanya menghela nafas, "Aku tak mau mendengarmu." Jawabku datar.
"Andin, please. Kali ini kau harus mau mendengarku, sebelum semuanya terlambat." Rifky terus berusaha untuk meyakinkanku agar mau berbicara dengannya.
"Tidak, aku harap kau mau mengerti dan tidak menggangguku lagi, Rifky. Aku hargai semua yang telah kau lakukan untukku. Tapi tetap aku tidak bisa." Jelasku panjang lebar. Kemudian aku pergi meninggalkan Rifky yang mematung dengan ekspresi wajah yang sedih? Entahlah, aku tak ingin peduli.
Aku bergegas mendekati Abi, namun langkahku kembali terhenti karena Abi terlihat tengah berbincang dengan beberapa orang. Mungkin dengan rekan bisnisnya, karena mereka terlihat serius. Hingga akhirnya aku mendengar suara Abi dari atas panggung.
"Pada kesempatan kali ini selain untuk merayakan ulahtahun saya juga akan mengenalkan seseorang. Karena dialah yang akan menjadi pendamping hidup saya." Mendengar kata-kata yang terluncur dari Abi membuat tubuhku gemetaran, rasa panas menghinggapi wajahku. "Hari ini pula saya akan mengumunkan pertunangan kami. Wanita cantik yang akan menjadi pendamping hidupku adalah..." Abi menggantuk kata-katanya, membuat kerja jantungku semakin kencang. "Ia adalah Putri Sonya Permana." Lanjutnya mantap sambil memandang ke arah seorang wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna merah.
Air mata mulai berkumpul di pelupuk mataku. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh menangis, setidaknya tidak di tempat ini. Ya Tuhan, hatiku benar-benar terasa sangat sakit. Ribuan pisau kini bersarang di jantungku. Mengapa semua menjadi seperti ini? Mengapa Abi bertunangan denga wanita itu? Lalu apa artinya kebersamaan kami selama bertahun-tahun ini?
Tak ada gunanya lagi aku berlama-lama disini. Aku harus pergi secepatnya dari tempat ini. Harus. Dengan tergesa-gesa aku berusaha untuk keluar dari kerumunan para tamu yang akan memberikan selamat kepada Abi dan pasangannya atas pertunangan mereka.
Namun di tengah perjalanan seseorang mencengkram lenganku. Membawaku keluar dari pesta itu, kemudian menuju ke taman yang letaknya tak jauh dari hotel. Barulah aku sadari bahwa orang yang menarikku adalah Rifky.
Ya, Rifky dia adalah salah satu pria tampan lainnya di sekolah dulu. Rifky sebenarnya baik hanya saja ia sering sekali mengerjaiku, membuatku marah dan kesal. Tapi yang membuatku tak menyukainya karena ia adalah seorang playboy. Membuatku jadi tidak menyukainya. Ia juga merupakan salah satu sahabat Abi.
"Lepaskan tanganku, aku mau pulang." Tukasku setelah kami sampai di taman.
"Tidak akan. Setelah aku yakin bahwa kau baik-baik saja, Andin." Timpal Rifky.
Aku mengalihkan pandangnku menatapnya, "Aku baik-baik saja. Kau pikir aku kenapa, huh? Akan menangis meraung-raung di dalam sana dan menuntut penjelasan kepada Abi?" Sentakku dengan sengit.
"Tidak, bukan begitu." Sanggah Rifky lembut.
"Aku tidak selemah itu, Rifky. Tidak." Namun entah mengapa tiba-tiba saja suaraku bergetar.
Rifky menarik tubuhku ke dalam pelukannya, "Menangislah Andin, menangislah sepuasnya." Gumamnya sambil memelukku erat.
Pertahananku langsung runtuh, aku menangis terisak di dada Rifky. Menumpahkan semua emosi yang sedari tadi aku tahan dan aku pendam.
Andai engkau tahu betapa ku
mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam
doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang
kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan
menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan
menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
(Afgan - Jodoh Pasti Bertemu)
Entah sudah berapa lama aku menangis di pelukan Rifky. Hatiku merasa tenang dan nyaman berada di pelukannya. Kini hanya terdengar isakan kecil dari mulutku. Kau tidak boleh menangis Andin, kau harus kuat. Pria seperti Abi tidak pantas kau tangisi, bisikku dalam hati.
Tangisku telah mereda namun Rifky masih enggan melepaskan pelukannya di tubuhku. Dengan pelahan aku melepaskan diri dari pelukannya, "Maaf sudah membuat bajumu basah. Terima kasih, aku sudah merasa lebih baik sekarang." Ucapku sambil menundukkan kepala.
Rifky meraih daguku, aku wajahku menatapnya, "Apakah kau yakin sudah baik-baik saja?" Tanyanya dengan suara yang khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa, menangis takkan bisa memperbaiki semua yang telah terjadi." Sahutku sambil tersenyum tulus kepadanya, "Sebaiknya aku pulang saja."
"Aku akan mengantarmu." Pintanya.
"Tidak usah terima kasih." Jawabku singkat, kemudian bergegas pergi meninggalkannya.
Sejak hari itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Rifky. Sebenarnya aku yang menghindar, karena dia terus menerus saja menghubungiku dan terkadang mendatangi rumahku. Sayangnya aku tak berada di Jakarta setelah kejadian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar