Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 7

GALE

Aku melemparkan bunga yang sedang aku pegang ke lantai. Gigiku bergemertak menahan amarah hingga tanganku terkepal kuat, membuat kukuku memutih. Memberikan pandangan permusuhan kepada pria yang sedang berdiri di depanku ini.

Sebenarnya siapakah dia? Mengapa dia seenaknya melarang dirinya untuk menemui Dhee? Jangan-jangan pria ini adalah.... Tidak. Tidak. Tidak. Tidak mungkin.

Pikiran-pikiran buruk terus menginvertasi pikiranku. Tidak mungkin kedua orang tua Dhee langsung menjodohkannya dengan pria lain agar aku menjauhi anak mereka.

Lalu bagaimana reaksi Dhee jika ia sadar nanti? Apakah Dhee akan menerima perjodohan dengan pria di depanku ini? Dhee pasti tidak akan menerima perjodohannya. Dhee tidak akan menyukai pria ini. Karena Dhee hanya mencintaiku.

"Mengapa kau masih berada di sini?" Bentak pria itu.

"Bukan urusanmu! Dengan atau tanpa ijinmu aku akan tetap datang kemari untuk menemui Dhee." Balasku dengan sengit.

"Buktikan. Aku ingin tahu sampai mana dan berapa lama kau bisa bertahan." Timpalnya dengan nada mengejek.

"Siapapun kau... Dengar kau takkan bisa memisahkan aku dari Dhee. Jika aku harus mengorbankan nyawaku agar bisa bersama Dhee... Aku akan melakukan hal itu detik ini juga." Desisku.

Pria itu mencibirkan bibirnya mendengar perkataanku. Tanganku kembali mengepal, ingin sekali rasanya meninju wajahnya. Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahku, bagaimanapun kami ada di rumah sakit sekarang.

"Oh ya? Kalau kau memang rela mengorbankan nyawamu untuk Dhee, kenapa sekarang justru Dhee yang terbaring disini, huh? Koma! Kau dengar? Dhee koma.....dan itu semua karena kau." Bentaknya dengan wajah memerah.

"Jika kau tidak tahu permasalahannya jangan seenaknya membuat kesimpulan sendiri. Yang tahu kejadian yang sebenarnya hanya aku dan Dhee." Balasku sambil memberikan tatapan membunuh kepada pria itu.

"Aku tak peduli, yang aku tahu adalah Dhee menderita sejak.berpacaran denganmu." Balasnya tak kalah sengit.

"Jangan harap kau bisa mengambil Dhee dari tanganku. Karena aku akan mempertahankan Dhee sampai kapanpun. Ingat itu." Ucapku sambil menunjuk tepat di wajahnya. Lalu aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatan yang tak akan ada akhirnya ini. Untuk kali ini aku akan mengalah, tapi tidak untuk yang selanjutnya.

Dalam perjalanan menuju ke kantor pikiranku menerawang jauh. Entah cara apalagi yang harus aku lakukan untuk membuktikan kepada semua orang bahwa aku benar-benar mencintai Dhee. Bahwa aku rela melakukan apapun untuknya, asalkan aku bisa melihat kembali Dhee tersenyum.

Namun jika pilihannya aku harus melepaskan Dhee untuk kebahagiaan Dhee. Jujur saja aku benar-benar belum siap. Aku tidak mau melepaskan Dhee. Demi Tuhan, hanya dialah penyemangatku hidupku, hanya Dhee pusat kehidupanku dan nafasku. Pikiranku benar-benar kalut dan kacau, Dhee tak kunjung bangun dari tidurnya. Belum lagi kedua orang tua Dhee yang tidak menyukaiku menjadi kekasih putri semata wayang mereka. Dan sekarang di tambah dengan kehadiran pria yang entah siapa dan melarangku untuk menemui Dhee. Bahkan pria itu sepertinya sengaja menantangku.

Aku tidak boleh putus asa dan menyerah begitu saja. Jika aku menyerah itu sama saja aku membenarkan apa yang sudah di tuduhkan oleh kedua orang tua Dhee selama ini. Ya, aku harus membuktikan bahwa apa yang mereka tuduhkan itu salah.

Sesampainya di kantor, aku mendapati Lila sedang menungguku. Beberapa hari belakangan ini Lila mengacuhkanku. Karena Lila berpikir bahwa akulah yang menyebabkan Dhee jadi sepertu ini. Sudah berkali-kali aku berusaha untuk menjelaskan tapi Lila tak mau mendengar. Sama seperti kedua orang tua Dhee dan pria asing itu.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Lila?" Tanyaku sambil berjalan menuju ke kursiku.

"Apa kakak dari rumah sakit lagi?" Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya, "Lalu apakah kakak bisa melihat keadaan Dhee?" Lanjutnya sambil berjalan menghampiriku lalu duduk di kursi tepat di hadapanku.

Aku menggeleng lemah, "Ada seorang pria seumuran denganmu yang menjaga Dhee. Dan pria itu melarangku untuk menemui, Dhee." Ungkapku dengan penuh kekecewaan.

"Seorang pria?" Tanyanya terkejut sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya." Jawabku singkat sambil mengangguk cepat. "Apa kau mengenal pria itu?" Aku balik bertanya pada Lila.

"Entahlah, Kak." Jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya, "Aku belum mengunjungi Dhee lagi. Tugas-tugasku sangat banyak." Jawabnya sambil memainkan pena yang ada di atas mejaku. Lila melakukan kebiasaan itu jika ada hal gugup atau sedang ada sesuatu. "Kau baik-baik saja, kan?"

"Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Dhee, Kak. Sudah hampir empat hari dia koma." Aku tahu bukan hanya Dhee yang membuatnya resah. Adikku tidak terlalu pandai berbohong.

"Apa kau yakin hanya mencemaskan Dhee?" Tanyaku penuh selidik sambil memicingkan mataku.

"Aku tidak apa-apa. Ya sudah sebaiknya aku pulang saja. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan." Ucapnya sambil beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke pintu keluar.

"Lila..." Lila menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadapku dengan kening yang berkerut. "Hati-hati, segera hubungi kakak jika kau membutuhkan sesuatu." Ucapku tulus. Lila membalas dengan anggukan dan senyuman yang tulus lalu menghilang di balik pintu.

Setelah kepergian Lila aku kembali tenggelam dalam pikiranku tentang Dhee. Hanya Dhee satu-satunya wanita yang mampu membuatku lupa waktu hanya dengan memikirkannya. Sebelumnya aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap wanita lain.

Selama ini aku hanya menganggap wanita itu hanya untuk bersenang-senang sesaat. Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan bersama James benar-benar menyakiti perasaan para wanita itu. Meskipun aku memiliki seorang adik perempuan aku tidak ingin Lila di permainkan oleh pria-pria yang memiliki kelakuan sepertiku. Kalau aku sampai mendengar ada pria yang mempermainkan Lila, aku tak segan-segan akan menghajar pria tersebut.

***

Keesokkan harinya dengan keteguhan dan kepercayaan diri yang telah pulih berkali-kali lipat aku kembali melangkahkan kakiku dengan mantap di rumah sakit tempat Dhee menjalani perawatan. Sebucket bunga mawar putih yang sudah terangkai dengan indah aku bawa.

Kali ini aku takkan mengalah lagi dengan pria asing itu. Apapun yang terjadi aku akan tetap memaksa masuk ke dalam dan melihat keadaan Dhee. Jika harus babak belur aku baru bisa masuk, itu tak masalah. Aku rela.

Mendekati ruangan Dhee aku merasa gugup. Entah mengapa aku merasa sangat gelisah. Perasaan takut tiba-tiba menghinggapi diriku. Tuhan, mengapa perasaanku tidak enak seperti ini? Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Dhee. Kumohon lindungilah kekasihku Tuhan. Doaku dalam hati.

Semakin mendekati ruangannya keningku mulai berkerut. Karena suasananya sangat ramai sekali. Aku mengintip dari balik kaca pembatas. Ternyata bukan Dhee yang menpati ranjang itu. Lalu Dhee kemana? Mengapa ruangannya di tempati oleh orang lain? Tidak mungkin, Dhee tidak mungkin....

Aku langsung memutar tumitku menuju ke resepsionis yang berada tak jauh dari ruangan tempat Dhee di rawat. Suster mengatakan bahwa pagi-pagi sekali Dhee di pindahkan ke sebuah rumah sakit yang berada di Washinhton DC. Sayangnya pihak keluarga Dhee tidak meninggalkan alamat yang jelas ke rumah sakit mana Dhee di pindahkan.

Duniaku serasa berhenti dan runtuh. Di sini saja aku sudah sulit menemui Dhee dan sekarang Dhee di pindahkan oleh keluarganya ke sebuah rumah sakit di Washington DC. Masalahnya adalah keluarga Dhee tidak meninggalkan alamat jelasnya di rumah sakit mana Dhee di pindahkan.

Keluar dari rumah sakit aku langsung menelepon asistenku untuk mengambil alih semua pekerjaanku. Karena hari itu juga aku memutuskan untuk langsung pergi ke Washington DC dan melakukan pencarian. Apapun akan aku lakukan agar bisa menemukan Dhee.

Dan sinilah aku sekarang, berdiri di depan sebuah rumah sakit di kota Washington. Tempat pertama yang aku datangi untuk memulai pencarian Dhee di kota ini. Dengan bersemangat aku memasuki rumah sakit tersebut dan mulai mencari keberadaan Dhee. Namun hasilnya nihil.

Dengan perasaan kecewa aku langsung mencoret nama rumah sakit yang baru saja aku datangi dari daftar nama-nama rumah sakit yang ada di kota Washington. Dari situ aku langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakita yang kedua.

Tak terasa sudah hampir dua minggu aku melakukan pencarian. Hampir semua rumah sakit di kota ini sudah aku datangi. Namun hasilnya tetap sama. Aku masih tetap belum bisa menemukan jejak keberadaan Dhee di kota ini. Jujur saja aku hampir putus asa dengan pencarian yang tak kunjung menemukan titik terang seperti ini.

Aku membelokkan mobilku menuju ke arah sebuah pantai. Aku membutuhkan suatu tempat untuk menenangkan pikiranku yang benar-benar kalut. Tatapanku langsung menerawang memandang lurus ke arah lautan yang terhampar luas di hadapanku, Dhee... sebenarnya kau berada di mana? Aku hampir putus asa untuk mencari keberadaanmu?

Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh , , ,
Ohh . . .
Something 'bout this empty bed
Leaves a hole in me when I rest my head
I said baby
Where are you lately
The thought of you makes me insane
Like a fire burning in my brain
I said baby
Where are you lately
Loving you is all that I need
All I know is I want to be
Wherever you are
I'm so lost without you
I'm nothing without you
I just want to be
Wherever you are
I 'd search the world for you
Forever if I had to
I just want to be
Wherever you are
I try to lie but I die inside
When I realize that you ' re not mine
I said baby
Where are you lately
I had you to love , to hold
Now the memories grow dark and
cold
I said baby
Where are you lately
How could all of this come undone ?
I should have known that you were the one
Now I need you to believe
I'm so lost without you
I'm nothing without you
I just want to be
Wherever you are
I 'd search the world for you
Forever if I had to
I just want to be
Wherever you are
Wherever you are
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh . . .
Something 'bout this empty bed
Leaves a hole in me when I rest my head
I said baby
Where are you lately?
Wherever you are
I' m nothing with out you
I'm so lost without you
I just want to be
Wherever you are
I 'd search the world for you
Forever if I had to
I just want to be
Wherever you are
Wherever you are
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh , , ,
Ohh . . .
Ohh . . .
Ohh . . .

(Eric Dill - Wherever You Are)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar