Minggu, 02 Maret 2014

Unforgetable Night (Story About Us)

Pesta ulang tahunku malam ini berlangsung meriah, aku bahagia, karena semua sahabatku hadir, begitu juga kekasihku, aku kira Zac tidak akan hadir. Namun saat pesta akan dimulai, Zac muncul dengan mengenakan topeng dan membawa kue ulang tahunku.

Entah bagaimana perasaanku sekarang, aku hanya merasa hidupku jadi lebih lengkap. Meskipun aku akan merasa sempurna jika Mom dan Dad ada di pesta ulang tahunku.

Prestasiku di kampus sangat membanggakan, karirku di dunia modeling juga bisa di katakan cukup cemerlang. Meskipun skandal di kafe beberapa waktu yang lalu sempat membuatku uring-uringan. Dan kesal setengah mati pada orang yang memberikan foto itu kepada media. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambut orang yang membocorkan foto-foto itu.

Dan bisa kukatakan bahwa ini adalah pesta ulang tahun yang sangat aku inginkan, apalagi saat ketika Zac mengajakku untuk turun ke tengah lantai dansa. Zac mengajakku untuk berdansa bersamanya. Apalagi musik yang di mainkan oleh Nicky mampu membuatku hanyut dalam dekapan Zac. Untung saja Kak Gale tidak ada, karena sedang menerima telepon, jadi aku tak harus merasa was-was saat berdansa begitu mesra dengan Zac.

Begitu musik berhenti, aku melihat Jeremy menarik Dhee ke sudut klub. Aku sudah tahu apa yang akan mereka lakukan hanya bisa tertawa. Malam ini Jeremy sangat overprotektif, apalagi Dhee mengenakan dress yang agak terbuka. Dan itu membuat Jeremy mau  tak mau harus bersikap sperti demikian.

Saat ini aku dan Zac tengah asyik mengobrol dan menyesap minuman kami setelah puas berdansa. saat itulah Kak Gale berjalan menuju ke arahku. Dari raut wajahnya aku bisa rasa ada hal penting yang akan dia beritahukan kepadaku.

“Lila ada yang ingin kakak bicarakan sebentar.” Ucap Kak Gale dengan tampang yang serius, tanpa mempedulikan Zac. Lalu Kak Gale kemudian menarikku ke tempat yang sedikit jauh dari hingar bingar musik.

“Apa yang mau kakak bicarakan?” ucapku sambil memandang Kak Gale penuh selidik dengan kerutan di keningku.

“Lila, malam ini kakak harus pulang ke New York. Mom dan Dad baru saja menelepon kakak. Dan menyuruh kakak untuk pulang malam ini.” Ujar Kak Gale dengan nada yang terdengar bingung, panik dan frustasi.

“Lalu apa hubungannya denganku, Kak?” tukasku santai, "Bukankah kakak sudah sering meninggalkanku sendiri." Lanjutku.

“Lila…. Apa kamu pikir kakak bisa tenang, meninggalkan kamu sendiri disini? Tidak, kakak tidak pernah merasa tenang meninggalkanmu sendirian.” Sahut Kak Gale dengan suara yang mulai meninggi.

“Kakak tenang saja, aku akan minta Dhee untuk menemaniku. Apalagi besok akhir pekan jadi dia bisa menemaniku, Kak.” Kataku dengan suara mantap dan meyakinkan.

“Baiklah, kalau begitu kakak harus berangkat sekarang juga. Jaga diri baik-baik.” Ucap Kak Gale sambil memelukku lalu pergi meninggalkanku.

Setelah Kak Gale pergi, aku kembali ke tempatku. Dan Zac masih setia menungguku di kursi tempat kami tadi.

“Maafkan aku membuatmu menunggu lama, Zac.” Bisikku di telinganya. Zac hanya membalasku dengan meremas jari-jariku dan mendekapku dengan lengan kirinya yang kekar.

“Tidak apa-apa, sayang. Sudah hampir jam sebelas malam sayang. Pestanya juga sudah hampir usai. Kita pulang sekarang saja bagaimana?" Tanya Zac sambil menggenggam jemariku dan sesekali menciumnya.

“Tunggu sebentar Zac, aku harus mencari Dhee. Kau tak keberatan aku tinggal lagi?" Pintaku pada Zac.

“Of course, baby.” sahut Zac Singkat sambil mengecup bibirku kilat dan aku tersenyum sebelum pergi mencari Dhee.

Kuedarkan pandanganku kesuluruh bagian klub. Berharap Dhee masih ada dan belum pulang. Lalu aku berjalan dan samar-samar aku melihat Dhee yang sedang berpagutan dipojok klub.

Akupun langsung mendatangi Dhee yang sedang asyik berciuman dengan Jeremy. Hanya dengan Dehaman singkat yang keluar dari mulutku membuat aktivitas intim mereka berdua terenti. Dhee terkejut melihatku yang telah berdiri di depan mereka berdua dengan tatapan bingungnya.

“Upss, maaf mengganggu kalian berdua. Tapi aku ada perlu dengan Dhee sebentar. Bolehkan aku pinjam Dhee sebentar, Je?” Pintaku pada Jeremy sambil menarik Dhee.

“Oke tidak apa- apa La, lagi pula kami sudah mau pulang.” Jawab Jeremy dengan tampang cemberut.

Nampak sekali kalau Jeremy sangat tidak senang diganggu. Ah aku tidak peduli dia mau senang atau tidak, aku hanya ingin meminta Dhee untuk menginap di apartmentku malam ini. Dan aku harap Dhee mau menemaniku.

Ya setidaknya hingga hari Minggu nanti. Dan syukurlah Dhee mau menemaniku malam ini. Aku langsung bersorak kegirangan dan secara spontan langsung memeluknya.

Selain itu Dhee juga menyarankanku mengajak yang lain untuk ikut menginap. Hanya saja Dhee tidak ikut pulang bersamaku. Ia beralasan kalau harus membujuk Jeremy agar mengijinkanya untuk menginap selama akhir pekan di apartemenku malam ini.

Entah dengan syarat apa akhirnya Dhee memberitahuku bahwa ia bisa menemaniku malam ini hingga akhir pekan. Dan sahabat-sahabatku yang lain juga menyatakan bahwa mereka akan menginap juga. Hanya saja sebelumnya mereka mengatakan akan menghabiskan malam dengan pasangan mereka masing-masing terlebih dahulu.

Itu tidak masalah untukku. Lagipula Zac akan mengantarku pulang dan kami berdua bisa berduaan di apartmentku. Tanpa gangguan dari siapapun, terutama Kak Gale.

***

Setelah urusanku dengan Dhee selesai aku langsung kembali menghampiri Zac. Lalu kami berdua pulang dan langsung menuju ke apartemen milikku. Selama di perjalanan sebelah tangan Zac tak pernah lepas dari tanganku. Perlakuannya membuatku semakin jatuh cinta kepadanya.

Kemudian aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Perasaan nyaman itu selalu muncul dan bisa dengan jelas aku rasakan setiap kali berada di dekatnya ataupun ketika ia menyentuhku.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami sampai di apartemen milikku. Ini pertama kalinya aku mengajak seorang pria ke apartemen pribadiku. Sebenarnya Lucas, Mark, K, Brian dan Kak Paul kadang-kadang sering berkunjung kemari. Tapi hanya saat Kak Gale sedang ada di sini saja.

Kami mulai memasuki lift dan menuju ke lantai tempat apartemenku berada. Di dalam lift Zac terus menerus mendekap tubuhku di dalam pelukannya. Bahkan sesekali ia mencuri ciuman dariku. Kesal? Sedikit, karena sebenarnya aku menyukainya, hehehe.

"Kau tinggal sendiri di sini, sayang?" Tanya Zac ketika aku sedang memasukkan kode keamanan apartemenku. Tentu saja aku menyuruh Zac untuk menghafalkannya juga.

"Kadang-kadang, kau tahu sendiri Kak Gale sering pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis-bisnisnya." Jawabku sambil memutar kenop pintu. "Aku juga jarang di sini, karena biasanya aku melakukan fashion show di Eropa." Lalu kami masuk ke dalam dan langsung menutup pintu.

Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa panjang yang lebar. Salah satu tempat favoritku yang aku pakai untuk bermalas-malasan. Rasanya tubuhku pegal semua, tulang-tulang di tubuhku sepertinya mau lepas. Zac duduk di sampingku dan kembali memelukku. Aku langsung saja menenggelamkan kepalaku di dadanya.

"Kau sepertinya kelelahan sekali, sayang." Tegur Zac sambil membelai dan sesekali mengecup puncak kepalaku.

"Sangat lelah sekali." Gumamku malas.

Tubuhku mulai meremang ketika tangannya menyentuh punggungku yany terbuka. Ia memainkan jari-jarinya di sana. Membuat pola melingkar, seketika itu darahku rasanya langsung mendidih. Getaran-getaran yang berasal dari jari-jari Zac membuat tubuhku panas dingin.

Entah bagaimana awalnya karena saat ini Zac berbaring di atas sofa, sedangkan aku berada di atas tubuhnya. Bibir kami berdua kini tengah saling berpagutan. Saling menghirup pasokan oksigen masing-masing dan saling mencecap rasanya. Kemudian aku menelusupkan jari-jariku di rambut coklat Zac. Sedangkan tangan Zac kini tengah bermain-main dengan restleting gaunku.

Ciuman kami semakin lama semakin dalam. Zac menekan kepalaku agar ciuman kami semakin dalam. Sedangkan tangannya yang bebas mulai menjelajahi setiap inchi tubuhku. Saat aku membuka mataku dan menatap Zac, matanya terlihat berkabut oleh gairah.

Kesadaran dan kewarasanku pun mulai menipis. Zac terus menerus membangkitkan sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan aku tak peduli ketika tangan Zac mulai bergerak membuka restleting gaunku.

Tubuhku menegang ketika tangan Zac menyentuh tubuhku yang telanjang. Membuatku mengerang tertahan. Namun Zac tidak membiarkan aku untuk lepas dari ciumannya.

"Zac..." suaraku mendesah memanggil namanya di sela-sela ciuman kami.

"I love you so much, baby." Ucap Zac dengan suara yang serak dan berat.

Lalu kami melanjutkan ciuman panas kami. Tangan kami saling menyentuh sama lain. Merasakan kulit dan tubuh masing-masing dan menyamakan temperatur tubuh kami. Kemudian Zac duduk dan memangku tubuhku.

Zac berdiri lalu membawa tubuhku menuju ke arah kamarku yang telah aku tunjukkan sebelumnya. Dalam perjalanan menuju ke kamar Zac masih saja bermain-main dengan bibirku. 

Aku membuka daun pintu kamarku dan setelah kami masuk Zac mendorong pintunya menggunakan kaki. Kemudian ia langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku yang berukuran king size.

Zac merangkak di atas tubuhku, membelai pipiku yang kini terasa sangat panas. Dia mulai mencium keningku, turun pada kedua mataku, hidungku lalu melumat bibirku kembali dengan lembut seolah-olah ia ingin menunjukkan perasaannya kepadaku.

Dengan senang hati aku membuka mulutku memberikan akses agar ia bisa bereksplorasi dengan leluasa. Sedangkan tanganku mulai menyentuh dada bidang Zac.

Sambil tergesa-gesa aku membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakainya karena sebelumnya dia telah melepaskan jas hitamnya. Aku mendorong kemejanya dan melemparnya ke sembarang tempat. Apapun yang akan terjadi malam ini aku tidak akan dan tidak boleh menyesalinya di kemudian hari.

Kini Zac tengah menciumi leherku, menggigit pelan dan menghisapnya. Aku yakin sekali besok pagi aku akan melihat kiss mark yang di buat oleh Zac. Tanganku mendekap kuat tubuh Zac. Semakin lama perlakuannya membuatku semakin menginginkan Zac, aku menginginkan sentuhannya di seluruh tubuhku.

Puas mengeksplorasi leherku, bibirnya semakin turun menuju ke daerah dadaku. Bibirnya berhenti di lipatan gaunku, lalu Zac menggigit restleting gaunku dan menariknya turun secara perlahan-lahan hingga akhirnya tubuh bagian atasku polos dan benar-benar terekspos.

Mata Zac semakin berkabut, nafasnya pun mulai menderu tak beraturan sedangkan dadaku naik turun, berusaha untuk menormalkan pernafasanku yang tidak teratur. Kepalaku tersentak ke belakang ketika dengan tiba-tiba Zac mendaratkan bibirnya di salah satu dadaku.

"Ah..." sebuah erangan lolos dari mulutku. Dan aku bisa merasakan Zac yang tersenyum melihat reaksiku, tubuhku berubah menjadi sangat sensitif saat ini.

Zac meniup puncak dadaku yang telah mengeras dan tegak ke atas, seolah menantangnya. Menginginkan ia untuk segera menyentuhnya. Erangan-erangan lain kembali lolos dari mulutku ketika Zac mulai menghisap dan memainkan puncak dadaku. Rasanya benar-benar tak bisa aku ungkapkan oleh kata-kata. Mungkin karena ini pertama kalinya aku mengalami hal yang seperti ini. Bahkan menurutku rasanya lebih dahsyat dari novel-novel roman yang biasa aku baca.

Zac terus mempermainkan kedua dadaku, meremas, memilin dan menghisapnya secara bergantian. Membuatku semakin tenggelam dalam euforia kenikmatan yang baru aku rasakan dan terus menerus menghantamku tanpa ampun.

Seluruh tubuhku bergetar, otot perutku mengencang karena sensasi itu. Semua sensasi itu kini berkumpul di inti pusat tubuhku. Lagi-lagi rasa yang baru aku alami, pengalamanku tentang pacaran ataupun tentang seks memang sangat minim. Sehingga aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lagipula aku juga tak mengira bahwa aku akan mengalaminya dalam waktu yang secepat ini. Namun akal sehatku seakan tak peduli dan mendadak menghilang. Jadi aku lebih memilih untuk mengikuti sesuai alurnya saja.

Zac kini mulai menciumi perutku dan melepas gaunku lalu melemparnya. Zac mengangat wajahnya dan tersenyum kepadaku. Kemudian kami kembali terlibat ciuman yang panas. Tubuhku bergerak-gerak gelisah dan menggelinjang di bawah kungkungan tubuh Zac. Entah sejak kapan Zac melepas semua pakaiannya, sehingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh kami berdua.

Gesekan-gesakan kulit telanjang kami semakin menyulut dan membakar gairah kami berdua. Aku juga bisa merasakan sesuatu yang keras menekan perutku. Tak di ragukan lagi bahwa itu adalah bukti Zac begitu menginginkanku.

"Apakah kau yakin, sayang?" Tanya Zac dengan suara yang serak.

"Just do it, Zac." Jawabku dengan suara yang lebih terdengar seperti sebuah desahan.

Setelah mendengar persetujuan dariku Zac langsung memisahkan dan membuka lebar-lebar kedua kakiku, membuatku sangat terekspos. Lalu dengan perlahan ia mulai mengarahkan miliknya untuk memasuki diriku. Perasaan asing kembali menyeruak, aku meringis ketika ia sudah memasukan setengah miliknya dan berhenti.

Ia menatapku dengan tatapan terkejut dan kerutan di dahinya. Aku tahu apa yang akan di katakan olehnya. Sepertinya Zac terkejut mengetahui bahwa aku masih perawan dan belum pernah ada satu orang pria pun yang menjamah tubuhku.

"Sayang, kau..." kata-katanya terhenti.

"Just do it, Zac. Please..." Timpalku sambjl memohon.

"Aku tidak mau menyakitimu, sayang." Tutur Zac.

"I will be fine, lakukanlah dengan pelan." Ucapku meyakinkannya.

"Buka matamu sayang, dan tataplah mataku." Bisik Zac sambil mengecup bibirku.

Ketika aku membuka mata Zac langsung menghujamkan miliknya ke dalam diriku. Merobek dan mengoyak selaput tipis yang menghalangi jalannya. Zac langsung membungkam bibirku ketika aku akan berteriak. Demi Tuhan rasanya benar-benar sakit sekali. Rasa sakit yang begitu menyengat.

Setelah aku mulai tenang Zac mengecup kedua mataku dan menghapus air mata yang sempat keluar dari mataku. Kemudian ia mulai menggerakkan milikknya keluar dan dan masuk secara perlahan. Dan aku meringis, rasanya perih sekali.

"Kau baik-baik saja kan, sayang? Apa masih terasa sakit?" Tanya Zac dengan wajah yang cemas.

"Sedikit." Jawabku sambil membelai rambutnya. Lalu aku mencondongkan wajahku ke depan agar bisa mencium bibirnya.

Lalu kami berciuman dan Zac kembali menggerakkan miliknya keluar dan masuk. Rasa sakit yang tadi aku rasakan kini menghilang dan hanya perasaan nikmatlah yang aku rasakan. Erangan dan lengguhan kami berdua terdengar di seluruh penjuru kamarku.

"I love you I love you I love you..." ucap Zac sambil terus menerus menggerakan tubuhnya. Kini peluh benar-benar telah membasahi tubuh kami berdua.

Lama kelamaan Zac semakin mempercepat gerakannya. Membuat otot-otot perutku semakin mengejang. Rasanya ada yang akan keluar dan meledak dari dalam tubuhku.

"Zac...." panggilku dengan terengah, tanganku semakin kuat mencengkram tubuh Zac. Menusuk punggungnya dengan kukuku.

"Ya sayang..." geramnya dengan suara yang parau dan berat.

Kami saling meneriakkan nama masing-masing ketika gelombang pelepasan yang dahsyat itu menyerang kami berdua. Tubuh Zac langsung ambruk di atas tubuhku. Wajahnya tenggelam di bahuku. Nafas kami masih memburu, dan setelah pernafasan kami normal Zac mengeluarkan dirinya dari tubuhku dengan perlahan.

Ia lalu berguling di sampingku, tangannya menggapai ke atas nakas, entah apa yang di ambilnya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku merasa sangat lelah, aku tak tahu bahwa kegiatan seperti ini bisa  habis tenagaku.

Mataku sedang terpejam ketika aku merasakan Zac meraih tangan kananku. Ia menciumnya lembut, lalu sebuah benda dingin yang aku asumsikan sebuah cincin meluncur dengan bebas di jari manisku.

Mataku perlahan terbuka dan melihat ada sebuah cincin emas putih yang di hiasi oleh berlian cantik berwarna biru bertengger dengan indah dan pas sekali di jari manisku.

"Selamat ulang tahun sayang, apa kau suka?" Ucapnya sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya lalu mencium puncak kepalaku dengan penuh cinta.

"Ini sangat indah Zac, benar-benar indah. Aku menyukainya, terima kasih." Ucapku sambil terus memperhatikan cincin di jariku itu.

"Aku mencintaimu dan kau adalah milikku selamanya." Gumam Zac sambil mempererat pelukannya di tubuhku.

"I love you too Zac and yes I'm yours forever." Balasku sambil menenggelamkan wajahku di dadanya. Tak lama kemudian kami pun terlelap.

***

Sementara itu Angel sudah berada di parkiran mobil apartemen Lila. Mark yang mengantarnya kesana, rencananya ia akan bertemu dengan teman-temannya yang lain di sana. Karena hanya Dhee-lah yang mengetahui kode keamanan apartemen Lila. Jadilah ia dan Mark menunggu di dalam mobil sambil menunggu teman-temannya datang.

"Kau kenapa, sayang?" Tanya Angel pada kekasihnya yang sedari tadi hanya diam, tidak seperti biasanya.

"Perutku mual sekali, sayang." Eluh Mark sambil memegangi perutnya. Wajahnya juga terlihat pucat tapi pipinya memerah. Mungkin pengaruh dari alkohol yang di minumnya tadi ketika di pesta.

"Itu karena kau tidak terbiasa meminum alkohol, Mark." Ucap Angel. "Jika tidak terbiasa jangan minum." Angel menggeruru kepada kekasihnya itu.

"Sayang, aku tidak minta unthk di marahi dan di ceramahi." Ucap Mark merajuk.

"Biar saja, terkadang kau memang harus di ceramahi." Timpal Angel sambil mencubit perut kekasihnya itu.

"Maaf sayang maaf." Tukaa Mark sambil meringis karena cubitan-cubitan yang di sarangkan oleh Angel ke perutnya.

Angel hanya berdecak melihat kekasihnya itu. Tiba-tiba Mark keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah pojokan parkiran. Tak ada apapun yang keluar dari mulutnya itu. Dengan tergesa-gesa Angel langsung menyusul kekasihnya itu.

Dengan sabar Angel mengusap-usap punggung Mark, "Apakah sudah jauh lebih baik?" Tanya Angel sambil terus mengusap punggungnya.

Namun hanya anggukan yang di terima oleh Angel. Kemudian Angel memapah Mark untuk kembali ke dalam mobil. Ia membuka pintu penumpang di bagian belakang. Ketika akan mendudukkan Mark dikursi belakang, Mark malah menarik Angel hingga Angel jatuh di atas tubuhnya.

Mark langsung mendekap tubuh Angel dengan erat, "Mark, lepaskan." Tegur Angel sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Mark.

"Tidak sayang." gumamnya mulai menciumi pipiku.

"Mark, lepaskan. bagaimana kalau nanti ada yang datang dan melihat kita seperti ini." tutur Angel.

"Jika kau bersikap tenang semuanya akan baik-baik saja, sayang." Ucap Mark. Kemudian ia mencium bibirku.

Mark menekan kepala Angel agar ciuman mereka semakin dalam. Akhirnya Angel menyerah dan membalas setiap ciuman yang di lancakan oleh Mark. Tubuh yang semula tegang kini mulai rileks. Bahkan Angel mulai terlihat menikmati setiap sentuhan Mark di setiap inchi tubuhnya.

Tubuh mereka berdua saling membelit satu sama lain. Bergerak seirama dengan ciuman mereka yang semakin panas dan liar. Saling meraba dan menyentuh tubuh satu sama lain menyertai kegiatan mereka.

Angel mengerang tertahan ketika tangan Mark menyelinap menyentuh tubuh bagian atasnya. Kemudian mulai menyentuhnya secara perlahan. Tubuh Angel menegang karena sensasi yang baru di kenalnya itu. Kemudian Mark mengganti posisinya jadi duduk, sedangkan Angel kini tengah duduk di pangkuan kekasihnya itu.

Angel melingkarkan tangannya di leher Mark. Kemudian mereka kembali berciuman, bahkan ciuman mereka lebih pabas dari sebelumnya. Tanpa sadar Angel melarikan tangannya membuka kancing-kancing kemeja Mark dan menyentuh dada bidangnya yang tanpa penghalang.

Sentuhan tangan Angel di dada Mark membuatnya mengerang. Tubuhnya semakin di aliri oleh sensasi-sensai yang memabukkan. Tak mau kalah Mark pun melakukan hal yang sama dengan cara menurunkan restleting gaun Angel. Setelah hampir terbuka setengahnya Mark menyusupkan tangannya di sana. Membuat Angel menggelinjang karena sentuhannya.

Dia saat sedang asyik tiba-tiba tereengar sebuah gedoran di kaca belakang mobil Mark. Mereka berdua tersentak kaget. Angel buru-buru melepaskan pelukannya di tubuh Mark dan memegangi gaunnya yang hampir melorot. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat Dhee bahwa Dhee-lah yang menggedor kaca belakang mobil.

Tapi ternyata bukan hanya Dhee yang berada di sana. Rupanya Ashley, Abel, Nadien, Dianne dan Kak Jenn sudah datang juga. Wajah Angel dan Mark langsung berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Sedangkan Dhee dan yang lain hanya tertawa cekikikan sambil menggelengkan kepala.

"Astaga apa yang sedang kalian lakukan? Ini tempat parkir Mark, tak bisakah kau menahan diri?" Tegur Dianne sambil terkikik geli.

"Berhenti mengolok-olokku, Anne." Gerutu Mark sambil mengerucutkan bibirnya. Raut kekesalan terlihat jelas di wajahnya yang masih merah.

"Sudah-sudah sebaiknya kita segera ke atas. Aku yakin sekali Lila sudah lama menunggu kedatang kita." Dhee menengahi.

"Mark aku ke atas dulu. Kau hati-hati jangan mengebut, oke?" Ucap Angel kepada Mark.

"Aku akan berhati-hati, sayang. Have fun." Ucap Mark sambil mengecup bibir Angel kilat dan langsung mendapatkan seruan dari yang lain.

Setelah Mark pergi mereka semua langsung bergeges menuju ke apartemen Lila yang berada di lantai 25.

***

Mataku perlahan karena merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhku. Ternyata itu tangan Zac. Wajahku langsung memanas teringat apa yang baru saja terjadi dengan kami berdua. Aku tersenyum melihat wajah damainya ketika tertidur.

"I love you, Zac." Bisikku dengan suara pelan, karena aku tak mau membangunkan Zac. Aku terlonjak kaget ketika melihat jam yang ada di nakas.

Aku tertidur dan ini sudah pukul dua pagi. Bagaimana bisa aku tertidur padahal teman-temanku akan datang kemari, gumamku dalam hati. Dengan perlahan aku menyingkirkan tangan Zac, kemudian aku turun dari tempat tidur perlahan-lahan. Kemudian menuju ke  kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.

Setelah segar aku pergi ke dapur untuk membuat makan dengan menggunakan kemeja putih milik Zac yang kebesaran di tubuhku, hingga menutupi celana pendek yang aku gunakan. Aku sedikit meringis ketika berjalan, rasanya sakit dan sedikit tidak nyaman di bagian organ intimku.

Sesampainya di dapur aku segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat spagethi, karena ternyata teman-temanku belum datang. Aku asyik memasak sambil sesekali bersenandung. Tiba-tiba saja ada tangan yang memelukku dari belakang, dan aku tahu siapa itu. Zac. Ia membenamkan wajahnya di lekukan leherku dan sesekali mengecupnya, membuat tubuhku meremang.

"Zac, lepaskan. Aku sedang memasak." Tegurku sambil mengaduk masakan dalam penggorengan.

"Mengapa kau meninggalkanku sendirian, sayang." Rajuk Zac.

"Aku lapar Zac, lagipula kau tidur sangat pulas sekali." Timpalku.

Tiba-tiba Zac mematikan kompor dan membalik tubuhku, kemudian ia memangku tubuhku dan mendudukkannya di meja pantry.

"Zac..." belum selesai aku berbicara Zac langsung mencium bibirku dengan begitu bergairah. Aku pun langsung melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan kakiku melingkari pinggangnya.

Ciuman kami benar-benar panas, tanganku meraba punggungnya yang telanjang. Sampai tiba-tiba...

"Lila.... kamiiii dat.... aaaaaa...." suara pekikan Dhee membuat aku dan Zac langsung melepaskan diri dan menoleh ke sumber suara.

Wajahku sudah bisa di pastikan merah seperti tomat sedangkan Zac langsung pamit dan buru-buru pergi ke kamarku. Aku melompat turun dari meja pantry dan menghampiri Dhee yang ternyata sudah datang bersama yang lain. Mati kau Lila, rutukku dalam hati.

"Kapan kalian datang? Mengapa aku tidak mendengar kedatangan kalian?" Tanyaku dengan suara yang di buat setenang mungkin.

"Bagaimana kau tahu kami datang, toh kau sedang sibuk bersama Zac." Rutuk Dhee sambil mengerucutkan bibirnya.

"Wow, Kak Lila terlihat hot dengan penampilan seperti ini." Celetuk Abel. "Apa yang sedang kalian lakukan? Memasak? Tapi mengapa penampilan kakak seperti ini dan kekasih kakak hanya memakai boxer tanpa mengenakan pakaiam untuk menutupi badannya yang hot." Tanya Abel dengan polosnya yang langsung membuatku memelototinya.

"Ckckckc, tadi kami memergoki Angel dan Mark sedang berbuat mesum di dalam mobil di parkiran. Dan sekarang kamu dan Zac." Tutur Kak Jenn sambil menggelengkan kepalanya.

"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Bantahku sambil mengerucutkan bibir.

"Iya juga tidak apa-apa La, kau sudah dewasa. Setidaknya kau siap menanggung resiko dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan." Ucap Dianne yang membuat wajahku semakin memanas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar