Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 6

"Angel, aku mohon. Jangan diamkan aku seperti ini." Ucapku sambil menggenggam tangannya.

Tapi yang terjadi adalah Dhee menghempaskan tanganku lalu membuka pintu mobil dan berjalan keluar menuju ke padang rumput. Aku langsung mengejarnya. Namun Dhee semakin kencang berlari. Sampai tiba-tiba saja...

"Angeeeelllll....." aku terpekik, masih sambil mengejarnya.

Aku panik, tubuhku terasa lemas melihat kejadian di hadapanku karena saat ini tubuh Dhee sedang berguling-guling ke bawah bukit. Jantungku serasa berhenti berdetak ketika aku menyusulnya menuruni bukit dengan cepat. Aku tidak memperdulikan batu-batuan dan akar pohon yang melukai tubuhku. Fokusku hanya satu, Dhee. Tubuh mungilnya baru berhenti berguling ketika membentur sebuah batu.

"Angel, ayo bangun sayang," ucapku sambil meraih tubuhnya dan membaringkannya di pangkuanku, "Demi Tuhan, kumohon bangunlah, Angel." Aku menepuk-nepuk pipinya pelan.

Bau amis yang merebak terbawa oleh hembusan angin dan aku merasakan sesuatu yang basah berasal  dari bagian kepala Dhee membuat tubuhku lemas. Aku langsung membopong tubuhnya dengan tergesa-gesa menuju mobil dan segera memacu mobilku menuju ke rumah sakit terdekat.

Selama perjalanan menuju ke rumah sakit aku di dera oleh kecemasan yang luar biasa. Konsentrasiku terpecah ketika menyetir, karena aku terus melirik ke arah belakang dimana tubuh kekasihku terbaring.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat menyiksa batinku akhirnya aku sampai di rumah sakit. Para petugas medis segera membantuku dan bergegas membawa Dhee menuju ke ruang UGD.

"Maaf, anda sebaiknya tunggu saja disini." Ucap salah satu petugas medis yang menangani kekasihku.

"Tapi... Tapi dia kekasihku." Ucapku panik.

"Maaf, anda tetap tidak bisa masuk." Ujarnya lalu menyusul masuk ke dalam ruang UGD dan menutup pintunya.

Ya Tuhan, tolong selamatkan Dhee. Jika sesuatu terjadi padanya aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Karena penyebab semua ini adalah aku. Aku yang membuatnya seperti ini. Aku telah melukainya.

Lila pasti akan benar-benar marah kepadaku jika mengetahui keadaan sahabatnya. Tapi apapun yang terjadi aku harus segera menghubungi kedua orang tua Dhee, Andara dan Lila.

Tanganku gemetaran ketika jari-jariku menekan nomor orang tua Dhee. Dan voila... mereka menceramahiku panjang lebar. Aku kembali gemetaran ketika menghubungi adikku sendiri. Semua orang tahu bagaimana galaknya Lila. Bisa aku pastikan ia akan membunuhku. Sesuai dugaan, Lila berteriak dan memaki di telepon memarahiku.

Tubuhku merosot di salah satu kursi ruang tunggu. Menghembuskan nafas berkali-kali berharap aku bisa menstabilkan detak jantungku. Mataku terpejam, kejadian saat di restoran dan ketika Dhee terjatuh ke dasar bukit terulang di dalam pikiranku.

Berkali-kali pula aku merutuki kebodohanku. Andai saja aku tak menerima ajakan Sherin. Pasti semua ini takkan terjadi. Andai waktu bisa kuputar ulang kembali, sudah pasti aku akan menolak dengan keras ajakan Sherin. Kau benar-benar bodoh Gale, apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi amukan adikmu sendiri?  Cecarku dalam hati.

Keresahanku terbukti ketika Lila akhirnya datang bersama Andara. Lila langsung mencecar dan memakiku. Diam, hanya itulah yang bisa aku lakukan. Karena semua ini adalah kesalahanku.

"Dengar Kak, aku takkan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada, Dhee." Lila mendesis marah kepadaku dengan tatapannya yang menusuk.

Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD. Dokter menjelaskan bahwa benturan di kepala Dhee cukup parah. Karena benturan itu pula saat ini Dhee mengalami koma. Aku terduduk lesu di lantai rumah sakit setelah mendengar penjelasan dari dokter.

Air mataku tumpah membasahi pipiku. Hanya Dhee wanita yang bisa membuatku menangis. Hanya Dhee pula yang bisa mengembalikan kembali keceriaanku.

Hatiku langsung terasa hampa, rasanya seperti kehilangan separuh jiwamu. Dan entah kapan kau akan mendapatkan kembali separuh jiwamu itu.

Tiba-tiba aku merasakan lengan Lila memelukku, "Kak, Dhee pasti akan sembuh. Dhee tidak akan menyerah semudah itu." Ucapnya lirih sambil menangis terisak.

Entah berapa lama aku berada di posisi itu. Sepertinya aku akan terus berlutut di lantai rumah sakit yang dingin jika Lila tidak menyeretku dan menyuruhku duduk di kursi. Kedua orang tua Dhee belum tiba di rumah sakit. Karena ketika aku memberitahu bahwa Dhee mengalami kecelakaan mereka sedang berada di Kanada.

"Ayo Kak, kita masuk untuk melihat keadaan Dhee." Lagi-lagi aku hanya bisa menurut ketika Lila menarikku.

Hatiku terasa sakit ketika melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Dhee menjalani perawatan. Sakit itu semakin terasa ketika aku melihat tubuhnya yang terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai selang dan alat-alat yang menempel di tubuh mungilnya.

"Dhee..." ucapku lirih sambil terus mendekati tempat tidurnya. Perlahan aku berlutut di samping tempat tidurnya. Lalu kugenggam erat tangannya, "Angel, ayo bangun. Jangan menyiksaku seperti ini, sayang. Aku tahu ini semua kesalahanku, aku..." kata-kataku terhenti. Tak sanggup lagi untuk berkata-kata.
"Kau sayang sabar, Kak." Ucap Lila sambil mengusap pelan bahuku. Dan lagi-lagi aku hanya terdiam.

Keesokan harinya kedua orang tua Dhee tiba di rumah sakit. Mereka langsung melemparkan pandangan permusuhan kepadaku. Sepertinya mereka tahu bahwa akulah yang menyebabkan putri semata wayang mereka berada dalam keadaan koma.

"Dengar Gale, mulai detik ini jauhi putriku. Jangan coba-coba kau mendekatinya lagi." Bentak ayahnya Dhee.

"Tapi Om..." tiba-tiba kata-kataku di sela.

"Tidak ada tapi-tapian. Karena kau putriku seperti ini. Aku akan membunuhmu jika sesuatu yang lebih buruk dari ini terjadi menimpa Dhee. Sekarang keluar dan pergi dari ruangan ini. Jangan kau tunjukan lagi batang hidungmu di sini." Cecar ayah Dhee.

Dengan berat hati kulangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Ingin rasanya aku melawan dan berontak. Namun apa daya, yang bisa kulakukan hanya diam sambil tertunduk. 

Mataku sudah terasa panas sejak tadi. Dan air mataku kembali luruh ketika aku sudah berada di luar. Dalam diam aku hanya bisa memandangi kekasih hatiku dari balik kaca. Tuhan, mengapa harus berakhir seperti ini? Tak adakah kesempatan bagiku untuk memperbaiki semuanya?

I take shots in the dark
Cause I don't know where you are
But you know
I never meant to break your heart.
I didn't want to see you cry,
I didn't want to say goodbye.
Even when I knew,
I knew it wasn't right,
This can't be right.
Ohh...
Now I'm missing you badly,
missing your arms around me.
Watching you sleeping soundly
So lovely, so alive.
But it was killing me slowly
Holding you close and knowing,
I'd be leaving you lonely
I'd be leaving you lonely.
In a moment like a flash
Like a candle burning fast
Sometimes love just isn't meant to last.
It wasn't that we were wrong,
The feeling is never gone.
We could only burn
So bright, so long
So long...
So long...
Now I'm missing you badly,
missing your arms around me
Watching you sleeping soundly
So lovely, so alive.
But it was killing me slowly
Holding you close and knowing
I'd be leaving you lonely
I'd be leaving you lonely

(Eric Dill - Leaving You Lonely)

Cukup lama aku mengawasi Dhee dari balik kaca, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sakit.

Aku harus mencari cara untuk meluluhkan kembali hati kedua orang tua Dhee. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku benar-benar mencintai putri mereka. Bahkan aku rela mengorbankan nyawaku untuk Dhee.

***

Dua hari kemudian aku memutuskan untuk kembali menemui Dhee di rumah sakit. Dengan harapan Dhee sudah tersadar dari koma yang di alaminya dan berharap kedua orang tuanya mau menerimaku kembali.

Siang itu aku mendatangi rumah sakit tempat di menjalani perawatan. Hatiku begitu berbunga-bunga karena akhirnya aku bisa melihat kembali wajah kekasihku. Sebuah karangan bunga mawar putih yang telah di tata cantik sudah kubawa. Berharap Dhee akan bangun dengan senyuman indahnya itu.

Namun apa yang kudapati. Seorang pria menghadangku tepat di depan ruangan Dhee berada. Aku mengernyitkan keningku sambil bertanya-tanya siapakah pria asing yang telah memukulku dengan tiba-tiba.

"Pergi dari sini dan jangan kembali. Kau benar-benar pria brengsek." Maki pria itu.

Masih memegangi pipiku yang terasa sakit akibat pukulannya dan aku juga merasakan darah dari bibirku, "Siapa kau? Tibatiba saja memukulku?" Tanyaku.

"Yang pasti aku adalah orang yang akan menjaga Dhee.  Aku takkan membiarkan pria brengsek sepertimu mendekati dan menyentuh Dhee lagi."

"Kau... Punya hak apa kau melarangku untuk bertemu dengan kekasihku?" Emosiku mulai naik.

"Tak perlu kau tahu siapa aku, yang pasti aku akan menjauhkanmu dari Dhee." Balasnya tak kalah sinis.

Aku melemparkan bunga yang sedang aku pegang ke lantai. Gigiku bergemertak menahan amarah hingga tanganku terkepal kuat, membuat kukuku memutih. Memberikan pandangan permusuhan kepada pria yang sedang berdiri di depanku ini.

Sebenarnya siapakah dia? Mengapa dia seenaknya melarang dirinya untuk menemui Dhee? Jangan-jangan pria ini adalah.... Tidak. Tidak. Tidak. Tidak mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar