Selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Aku berusaha keras untuk tidak tertawa. Wajah Gale sangat lucu dan menggelikan sekali. Wajahnya di tekuk menerus selama perjalanan. Karena aku mengacuhkannya.
"Sayang, apa kau marah padaku?" Rajuknya sambil memasang wajah yang memelas.
Namun aku masih mempertahankan ekspresi datar di wajahku dan masih tetap mengacuhkannya. Meskipun sebenarnya di dalam hati aku sudah tertawa terpingkal-pingkal. Playboy seperti Gale ternyata bisa merajuk juga. Benar-benar sangat lucu dan menggelikan sekali.
Aku baru mau mengeluarkan suara ketika aku sudah menghentikan mobilku di pelataran parkir sebuah rumah sakit yang berada tidak terlalu jauh dengan kampusku.
"Kita sudah sampai Gale, aku akam membantumu turun. Tunggu sebentar." Ucapku sambil membuka pintu mobil. Memutar lalu membantu Gale turun dari mobil.
Ketika memasuki rumah sakit beberapa perawat langsung membantuku. Mereka langsung membaringkan Gale lalu membawanya ke UGD untuk segera mendapatkan penanganan.
Dan aku menunggu dengan cemas. Semoga lukanya tidak terlalu parah dan Gale bisa cepat sembuh. Adam, aku benar-benar tidak menyangka bahwa ia bisa berbuat seperti itu. Awas saja jika terjadi sesuatu pada Gale. Aku akan membuat perhitungan denganmu Adam, tekadku dalam hati.
Tak lama kemudian Lila datang, tentu saja dengan panik. Yah, meskipun aku tahu Lila sering bertengkar tapi mereka benar-benar saling menyayangi.
"Dhee... Bagaimana keadaan kakakku? Apa yang terjadi?" Cecarnya.
"Maafkan aku Lila, semua ini terjadi karena Gale menolongku." Ucapku dengan sedih.
"Oh Dhee..." Lila menarikku ke dalam pelukannya, "Apa yang terjadi denganmu, Dhee?" Tanyanya.
Namun aku hanya terisak. Aku ketakutan mengingat kejadian tadi.
"Sudah, jangan menangis. Tidak apa-apa jika kau belum siap untuk menceritakan semuanya. Ayo kita lihat keadaan kakakku yang sok jagoan itu." Lila melepaskan pelukannya lalu mengedipkan sebelah matanya kepadaku dengan jahil.
Aku dan Lila berjalan beriringan menuju ke ruangan tempat Gale menjalani perawatan. Ketika kami masuk ke dalam, Gale menyambut kami dengan sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia baik-baik saja. Aku menghela nafas penuh kelegaan.
"Gale..." aku langsung berlari dan memeluknya, "Maafkan aku Gale, kau tidak akan terluka jika tidak menolongku. Aku... aku memang selalu merepokanmu. Maafkan aku, Gale." Ucapku mulai terisak.
Aku merasakan Gale membelai rambutku dengan sayang, "Sttt... tidak sayang, jangan menangis kumohon. Aku baik-baik saja."
"Aku takut Gale... takut..." suaraku bergetar dan masih terisak.
"Ehem... sepertinya kalian berdua melupakan keberadaanku di sini." Tiba-tiba Lila berdehem sambil menyindir kami berdua.
Aku langsung melepaskan diri dari pelukan Gale. Wajahku memanas, pasti Lila akan mengolokku habis-habisan.
"Ah, hai adikku yang menyebalkan dan tukang ganggu. Aku pikir kau tidak ada di sini." Sapa Gale dengan kata-kata yang pasti akan memancing emosi Lila.
"Ishh, kau ini benar-benar kakak yang menyebalkan sekali. Seharusnya kau bersyukur karena adikmu ini mengkhawatirkanmu." Cecar Lila sambil cemberut lalu memutar matanya dengan kesal.
"Aku bercanda, Lila." Ucap Gale sambil terkikik geli, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Lanjut Gale.
"Karena kau kakakku. Ckckckck." Lila berkacak pinggang sambil mencibir ke arah Gale.
Lagi-lagi aku hanya bisa terkikik geli melihat mereka berdua. Syukurlah Gale tidak apa-apa. Tiba-tiba ponsel Lila berbunyi. Aku perhatikan ekspresi wajahnya berubah menjadi ceria ketika melihat layar ponselnya.
"Ah, aku permisi dulu. " pamit Lila sambil bergegas keluar dari ruangan Gale.
Sedangkan Gale yang sedari tadi memperhatikan memicingkan matanya melihat Lila.
"Sayang, apakah kau tahu pria yang sedang dekat dengan Lila?"
"Aku tidak benar-benar tahu, Gale. Lila jarang bercerita tentang pria." Jawabku sambil mengangkat bahuku, "Apa kau mau makan? Biar aku pergi untuk membelikan makanan untukmu. Apapun yang kau mau, Gale."
"Kemarilah..." Gale memanggilku dan aku mendekat. Lalu ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat, "Aku sangat lapar. Tapi bukan untuk makan."
Tubuhku menegang tanpa kuminta. "Mak-maksudmu ap-apa, Gale?" Tiba-tiba saja aku tergugup. Entah mengapa.
"Umm... maksudku ini, sayang." Gale membisikan sesuatu di telingaku.
Secara spontan aku langsung mendorong tubuhnya dan wajahku langsung memanas. Membebaskan tubuhku dari pelukannya. Hingga Gale terjengkang dan merintih kesakitan.
"Astaga, maaf maafkan aku, Gale. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu." Ucapku sambil membantunya bangun lalu membantunya kembali ke atas tempat tidur.
"Kau... Tenagamu cukup kuat, sayang. Sampai-sampai aku terlempar dari tempat tidurku." Rutuk Gale.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Itu spontanitas, Gale." Ucapku sambil meringis.
"Kakak..." tiba-tiba Lila masuk, "Aku pergi dulu, ya. Bye."
"Hei hei tunggu dulu. Kau mau pergi kemana?" Tegur Gale.
"Aku ada janji, bye." Seru Lila tanpa menggubris Gale.
"Syukurlah anak itu pergi jadi tidak akan ada yang mengganggu kita. Bukan begitu, sayang?" Ucap Gale sambil menyeringai.
"Gale..." aku memelototinya sambil mencubit lengannya dengan gemas.
"Aww, ampun sayang. Aku hanya bercanda, sudah sudah hentikan."
"Jangan menggodaku, Gale. Atau kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk daripada cubitanku ini.
"Aku lebih memilih mendapatkan ciuman dan pelukan darimu. Dari pada harus merasakan cubitanmu."
Aku hanya menyipitkan mataku sambil memandangnya dengan tatapan yang tajam. Dan Gale mengangkat tangannya tanda menyerah.
Dua hari kemudian Gale keluar dari rumah sakit. Dan mulai kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Saat ini Gale sedang menyusun tugas akhirnya. Makanya setiap hari jika sudah selesai kuliah aku akan langsung menemaninya di perpustakaan kampus.
Gale ternyata memang sudah benar-benar berubah. Selama bersamaku ataupun tidak Gale tidak pernah melirik wanita lain satupun. Jika ada wanita yang mendekatinya dan bersikap genit serta agresif, Gale langsung membentaknya. Gale yang playboy sekarang berubah menjadi Gale yang dingin dan kalem. Tapi dia bersikap seperti itu hanya kepada wanita lain saja.
"Hei tuan berhati dingin."
Gale langsung menghentikan kegiatannya membaca buku dan menyipitkan matanya menatapku, "Kau panggil aku apa, sayang?"
"Tuan berhati dingin." Ucapku dengan mantap.
"Aku tidak seperti itu kepadamu, sayang." Jawabnya sambil mengerutkan dahi.
"Ya, kau memang tidak bersikap dingin kepadaku, Gale. Tapi aku senang, karena kau hanya bersikap manis kepadaku. Tidak kepada tiap wanita yang menggodamu."
"Aku pernah bilang sebelumnya, jika kau menjadi kekasihku maka kau akan jadi wanita terakhir dan selamanya yang ada di hidupku. Aku akan berusaha menjadi pria yang lebih baik dari aku yang sebelumnya. Semua hanya untukmu Dheandra." Ungkapnya dengan tatapan mata yang melembut. Lalu Gale mencium bibirku dengan lembut. "I love you." Ucapnya setelah melepaskan ciumannya.
"I love you too." Balasku sambil membelai wajahnya.
"Ayo kita pulang, sayang." Ajaknya sambil membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja.
"Apakah kau sudah selesai?"
"Untuk hari ini cukup, sayang. Aku sudah kelaparan, aku ingin mengajakmu makan di suatu tempat."
Setelah semuanya selesai, Gale mengajakku keluar dari perpustakaan sambil menggenggam tanganku. Dan lagi-lagi semua orang memandangi kami berdua.
***
Tidak terasa sudah hampir tiga bulan aku dan Gale berpacaran. Dan Gale juga sudah lulus kuliah dengan nilai yang cukup memuaskan.
Meskipun begitu Gale selalu antar jemput aku ke kampus. Yang jelas kami terus berusaha untuk tetap menjaga komunikasi kami agar tetap terjaga.
Gale saat ini sudah mulai bekerja di perusahaan milik ayahnya yang ada di New York. Dan ketika Gale mulai sibuk intensitas pertemuan kami jadi berkurang. Gale lebih banyak menghabiskan waktu di Miami mengurusi bisnis ayahnya.
Sedangkan aku di New York, menyelesaikan kuliahku. Meskipun berjauhan aku berusaha untuk tetap percaya kepada Gale. Meski pemikiran yang negatif itu kerap kali muncul. Mengingat masa lalu Gale yang seorang playboy kelas kakap.
"Hei, sedang memikirkan apa?" Suara Andara langsung menginterupsiku.
"Hai Ra, kau mengagetkanku saja."
sapaku.
"Kau sedang memikirkan, Gale?"
"Ya begitulah, siapa lagi yang aku pikirkan jika bukan dia." Jawabku asal.
"Kau murung, Lila juga murung. Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua." Dengus Andara kesal.
"Makanya punya pacar, jadi kau akan tahu rasanya seperti apa."
Wajah Andara tiba-tiba merona, "Berhenti berkata seperti itu kepadaku, Dhee."
"Tunggu tunggu, jangan bilang bahwa kau sudah jadian dengan Mark." Tebakku sambil menyipitkan mata.
Dan wajah Andara semakin bersemu merah. Berarti tebakan aku benar. Aku hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ra, ayo kita jalan-jalan."
"Ide yang bagus, Dhee. Ayo kita pergi dan jangan mencari Lila. Karena tadi ia pergi dengan Zac." Jelas Andara.
"Zac? Apakah dia kekasih Lila?"
"Lila bilang padaku bahwa dia dan Zac hanya bersahabat saja. Entahlah Dhee, kau seperti tidak tahu Lila itu seperti apa." Jawab Andara sambil mengangkat bahu.
"Ya sudah kalau begitu, ayokl kita pergi saja."
Aku dan Andara akhirnya pergi meninggalkan kampus san langsung menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Sesampainya di sana kami berdua langsung sibuk melihat-lihat pakaian, sepatu dan macam-macam.
Sampai akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari mall. Aku sebenarnya merindukan Gale dan berharap bisa bertemu dengannya saat makan siang. Namun Gale sedang ada rapat dengan klien. Ya sudahlah toh Gale sedang bekerja.
Langkahku langsung berhenti ketika memasuki restoran tersebut. Mulutku kering, hatiku seperti di remas-remas. Ya Tuhan...
Rabu, 13 November 2013
Love Doesn't Have To Hurt 4
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar