Minggu, 02 Maret 2014

Lila's Birthday Celebration (Story About Us)

Sejak kejadian di parkiran tadi pagi Dhee terus menerus mengolok-olokku. Apalagi selama mengikuti kelas yang aku lakukan hanya melamun dan sesekali tersenyum seperti orang bodoh.

"Sabar La, sebentar lagi kelas selesai dan kau akan bertemu dengan pangeranmu itu." Bisik Dhee sambil terkikik geli.

Aku langsung memberikannya sebuah pelototan. Mau percaya atau tidak sebelumnya aku belum pernah berpacaran. Sifat pendiamku ini benar-benar akut dan bahkan membuat para pria menjauhiku. Tapi semua itu berubah ketika aku memutuskan untuk serius menekuni profesi sebagai seorang model sejak aku masih SMA.

Semua anak pria di sekolah langsung mengerumuniku. Setiap hari lokerku selalu penuh oleh surat-surat cinta. Dan keadaan itu kembali aku alami ketika pertama kali masuk dan menjadi mahasiswa baru disini. Aku benar-benar jengah karena setiap kali membuka loker entah ada berapa ratus surat yang akan berjatuhan ketika aku membuka lokerku.

Dan setelah sekian lama akhirnya aku menemukan pria yang memandangku sebagai wanita biasa seperti orang kebanyakan. Akhirnya aku berani mengakui bahwa ya aku jatuh cinta pada pria yang baru saja aku temui kemarin.

Walaupun terbesit perasaan takut bahwa perasaanku ini takkan pernah berbalas dan hanya bertepuk sebelah tangan. Aku belum siap patah hati. Sungguh, meskipun setiap orang yang berani jatuh cinta harus berani untuk patah hati juga. Tapi aku belum siap, aku takut.

Akhirnya kelas pun selesai, aku dan Dhee keluar beriringan dari kelas. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Zac sedang berdiri sambil bersandar di salah satu pilar yang ada di depan kelasku.

Semua wanita menatap Zac dengan lapar dan itu membuatku enggan untuk menghampirinya. Namun ketika aku akan pergi Zac langsung menarik tanganku sedangkan Dhee langsung menghilang entah kemana.

Tinggalah aku berdua bersama Zac di depan kelas. Beberapa mahasiswa yang lewat pun melirik penuh tanya dan ingin tahu. Yup, karena tak biasanya aku mau meladeni seorang pria yang bukan berasal dari kampus ini.

"Hai Zac, sudah lama?" Tanyaku sambil tetap berusaha untuk bersikap biasa.

"Ah, tidak juga kebetulan aku sedang ada urusan disini. Kau sepertinya populer ya disini?" Tanyanya.

"Maksudmu?" Apakah dia masih tidak menyadari siapa aku sebenarnya.

"Karena dari tadi setiap ada mahasiswa yang lewat di depan kita mereka memberikan tatapan membunuh kepadaku." Jelasnya sambil menggaruk tengkuknya.

"Tidak Zac, aku bukan orang yang populer di kampus ini. Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Ungkapku berbohong sambil tertawa sumbang.

"Ah begitu rupanya. Bagaimana jika kita pergi sekarang saja. Kau mau kita makan dimana?" Kami mengobrol sambil berjalan menuju ke tempat parkir. Tanpa mempedulikan tatapan dari para mahasiswa disini.

"Tinggalkan saja mobilmu, biar nanti aku langsung mengantarkanmu pulang." Ucap Zac ketika kami sudah sampai di parkiran.

Untung saja saat itu aku bertemu dengan Lucas dan memintanya untuk mengantarkan mobilku pulang dan ia bersedia. Lagipula Kak Gale sudah mengenal Lucas.

Dari situ Zac langsung membawaku ke sebuah restoran yang berada di kawasan pinggiran kota. Tempatnya benar-benar masih hijau dan sejuk. Karena kafe itu menyajikan pemandangan hamparan padang rumput yang sangat luas dan indah sekali. Aku di buat berdecak kagum melihat keindahan alam ciptaaan Tuhan. Apalagi Zac mendapatkan tempat duduk yang startegis karena dari tempat kami duduk pemandangan di belakang kafe yang indah itu bisa lebih jelas terlihat.

"Bagaimana? Apakah kau suka tempatnya?" Tanya Zac.

"Aku sangat menyukainya sekali. Terima kasih sudah membawaku ke tempat yang indah ini, Zac." Ungkapku yang tanpa sadar menggenggam tangannya. "Ah, maafkan aku." Ucapku singkat ketika sadar akan reaksi spontanitasku yang terkadang membuatku malu.

Sedangkan Zac hanya tersenyum geli melihat kelakuan bodoh yang aku lakukan. Pelayan datang dan memberikan buku menu. Setelah pesanan kami di catat dan pelayan itu pergi. Aku dan Zac kembali terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan.

"Wajahmu rasanya sangat familiar sekali, Lila. Rasa-rasanya aku sering sekali melihat wajahmu tapi aku lupa di mana pernah melihatnya." Tutur Zac ketika kami sedang menunggu pesanan kami datang.

"Mungkin hanya perasaanmu saja, Zac." Elakku sambil meremas kedua tanganku bergantian.

"Aku perhatikan sejak memasuki kafe semua pengunjung kafe ini memperhatikan kita. Dan aku berasumsi bahwa yang menjadi pusa perhatian adalah kau, Lila." Jelas Zac sambil menatapku lekat.

"Sudah kubilang bahwa itu hanya perasaanmu saja, Zac. Kau pikir aku ini oranh terkenal yang bisa di perhatikan oleh banyak orang." Timpalku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah tangan Zac meraih daguku dan mendekatkan wajahnya lalu mulai memperhatikan wajahku dengan begitu teliti. Membuat jantungku melompat tak karuan. Rasa panas mulai merambati kedua pipiku. Kumohon jangan membuat wajahmu memerah saat ini, doaku dalam hati.

"Z-Zac ap-apa yang kau lakukan?" Tanyaku tanpa bisa menutupi perasaan gugup yang kini melingkupi diriku.

"Aku yakin sekali pernah melihatmu, Lila." Ungkapnya sambil terus memegangi daguku.

"Zac, lepaskan tanganmu dari wajahku." Protesku sambil berusaha menyingkirkan tangannya.

Ketika pelayan datang barulah Zac melepaskan tangannya dari wajahku. Lalu kami mulai menyantap hidangan pesanan kami dalam hening. Diam-diam aku melirik Zac yang sedang fokus dengan kegiatan makannya. Meskipun terkadang ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

Aku benar-benar tak habis pikir bahwa Zac tidak mengenalku. Yah meskipun aku tak yakin apakah ia memang benar-benar tak mengenalku atau hanya berpura-pura saja tak kenal, siapa yang tahu bukan?

Tapi ketika aku menatapnya tak menemukan kebohonhan sedikitpun. Diam-diam aku tersenyum mengetahui hal itu. Baguslah, karena yang Zac kenal bukanlah Lila yang seorang supermodel. Melainkan Lila yang seorang mahasiswi.

Aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangam pertama kepadamu Zac. Terlepas dari kenyataan kau memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Meskipun aku berharap bahwa kau juga memiliki perasaan sama denganku.

"Lila..." panggil Zac sambil menggerak-gerakkan tanyannya tepat du depan wajahku, "Kau baik-baik saja, kan?" Tanyanya.

"Ah, ma-maafkan aku Zac. Aku baik-baik saja." Jawabku tergugu, sudah bisa di pastikan bahwa wajahku kini warnanya sudah berubah menjadi merah.

"Aku pikir bahwa kau tidak suka menemaniku untuk makan siang bersama." Ucap Zac sambil meminum minumannya.

"Tidak Zac, aku senang bisa menemanimu makan siang." Jawabku berusaha untuk mengembalikan nada suaraku seperti semula.

"Bagaimana makanannya? Kau suka?" Tanya Zac sambil memaikan sedotan minumannya.

"Makanan di sini sangat enak, Zac. Aku suka semuanya tanpa terkecuali." Timpalku dengan bersemangat.

Tiba-tiba saja Zac menggeser kursinya jadi berada tepat di sampingku. Lalu dengan tiba-tiba pula Zac mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. My first kiss, he stole my first kiss. Tapi anehnya aku tidak berusaha menghindar dan mendorong tubuhnya.

Aku malah menerima dan membalas setiap ciuman yang di berikan oleh Zac. Bahkan saat ini ia tenga menciumku sambil menangkup wajahku. Dan kau tahu ciumannya benar-benar lembut bahkan teramat sangat lembut. Ia mencecapnya dengan begitu hati-hati. Lalu lidah kami berdua saling bertautan dan semakin membuat pasokan oksigen dalam paru-paruku semakin menipis.

Namun baik aku ataupun Zac belum ada yang berniat untuk menghentikan aktivitas kami. Bahkan aku sampai lupa bahwa saat ini kami sedang berada di sebuah kafe, di tempat umum. Entah apa yang akan terjadi esok hari, aku benar-benar tak peduli. Aku bahkan sedang tak ingin mengingat statusku sebagai seorang supermodel.

Entah berapa lama kami berada dalam posisi sambil berpagutan. Karena nafas kami berdua mulai sesak dan terengah-engah. Sebuah kilatan dari kamera sontak langsung membuatku melepaskan diri dari Zac.

"Maafkan atas kelancanganku, Lila." Ungkap Zac dengan nafas yang belum teratur.

"Tidak, tidak, seharusnya aku yang meminta maaf." Timpalku sambil berusaha menenangkan diriku. Berkali-kali pula aku menghela nafasku untuk menenangkan debaran jantungku.

"Bagaimana jika kita pergi saja dari sini?" Ajak Zac sambil memanggil pelayan lalu membayar semua tagihan makan siang kami.

"Terserah kau saja, Zac." Jawabku singkat.

Dengan sigap Zac menggenggam tanganku dan membawaku keluar dari kafe. Meskipun banyak mata yang memandangi kepergian kami Zac seolah tak peduli. Berbeda denganku, aku hanya bisa menundukkan kepalaku berharap bahwa dengan cara itu aku bisa menutupi wajahku.

Banyak hal yang menginfasi pikiranku. Bagaimana jika foto tadi beredar di media? Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakak, belum lagi sahabat-sahabatku di kampus. Tuhan, mengapa aku bisa sampai lepas kontrol seperti ini?

Bertemu dengan Zac ternyata bisa memberikan berbagai pengaruh yang tidak biasa terhadapku. Namun di lain sisi aku begitu mensyukuri pertemuanku dengan Zac. Karena dia satu-satunya pria yang berhasil memporak porandakan pertahananku.

Selama dalam perjalanan yang entah tujuannya kemana tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami berdua. Aku dan Zac terlalu asyik dan sibuk dengan pikiran kami sendiri.

"Maaf atas kelancanganku tadi, Lila. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu." Suara Zac tiba-tiba memecah keheningan di antara kami berdua.

"Sudahlah Zac, tidak apa-apa." Jawabku, lagipula aku menyukaianya sambungku dalam hati.

Tiba-tiba saja Zac meraih tangan kananku ke dalam genggaman tangannya. Saat itu mobil yang kami tumpangi telah berhenti di sebuah pantai, yang kebetulan sekali sedang sepi. Lalu ia membawa tanganku ke bibirnya dan menciumnya dengan begitu lembut. Tubuhku langsung tersentak oleh aliran listrik yang di alirkan oleh bibirnya itu.

"Kau tahu aku orang yang tidak pernah percaya dengan apa yang di sebut jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi..." Zac mengantung kata-katanya dan semakin intens menatapku. "... semua itu berubah ketika pertama kali aku melihatmu, Lila. Terdengar gila tapi memang itulah kenyataan yang aku rasakan saat ini. Kau tahu sejak pertemuan itu aku gelisah dalam tidurku. Aku tak tahu harus mencarimu kemana, hingga akhirnya aku melihatmu pagi ini. Rasanya benar-benar sangat membahagiakan." Ungkapnya panjang lebar dengan senyuman yang tak henti menghiasi wajah tampannya itu.

"Zac..." lidahku kelu, aku tak tahu harus menjawab apa setelah mendengar semua kata-katanya itu. Aku berusaha mencari-cari kebohongan di matanya, namun hanya kesungguhan yang aku temukan di sana.

Hatiku melompat-lompat kegirangan, karena ternyata Zac juga mengalami apa yang aku rasakan. Rasanya aku ingin melompat ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Tapi yang terjadi aku hanya membeku di tempat dudukku.

"Semua ini terlalu cepat sangat cepat bahkan. Tapi aku tak mau memendam semua perasaanku lebih lama lagi. Aku mencintaimu Lila... dan aku mau kau menjadi kekasihku." Ungkap Zac yang kini telah menggenggam kedua tanganku.

"Zac... aku.. aku..." astaga aku harus menjawab apa? Bibirku seolah terkunci rapat. Padahal aku tahu jawaban apa yang akan aku berikan kepada Zac.

"Aku mau kau menjadi kekasihku, Lila. Kau mau, kan?" Tanyanya lagi dengan tatapan hati-hati.

Aku mengentak genggaman tangannya, tentu saja Zac terkejut. Tatapan terluka langsung terlihat di matanya. Aku tersenyum dalam hati melihat reaksinya itu. Lalu dengan gerakan tiba-tiba aku langsung memeluknya. Bisa kurasakan tubuh Zac yang menegang.

"Aku juga mencintaimu Zac, aku merasakan apa yang kau rasakan sejak pertemuan kita untuk yang pertama kalinya." Ucapku sambil tetap memeluknya.

"Jadi apakah jawabannya kau mau menjadi kekasihku, Lila?" Zac yang masih belum puas dengan jawabku kembali melontarkan pertanyaan yang sama. Aku mengangguk pasti di dalam pelukannya.

Lalu Zac melepaskan dirinya, ia lalu mencium keningku dengan begitu lembut dan penuh perasaan. Kemudian ciumannya itu turun menuju bibirku. Lumatan-lumatan kecil yang di lakukan oleh Zac membuatku semakin terhanyut dalam permainannya yang memabukkan.

Tak ada perasaan canggung yang kurasakan saat membalas setiap ciuman yang di lancarkan oleh Zac. Bahkan kali ini aku merasa lebih rileks dan sangat menikmatinya. Akhirnya aku memiliki seorang kekasih juga, dengan begitu aku takkan menjadi bahan bulan-bulanan para sahabatku lagi di kampus.

Zac melepaskan pagutan bibirnya lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku merasa nyaman ketika menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang.

"Terima kasih, sayang. Hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia sekali." Ucap Zac sambil terus menerus menciumi puncak kepalaku.

You brought that somethin'
Somethin' in my life
Thats been gone
Gone for along time
The need to love and
To be a love by someone
And I think gotta choose you to be
That someone for me

Never thought that I would feel
Feel this way about love this
Cuz you are the best thing in my life

Dont know what I suppose to do
Cant think of anyone else but you
And know regret Im fillin' you
Baby Im in love with you
Everyday we spent together
Hope we can make it last forever
And know regret Im fillin' you
Baby Im in love you

I've been searching my so far
Along time
And now I know
I know
I know
That it is you baby
And now I feel
My life so completely
Cuz boy you are my heart
And so that I adored

Oh no..
And I swear
I never let you down baby
That I wanna is
Just giving you love..
Love..
Forever and ever and ever

(2TripleO - In Love With You)

"Kegiatanmu sehari-hari apa, Zac?" Aku bertanya masih dengan posisiku, menenggelamkan kepalaku di dada Zac.

"Aku berprofesi sebagai seorang pengacara. Tapi jika sedang tidak sibuk aku lebih memilih untuk menghabiskan waktuku memacu kendaraanku di jalanan." Aku terperanjat ketika mendengar bahwa kekasihku ini adalah seorang pengacara muda itu artinya dia bisa membantuku jika aku ada tugas dari dosen, hehehe. Dan tunggu apakah tadi ia mengatakan sesuatu tentang kecepatan?

"Kau senang balapan?" Tanyaku dengan antusias sambil menengadah menatap wajah tampan Zac.

"Ya, aku senang memacu adrenalinku dengan balapan, sayang. Ada apa?" Tanyanya penasaran dengan kening yang berkerut.

"Lain kali kita harus balapan. Aku menantangmu untuk balapan, Zac." Tantangku dengan bersemangat.

"Menantangku balapan, eh?" Lagi-lagi Zac menampilkan wajah terkejutnya.

"Yup, aku ingin tahu sejauh mana kemampuan balapmu, sayang." Timpalku sambil mengedipkan sebelah mataku dengan jahil.

Jika ada yang bertanya hal apakah yang akan membuatku bersemangat dan begitu tertarik selain dunia modeling. Aku pasti akan menjawab dengan lantang "dunia balap". Karena aku senang memacu motor kesayangnku dalam kecepatan yang tinggi.

"Kau benar-benar serius menentangku untuk balapan, sayang?" Zac kembali bertanya kepadaku perihal tantangan yang aku ajukan.

"Tentu saja aku serius. Jangan panggil aku Lila jika aku tidak serius dengan kata-kata yang aku ucapkan. Dan satu jangan coba-coba untuk mengalah dan membiarkan aku menang." Tegasku sambil menatap tepat ke dalam manik matanya.

"Baiklah jika itu yang kau minta, sayang. Aku terima tantanganmu dan aku takkan mengalah. Deal?" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

"Deal!" Jawabku mantap sambil menjabat uluran tangannya penuh semangat.

Zac mengacak rambutnya dengan gemas, lalu ia menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya. Sepertinya aku menemukan tempat yang akan jadi tempat favoritku mulai hari ini dan seterusnya.

"Sudah sore, aku antar kau pulang." Ucap Zac di sela-sela kegiatannya memainkan rambut panjangku.

"Bisakah kita tetap di sini sampai matahari tenggelam? Aku sangat ingin sekali melihat sunset, Zac." Gumamku.

"Tentu saja sayang, ayo kita keluar." Ajaknya.

Lalu kami berdua keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah pantai sambil bergandengan tangan. Hamparan pasir putih langsung menyambut kami. Kami berdua duduk di atas pasir putih itu dengan posisi Zac memelukku dari belakang. Menikmati terpaan angin pantai yang mulai terasa dingin.

Namun aku tak merasa kedinginan karena ada Zac yang memelukku. Ketika semburat jingga itu muncul aku langsung berseru kegirangan seperti anak kecil. Pemandangannya sangat indah sekali.

Tiba-tiba Zac kembali mencium bibirku. Kali ini ciumannya begitu lembut dan hangat. Berciuman ketika matahari terbenam benar-benar sangat romantis sekali. Membuatku semakin jatuh cinta kepada pria yang ada di sampingku saat ini.

"I love you, Zac." Ucapku ketika ciuman kami telah terlepas.

"And I love more, princess." Jawab Zac sambil menggesek-gesekkan hidungnya pada hidungku dengan begitu gemas. "Waktunya pulang, aku tidak mau kau sakit karena terkena angin malam terlalu lama." Gumamnya.

Sebenarnya aku masih ingin di pantai, tapi Zac terus memaksa untuk pulang. Akhirnya dengan malas aku menuruti permintaannya untuk pulang. Selain itu aku juga lupa menyalakan kembali ponselku. Aku yakin sekali akan mendengarkan omelan Kak Gale sepanjang malam.

Zac mengantarkan aku sampai depan gedung apartemen. Karena hari sudah malam Zac memutuskan untuk langsung pulang setelah berjanji akan mengantarku pergi ke kampus besok pagi.

Dengan perlahan-lahan aku membuka pintu, berharap bahwa kakak sedang tidak ada di apartemen jadi aku bisa bebas dari ceramah-ceramah yang akan di lontarkannya.

"Dari mana saja kau Kyla Carolline Rosse Adam? Ponselmu tak aktif dan bahkan kau tak membei kabar sedikitpun." Dugaanku salah, ternyata kakak sedang duduk di ruang tamu sambil melipat kedua tangannya.

"Hai Kak, aku pikir kakak tidak ada di rumah." Sergahku dengan suara yang di buat setenang mungkin sambil memamerkan senyuman bodohku itu.

"Darimana saja kau, huh? Mengapa ponselmu tidak aktif?" Kak Gale kembali melancarkan interograsinya kepadaku.

"Jalan-jalan, lalu ke pantai. Ponselnya baterainya habis, Kak." Setidaknya aku tidak berbohong dengan alasan yang terakhir.

"Tapi setidaknya kau beritahu kakak, Lila. Agar kakak tak cemas menunggumu, apalagi tadi siang Lucas datang mengantarkan mobilmu." Ungkapnya.

"Maaf Kak, lagipula aku ini sudah bukan anak kecil. Jadi kakak tak perlu mengkhawatirkan aku sampai seperti itu." Gumamku sambil mendengus kesal.

"Karena mau bagaimana pun juga kau ini tetap tanggung jawab kakak, Lila. Meskipun suatu hari nanti kau sudah memiliki kekasih kau akan tetap menjadi tanggung jawab kakak." Jelas Kak Gale panjang lebar dengan tatapan yang melembut.

Aku langsung memeluk Kak Gale, "Maaf Kak, aku janji takkan mengulanginya lagi." Gumamku.

"Ya sudah, sebaiknya kau segera pergi.beristirahat saja. Mau kakak siapkan makan malam?" Tawar kakak setelah aku melepaskan pelukannya.

"Tidak usah Kak, sebelum pulang tadi aku mampir dulu untuk makan malam
Sebaiknya aku pergi ke kamar dan beristirahat saja." Pamitku sambil berlalu menuju ke kamarku. Aku langsung membersihkan tubuhku dan setelah itu langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur yang empuk. Aku langsung tertidur pulas aetelah menerima panggilan telepon dari kekasihku, Zac.

Aku merasa seperti orang gila saja. Karena aku tak bisa mengontrol bibirku yang terus-terusan menyunggingkan senyuman. Benar-benar seperti orang bodoh saja. Tapi yang pasti aku sangat merasa bahagia sekali karena aku mendapatkan Zac sebagai kado ulang tahunku dari Tuhan begitu cepat.

***

Seminggu kemudian aku mulai sibuk menyiapkan berbagai persiapan untuk ulang tahunku yang tinggal beberapa hari lagi. Dan selama itu pula Zac masih belum menyadari bahwa aku adalah seorang supermodel. Di tambah tak ada satu beritapun yang memuat tentang adegan ciumanku dengan Zac seminggu yang lalu dan itu sangat baik sekali.

Aku di bantu oleh sahabat-sahabatku dalam menyiapkan acara ulang tahunku yang ke dua puluh dua tahun. Dan aki baru memiliki pacar di umurku yang sudah segitu. Aku tak bisa dan tak tahu bagaimana reaksi semua orang jika mengetahui bahwa sekarang aku sudah memiliki pacar. Dan yang setiap hari mengantar dan menjemputku kuliah adalah Zac, kekasihku. Tapi aku berhasil berkelit bahwa Kak Gale-lah yang mengantar dan menjemputku selama seminggu belakangan ini.

Dan untungnya juga aku sedang tidak ada pekerjaan baik fashion show atau pemotran. Jadi aku bisa lebih leluasa menghabiskan waktuku bersama Zac.

Pagi itu aku pergi ke kampus masih di antar oleh Zac. Ketika aku turun dari mobil dan mulai berjalan memasuki.gerbang kampus semua para mahasiswa yang berada di sekitar memandangiku dengan tatapan penuh selidik bahkan ada pula yang berbisik-bisik sambil terus memandangiku. Dan para pria yang biasanya sering mengejar-ngejarku kini hanya menatapku dengan tatapan sedih dan terluka. Membuatku semakin memperdalam kerutan di keningku. Ada apa sebenarnya ini?

Karena merasa tidak ada yang aneh dengan penampilanku. Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju ke arah para sahabatku yang sedang berkumpul di sebuah taman yang ada di depan ruang tata usaha kampus.

"Selamat pagi semua." Sapaku bersemangat sambil merangkul Dhee.

"Untung saja kau cepat datang, bisa kau jelaskan tentang berita dan foto yang di muat oleh tabloid ini?" Dhee langsung memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku bingung.

"Memangnya ada berita dan foto apa, Dhee?" Tanyaku kebingungan.

"Sebaiknya kau lihat dan baca sendiri saja." Jawab Dhee sambil memberikan tabloid yang sedari tadi di pegangnya.

Dengan ragu aku menerima tabloid dari tangan Dhee. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaanku tidak enak dan membuat perutku menjadi mulas. Sepertinya ada yang tidak beres, gumamku dalam hati berkali-kali.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Karena entah mengapa aku perlu melakukan hal itu untuk menenangkan jantungku yang tiba-tiba saja berdetak kencang tak karuan.

Perlahan aku membuka halaman demi halaman tabloid itu. Mataku hampir melompat keluar ketika membaca sebuah tajuk yang di cetak dengan huruf besar dengan bunyi " SANG SUPERMODEL KYLA TERTANGKAP KAMERA SEDANG BERCIUMAN DENGAN SEORANG PRIA. APAKAH PRIA ITU KEKASIHNYA?"

Entah bagaimana ekspresiku saat membaca tiap kalimat yang tertulis di tabloid itu. Dan aku semakin terkejut ketika melihat beberapa foto yang menyertai berita itu.

Tidak salah lagi itu adalah foto ketika aku dan Zac memasuki kafe dn bahkan foto ketika Zac menciumku pun turut di muat oleh tabloid itu. Ketakutanku akhirnya menjadi kenyataan. Wahai tanah yang kupijak saat ini terbelahlah agar aku bisa masuk dan bersembunyi di dalamnya. Argh, rasanya aku ingin berteriak dengan kencang di atas gedung pencakar langit untuk meluapkan semua perasaan yang aku rasakan saat ini. Tanpa sadar aku meremas kuat tabloid yang kupegang, lalu menyerahkannya kembali pada Dhee.

"Ayo kita masuk ke kelas, Dhee." Ajakku sambil berjalan menuju ke dalam kelas.

"Hei Lila, tunggu aku." Teriak Dhee sambil tergopoh-gopoh mengikutiku dari belakang.

Selama kuliah berlangsung aku tidak bisa fokus dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut dosenku. Bagaimana bisa foto itu sampai muncul di tabloid? Lalu bagaimana reaksi Zac jika melihatnya? Karena sampai saat ini ia mengenalku sebagai Lila buka Kyla sang supermodel. Belum lagi aku harus siap menerima interograsi dari Kak Gale. Dan pastinya sahabatku dan mungkin beberapa wartawan yang nanti akan terus menerus menguntitku kemanapun.

Setelah mata kuliah berakhir Dhee bergegas pergi dengan terburu-buru. Jadi bisa di pastikan ia tidak akan bisa menemaniku ke kantin. Dengan malas aku berjalan menuju ke kantin tanpa menghiraukan pandangan para mahasiswa yang di penuhi oleh rasa penasaran. Gelisah dan ketakutan yang sedang kurasakan kini. Karena Zac tak kunjung menghubungiku, aku yakin sekali bahwa Zac marah padaku saat ini.

"Hai Lila... Kemari." Suara bariton milik Lucas terdengar.

Rupanya para senior dan junior populer sedang berkumpul. Bodoh bodoh seharusnya tadi aku pergi saja ke perpustakaan, setidaknya di sana tidak akan ada yang mengolok-olokku. Dengan terpaksa aku melangkahkan kakiku menghampiri Lucas dan yang lain.

Ada Kak Paul bersama err kekasih barunyakah? Lalu ada Mark, Kian, Ryan, Jeremy tumben dia tidak menguntit Dhee, Vic, Kak Angel, Brian, Kak Dianne. Turut serta pula beberapa juniorku Ashley, Abel, Nadien dan Nicholas. Ramai sekali, tidak seperti biasanya.

"Ada apa dengan wajahmu itu? Mengapa di tekuk begitu?" Tanya Kak Angel, tapi aku bungkam dan memilih duduk di samping Lucas.

"Kau membuatku patah hati, Lila." Ejek Lucas dengan suara yang di buat sedih.

"Jangan menggodaku Lucas." Tegurku sambil menjitak kepalanya. Tapi ia malah tertawa sambil sedikit meringis.

"Tega sekali kau padaku, Lila." Gumamnya sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit. Aku memutar mataku pertanda bahwa aku kesal pada Lucas.

"Maaf aku menganiaya kakakmu, Ash." Ucapku pada Ashley sambil mencubiti perut Lucas.

"Hahaha,tidak apa-apa Kak. Aku senang melihatnya." Timpal Ashley sambil tertawa senang.

"Jadi Lila apakah benar pria yang ada di foto itu adalah kekasihmu?" Astaga sejak kapan mentorku tersayang ini peduli dengan urusan asmaraku?

Aku hanya memandangi mereka satu persatu, lalu menghembuskan nafas dengan kasar. Pertanda bahwa aku benar-benar sedang tidak ingin membahas masalah itu saat ini. Dengan malas aku mengambil sebuah burger yang ada di depan Mark dan belum tersentuh sedikitpun lalu memakannya.

"Woo Lila, sabar-sabar. Kau harus mengganti makananku dua kali lipat." Celetuk Mark dan langsung di hadiahi sebuah cubitan oleh Kak Angel di perutnya. "Aww, sakit sayang. " keluhnya dengan suara yang di buat manja. Astaga Mark menggelikan sekali.

"Dhee kemana? Mengapa kau tidak bersamanya?" Tanya Jeremy yang baru menyadari bahwa aku tidak bersama kekasihnya.

"Oh, tadi Dhee pamit pulang karena ada urusan yang mendadak. Aku pikir kau sudah tahu." Jelasku pada Jeremy sambil mengincar kentang goreng milik Vic. Masa bodoh dengan berat badan.

Hari itu kami membicarakan banyak hal, benar-benar sangat menyenangkan sekali. Momen seperti ini jarang terjadi apalagi sekarang jadi bertambah ramai dengan kehadiran Nicholas, Ashley, Nadien, Abel dan Jenn yang aku ketahui adalah kakak dari Abel. Dan sepertinya aku punya mangsa untuk kugoda, aku terkekeh geli dengan rencana usilku.

Sebaiknya aku nikmati saja sebelum menghadapi interograsi yang akan di lancarkan oleh Kak Gale ketika aku pulang nanti. Semoga saja kakak tidak terlalu banyak ingin tahu tentang Zac.

***

Sementara itu, Dhee sedang berada di sebuah kawasan perbelanjaan elit. Rencananya hari itu ia akan mencaru kado dan sebuah gaun untuk ia kenakan pada saat ulabg tahun Lila nanti.

Dan Dhee lebih suka berbelanja sendiri, membawa Jeremy tidak akan membuatnya tenang berkeliling. Karena Jeremy tipikal pria yang tidak suka di ajak berkeliling di mall selama berjam-jam. Dhee memiliki jadwal khusus bersama Lila, Kak Angel dan Kak Dianne untuk pergi ke mall. Entah untuk berbelanja atau hanya sekedar berjalan-jalan saja. Dan ketika Dhee sedang bersama ketiga sahabatnya itu ia tidak mau di ganggu termasuk oleh Jeremy maupun oleh kakak dan adiknya.

Setelah berputar-putar akhirnya Dhee mendapatkan gaun yang sesuai dengan keinginannya. Sebuah gaun yanga akan membuat Jeremy bersikap posesif, dan sangat menyenangkan sekali membuat Jeremy bersikap posesif.

Dan saat ini ia tengah berkeliling mencari kado untuk sahabatnya itu. Ia merasa kesulitan karena Lila sudah memiliki segalanya, mengingat bahwa sahabatnya itu adalah seorang supermodel.

Ketika memasuki sebuah toko Dhee tertarik pada sebuah jaket kulit yang di hiasi oleh batu swarosky di bagian leher dan lengannya. Ia langsung tertarik untuk membelinya. Dan ia yakin sekali jaket ini akan cocok di gunakan oleh Lila ketika sedang mengendarai motor sport kesayangannya.

Dengan bersemangat Dhee mendekati manequin yang memajang jaket itu. Nanun tiba-tiba saja ada seorang pria yang menerobos dan langsung mengambil jaket yang diinginkannya itu.

"Hei, tunggu dulu." Pekik Dhee dan membuat pria itu berhenti lalu menoleh kepadanya, "Jaket itu milikku, aku yang pertama kali melihatnya." Jelas Dhee.

"Tidak, aku yang pertama kali melihatnya. Jadi sebaiknya kau mencari benda yang lain saja nona." Tukas pria itu.

Dhee mulai kesal dengan tingkah pria yang ada di depannya saat ini, "Hei kau tak bisakah mengalah pada wanita? Aku sangat membutuhkannya karena lusa sahabatku berulang tahun." Jelas Dhee tanpa bisa menutupi emosinya yang mulai terpancing.

"Tidak! Karena lusa adikku juga berulang tahu." Ucap pria itu tidak mau kalah.

Dhee dan pria itu terus berdebat. Bahkan perdebatan itu semakin sengit. Ingin rasanya Dhee mencakar wajah pria itu, meskipun tampan tapi sangat menyebalkan. Sampai akhirnya pria itu tertawa puas dengan penuh kemenangan karena dialah yang mendapatkan jaket itu.

Sumpah serapahpun meluncul dari mulut Dhee. Ia merutuki perbuatan pria itu yang langsung melakukan pembayaran dua kali lipat dari harga yang sebenarnya. Jaket itu cuma ada satu dan limited edition, di toko-toko cabangnya pun tidak akan ada. Itu berarti Dhee masih harus berkeliling lagi untuk mencari kado untuk Lila.

***

Hari ulang tahunku pun tiba. Saat ini sebagian dari teman-temanku sudah datang. Namun meskipun begitu aku masih tetap merasa gelisah. Karena Zac tak kunjung muncul sejak foto kami yang sedang berciuman itu beredar. Zac menghilang seperti di telan bumi tak memberi kabar dan tak bisa di hubungi.

Tuhan, haruskah aku merasakan patah hati dalam waktu yang sesingkat ini? Di saat aku baru saja merasa nyaman dengan seorang pria, tapi... Entahlah, aku benar-benar kalut. Di hari ulang tahuku pun aku harus memasang senyuman palsuku.

Meskipun aku tak bisa menjamin senyuman yang aku tebar malam ini bisa menutupi perasaanku yang sebenarnya. Zac... sebenarnya kau ada di mana? Akankah hubungan kita berakhir begitu saja tanpa ada kejelasan sedikitpun?

Aku menghembuskan nafas perlahan, mencoba untuk menetralkan pikiranku dari pikiran-pikiran negatif yang tak henti-hentinya menginfasi pikiranku dan hanya membuatku merasa gelisah.

"Lila..." sebuah suara yang kukenal namun tak begitu aku harapkan cukup membuatku terkejut.

"Oh hai Kyle, terima kasih sudah datang." Ucapku datar.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Sendirian di tempat yang sepi dan di hari ulang tahunmu juga." Cecar Kyle.

"Bukan urusanmu Kyle, sebaiknya kau pergi dan tinggalkan aku sendiri." Dengusku kesal dan hendak.pergi meninggalkannya. Namun tiba-tiba langkahku terhenti karena Kyle mencekal lenganku.

"Lepaskan tanganku, Kyle." Ucapku sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman tangannya.

"Tidak Lila, sebelum kau mendengarku." Timpal Kyle.

"Apalagi? Aku rasa semuanya sudah jelas. Jadi aku tak perlu mendengar alasanmu lagi." Ungkapku dengan sengit.

"Dengar pria itu tidak baik untukmu. Jika dia memang benar-benar pria yang baik dan benar-benar mencintaimu seharusnya ia datang. Dan tidak membuatmu gelisah menunggunya." Jelas Kyle tak kalah sengit.

"Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan membuat spekulasi sesuka hatimu." Balasku sambil menghempaskan dengan keras cengkramannya ketika melonggar.

"Jangan pergi dulu Lila, mengapa kau tak pernah mau untuk memberikan kesempatan kepadaku?" Lagi-lagi Kyle mencengkram lenganku.

"Lepaskan adikku." Tiba-tiba sebuah suara yang mengintimidasi dari kakakku terdengar.

Kyle buru-buru melepaskan tanganku, ia langsung terlihat gugup dan takut. Apalagi tubuh Kak Gale mengeluarkan aura yang sangat mengintimidasi. Setelah meminta maaf Kyle buru-buru pergi meninggalkan aku dan kakak.

"Terima kasih sudah menolongku, Kak." Ucapku sambil melingkarkan tanganku pada lengan kokoh Kak Gale.

"Apakah dia salah satu pria yang tergila-gila kepadamu, eh?" Tanya kakak sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya begitulah, dia itu asistennya Kevin fotograferku, Kak." jawabku malas.

"Sebaiknya kau harus segera kembali ke pesta. Karena sebentar lagi acara akan di mulai. Ah ya, tadi Mom dan Dad menelepon dari New York mereka minta maaf karena tidak bisa hadir." Jelas kakak sambil menggandengku kembali ke pesta.

"Yah, selalu saja seperti ini setiap tahun." Timpalku tanpa bisa menyembunyikan perasaan sedihku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyapa teman-temanku. Setidaknya aku harus mengalihkan pikiranku dari Zac, Mom dan Dad, jika tidak aku akan terus menerus merasa sedih. Dan aku tidak mau pesta ini kacau karena ulahku sendiri. Saatnya berpesta Lila, gumamku dalam hati.

***

Sementara itu banyak sekali kejadian yang terjadi selama pesta berlangsung. Di mulai dari Abel yang tertarik pada Kevin sang fotografer. Belum lagi Nicky seorang bartender yang merangkap sebagai DJ partner Dhee, rupanya diam-diam Nicky memperhatikan dan menaruh hati kepada Nadien sedangkan Nadien masih tetap gencar untuk mendapatkan Vic seniornya.

Jangan lupakan juga Kian yang ternyata jatuh hati kepada Jennifer kakaknya Abel. Tapi ternyata K panggilan Kian sehari-hari harus bersaing dengan Paul seniornya. Sedangkan Dhee harus menelan kekecewaan karena ia tidak bisa memainkan dan menunjukkan keahliannya menjadi seorang DJ, karena Jeremy yang selalu menguntit. Semua bermula ketika Jeremy melihat Dhee memakai gaun yang seksi dan cukup terbuka, itulah penyebab Jeremy menjadi posesif. Karena banyak mata yang memandang kemolekan tubuh kekasihnya itu.

Ashley terlihat semakin mesra dengan Harry, sedangkan Lucas sibuk menebar pesonanya kepada setiap wanita yang di lihatnya sepanjang pesta. Jangan tanya apa yang di lakukan oleh pasangan Mark-Angel, Dianne-Brian, mereka lengeket seperti perangko.

***

Sedangkan Lila masih tetap terlihat sedih, karena Zac tak juga muncul padahal acara utama akan segera di mulai. Berkali-kali Lila terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Lila, acaranya sudah mau mulai." Gale memberitahu adiknya itu.

"Tak bisakah kita tunda sebentar lagi saja, Kak." Rengek Lila kepada kakaknya.

"Kau sudah berkali-kali meminta kakak untuk mengulurnya. Dan kali ini kakak tidak akan meloloskan permintaanmu." Jawab Gale dengan tegas.

"Ah baiklah, terserah kakak saja." Timpal Lila malas.

Lalu Gale menghela adiknya itu untuk mendekat ke area terluas di dalam klub itu. Di sana teman-teman Lila dan para tamu sudah berkumpul. Lalu datanglah seorang pria dengan penampilan yang aneh membawa kue tart ulang tahun Lila.

Pria itu memakai pakaian serba hitam dengan sebuah topeng yang menyamarkan wajahnya. Beberapa saat Lila sempat merasa tertarik dan penasaran kepada pria misterius itu tapi ia tepis semua rasa penasaeannya itu.

"Time to make a wish." Bisik Gale kepada Lila.

"Tuhan aku tidak minta apa-apa, aku sudah merasa sangat cukup dan sangat bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Aku hanya ingin bertemu Mom dan Dad serta Zac, itu saja."  Doa Lila dalam hati dan meniup semua lilin yang ada di atas kue tart itu hingga padam.

"Happy birthday my Ice Princess, maaf aku terlambat." Bisik seseorang yang baru saja Lila sebut dalam doanya.

Lila lansung berbalik ke arah sumber suara dan menemukan pria misterius itu yang sedang membuka topengnya.

"Zaaaccccc...." pekik Lila sambil berlari ke arah pria yang di cintainya itu dan meleparkan tubuhnya kepelukan Zac.

"Selamat ulang tahun sayang, maaf aku terlambat." Bisik Zac sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu.

"Kemana saja kau? Mengapa tiba-tiba menghilang dan menghindariku?" Tiba-tiba saja Lila menangis terisak.

"Maafkan aku sayang, kumohon jangan menangis. Sejujurnya aku cukup syok ketika melihat foto kita ada di mana-mana. Dan bodohnya aku tidak menyadari siapa wanita yang telah membuatku bertekuk lutut." Jelas Zac sambil menenangkan Lila, "Dan aku kaget tiba-tiba Gale mendatangi kantorku meminta penjelasan. Lalu lakaknu itu yang menyuruhku untuk tidak menghubungumu." Zac mengakhiri penjelasannya.

Lila melepaskan pelukannya dan langsung memelotototi sang kakak yang sedang tertawa.

"Terima kasih, Kak." Gumam Lila.

Dan pesta pun benar-benar di mulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar