Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 2

"Apa maksud dari semua ini,
Adam?" akhirnya aku berhasil mengeluarkan suaraku, " Kau... Kau..." aku langsung berbalik pergi meninggalkan tempat itu.

Samar-samar aku mendengar suaranya memanggil-manggil namaku. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam mobil sambil membanting keras pintunya dan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Dalam perjalanan, aku harus berhenti sebanyak tiga kali sebelum akhirnya sampai ke rumah. Karena mataku berkabut, pandanganku kabur Karena air mataku yang terus menerus keluar tak henti-hentinya.

Sesampainya di rumah aku langsung mengunci diriku di dalam kamar. Masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan air membasuh dan mendinginkan tubuhku yang sangat panas itu dan bercampur dengan air mataku.
               
Hatiku hancur berkeping-keping, semuanya bukan hanya hati saja. Oh ya Tuhan, mengapa Adam tega berbuat seperti ini kepadaku? Padahal aku sangat mencintainya dengan tulus sepenuh hatiku, aku sangat mempercayainya. Tapi... tapi mengapa ia tega berbuat seperti ini di belakangku?
Aku menangis terisak sambil memeluk kedua lututku di dalam bathtub. Sedangkan air terus membasuhin tubuhku tanpa henti.

Setelah tubuhku terasa menggigil barulah aku beranjak dari sana, mengeringkan tubuhku, lalu berbaring di atas tempat tidurku setelah berpakaian. Kembali menangis.
               
Setelah kejadian itu Adam terus saja mendekatiku untuk meminta maaf. Jangankan untuk memberinya kata maaf. Untuk memandang wajahnya saja aku sudah tak sudi. Seperti hari itu, Adam menghadang langkahku, ketika aku akan pulang dan berjalan ke parkiran mobil.

"Dheandra sayang, aku mohon. Kau harus mendengarkan dulu semua penjelasan dariku. Semua ini hanya kesalah pahaman saja, sayang."

"Kesalah pahaman kau bilang?" suaraku yang meninggi membuatnya terkejut, "Enyah dari kehidupanku, Adam.Tinggalkan aku sendiri karena semuanya sudah berakhir, aku muak melihat wajahmu." Bentakku penuh amarah.

"Demi Tuhan, Dheandra. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu, aku tak ingin berpisah denganmu, Dheandra." Adam tetap tak bergeming setelah mendengar teriakanku itu.

"Tidak Adam, persetan dengan semua yang kau ucapkan. Dengar aku takkan pernah mau kembali lagi denganmu dan jangan harap kau bisa kembali membodohiku. Sekarang menyingkir dari hadapanku." Aku kembali berteriak kepadanya dan Adam pun akhirnya menyingikir membiarkanku lewat.

Aku buru-buru masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu. Lalu menyalakan mobilku, terdengar suara ban berdecit ketika aku menjalankan mobilku keluar dari area parkir di kampus. Aku bersumpah dalam hati akan menjauhi Adam, bahkan aku akan pindah dari kampus ini. Aku akan pindah ke kampus tempat Andara dan Lila berkuliah saat ini.

Mungkin salah satu kesalahanku saat itu adalah aku tidak memilih untuk bersama kedua sahabatku. Namun nasi sudah menjadi bubur, yang sudah terjadi takkan pernah bisa di ulangi lagi. Luka ini takkan bisa sembuh. Aku tak tahu sampai kapan luka ini akan terus menganga seperti ini.

Sejak kejadian itulah hatiku membeku, namun ketika bertemu dengan Gale semuanya berubah. Meskipun aku tahu dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Gale itu seorang playboy namun entah mengapa aku merasa bahwa ia benar-benar tulus mencintaiku. Tapi semua itu tak cukup untuk meyakinkan hatiku yang sudah terlanjur merasa kesakitan karena
pengkhianatan. Aku membutuhkan lebih banyak pembuktian dari Gale, agar aku
bisa kembali percaya.


Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk pundakku dan ingatan tentang kejadian yang menyakitkan itu langsung buyar.
               
"Kau tidak apa-apa, Dhee?" Lila bertanya.

"Ah, ya aku baik-baik saja Lila. Maaf aku tadi melamun." Jawabku tergugu.

"Jangan bilang bahwa kau kembali mengingat Adam. Demi Tuhan Dhee, pria seperti Adam tidak pantas kau tangisi, pria brengsek itu benar-benar tidak pantas." Suara Andara terdengar marah.

"Aku tahu, Ra. Maafkan aku. Entah mengapa tiba-tiba saja ingatan itu muncul lagi." Jawabku sambil menunduk.

"Aku tahu rasa sakit yang kau rasakan saat ini, Dhee. Sekarang cobalah kau buka hatimu untuk Kak Gale dan ya aku tahu bahwa Kak Gale itu seorang playboy. Kau pasti tahu ketika melihatnya sejak pertama kali pindah kuliah, bukan. Namun sejak melihatmu Kak Gale langsung berubah, ia tidak lagi tebar pesona kepada para wanita di kampus. Yang ada dia malah menghindari wanita-wanita itu, karena ia sangat mencintaimu dengan tulus, Dhee." Jawab Lila panjang lebar.

"Aku tahu Lila, hanya saja..." aku berhenti dan menghela nafas, "Hanya saja aku butuh pembuktian yang lebih dari Gale, La." Lanjutku.

"Apakah kau ingin melihat Kak Gale melompat dari atas gedung untuk membuktikannya kepadamu? Aku yakin Kak Gale akan melakukannya." Jawab Lila sengit.

"Lila, mengapa kau sangat yakin sekali bahwa Gale akan melompat dari atas gedung jika aku memintanya. Jangan bercanda." Hardikku.
               
"Aku tidak bercanda, Dhee. Jika kau tidak percaya kau bisa membuktikannya. Aku tahu kakakku itu seperti apa, Dhee." Ucap Lila sambil mengangkat bahunya.

Lagi-lagi aku terdiam mendengarkan ucapan Lila. Apakah selama ini aku sudah bersikap keterlaluan kepada Gale? Mungkin seharusnya aku bisa lebih sedikit ramah kepada Gale. Mungkin aku akan melakukannya secara perlahan-lahan mulai besok, bukankah semua pria itu tidak sama. Ya, aku harus mencobanya, tekadku dalam hati.

***

Meskipun aku sudah berniat untuk bersikap lebih lunak dan lebih ramah kepada Gale. Namun pada kenyataannya itu semua sangat sulit sekali. Setiap kali berpapasan dengannya bibirku langsung terasa kaku setiap kali aku ingin memberikan senyuman kepadanya.
               
"Dhee..." panggilnya tiba-tiba.

"Berhenti mengangguku, Gale." Tiba-tiba saja aku membentaknya.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini kepadaku, Dhee. Tak cukupkah apa yang sudah aku lakukan selama ini untuk meyakinkanmu?" Tanyanya pasrah.

"Aku akan terus bersikap seperti ini, Gale. Sampai kau berhenti menggangguku lagi, kau mengerti?" aku berbalik dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Namun terhenti ketika mendengar ucapan Gale.

"Baiklah, jika aku memang tidak memiliki kesempatan itu dan kalau memang ini yang kau inginkan. Aku berjanji akan menjauh dari kehidapanmu, Dhee. Aku takkan mengganggumu lagi, maaf jika selama ini aku selalu mengganggumu, Dhee. Selamat tinggal." Suara Gale bergetar ketika mengucapkan itu dan terdengar sangat kecewa.

Semakin membuat hatiku terasa sakit. Ya Tuhan, mengapa hatiku terasa begitu sakit mendengar Gale mengucapkan selamat tinggal? Ada apa sebenarnya dengan diriku ini, Tuhan. Harusnya aku merasa senang karena Gale sudah berjanji takkan menggangguku lagi, tapi... tapi mengapa hatiku malah terasa sangat sakit seperti ini, kesahku dalam hati. Tanpa sadar ada memegang dadaku, terasa sakit didalam sini.

Semenjak hari itu Gale jadi bersikap dingin kepadaku, jika berpapasan ia tidak menyapa atau menoleh kepadaku. Sudah hampir seminggu Gale bersikap seperti itu kepadaku. Aku jadi teringat kata-kata Lila beberapa waktu lalu, Gale akan melakukan apapun yang aku minta. Dan sekarang terbukti sudah, bahwa Gale benar-benar mendengarkan kata-kata yang terucap dari bibirku seminggu yang lalu.

Hari-hariku menjadi terasa kosong dan hampa. Aku merindukan sosok Gale yang selalu terlihat ceria meskipun aku selalu bersikap tidak ramah kepadanya. Demi Tuhan, aku sangat merindukan kehadirannya. Perbuatan perbuatan konyolnya yang diam-diam selalu membuatku tertawa ketika mengingatnya.
               
Ya Tuhan, aku mencintai Gale. Ya aku mencintainya dan aku baru menyadarinya. Andai saja waktu dapat kuputar kembali. Aku takkan memintanya untuk pergi menjauh dari hidupku.

Namun semuanya sudah terlambat, Gale sekarang berada di luar jangkauanku. Aku tak mungkin menggapainya dan memperbaiki semuanya. Terlambat sudah, hanya
penyesalan dan penyesalan yang aku rasakan saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar