Selasa, 25 Februari 2014

Love Under The Rain 7

VANNO

Menjadi orang baik ternyata sangat sulit. Keluar dari dunia hitam dan melepaskan rantai yang membelenggu kita dengan dunia hitam itu tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Pergi dan menghindar sejauh apapun kegelapan itu akan terus mengikuti dan pada akhirnya sang kegelapan akan menemukanmu. Dan mencoba menarikmu kembali ke dalam kegelapan.

Ya, itulah yang sedang terjadi padaku saat ini. Ayah dan kakak angkatku telah kembali. Mereka berhasil menemukanku, bisa di tebak apa yang mereka inginkan. Mereka menginginkan aku untuk kembali dalam kegelapan. Karena itu pula aku tak bisa bersama dengan wanita yang kucintai. Amat berbahaya membiarkan Clariss tetap bersamaku.

Aku tak bisa egois, keselamatan Clariss adalah prioritas utamaku saat ini. Menjaga dirinya dan identitasnya adalah hal yang aku utamakan dari segalanya. Terlebih lagi setelah kakak angkatku tahu bahwa aku sedang dekat dengan seorang wanita. Meskipun beberapa waktu yang lalu aku mendapati Clariss di antar oleh seorang pria dan mereka berdua terlihat sangat akrab, membuat hatiku sakit seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Entah mengapa keinginan untuk tetap  melindunginya begitu besar.

Aku tahu bahwa aku akan semakin sakit karena terus saja mengawasi Clariss. Dan pria yang aku ketahui bernama Leon itu semakin hari semakin bertambah intens bersama Clariss. Dan sepertinya Clariss sudah benar-benar melupakanku. Vanno bodoh, bukankah hal ini yang kau inginkan selama ini? Clariss menjauh dan melupakanmu karena dengan begini nyawa Clariss akan selamat, rutukku dalam hati.

"Hai adikku, apa kabar?" Suara dari kakakku langsung menyadarkanku dari lamunanku.

"Mau apa kau?" Aku langsung melemparkan tatapan sinis kepada Ray. Untuk apa dia kembali muncul di hadapanku?

"Aku hanya ingin mengingatkan saja bahwa hari untuk kau melaksanakan tugas itu sudah semakin dekat." Tuturnya santai.

"Tak usah repot-repot mendatangiku kemari. Aku takkan pernah lupa dengan apa yang sudah di tugaskan kepadaku." Ucapku dingin, "Dan asal kau tahu Ray, ini terakhir kalinya aku mengikuti keinginanmu dan Dad." Tegasku.

"Dengar adikku, takkan pernah ada orang yang bisa benar-benar keluar dari dunia hitam. Jadi sebesar dan sekeras apapun usahamu untuk keluar, pada akhirnya kau akan kembali pada kegelapan itu sendiri." Jelas Ray sambil tertawa.

Aku menggertakkan gigiku, berusaha keras untuk menahan emosiku. Aku sangat tahu Ray seperti apa, ia selalu berusaha untuk memancing emosi dan amarahku. Dan ketika aku terpancing bahkan lepas kontrol ia akan tertawa bahagia dengan penuh kemenangan. Kali ini aku takkan membiarkan Ray memancing emosiku, "Terserah kau saja, Ray. Karena aku tak peduli, takkan pernah peduli. Sebaiknya kau pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan tidak melakukan apa yang kalian inginkan." Ucapku dengan suara sedingin es.

"Baiklah, aku akan pergi dari hadapanmu. Jangan pernah berpikir untuk kabur dari kami, Vanno. Atau kau akan menerima akibatnya." Ancam Ray dengan sedikit gusar. Kemudian ia pergi dari ruanganku, membanting pintu dengan keras.

Aku kembali menghempaskan tubuhku di kursi dan memutarnya menghadap jendela besar yang berada tepat di belakang mejaku. Mengamati hiruk pikuk kota di bawah sana dari atas, mobil-mobil dan para pejalan kaki di bawah sana terlihat begitu kecil dari sini. Ada banyak hal tak terduga yang terjadi di bawah sana. Mungkin Clariss juga berada di antara orang-orang itu. Apa yang sedang kau lakukan, Clariss?

Ah, apa yang kau pikirkan Vanno? Berhentilah memikirkan Clariss, tak ada gunanya kau memikirkan wanita yang sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi kepadamu. Clariss sudah bahagia bersama pria bernama Leon, jadi berhentilah memikirkannya, perintahku pada diriku sendiri sambil mengacak frustasi rambutku.

Selanjutnya yang aku lakukan adalah memandangi langit dari balik jendela besar di hadapanku ini. Memandangi gumpalan awan yang berarak dan bergerak dengan perlahan. Memandangi langit yang mulai berubah dari terang berubah menjadi senja. Warna semburat jingga yang kini menghiasi langit kota. Dan pikiranku masih terpaku pada Clariss.

Sial. Aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku harus melakukan sesuatu agar pikiranku tidak terus menerus memikirkan Clariss. Ya, aku tahu apa yang harus aku lakukan, meskipun aku tahu efek yang akan di timbulkan pada diriku jika melakukan hal ini. Namun aku tak peduli. Tak peduli jika aku semakin dalam mencintainya, tidak peduli jika semakin menderita karena begitu mendambanya, dan begitu menginginkannya.

Dengan langkah lebar aku keluar dari dalam ruanganku. Sesampai di parkiran mobil aku lansung memacu mobilku menuju ke tempat tinggal Clariss. Aku begitu ingin melihat sosoknya meskipun hanya dari jauh.

Setelah setengah jam berkendara akhirnya aku sampai di tempat tinggal Clariss. Aku memarkirkan mobilku di parkiran sebuah restoran yang tertutup oleh pohon. Dari sini aku bisa mengawasi orang-orang yang berlalu lalang tanpa takut akan terlihat. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan pintu masuk tempat tinggal Clariss.

Mobil yang masih aku ingat dengan begitu jelas siapa pemiliknya. Leon. Karena tak lama kemudian Clariss keluar dari dalam mobil tersebut di ikuti oleh Leon. Mereka terlihat semakin akrab, entah sudah memasuki tahap apa hubungan mereka berdua karena aku tak ingin tahu sama sekali.

Hingga tiba-tiba saja pemandangan di depanku begitu menyakitkan. Jangan tanya apa yang terjadi dengan hatiku saat ini. Hancur tak cukup untuk menggambarkannya. Sakitnya begitu tak terperi. Ya, saat ini aku sedang melihat Clariss berciuman dengan Leon. Ya Tuhan, rasanya aku seperti sedang berada di ambang kematian. Menunggu sang malaikat pencabut nyawa datang dan mecabut nyawaku.

Cengkramanku pada kemudi mobil semakin mengerat. Mati-matian aku meredam emosi yang kini sudah menyelimuti seluruh tubuhku. Aku harus segera pergi dari sini, aku harus pergi. Akan terjadi sesuatu yang mengerikan jika aku tetap berada di tempat ini. Naluriku sebagai seorang pembunuh berdarah dingin mulai menampakkan dirinya.

Dengan nafas yang tersengal dan tangan yang gemetaran aku berusaha untuk tetap menjalankan mobilku dengan tenang. Berharap aku takkan membuat kekacauan atau menabrak sesuatu ketika mengendarai mobil ini.

So the rumor's true
That you are with someone new
And he's standin' right where I used to
It won't be long, 'til they recognize
how you're gonna mess with their life
and just like me, thrown to the side

I'll admit that I had it bad,
thought you were the best I ever had
I had you on a pedestal
now I'm ready to let you fall
Thinking you were right for me
was a case of mistaken identity
You're not the person I thought I knew
You were just a wasted I love you
You were just a wasted I love you
(Wasted I love you)
You were just a wasted I love you

Now you can take our memories
something I no longer need
call it a souvenir from me
I'll be moving on to something new
now that my heart is finally through
and it's waving goodbye to you

I'll admit that I had it bad
thought you were the best I ever had
I had you on a pedestal
now I'm ready to let you fall
Thinking you were right for me
was a case of mistaken identity
You're not the person I thought I knew
You were just a wasted I love you
You were just a wasted I love you
(Wasted I love you)
You were just a wasted I love you

For what it's worth
I'll take some good from this hurt
and use it as a lesson learned

I'll admit that I had it bad
thought you were the best I ever had
I had you on a pedestal
now I'm ready to let you fall
Thinking you were right for me
was a case of mistaken identity
You're not the person I thought I knew
You were just a wasted I love you
You were just a wasted I love you
(Wasted I love you)
You were just a wasted I love you
You were just a wasted I love you

Now that my heart is, finally through
it's waving goodbye to you
Just a wasted I love you
Now that my heart is, finally through
it's waving goodbye to you
Just a wasted I love you
Now that my heart is, finally through
it's waving goodbye to you

(Britroyal - Wasted I Love You)

Sial. Sial. Sial. Bukankah tadi sebelum pergi kemari aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku siap dengan semua resiko yang akan aku terima jika menemuinya. Mengapa kau jadi pria yang menyedihkan seperti ini Vanno? Kau benar-benar pria yang menjijikan.

Aku semakin membenci diriku ketika rasa panas yang menyengat menyerang mataku. Sial. Sekarang apa? Haruskah aku menangis meraung-raung karena melihat wanita yang kucintai berciuman dengan pria lain? Demi Tuhan, aku benar-benar membenci diriku saat ini, benci karena aku baru menyadari bahwa aku menjadi pria yang sangat lemah. Dan semua itu terjadi karena Clariss. Dia yang membuatku seperti ini, membuatku merasakan kembali detak jantungku yang sebelumnya aku kira detakan jantung itu sudah tidak ada.

Clariss mengembalikan hatiku yang dulu hilang tertelan oleh kegelapan. Membuatku kembali bisa merasakan rasa sakit, berdebar-debar, dan bahagia. Hidupku yang dulu hanya di lingkupi oleh kegelapan, menjadi berwarna dan mulai terang sejak Clariss masuk ke dalam kehidupanku. Namun sekarang bisakah aku tetap bertahan di dunia terang tanpa harus kembali terseret dan terjerumus ke dalam kegelapan yang tiada berujung itu?

Karena satu-satunya orang yang menjadi penuntunku menuju cahaya kini telah bersama orang lain. Ia telah berbahagia dengan pria pilihannya. Andai saja waktu dapat kuputar kembali, namun semua itu mustahil.

Dan di sinilah aku sekarang, berdiri di balkon salah satu vila milikku yang berada di pinggir pantai. Aku membiarkan angin yang berhembus kencang menerpa tubuhku. Rasa dingin pun tak terasa di tubuhku. Aku menatap nanar ke arah lautan yang terbentang luas di depan sana.

Entah sudah berapa banyak botol whisky yang tergeletak sembarangan di sekelilingku. Belum lagi gelas yang pecah karena terlalu kuat ku genggam. Darah yang menetes dari luka yang di sebabkan oleh pecahan-pecahan kaca itu tak membuatku bergeming dari posisiku.

Semua ini terjadi karena salahku, keteledoranku yang membiarkan Clariss masuk ke dalam hidupku. Seharusnya hari di mana kami bertemu aku langsung menolaknya saja. Dan semua kekacauan ini takkan pernah terjadi. Aku bisa melanjutkan hidupku, serta melakukan apa yang kumau tanpa harus melibatkan perasaan. Pengaruh Clariss memang sangat luar biasa, ia seperti memiliki magis yang mampu membuatku memusatkan perhatian kepadanya. Memporak porandakan semua keyakinan yang selama ini menjadi peganganku.

Membuatku diriku merasakan apa yang namanya cinta. Satu kata dengan beribu makna. Cinta yang mengubah cara pandangku dalam menjalani hidup ini. Namun aku tak begitu pahan dengan arti cinta itu sendiri. Terlebih ketika melihat orang yang telah menumbuhkan benih-benih cinta itu di hatiku tengah bercumbu dengan orang lain.

Cinta begitu rumit. Wanita pun begitu rumit. Dua hal itulah yang kini menjebakku, memerangkap jiwa dan ragaku. Aku yang dulu begitu menikmati pekerjaanku sebagai malaikat pencabut nyawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar