GALE
"Ada apa, Angel? Ceritakan kepadaku?" Tanyaku sambil memegang kedua bahunya.
"Cukup Gale cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku lelah, Gale." Isaknya sambil memukul-mukul dadaku.
"Angel, kau harus tenang dulu. Tolong katakan kepadaku ada apa sebenarnya." Tukasku sambil membelai lembut punggungnya.
Namun Dhee semakin terisak, membuatku semakin bingung. Kepalaku berdenyut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Dhee.
"Angel, kumohon tenanglah. Ceritakan kepadaku ada apa sebenarnya ini?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku.
Aku melihat Dhee menghela nafas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya, "Kita putus, Gale."
Rasanya seluruh darah yang ada di wajahku tersedot habis. Wajahku memucat mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir mungil kekasihku tercinta. "Ap-apa maksudmu, Angel?" Tanyaku tergugu.
"Aku mau kita putus Gale, PUTUS." Ulangnya sambil memberikan penekanan pada kata putus.
"Tidak Angel, aku tidak mau putus darimu. Tidak akan pernah." Jawabku lantang.
"Sudah cukup Gale, cukup. Aku lelah, aku tak mungkin terus-terusan menjadi sosok yang kuat. Aku lelah dengan semua ini, aku pikir kau sudah berubah setelah aku memergokimu bersama Sherin, tapi..." Dhee menghentikan kata-katanya dan mengembuskan nafas dengan berat, "Ternyata aku salah, kau tidak pernah berubah." Lanjutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Demi Tuhan Angel, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." Aku mengguncang tubuhnya lembut. Namun Dhee tak bergeming, ia menghindari tatapanku.
Aku langsung mengacak rambutku dengan frustasi, setelah akhirnya melepaskan cengkramanku pada kedua bahunya. Benar-benar membuatku stress, padahal aku ingin sekali memuaskan rasa rindu yang sudah cukup lama aku pendam. Bahkan rasa rindu ini membuatku begitu sakit dan sangat menyesakan hati.
Namun apa yang aku dapati ketika akhirnya aku kembali bertemu dengan orang yang bisa mengobati rasa ini? Tiba-tiba Dhee memutuskan hubungan kami begitu saja tanpa memberikan penjelasan sedikitpun. Dhee menunjukkan sikap bahwa aku telah melakukan sesuatu yang fatal. Sehingga pada akhirnya Dhee mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya denganku.
"Tak ada lagi hal yang perlu di jelaskan, Gale. Semua sudah berakhir, hubungan kita cukup sampai di sini saja. Kita putus." Ucapnya dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Setelah mengatakan hal itu Dhee langsung pergi meninggalkanku yang terdiam terpaku menatap kepergiannya. Bahkan Dhee tak menoleh sedikitpun ke belakang. Seolah-olah ia ingin benar-benar meninggalkan dan melupakan masa lalunya.
I can't breathe easy
Can't sleep at night
Till you're by my side
No I can't breathe easy
I can't dream yet another dream
Without you lying next to me
There's no air
Curse me inside
For every word that caused you to cry
Curse me inside
I won't forget, no i won't baby,
I don't know why
I left the one i was looking to find
Ooh -- why...ooooh, why -- why...
Out of my mind
Nothing makes sense anymore
I want you back in my life
That's all I'm breathing for...
(Blue - Breathe Easy)
Entah berapa lama aku berada dalam posisi seperti itu. Berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Berharap bahwa Dhee akan berbalik dan memelukku. Lalu kami sama-sama saling mencurahkan perasaan rindu kami.
Detik demi detik terus berjalan. Namun tak ada tanda-tanda bahwa Dhee akan kembali dan berubah pikiran. Ternyata semua ini nyata, bukan mimpi.
Hujan yang turun dengan begitu derasanya seolah tahu suasana hatiku saat ini seperti apa. Tak kuhiraukan tubuhku yang mulai menggigil karena kedinginan. Rasa dingin yany di timbulkan oleh hujan pun rasanya tak mampu untuk mendinginkan hatiku yang bergejolak panas.
Malam semakin larut, namun aku tetap tak bergeming. Hujan yang terus menerus mengguyur tubuhku tetap tak membuatku beranjak dari posisiku saat ini. Duniaku runtuh, benar-benar runtuh tepat di bawah kakiku. Orang yang aku cintai kini telah pergi meninggalkanku tanpa penjelasan apapun. Hingga lama kelamaan pandanganku semakin kabur dan tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Aku membuka mataku ketika mendengar suara Lila yang khawatir. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan yang serba putih ini. Bau disinfektan yang tajam langsung membuatku tahu bahwa saat ini aku sedang berada di rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku pada Lila dengan suara yang lemah.
"Kakak pingsan di taman di saat hujan sedang turun begitu derasnya." Suara Lila terdengar bergetar karena tidak bisa menutupi ke khawatirannya, "Apa yang kakak lakukan, huh?"
"Aku pikir aku sudah mati." Jawabku enteng, namun tanpa di duga tiba-tiba saja Lila menampar pipiku dengan begitu kerasnya, "Sakit, mengapa kau menamparku?" Tanyaku sambil mengelus sebelah pipiku yang terasa panas.
"Bodoh, kau benar-benar kakak yang bodoh. Aku malu memiliki kakak yang pengecut sepertimu." Cecarnya sambil menangis. "Jika kau seperti ini bagaimana kau bisa mendapatkan dan kembali meyakinkan Dhee jika kau seperti ini, Kak." Isakknya sambil memalingkan wajahnya dariku.
Aku langsung menarik tubuh adikku dan memeluknya, "Maafkan kakak Lila, maaf." Hanya itulah kata-kata yang bisa terlontar dari mulutku.
"Kau benar-benar bodoh, kau kakak yang bodoh. Mengapa kau jadi seperti ini, Kak?" Cecarnya sambil terus terisak dalam pelukanku.
"Maaf Lila..." kata itu lagi yang keluar dari mulutku, mungkin saja Lila sudah bosan mendengar kata maafku.
"Sudahlah, Kak..." ucapnya sambil melepaskan pelukannya, "Kau harus cepat sembuh. Agar kau bisa kembali menyakinkan Dhee, aku tahu kau sangat mencintainya, Kak. Maka cepatlah menjadi kakakku yang seperti biasanya." Ucapnya sambil mencoba tersenyum di tengah isakannya.
Lila benar, aku tak bisa terpuruk seperti ini terus. Aku harus kembali bangkit jika aku ingin kembali mendapatkan Dhee. Aku tak boleh mundur dan menyerah begitu saja pada keadaan. Tidak boleh.
Beberapa hari kemudian dokter sudah mengizinkanku untuk pulang. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari keberadaan Dhee. Karena menurut kabar yang aku terima dari Lila bahwa Dhee tidak terlihat di kampus. Bahkan Andara pun tidak tahu Dhee berada di mana saat ini.
Ya Tuhan, cobaan apalagi ini? Sampai kapan kau terus menguji kesungguhanku dan cintaku kepada wanita yang aku cintai.
Entah harus memulai dari mana aku melakukan pencarian. Aku tak tahu lagi harus mencari Dhee kemana. Dhee kembali menghilang tanpa jejak seperti di telan bumi.
Angel...
Kemana lagi aku harus mencarimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar