Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 9

DHEE

Bagus sekali Dhee, setelah kau kehilangan kekasihmu sekarang kau kehilangan salah satu sahabatmu. Baiklah, siapa lagi yang akan pergi meninggalkanku sekarang? Meninggalkanku sendiri dalam keterputukan seperti ini. Yang entah sampai kapan aku bisa tetap bertahan menghadapi semua ini. Menangispun aku sudah tak mampu. Air mataku sepertinya sudah habis. Aku hanya bisa terdiam mematung seperti mayat hidup.

"Dhee, kau baik-baik saja, kan?" Suara Andara yang baru datang bisa kudengar dengan jelas.

"Pergilah Ra, tak perlu kau hiraukan aku. Biarkan aku sendiri." Jawabku dengan datar tanpa sedikitpun memandang Andara.

Aku mendengar Andara menghela nafasnya sebelum akhirnya berbicara, "Baiklah, tapi asal kau tahu Dhee. Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Aku pergi dulu." Setelah mengucapkan itu Andara langsung pergi meninggalkanku sendirian.

Sepeninggalan Andara aku masih tetap tak bergeming dengan posisiku yang sebelumnya. Setelah beberapa saat aku memutuskan beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Pikiranku saat ini benar-benar kacau. Ocehan yang di lontarkan oleh Daniel pun tak kuhiraukan. Terserah saja ia mau mengadu apapun juga kepada Mom dan Dad, aku tak peduli. Otakku sudah terlalu penuh sesak untuk memikirkan reaksi yang akan di tunjukan oleh Mom dan Dad.

"Ayolah Dhee, kau harus move on. Sudah kubilang berkali-kali untuk kau melupakan pria itu. Dia tidak baik untukmu." Daniel terus mengoceh di hadapanku.

"Tahu apa kau tentang apa yang baik dan tidak untukku, Daniel? Kau bukan kakakku, jangan coba-coba untuk mengatur hidupku." Bentakku sambil melempar bantal tepat ke mukanya.

"Aku tahu bahwa itu, Dhee. Kau tak perlu mengatakan hal itu berkali-kali kepadaku. Aku hanya tak ingin kau semakin menderita karena pria itu." Daniel masih terus saja mengoceh menasehatiku.

"Sudah cukup Daniel, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Aku lelah." Ucapku sambil beranjak meninggalkan Daniel. Lebih baik aku pergi saja dari rumah. Mencari udara segar di luar mungkin akan sedikit membuat otakku mendingin.

Tanpa pikir panjang aku langsung pergi memacu mobilku. Setelah beberapa lama mengemudi akhirnya aku menghentikan mobil di sebuah taman.

`♥`♡`♥`♡`♥`

GALE

Tepat satu bulan sudah aku tak mengetahui di mana keberadaan kekasihku. Jika tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di New York aku takkan datang. Aku lebih memilih untuk kembali melakukan pencarian Dhee. Walaupun aku belum tahu harus memulai pencarian itu di mana. Aku hampir menyerah dan putus asa mencarinya.

Dan di sinilah aku berada, di salah satu pantai yang sering aku datangi bersama Dhee setiap akhir pekan. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan laut yang terhampar luas di depanku, tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang tenggelam. Tanpa berpikir panjang aku langsung melepaskan kaos yang sedari tadi kupakai. Aku langsung melompat dan segera menolong wanita itu dan membawanya ke darat. Namun sungguh mengejutkan karena wanita itu tiba-tiba saja menciumku tepat di bibir. Aku yang kaget hanya bisa terdiam.

Setelah memastikan wanita itu baik-baik saja aku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan pantai itu. Aku tidak mau wanita yang baru saja kutolong itu berbuat hal yang akan membuatku susah di kemudian hari.

Siang itu Lila pulang dari kampus dengan wajah yang muram. Aku tak pernah melihat Lila seperti itu selain saat Dave meninggal dulu.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku, namun pertanyaanku hanya mendapatkan jawaban berupa tatapan tajam yang menyiratkan perasaan marah dan kecewa yang teramat dalam. Dan semua tatapan itu di tujukan kepadaku? Tunggu mengapa Lila bersikap seperti ini kepadaku. Apakah aku sudah berbuat salah kepadanya? "Lila, kau baik-baik saja, bukan? Ada apa?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku.

Tapi Lila hanya menghembuskan nafasnya dengan frustasi lalu pergi menuju ke kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku yang bingung, heran dan penasaran memutuskan untuk menemuinya saja. Namun hasilnyq nihil, Lila tetap tidak mau membuka pintu kamarnya.

"Ada apa sebenarnya dengan anak ini?" Gumamku kesal sambil beranjak dari depan pintu kamar Lila. Aku memutuskan untuk kembali menyelesaikan pekerjaanku. Tapi tak lama berselang pikiranku langsung di penuhi kembali oleh Dhee, membuatku tak bisa melanjutkan pekerjaanku.

Rasanya begitu sesak sekali di dada ini. Karena aku tidak melihat sosok kekasihku sudah cukup lama. Apakah kau sudah terbangun dari tidurmu itu, Dhee? Aku sangat sangat merindukanmu. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa lalu memejamkan kedua mataku.

Kejadian saat bersama Sherin di restoran itu kembali muncul. Andai saja saat itu aku tidak menuruti permintaan Sherin hubunganku dan Dhee pasti akan baik-baik saja hingga detik ini. Aku tak perlu melihat Dhee terluka dan tak sadarkan diri karena koma yang di alami olehnya karena terjatuh di bukit. Ya, semua itu terjadi karena kesalahanku.

I... can't breathe easy
Can't sleep at night
Till you're by my side
No I... can't breathe easy
I can't dream yet another dream
Without you lying next to me
There's no air
Curse me inside
For every word that caused you to cry
Curse me inside
I won't forget, no i won't baby,
I don't know why
I left the one i was looking to find

Out of my mind
Nothing makes sense anymore
I want you back in my life
That's all I'm breathing for

(Blue - Breathe Easy)

Frustasi karena memikirkan Dhee aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Lila. Semoga saja nanti ketika aku kembali Lila sudah bisa di ajak bicara. Yang aku butuhkan saat ini adalah udara segar, agar pikiranku kembali tenang sehingga aku bisa berpikir jernih.

Aku menepikan mobilku di dekat sebuah taman. Keadaan malam ini cukup cerah. Bintang-bintang di langit bisa kulihat. Lalu aku berjalan kesebuah tempat duduk batu yang berada di dekat kolam air mancur dan di bawah sebuah pohon. Aku langsung menghempaskan tubuhku di sana. Mengedarkan pendangan kesekeliling taman yang temaram namun ternyata cukup banyak di datangi oleh orang-orang.

Mataku menerawang ke depan, namun tiba-tiba aku menangkap siluet dari sosok yang aku sangat aku kenal dan sangat aku rindukan selama beberapa minggu terakhir ini. Dhee. Itu Dhee, kekasihku, wanitaku. Ternyata Dhee sudah sembuh, terima kasih Tuhan karena kau telah mengembalikannya. Betapa bahagianya aku karena bisa kembali melihat wajah dan senyumannya kembali.

Tanpa membuang-buang waktu aku langsung beranjak dari tempat dudukku lalu sesegera mungkin menghampirinya.

"Dhee..." panggilku ketika sudah berada dekat dengannya.

Dhee langsung membalikan tubuhnya. Ekspresi terkejut yang sempat di tunjukkannya langsung berubah menjadi ekspresi kemarahan yang bercampur kekecewaan sama seperti ekspresi yang di tunjukkan oleh Lila kepadaku.
Meskipun aku bingung aku langsung saja menarik tubuhnya ke dalam pelukanku, "Angel, akhirnya aku bisa menemukanmu. Terima kasih Tuhan terima kasih." Ucapku sambil menciumi puncak kepalanya dengan penuh kerinduan. Namun tiba-tiba Dhee mendorong tubuhku dengan begitu kuat hingga pelukanku terlepas. "Ada apa, Angel?" Tanyaku sambil mengernyitkan kening.

"Jangan bersikap seperti ini kepadaku, Gale. Semuanya sudah cukup." Cecarnya sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ada apa, Angel? Ceritakan kepadaku?" Tanyaku sambil memegang kedua bahunya.

"Cukup Gale cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku lelah, Gale." Isaknya sambil memukul-mukul dadaku.

"Angel, kau harus tenang dulu. Tolong katakan kepadaku ada apa sebenarnya." Tukasku sambil membelai lembut punggungnya.

Namun Dhee semakin terisak, membuatku semakin bingung. Kepalaku berdenyut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Dhee.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar