Minggu, 30 Maret 2014

Love Under The Rain 8

VANNO

Jadi seperti inilah rasanya patah hati. Sakit karena tak bisa memiliki orang yang kita cintai dan kita sayangi. Rasanya seperti kelihangan arah dalam hidup, menjadi seseorang yang tanpa jiwa. Karena separuh jiwamu telah pergi bersama orang yang kau cintai itu.

Mungkin seperti itulah keadaanku saat ini. Aku yang menyuruh Clariss menjauh, aku pula yang mengatakan bahwa kami tidak akan pernah bersatu. Namun aku pula yang merasakan kesakitan ini. Terlebih lagi ketika aku melihat Clariss sedang berciuman dengan pria lain.

Pada saat melihatnya ingin sekali rasanya aku menerjang dan memukul pria itu. Namun aku tak bisa melakukannya. Tindakan gegabah yang aku lakukan hanya akan membahayakan nyawa Clariss. Karena aku sangat tahu bahwa ayah dan kakak angkatku pasti menempat beberapa orang untuk memata-mataiku.

Mereka sedang mencari saat yang tepat untuk menyerang titik kelemahanku. Meraka juga sedang mencari celah dimana aku akan melakukan kesalahan dan tindakan bodoh. Tapi aku tak akan melakukannya, aku sudah cukup tahu apa yang akan dilakukan oleh ayah dan kakak angkatku itu. Maka yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah bersikap waspada dan hati-hati.

Saat ini aku tengah berada di lokasi yang dekat dengan rumah salah satu pejabat negara. Ya, ternyata ada salah satu pesaingnya yang meminta bantuan ayahku untuk menyingkirkan pejabat ini. Sayangnya ayah tidak nempercayakan pekerjaan ini kepada Ray. Ia malah memaksaku untuk melakukannya.

Demi Tuhan aku sudah tak ingin melakukan pekerjaam keji seperti ini lagi. Tapi aku bisa apa? Ayah dan kakak angkatku mengancam akan menyakiti Clariss jika aku tidak mau melakukan pekerjaan ini. Dengan berat hati dan sangat terpaksa akhirnya aku menyanggupi untuk melakukan tugas ini.

Dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhku dari kepala hingga ujung kaki. Tak ada bagian kulitku yang terbuka sedikitpun. Memang seperti inilah penampilanku saat bekerja menjadi seorang pembunuh bayaran. Dan jika telah selesai melakukan pekerjaan keji seperti ini aku akan langsung membakar semua atribut yang aku pakai hingga menjadi abu. Itulah mengapa tak ada petugas keamanan yang bisa mecium jejakku. Bahkan kendaraan yang aku gunakan pun tak segan-segan akan aku musnahkan.

Aku terus mengintai, berusaha untuk fokus meskipun pikiranku saat ini sedang sangat kacau. Hanya Clariss yang sanggup membuatku merasa terombang ambing dan meporak porandakan hidupku dalam waktu singkat. Ya, aku mengakui bahwa aku sangat mencintainya. Namun aku tidak ingin membahayakan nyawanya.

Mengesampingkan urusan hatiku, karena kini targetku sudah terlihat. Ia tengah berjalan menuju ke mobilnya. Dengan keamanan yang tidak begitu berarti yang seharusnya ini akan mempermudah pekerjaanku. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan keji ini.

Dengan hati-hati aku membidik targetku. Setelah target itu terkunci aku langsung menekan pelatuk snipper dan dalam seperkian detik langsung mengenai target tepat menembus samping kiri kepalanya. Senjata yang aku gunakan tak mengeluarkan suara sedikitpun. Beberapa keamanan yang ada bersama targetku tidak menyadarinya. Mereka baru menyadari setelah orang yang mereka kawal jatuh tersunggung meregang nyawa.

Pekerjaanku kini sudah selesai dan berhasil. Aku segera bergegas meninggalkan lokasi itu. Mengganti pakaianku di tempat yang telah aku siapkan, tentu saja aku sudah memastikan tidak ada orang yang mencurigaiku. Kemudian aku meninggalkan penginapan itu, melemparkan barang-barang yang tadi kugunakan ke dalam pembakaran sampah-sampah terdekat. Setelah memastikan barang-barang itu melebur barulah aku pergi meninggalkan tempat itu.

Aku melempar barang-barang yang ada di dalam kamarku. Beberapa hari setelah melakukan pekerjaan keji itu aku merasa semakin terpuruk. Lagi-lagi aku mengotori kedua tanganku dengan darah. Aku kembali terperosok ke dalam lingkaran hitan yang sangat ingin aku lepaskan.

Clariss. Aku sangat membutuhkanmu, hanya kau yang bisa menolongku keluar dari lingkaran setan yang membelengguku selama ini. Namun kini apa yang bisa aku lakukan? Karena satu-satunya orang yang berhasil menerangi gelapnya hati dan kehidupanku telah bersama orang lain. Clariss telah melupakanku dan lebih memilih pria lain.

Aku memang tidak tahu bagaimana caranya mencintai dan mengungkapkan perasaan yang aku rasakan kepada Clariss. Bersikap romantis pun aku tak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu hanya bagaimana caranya membunuh targetku dengan cepat, mengelola bisnis dan kini melindungi Clariss dari ayah dan Ray.

Bahkan kini yang terjadi adalah aku kembali melakukan pekerjaan keji ini. Membuatku semakin kotor dengan dosa. Aku kembali menjadi Vanno sang pembunuh bayaran berdarah dingin. Kini aku tidak pandang bulu dalam nelakukan pekerjaanku. Bahkan aku mulai merasakan kembali sebuah kepuasan saat berhasil membunuh targetku.

Tak ada sedikitpun perasaan iba. Hatiku kini telah kembali membeku dan mengeras. Bahkan lebih keras daripada dulu, akupun tak sungkan untuk melakukan tindakan yang sangat kejam daripada biasanya. Aku pun tak bisa menjamin bahwa Clariss bisa mencairkan kembali hatiku yang sudah membeku ini.

Jika dengan kembali ke dunia hitam yang dulu aku geluti bisa membuat Clariss aman dan terjauh dari ayah dan Ray. Maka dengan senang akan aku lakukan. Maafkan aku Clariss, karena mulai detik ini aku akan membekukkan seluruh hatiku.

***

CLARISS

Setelah insiden Kak Leon yang menciumku tepat di depan gedung apartemen tempat tinggalku. Aku memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dari Kak Leon. Mengapa aku menjauhinya? Karena alasanku sudah sangat jelas. Aku masih belum bisa membuka pintu hatiku untuk Kak Leon ataupun pria yang lainnya.

Vanno. Hanya satu nama itulah yang kini terpatri di dalam hatiku. Namanya begitu kuat di dalam sana, sebesar apapun usahaku untuk menghilangkannya tetap tak pernah berhasil. Kembali teringat kejadian saat ia tiba-tiba muncul di tempatku, hatiku benar-benar senang melihatnya. Namun saat itu Vanno terlihat begitu berbeda, entah apa yang terjadi padanya.

Aku terlonjak kaget saat Vanno mengatakan sesuatu tentang pria yang baru saja mengantarku pulang. Sedangkan pada saat itu hanya Kak Leon yang mengantarkanku pulang. Aku berasumsi bahwa Vanno melihat Kak Leon saat mengantarkanku dan salah paham. Ingin rasanya aku menjelaskan semuanya tapi Vanno tak mau mendengarnya. Ia tak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

Hingga akhirnya kata-kata yang menyakitkan itu terlontar dari bibirnya. Kata-katanya yang menyayat hatiku serta meninggalkan luka di sana. Luka yang hingga saat ini masih terasa sakit. Dan sejak saat itu aku berusaha keras untuk melupakannya. Mematikan perasaan cinta yang tumbuh di hatiku.

Kenyataannya hingga detik ini aku masih tak bisa melupakan Vanno. Aku malah merasakam kerinduan yang teramat dalam dan besar kepadanya. Hingga rasanya dadaku begitu sesak terhimpit oleh kerinduanku terhadap Vanno.

Sosoknya kini menghilang entah berada di mana. Terkadang aku selalu meradakan kehadiran Vanno berada di sekitarku. Tapi setiap kali aku menyelidikinya tak ada jejak atau tanda-tanda keberadaan Vanno di sekitarku. Aku hanya menghembuskan nafas dengan frustasi jika sudah seperti itu.

Aku sangat merindunmu Vanno. Rindu hingga rasanya begitu menyesakkan. Bahkan saking sesaknya dadaku kini terasa begitu sakit. Tak peduli bahwa kau telah menyakitiku, karena satu yang pasti aku akan selalu mencintaimu Vanno. Tak apa jika sikapmu berubah kepadaku, karena aku takkan berubah sedikitpun. Dan akan aku pastikan itu.

Siang itu sudah tak ada kegiatan lagi di kampus. Maka aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan saja. Tak ada tempat spesifik yang aku datangi, hanya megikuti kemana kakiku melangkah. Sebenarnya aku ingin menemui Glad dan menceritakan semuanya. Namun aku tak mau menambah bebannya, karena saat ini Glad sedang memiliki banyak permasalahan terutama dengan Jake.

Setelah lelah berjalan-jalan akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di kafe kesukaanku seperti biasanya. Baru saja aku masuk melewati pintu masuk, langkah kakiku langsung terhenti secara spontan.

Vanno. Aku melihat sosoknya yang sedang duduk di meja yang aja di pojok ruangan dengan sebelah tangannya yang menopang dagu. Jantungku langsung bedebar dengan hebatnya. Ia ada disini, Vanno-ku. Akhirnya aku bisa melihat kembali wajah tampannya yang amay kurindukan itu.

Namun ada yang aneh dan berbeda dengannya. Aku tak tahu apa yang berbeda hanya saja aura yang melingkupi dirinya begitu gelap dan kelam. Lebih kelam saat pertama kali aku bertemu dengannya. Membuatku merasa ketakutan, entahlah tapi seperti itulah yang aku rasakan saa melihatnya kini.

Vanno terlihat begitu jauh, sangat jauh dan sangat tak tersentuh. Ia begitu dingin dengan tatapan yang sangat kosong. Wajahnya terlihat lebih tirus, sepertinya Vannp tidak mendapatkan banyak waktu untuk tidur. Vanno apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mengapa kau terlihat begitu menyedihkan seperti ini Vanno?

Entah berapa lama aku berdiri sambil terus memperhatikannya. Ketika matanya menatapku, dengan tergesa-gesa aku langsung membalik tubuhku dan keluar dari kafe itu. Ya Tuhan, semoga saja ia tidak melihatku. Jantungku berhentilah berdebar seperti itu, lama-lama aku bisa mati karena terkena serangam jantung, rutukku dalam hati sambil terus berjalan menuju ke sebuah taman yang tak jauh dari kafe.

Aku harus menjauh dari Vanno, entah sampai kapan. Tapi yang jelas untuk saat ini aku belum siap untuk bertatap muka dengannya. Tadi saja aku hampir pingsan saat matanya beradu pandang denganku. Itulah kenapa aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Sesampainya di taman aku langsung menuju ke bangku yang berada di bawah sebuah pohon. Tempat itu selalu menjadi tempatku jika aku merasa bosan menghabiskam waktu di kafe. Tempatnya sangat teduh dengan udaranya yang cukup bersih.

Setelah menghirup udara beberapa kali aku mengeluarkan sebuah novel yang baru saja aku beli beberapa hari yang lalu. Beberapa menit kemudian aku mulai tenggelam dalam kumpulan kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat-kalimat yang indah.

Setidaknya aku bisa sedikit melupakan kegelisahan yang sedang aku rasakan saat ini karena Vanno. Oh Tuhan, mengapa aku tidak bisa melupakannya? Mengapa aku jatuh cinta pada seorang pria yang memiliki begitu banyak misteri sepertinya. Mengapa kau tidak membuatku jatuh cinta kepada pria lain atau Kak Leon saja,  batinku.

Berhenti memikirkan Vanno, Clariss. Kalu lihat saja tadi bahkan wajah Vanno terlihat sangat datar saat melihatmu. Itu sudah cukup bagimu untuk melupakannya. Vanno sudah melupakanmu, jadi sebaiknya kau mulai membuka hatimu untuk Leon, cibir kata hatiku dengan panjang lebar.

"Argh..." aku mengerang frustasi karena aku kembali memikirkan Vanno. Vanno dan Vanno. Dengan sedikit kesal aku memasukan novel yang tadi kubaca ke dalam tas.

Setelah itu barulah aku menyadari bahwa taman telah sepi. Sepertinya aku akan terlambat lagi sampai di apartemen, karena hari sudah gelap. Selesai membereskan barang-barang aku bangun dari dudukku. Merapikan pakaianku kemudian mulai berjalan menuju keluar taman.

Entah perasaanku saja atau bukan petang ini suasana sekitar begitu sepi. Tidak banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Mengeratkan jaket di tubuhku, aku mulai berjalan menjauhi taman dan menuju ke sebuah pemberhentian bis yang jaraknya cukup jauh dari taman.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat. Karena lagi-lagi perasaan ceman dan takut kembali menghampiriku. Rasanya ada seseorang yang tengah mengawasi dan mengikutiku. Namun setiap kali aku berhenti dan melirik ke belakang tak ada seorang pun di sana.

Aku semakin memepercepat langkahku menuju ke tempat pemberhentian bis. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kesana tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang menyergapku dari belakang. Ia menutup mulut dan hidungku dengam kain. Tak lama kemudian sekitarku berubah menjadi buram dan menjadi gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar