Jumat, 14 Maret 2014

Love Doesn't Have To Hurt 12

DHEE

Di sinilah aku saat ini, di sebuah kafe yang bernuansa romantis dengan alunan musik-musik yang romantis pula. Senyuman tak kunjung hilang dari bibirku, karena kini ada Gale yang sedang duduk tepat di hadapanku sambil menggenggam erat kedua tanganku.

Kami tengah meluruskan semua kesalah pahaman yang terjadi di antara kami selama ini. Kesalah pahaman dan keegoisanku yang menjadi bumerang untuk diriku. Ya, aku menderita karena keegoisanku sendiri. Membiarkan kesalah pahaman itu menyulut emosiku dan menghancurkan hubunganku dengan lelaki yang sangat aku cintai. Gale.

"Aku tak menyangka bahwa Daniel sampai berbuat sejauh itu. Maafkan sepupuku, Gale." Gumamku setelah mendengarkan penuturan Gale, dengan ekspresi terkejut. Ia mengatakan bahwa selama hampir satu bulan lamanya ia pernah berkeliling mendatangi setiap rumah sakit yang ada di California hanya untuk mencari keberadaanku yang tiba-tiba saja menghilang bagai di telan bumi. Dan dengan seenaknya Daniel sepupuku tersayang mengatakan kepada suster bahwa aku di pindahkan ke salah satu rumah sakit yang berada di California.

Daniel, aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku tak menyangka bahwa kau berani sejauh itu mencampuri hubunganku dengan Gale, geramku dalam hati. Mom, Dad ataupun kamu tak memiliki hak untuk memisahkanku dengan Gale.

Kebaikan menurut mereka belum tentu juga baik untukku. Begitu pula dengan jalan yang aku pilih untuk mendapatkan kebahagiaanku. Dan jalan yang kupilih adalah Gale. Aku percaya dan yakin bahwa Gale akan memberikan kebahagiaan kepadaku. Meskipun tak sedikit rintangan yang datang menghadang hubungan kami.

Gale tetap bertahan, di saat aku dengan semua keegoisan dan kekeras kepalaanku membenarkan semua yang aku lihat tanpa mau mendengarkan sedikitpun penjelasan darinya. Berkali-kali aku menyalahkan Gale, namun ia tetap sabar dan menerima semua tuduhanku. Bahkan Gale tidak pergi ketika aku meninggalkannya. Yang terparah Lila menjadi korban pelampiasan kemarahanku. Aku benar-bener merasa sangat bersalah kepadanya.

"Angel, apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Gale langsung membuyarkan lamunanku.

"Ah, tidak ada apa-apa Gale. Hanya saja aku sedang memikirkan Lila. Apakah ia mau memaafkanku dan menjadi sahabatku lagi." Ungkapku dengan sedih.

Gale meraih tanganku, kemudian menciumi jemariku dengan lembut, "Lila sudah memaafkanmu sejak lama, Angel. Jadi kau tak perlu khawatir." Jawab Gale sambil merapikan rambutku yang menempel di pipi.

"Aku benar-benar merasa bersalah kepada Lila, Gale." Keluhku sambil menundukkan kepalaku.

"Angel, sudah ku bilang bahwa Lila tidak marah. Jadi jangan bersedih lagi, kita nikmati malam yang indah ini. Kau tahu aku sangat merindukanmu." Hibur Gale sambil memberikan senyuman andalannya yang selalu memabukanku.

"Jangan lari lagi, Angel. Karena ketika kau pergi dan tak bisa aku temukan itu sama saja dengan membunuhku secara perlahan." Tutur Gale sambil memandangku dengan lekat.

"Tidak akan Gale, aku takkan melakukan hal bodoh yang kekanakan seperti itu lagi. Aku mencintaimu, Gale." Kemudian aku mencium bibirnya.

Ciuman kami semakin lama semakin dalam dan begitu intens. Aku menjalankan jari-jariku di antara helaian rambut coklat Gale dan menekan tengkuknya sesekali untuk memperdalam ciumannya. Sampai tiba-tiba Gale menarik diri membuatku merasa kehilangan dan kecewa.

"Sebaiknya kita pulang, Angel. Malam sudah semakin larut." Suara Gale yang serak terdengar begitu seksi di telingaku.

Setelah membayar tagihan, Gale menggandeng mesra tanganku saat keluar dari kafe itu. Sedangkan aku tetap menekuk wajah karena kesal. Ya, aku kesal karena momen romantis tadi tiba-tiba hentikan oleh Gale begitu saja. Apa dia tidak merindukanku? Sepanjang perjalanan menuju ke mansion tempatku tinggal aku terus menerus menggerutu.

Tak ku hiraukan celotehan Gale selama perjalanan. Aku kesal pada Gale dan kepada diriku sendiri. Karena entah sejak akan aku berunah menjadi manja dan senang merajuk seperti ini. Argh, ini benar-benar menyebalkan.

"Angel, kau kenapa? Sejak tadi aku perhatikan kau diam saja sambil memasang wajah yang cemberut." Celetuk Gale memecah keheningan karena sedari tadi aku mengacuhkannya.

"Kau pikir saja sendiri." Aku memutar kedua bola mataku kesal sambil menjawab pertanyaan Gale.

"Ayolah sayang, jangan merajuk seperti ini. Aku bukan peramal atau pun Tuhan yang bisa mengetahui isi dari kepala cantikmu itu." Celoteh Gale.

"Kau menyebalkan Gale sangat menyebalkan. Kau... ah sudahlah aku malas membahasnya." Dengusku kesal, menepis dengan kasae genggaman tangannya, kemudian aku berjalan mendahuluinya sambil menghentak-hentakan kaki.

"Angel, tunggu..." teriak Gale sambil mengejarku.

Astaga Dhee, otakmu sudah fix mengalami kerusakan fatal. Lihat saja kelakuan bodohmu itu, seperti bocah yang tidak di belikan mainan kesukaannya saja. Merajuk tanpa sebab, ah aku tidak merajuk tanpa sebab. Seharusnya Gale tahu kenapa aku sampai merajuk seperti ini.

Mustahil jika Gale tidak mengetahui alasanku merajuk. Tapi sedari tadi Gale terus saja bertanya apa yang terjadi kepadaku. Yang Gale lakukan kebanyakan membisu sambil memandangi keadaan sekitar. Entah apa yang sedang di pikirkannya, haruskah aku bertanya apa yang sedang di pikirkan oleh kepalanya yang tampan itu. Oh tentu saja tidak, aku tidak akan menanyakannya.

Akhirnya kami sampai di mansion tempatku tinggal. Ketika di dalam Gale masih diam, aku juga malas untuk menyapanya terlebih dahulu. Namun ketika aku baru selesai mengunci pintu dan berbalik, tiba-tiba saja Gale langsung menyergapku.

Ia menyudutkanku di dinding samping pintu. Tubuhnya yang kekar memerangkap tubuhku, sebelah tangannya mencengkram kedua tanganku dan menepatkannya tepat di atas kepalaku. Sedangkan tangannya yang bebas mulai menelusuri wajahku dan berakhir di bibirku. Ia berlama-lama menyentuh dan menelusuri bibirku.

Kemudian bibirnya mengunci bibirku dan mulai melumatnya dengan lembut. Mulutku terbuka, membiarkannya menjelajahi seluruh rongga mulutku. Ritme ciuman yang tadinya sangat lembut mulai berubah menjadi agak kasar dan menuntut tanpa mengurangi kadar intensitasnya.

Dadaku mulai terasa sesak karena kekurangan udara. Tarikan nafasku mulai tersengal ingin rasanya aku menarik diri kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Namun itu tak kulakukan, aku malah semakin memperdalam ciumanku. Aku tak ingin kehilangan momen ini walaupun hanya sedetik.

Akhirnya Gale membebaskan kedua tanganku dari cengkramannya. Buru-buru aku melingkarkan tanganku di lehernya yang kokoh itu. Gale mengelus tengkukku kemudiann tangannya turun membelei kedua lenganku dengan lembut. Sentuhannya menimbulkan gelenyar-gelenyar aneh di tubuhku. Rasanya panas namun sangat nikmat.

Pola-pola lingkaran kecil yang di buatnya di lenganku semakin membuat tubuhku memanas. Otot-otot perutku mengencang, rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berkumpul di sana. Gale menarik diri, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan aku melakukan hal yang sama.

Aku memandangi wajah Gale yang ada di hadapanku. Ekspresi wajahnya tak bisa kubaca. Sepertinya sedang terjadi pergulatan emosi di sana. Namun mata coklat susunya menunjukan gairah yang teramat besar. Matanya yang berkabut itu tak bisa di tutupi atau di sembunyikan. Meskipun aku tahu ia sedang berusaha keras untuk menekan gairahnya.

Gale menarik tubuhku dan membawanya ke arah kamar. Ia langsung melepaskan jaket dan sepatu yang kupakai. Kemudian ia membaringkanku di tempat tidur, tak lama kemudian ia menyusul setelah melepaskan pakaiannya yang hanya menyisakan celana boxernya saja. Jantungku langsung berdetak tak beraturan, pikiranku mulai melayang-layang memikirkan hal-hal yang di inginkan. Astaga Dhee, hentikan pikiran tak senonohmu itu.

Ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya, "Tidurlah Angel, atau aku takkan bisa menahan diriku sama sekali. Karena aku tidak ingin mengklaimmu sebelum kau resmi menjadi istriku." Bisiknya tepat di telingaku. "Selamat malam, tidur yang nyenyak Angel."

Mendengar kata-katanya mataku terpejam. Hatiku di lingkupi oleh perasaan hangat yang sangat nyaman. Bersama Gale selalu membuatku merasa aman dan di lindungi karena ia benar-benar menjaga diriku. "Selamat malam Gale, aku mencintaimu." Gumamku. Kemudian aku terlelap ke alam mimpi.

***

GALE

Berbulan-bulan sudah berlalu sejak kepulanganku dari Paris ke New York bersama Dhee. Lila girang bukan main melihat kami akhirnya bersama-sama kembali. Sekarang aku sedang berusaha keras untuk membangun kerajaan bisnisku sendiri. Tanpa ada campur tangan sedikitpun dari Dad.

Karena itulah syarat yang di ajukan oleh ayah Dhee. Mereka benar-benar akan memberikan restunya dan menyerahkan putri semata wayang mereka kepadaku jika aku mampu dan berhasil menjalani tantangan yang mereka berikan.

Itu tak masalah, dengan senang hati aku menerima tantangan yang di berikan oleh ayah Dhee, apapun akan aku lakukan untuk menjadikan Dhee milikku seutuhnya. Berjalan di tengah padang pasir selama seminggu pun akan aku lakukan demi dirinya. Kini seluruh waktuku tersita hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Untung saja Dhee mengerti, apalagi saat ini ia juga sedang sibuk dengan kuliahnya yang sudah memasuki semester akhir.

Setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya hari itu aku bisa bertemu dengan belahan jiwaku. Saat ini kami sedang makan siang bersama di sebuah restoran Perancis yang letaknya tak jauh dari universitas tempat Dhee menimba ilmu.

"Bagaimana kuliahmu?" Aku bertanya di sela-sela waktu saat menikmati makan siang kami.

"Baik, hanya saja tugas-tugas kuliahku sangat banyak. Aku tak memiliki waktu untuk pergi berjalan-jalan dengan Andara dan Lila lagi." Jawabnya dengan sedikit gemas.

"Ngomong-ngomong tentang Lila, apakah dia baik-baik saja?" Sudah lama sekali aku tidak menghubungi adik kecilku itu.

"Lila baik hanya saja sekarang ia jarang menghabiskan waktu bersamaku dan Andara jika di kampus. Lila lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Zac." Jelasnya sambil mengunyah makanan. Wajahnya terlihat sangat lucu, aku ingin sekali mencubit kedua pipinya yang menggembung karena di penuhi oleh makanan.

"Apakah dia kekasih Lila?" Berita yang cukup mengejutkanku, mendengar Lila sedang dekat bersama seorang prja. Semoga Lila bisa benar-benar keluar dari bayang-banyang masa lalunya saat Dave masih hidup.

"Entahlah Gale, aku tidak tahu apakah Lila memang berpacaran dengam pria itu atau hanya berteman saja." Jawabnya sambil mengedikkan bahu.

Setelah selesai makan siang aku mengajak Dhee berjalan-jalan. Aku ingin menikmati sore di sebuah pantai, sedetik pun aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku bersama Dhee. Aku tak ingin kesempatan yang berharga ini berakhir begitu saja. Karena besok pagi aku harus segera kembali ke Swiss, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di sana.

Kami berjalan menyusuri pasir putih di sepanjang bibir pantai sambil bertelanjang kaki dan bergandengan tangan. Hal yang sangat aku rindukan, biasanya aku dan Dhee biasa mendatangi pantai sebanyak tiga kali dalam seminggu. Lelah berjalan-jalan kami memilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu matahari tenggelam untuk bebincang di sebuah kafe yang ada di sana. Dari sini kami tetap bisa melihat keindahan momen saat matahari tenggelam.

"Terima kasih untuk hari ini, Angel. Aku benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktuku bersamamu." Ucapanku membuatnya langsung menegakann kepalanya yang sedang bersandar di bahuku.

"Aku yang harusnya berterima kasih Gale, karena di waktumu yang sangat padat kau masih bisa menyempatkan diri untuk menemaniku. Aku mengerti dengan kesibukanmu, ini semua untuk kebaikan kita, bukan." Tangannya yang halus membelai wajahku dengan begitu lembut, "Karena aku yakin dan percaya kepadamu, Gale." Kata-kata terakhir yang terucap dari bibir mungilnya yang menggemaskan itu langsung membuat semangatku jadi berkali-kali lipat besarnya.

"Ah ya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu, Angel." Keningnga langsung berkerut ketika mendengar ucapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar