Minggu, 02 Maret 2014

Ice Princess In Love (Story About Us)

Menjadi incaran para pria di kampus bagiku tidaklah begitu menyenangkan. Meskipun banyak sekali wanita yang ingin menjadi sepertiku. Aku ingin jadi wanita yang biasa-biasa saja sebenarnya, tapi aku tak menampik bahwa aku senang menjadi seorang supermodel. Karena dengan pekerjaan itu aku sering kali mengunjungi Paris, London dan beberapa negara yang menjadi pusat mode dunia. Di sana aku mengikuti berbagai peragaan busana atau hanya sekedar pemotretan saja. Karena pekerjaan itu pula aku sering tidak masuk kuliah. Tadinya aku berniat untuk mengambil cuti selama satu tahun namun kakakku memprotes. Ia hanya mengijinkanku untuk cuti selama enam bulan. Yah kakakku itu terkadang memang terlalu overprotective. Meskipun terkadang sangat menyebalkan tapi aku sangat menyayanginya.Hari ini aku sedang berada di studio milik Kevin temanku yang berprofesi sebagai seorang fotografer. Hari ini kami akan melakukan beberapa sesi pemotretan, karena Kevin berniat untuk mengadakan pameran untuk memamerkan semua hasil karyanya. Dan ia memintaku untuk menjadi modelnya. Dan biasanya Kev selalu di bantu oleh salah satu temannya yang berprofesi sama. Dia adalah Kyle, seorang mahasiswa dan fotografer yang cukup tampan hanya saja aku tidak tertarik.Entahlah, tapi memang pada kenyataannya aku tidak tertarik pada Kyle. Meskipun ia begitu gencar mendekatiku. Ia rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan simpati dariku. Tapi lagi-lagi usahanya gagal, karena aku masih belum juga bisa di luluhkan. Kyle bukan satu-satunya pria yang mendapatkan penolakan ketika menyatakan perasaannya kepadaku. Entah sudah berapa banyak pria yang kubuat patah hati. Sungguh aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Karena dari sekian banyak pria yang mendekatiku belum ada satu pun pria yang berhasil membuat hatiku bergetar.Selama ini aku belum menemukan pria yang mampu untuk membuatku jatuh cinta. Kebanyakan pria yang mendekatiku karena statusku sebagai seorang supermodel. Tak ada satupun pria yang melihatku sebagai wanita yang biasa saja tanpa ada embel-embel sebagai supermodel."Hai Kev, maaf aku terlambat. Ada tes dadakan tadi di kelas. Kau tahu aku benci keterlambatan. " ucapku ketika memasuki ruangan Kev dan tentu saja Kyle juga berada di sana."Tidak apa-apa, santai sajalah dulu. Lagi pula pakaian yang akan kau pakai untuk pemotretan kali ini belum sampai." Jelas Kevin sambil memainkan kamera kesayangannya."Oh oke, kalau begitu aku akan mencaru sesuatu, aku kelaparan." Gumamku sambil membalas pesan dari Kak Gale. Entah sudah berapa kali ia mengirimiku pesan hari ini."Mau aku temani?" Kyle menawarkan dirinya untuk menemaniku pergi keluar."Tidak usah Kyle, terima kasih. Aku bisa pergi sendiri." Tukasku datar sambil melangkahkan kakiku keluar dari ruangan Kevin. Dan ternyata Kyle menguntit seperti biasanya. Membuatku gemas sendiri.Aku terus berjalan keluar dan menuju ke sebuah kafe yang terletak di seberang studio milik Kevin. Aku tak menghiraukan Kyle yang terus-menerus membuntutiku. Hal terkonyol yang pernah dia ucapkan adalah saat dia mengatakan bahwa kami berdua ini berjodoh. Karena nama kami berdua hampir mirip Kyle dan Kyla, konyol sekali bukan.Aku memang biasa mendatangi kafe ini ketika sedang melakukan pemotretan bersama Kev. Pemilik dan pelayan di kafe ini juga sudah mengenalku. Bahkan aku tak perlu repot untuk membaca buku menu kafe ini karena mereka sudah tahu apa yang biasa aku pesan disini.Kyle duduk di hadapanku sambil memamerkan senyumannya. Well, senyumnya memang manis karena ia memiliki sepasang lesung pipit di kedua pipinya. Tapi sekali lagi aku tegaskan, aku tak merasakan apapun ketika bersama dengannya.Perasaanku terhadap Kyle tak lebih dari dari teman dan partner dalam pekerjaanku saja yang seorang model."Jangan buat nafsu makanku hilang, Kyle." Tegurku sambil mengangkat sebelah tanganku. Kyle yang sudah membuka mulutnya untuk berbicara langsung mengatup tertutup kembali.Lalu aku segera menyantap makan siangku dengan santai tanpa mempedulikan Kyle yang terlihat kesal dan bosan. Karena sebentar-sebentar ia melirik ke arahku yang sedang asyik makan lalu kembali menatap ponsel di tangannya. Aku tak peduli dengan perkataan orang-orang yang menyebutku kejam, maka tak heran jika banyak orang yang akhirnya menjulukiku Ice  Princess.Setelah selesai makan siang aku langsung kembali ke studio dan langsung bersiap-siap. Kev bilang pakaiannya baru saja sampai. Setelah semuanya selesai aku langsung melakukan pemotretan. Pekerjaanku baru selesai tepat pukul lima sore.Aku berjalan ke parkiran motor, jangan heran jika melihatku pergi kemanapun menggunakan motor sport yang ukurannya besar. Karena aku sangat menyukai sensasi ketika memacu kecepatan di atas motor kesayanganku.Sebenarnya Kak Gale sudah menyiapkan seorang supir yang akan bertugas mengantar dan menjemputku ke kampus dan kemanapun aku mau. Hanya saja aku menolaknya mentah-mentah.Kak Gale sempat marah dan mengacuhkanku selama beberapa hari ketika mengetahui bahwa aku membeli sebuah motor sport dan menggunakannya ke kampus. Namun setelah aku menjelaskannya dengan susah payah barulah kakak mau mengerti. Dengan motor pula aku bisa menghindari kejaran dari para pemburu berita yang selalu menguntitku.Sebelum menaiki motor kesayanganku tiba-tiba ponselku berbunyi dan aku melihat nama Kak Gale di layar ponselku. "Halo, Kak." Sapaku."Kau masih berada di mana?" Tanya kakak dari seberang sana."Aku baru selesai pemotreran dan mau pulang, Kak." Jawabku santai."Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan dan jangan mengebut, oke. Kakak baru sampai di apartement." Ucapnya memperingatkan."Got it, Sir. See ya." Pamitku lalu memutus sambungan teleponnya. Ya begitulah salah satu kelakuan kakakku tersayang. Jangan-jangan ia terkena sindrom sister complex. Tidak tidak, jangan sampai Kak Gale seperti itu.Karena diam-diam aku mempunyai keinginan untuk menjodohkan Kak Gale dengan sahabatku Dhee. Aku yakin Dhee akan berubah jika bersama kakak. Jika ada yang bertanya apa alasannya, aku sendiri tidak tahu. Hanya merasa yakin saja.Aku langsung memakai helm dan menaiki motor kesayanganku lalu melajukannya keluar dari pelataran parkir studio Kevin. Sore ini jalanan tidak terlalu ramai bahkan cenderung kosong. Aku langsung memacu motorku dalam kecepatan yang cukup tinggi. Ketika memasuki jalan bebas hambatan aku semakin memacu motorku dengan kencang. Lalu aku menyalip sebuah mobil yang berada di depanku dan yup berhasil.Namun tak kusangka bahwa si pengemudi mobil Porcshe  hitam itu mengejarku. Baiklah siapapun kau yang berada dibalik kemudi mobil itu, aku akan melayani tantanganmu. Aksi saling kejar mengejar pun terjadi. Adrenalinku semakin terpacu dan ini sangat menyenangkan sekali. Sudah lama aku tidak ikut balapan karena kesibukan di kampus sejak penerimaan mahasiswa baru.Aku lengah dan tidak fokus, sehingga mobil itu berhasil menyalip dan berhenti tepat di depanku. Mau tak mau aku langsung menghentikan motorku. Tak lama kemudian aku melihat seorang pria keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahku. Dari balik helm aku memperhatikan pria itu dan entah mengapa membuatku berdebar-debar. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Sangat tampan, Lila bodoh apa yang kau pikirkan, aku merutuki diri sendiri."Hei kau..." panggil pria tampan itu, aku pasti gila karena menyebutnya tampan. Dia semakin mendekat namun aku tetap tak bergeming dengan posisiku yang duduk di atas motor. "Apakah kau bisa mengendarai motor dengan benar, huh?" Bentaknya.Aku hanya mengangkat kedua bahuku tak peduli ketika menanggapi kata-katanya. "Kau benar-benar tidak sopan." Ucapnya sambil membuka kacamatanya, "Buka helmmu ketika ada orang yang mengajakmu berbicara." Lanjutnya dengan setengah berteriak.Dengan malas akhirnya aku mulai membuka helm yang sedari tadi betah menutupi wajahku. Dengan perlahan-lahan aku melepaskan helm itu dan setelah itu aku mengibas-ngibaskan rambut panjangku. Bisa kulihat tatapan terkejut dan tak percaya dari pria itu.Jantungku semakin berdetak cepat ketika pandangan mata kami bertemu. Pria itu memiliki mata yang indah dengan tatapan yang tajam. Perasaan asing yang tak pernah aku rasakan tiba-tiba saja menyeruak dalam dadaku. Tubuhku entah mengapa jadi meremang hanya ditatap seperti itu olehnya. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya berkedip dan menarik nafas."Kau seorang wanita?" Suara pria itu langsung mengembalikan tubuhku ke alam nyata."Ten-tu saja aku seorang wanita. Kau bisa melihat, bukan." Jawabku dengan suara tergugu. Astaga, aku harus benar-benar pergi. Pria ini membuatku kacau. "Maaf aku harus pergi." Lanjutku sambil bersiap-siap memakai kembali helmku."Tunggu..." tiba-tiba saja pria itu mencengkram pergelangan tanganku. Cengkramannya kuat namun tak menyakitiku. Yang ada aku malah merasa nyaman."Ada apa lagi?" Tanyaku berusaha menutupi kegugupanku dengan wajah datar."Kau harus bertanggung jawab karena membuat mobil kesayanganku tergores." Entah hanya perasaanku saja cara bicara pria itu jadi lebih lembut."Aku akan bertanggung jawab, tenang saja." Jawabku masih mempertahankan wajah datarku."Baiklah, kalau begitu namamu? Aku akan menemuimu untuk memberikan tagihan perbaikan mobilku jika sudah selesai diperbaiki nanti." Timpalnya masih tetap mencengkram pergelangan tanganku."Lila, namaku Lila. Baiklah, aku tunggu. Tapi bisakah kau melepaskan tanganku? Aku harus segera pulang." Tukasku dan ia buru-buru melepaskan cengkramannya pada tanganku. Ternyata dia tidak tahu siapa aku. Tunggu dulu, memangnya dia tahu tempat tinggalku? Ah, sudahlah aku tak mau pusing memikirkannya."Maaf." Ucapnya, bisa kulihat ada sedikit semburat merah di wajah tampannya.Aku langsung memakai helmku dan segera melesatkan motorku dari hadapan pria itu. Setelah pergi dari hadapan pria itu aku langsung menghela nafas berkali-kali untuk menstabilkan detak jantungku yang bekerja dua kali lipat dari sebelumnya.Wajah pria itu langsung memenuhi kepalaku. Membuatku kehilangan konsentrasi, untung saja aku tidak menabrak mobil yang ada di depanku. Aku benar-benar ingin sampai di apartemen secepatnya.Ketika sampai aku langsung menuju ke apartement milikku dan mendapati Kak Gale sedang memasak di dapur."Hai, Kak." Sapaku sambil mengambil air minum dari dalam kulkas."Hai, rupanya kau sudah pulang. Mengapa begitu lama sekali kau sampainya." Timpal Kak Gale sambil mengaduk mashed potato  di dalam wajan."Biasalah Kak, jalanan macet. Ada yang bisa aku bantu?" Aku menawarkan diri. Kakakku ini meskipun sangat sibuk dan hobi pergi ke gym, ia sangat pandai memasak.Dan jika melihat penampilannya ketika akan pergi ke kantor tak akan ada seorangpun yang percaya bahwa kakakku ini pandai sekali dalam urusan memasak."Tidak usah, sebaiknya kau mandi saja sana. Sebentar lagi makanannya siap." Jelas Kak Gale dengan mata yang terfokus pada masakan yang sedang diolahnya."Oke." Jawabku singkat sambil berlalu meninggalkan dapur dan menuju ke kamarku.Namun yang aku lakukan ketika sampai di kamar adalah langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan hanya memandangi langit-langit kamar. Wajah pria yang tadi aku salip mobilnya kembali terbayang. Seolah-olah aku melihat wajahnya di langit-langit kamarku.Aku mengacak rambutku dengan frustasi, bisa-bisanya dia membuatku seperti ini. Arghh, benar-benar pria yang menyebalkan tapi... sudah-sudah sebaiknya aku pergi mandi saja. Semoga saja setelah mandi aku akan melupakan pria itu.Selesai mandi dan berpakaian aku segera keluar kamar karena Kak Gale sudah berteriak-teriak memanggilku."Lama sekali, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya kakak ketika aku  sampai di meja makan dan duduk tepat di depannya."Mandi, wanita memang lama jika mandi." Jawabku asal."Cepat makan." Perintahnya.Tapi yang terjadi beberapa menit berikutnya adalah aku hanya memainkan makanan yang ada di dalam piringku tanpa memakannya sedikitpun."Lila..." aku tak merespon panggilan kakakku, "Lila..." aku masih tetap tak merespon, "Kyla Carolline Rosse Adam!" Panggilnya sambil setengah berteriak."Y-ya ada apa, Kak?" Tanyaku gelagapan karena terkejut."Astaga apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau tidak memakan makananmu?" Tanyanya gemas."Aku tidak memikirkan apa-apa, Kak." Jawabku sambil memasukan sesuap makanan ke dalam mulutku."Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang membuatmu tersenyum-senyum seperti itu. Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta." Tuduhnya sambil menatapku penuh selidik.Aku langsung tersedak ketika mendengar kata-kata terakhir kakak. Dengan buru-buru aku langsung meraih gelas yang ada di sampingku dan meminumnya hingga tandas. "Jangan asal membuat tuduhan, Kak." Elakku.Setelah beberapa suap aku langsung menghentikan kegiatan makanku, "Aku sudah selesai, aku akan pergi ke kamar sekarang." Pamitku sambil beranjak dari kursi."Lila, apa kau yakin baik-baik saja?" Tanya kakak, namun kali ini suaranya terdengar khawatir."Aku baik-baik saja, Kak." Ucapku meyakinkan. Setelah itu aku langsung pergi ke kamarku.***Keesokkan harinya aku bangun dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahku. Ini aneh dan sangat tidak biasa, Lila sepertinya kau mulai gila."Pagi, Kak." Sapaku sambil memeluknya, hal yang jarang aku lakukan. Memeluk kakakku sambil tersenyum bodoh. Karena Kak Gale langsung mengerutkan keningnya sambil memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki."Kau mau pergi kemana?" Tanyanya masih memperhatikan penampilanku."Ke kampus." Jawabku singkat sambil meminum susu."Bagaimana caranya kau naik motor jika pakaianmu seperti ini?" Tanyanya keheranan."Hari ini aku akan memakai mobil ke kampus, Kak. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Bye kakak." Pamitku.Aku langsung menuju ke parkiran mobil apartemen dan menuju ke tempat mobilku yang sudah lama sekali tidak kupakai.Setelah memanaskan mobil aku langsung melajukan mobil sport kesayanganku menuju ke kampus. Aku benar-benar bingung dengan kelakuanku hari ini. Selama ini aku tak pernah memakai rok atau dress ke kampus. Aku memakai pakaian seperti itu jika harus menghadiri suatu acara saja. Dan semoga tidak ada yang bertanya macam-macam perihal penampilanku hari ini.Setengah jam kemudian aku sampai di pelataran parkir mobil di kampus. Ketika keluar dari mobil aku bertemu dengan Dhee yang langsung bersorak-sorak tidak jelas."Woo, apakah aku tidak salah lihat? Ada angin apa kau jadi berpakaian seperti ini, La?" Tanya Dhee sambil memandangi penampilanku."Tidak ada apa-apa, motorku sedang dipakai oleh kakakku." Jawabku sambil sedikit berbohong.Dhee malah menyipitkan matanya penuh selidik kepadaku, "Lalu apa yang membuat kedua pipimu bersemu merah seperti itu?""Err, aku kedingingan. Sepertinya aku terlalu besar menyalakan AC mobil tadi." Lagi-lagi aku berbohong, "Sudah-sudah jangan banyak bertanya lagi. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Lanjutku sambil menggamit lengan Dhee, sebelum dia bertanya macam-macam.Ketika dalam perjalanan menuju ke kelas lagi-lagi aku melakukan hal bodoh. Menebar senyuman pada semua pria yang selama ini mengejarku. Bodoh, bodoh, bodoh. Lagi-lagi aku hanya bisa merutuki kelakuanku yang tidak biasa ini."Hai Dhee, hai Lila." Sapa Kak Angel saat kami berpapasan di tengah jalan. "Lila kau terlihat berbeda sekali hari ini." Ucap Kak Angel sambil meneliti penampilanku."Sepertinya Lila sedang jatuh cinta, Kak." Sela Dhee sambil terkikik geli."Benarkah? Akhirnya, tapi siapakah pria yang berhasil membuatmu jatuh cinta?" Tanya Kak Angel dengan sangat antusias."Aku tidak sedang jatuh cinta, Kak. Jangan dengarkan ucapan Dhee yang mengada-ada itu." Tukasku sambil menekuk wajahku. Dhee dan Kak Angel malah terus menerus menggodaku sambil tertawa."Lila..." panggil sebuah suara yang cukup familiar karena suara itulah yang terus menerus terngiang-ngiang di telingaku.Dengan tubuh yang sedikit menegang aku langsung membalikkan tubuhku dan mendapati pria tampan itu sedang berjalan menuju ke arahku. Demi Tuhan, tolonglah aku, tolong buat tanah yang kupijak saat ini terbelah agar aku bisa bersembunyi di dalamnya."Apa kabar?" Sapa pria tampan itu ketika sudah berada tepat di depanku."Ah, aku... aku baik terima kasih. Kau..."  belum selesai aku berkata pria itu langsung menyela."Kenalkan aku Zac." Ucapnya sambil menjabat lembut tanganku."Ah, senang bisa bertemu denganmu. Tapi bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?" Tanyaku penasaran, namun ia hanya memberiku sebuah senyuman misterius."Aku ada sedikit urusan disini. Bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama? Kau bisa, kan?" Tanya Zac."Y-ya tentu saja aku bisa. Kebetulan aku hanya ada satu mata kuliah saja hari ini." Jawabku dengan suara terbata-bata, aku benci seperti ini, teriakku dalam hati. Sedangkan Dhee dan Kak Angel lagi-lagi terkikik geli sambil berbisik-bisik."Bagus, sampai bertemu lagi nanti siang." Pamitnya lalu pergi meninggalkanku.Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum bodoh sambil memandangi sosoknya yang semakin lama semakin menjauh."Ah, akhirnya ada juga pria yang bisa menghancurkan tembok es sang Ice Princess kita ini." Pekik Kak Angel bersemangat."Pria yang tampan, jika kau tidak mau untukku saja bagaimana?" Celetuk Dhee yang langsung mendapatkan sebuah cubitan dariku."Pagi Kak Lila, Kak Dhee, Kak Angel." Sapa Ashley juniorku yang merupakan adik dari Lucas. Ternyata Ashley bersama Abel dan Nadine."Hai, kalian belum masuk kelas?" Jawabku sambil tersenyum namun mereka bertiga hanya menatapku dengan tatapan tak percaya."Kalian bertiga tak perlu heran seperti itu. Suasana hati Lila saat ini sedang sangat baik sekali." Jelas Kak Angel."Kalian mau tahu? Lila sedang jatuh cinta." Celetuk Dhee."Dhee... Berhenti menggodaku." Pekikku sambil mencubiti lengannya.Kak Angel dan ketiga juniorku hanya tertawa melihatku. Dan sejak saat itulah aku, Dhee dan Kak Angel semakin akrab dengan Ashley, Nadine dan Abel.Mungkin benar apa yang sudah dikatakan oleh Kak Gale dan sahabat-sahabatku, bahwa aku memang sedang jatuh cinta. Ah, beginikah rasanya jatuh cinta? Membuat kita bersikap tidak seperti diri kita yang biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar