Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 5

"Dhee, kau baik-baik saja, kan?" Tegur Andara.

"Ak-aku ak-aku... Aku ke toilet dulu, Ra." Pamitku sambil bergegas menuju ke toilet.

"Dhee, tunggu..." suara Andara terdengar tepat di belakangku.

Namun aku tidak menggubrisnya. Aku berjalan cepat menuju toilet. Untung saja keadaan toilet saat ini sedang kosong dan sepi. Aku menatap nanar pantulan wajahku di cermin. Ternyata air mataku sudah jatuh membasahi pipiku.

Hatiku kembali terasa sakit mengingat pemandangan yang aku lihat ketika sampai di restoran ini. Gale. Mengapa kau tega melakukan hal sekejam ini kepadaku?

Apa salahku hingga kau berbuat seperti ini? Aku pikir kau sudah benar-benar berubah, Gale. Kau bilang bahwa aku yang terakhir, tapi kenyataannya sekarang... Aku melihatmu sedang bermesraan dengan Sherin.

"Dhee, kau menangis?" Tiba-tiba Andara masuk dan terkejut melihatku sedang menangis di toilet.

"Tidak Ra, mataku kelilipan sesuatu. Makanya tadi aku terburu-buru ke toilet."

Tiba-tiba Andara membalik tubuhku menghadapnya, "Dhee, jangan berbohong kepadaku. Aku yakin pasti kau menangis gara-gara Gale, bukan?"

"Tidak ada hubungannya dengan Gale, Sya. Aku benar-benar kelilipan." Elakku sambil tertawa yang di paksakan.

"Dhee, aku tahu bahwa Gale berada di restoran ini juga. Dan ia sedang bersama Sherin."

"Kau benar Ra, aku melihat Gale sedang bermesraan dengan Sherin. Padahal tadi pagi saat meneleponku ia bilang akan ada pertemuan dengan klien penting saat jam makan siang. Tapi kenyataannya..." aku menggantung kata-kataku tak sanggup melanjutkannya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Mendatangi Gale dan melabrak Shiren? Ayo aku temani, pasti menyenangkan sekali memberi pelajaran pada wanita genit itu. Andai saja Lila ada bersama kita. Jika aku telepon Lila, bagaimana?"

"Tidak, jangan beritahu Lila, kumohon. Kau tahu sendiri Lila seperti apa, aku tak ingin membuat keributan di sini." Aku menolak mentah-mentah usulan Andara untuk menghubungi Lila.

"Ya sudah kalau begitu berhentilah menangis lalu kita keluar dari sini. Aku sudah lapar sekali."

"Kau itu masih saja memikirkan makanan, Ra." Andara hanya tertawa mendengar ucapanku.

Ketika kami berdua keluar dari toilet. Aku melihat Lila sedang menumpahkan minuman kepada Gale dan Sherin. Melihat itu aku dan Andara langsung bergegas menghampiri meja Gale.

"Kau bilang tidak menghubungi Lila, Ra." Tukasku dalam perjalan menuju ke meja Gale.

"Aku memang belum menghubunginya kok Dhee." Jawab Andara tak kalah terkejut.
"Lila, apa yang kau lakukan?" Bentak Gale.

"Melakukan hal yang takkan pernah berani Dhee lakukan." Jawab Lila sambil berkacak pinggang. Memandang kakaknya dan Sherin dengan tatapan membunuh.

"Lila..." aku memanggilnya.

"Oh, jadi kau sengaja menghubungi Lila karena tidak berani menghadapiku sendiri, Dhee?" Sherin berkata sambil mencemoohku.

"Heh wanita genit, tidak ada yang memanggilku untuk datang kemari." Lila menatap Sherin dengan sengit. Lalu Lila kembali menumpahkan minuman ke kepala Sherin.

Sherin langsung berdiri dari duduknya dan hendak menampar Lila. Tapi tangannya itu segera di tahan oleh Lila.

"Lepaskan aku dasar wanita udik. Pantas saja Zac tidak melirikmu sama sekali." Hardik Sherin.

Aku bisa melihat kilatan kemarahan di mata Lila mendengar perkataan Sherin tersebut. Aku juga bisa melihat dengan jelas bahwa Lila mengetatkan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Sherin.

"Aww, lepaskan tanganmu yang menjijikan itu dariku." Pekik Sherin.

"Jangan pernah kau menyebutkan nama itu di hadapanku, Sherin." Geram Lila, lalu Lila menghentakkan cengkramannya dan membuat Sherin terjerembab.

"Kau akan mendapatkan balasan dariku, Lila. Lihat saja nanti." Dengan tergesa-gesa Sherin berdiri lalu pergi meninggalkan restoran.

Untung saja restoran sedang dalam keadaan sepi. Hanya ada kami saja di sana. Sedangkan Gale masih terpaku di tempat duduknya sambil memandangku.

"Bagaimana kau bisa ada disini, La?" Andara memecah keheningan di antara kami berempat.

"Aku sedang ada urusan di sekitar sini, Ra. Aku kemari hanya untuk membeli ice coffee. Tapi apa yang aku lihat disini." Jelas Lila sambil menatap Gale. "Aku harus pergi. Kak, urusan kita belum selesai. Aku pergi."

Lila bergegas pergi sambil sibuk memandangi layar ponselnya. Dan tinggal kami bertiga yang masih ada di restoran.

"Sepertinya kalian butuh bicara. Sebaiknya aku pergi, sampai bertemu lagi di apartemen, Dhee." Lalu Andara pergi meninggalkanku berdua dengan Gale.

Tiba-tiba Gale bangun dari duduknya. Lalu ia menarik lembut tanganku dan keluar dari restoran itu.

"Lepaskan aku Gale,  aku tidak ingin bicara denganmu." Gerutuku selama perjalanan.

"Kita harus berbicara, Angel." Jawabnya tanpa melirikku sedikitpun.

Sesampainya di parkiran Gale langsung membukakan pintu penumpang. Setelah aku masuk Gale menyusulku masuk ke dalam mobil.

Aku tak tahu kemana Gale akan membawaku saat ini. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku ataupun mulut Gale. Sepertinya Gale terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Mungkin saja Gale sedang mencari alasan untuk menjelaskan kejadian di restoran tadi. Jujur saja, aku benar-benar tak peduli dengan apa yang akan Gale jelaskan kepadaku. Hatiku terlanjur sakit karena perbuatannya hari ini.

Mengapa Gale tidak jujur saja jika ia pergi makan siang dengan Sherin? Mengapa aku harus melihat kejadian yang menyakitkan seperti ini.

Mataku menerawang jauh sambil memandangi pemandangan yang tersaji sepanjang perjalanan. Kejadian hari ini mengingatkanku kepada Adam dan perlakuannya yang menyakitiku.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa resiko inilah yang akan aku terima jika berpacaran dengan Gale. Tak semudah itu ia bisa berubah sepenuhnya dari kebiasaan buruknya itu. Tapi mengapa hatiku terasa sangat sakit sekali.

***

Hari ini aku benar-benar melakukan kesalahan besar. Tak seharusnya aku menuruti ajakan Sherin untuk makan siang. Seharusnya tadi aku pergi saja untuk menghadiri rapat. Jika saja aku tidak menuruti ajakannya pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.

Kedatangan Lila yang tiba-tiba sambil menumpahkan minumannya kepadaku sudah membuatku terkejut. Dan di saat aku masih terkejut karena kedatangan Lila, tiba-tiba saja Dhee muncul bersama Andara.

Detik itu juga tubuhku langsung membeku, otakku buntu. Aku hanya terdiam sambil memandangi Dhee tanpa menghiraukan Lila yang sedang bertengkar dengan Sherin.

Dhee menatapku dalam. Aku bisa melihat dari matanya bahwa ia sangat terluka. Sangat kecewa dengan perbuatanku hari ini. Apalagi matanya yang indah itu terlihat sembab.

Aku sudah membuatnya menangis. Aku sudah membuat Dhee terluka. Padalah aku berjanji takkan menyakiti dan membuatnya menangis. Dhee sudah cukup terluka karena Adam, tapi aku malah membuatnya kembali terluka. Kau benar-benar bodoh Gale, makiku dalam hati.

Akhirnya aku menghentikan mobilku di sebuah padang rumput yang terletak jauh dari pusat kota. Semoga suasana di sini yang nyaman dan tenang aku bisa membuat Dhee memaafkan kesalahanku.

"Angel, aku benar-benar minta maaf. Aku..." kata-kata tertahan.

"Kau mau bilang bahwa kau tidak bisa menolak ajakan Sherin dengan tegas atau kau mau bilang bahwa kau khilaf, Gale?" Tuduh Dhee tiba-tiba dengan suara yang datar dan dingin namun langsung menusuk jantungku.

"Aku tahu aku salah, Angel. Katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan agar aku mau memaafkanku dan kembali mempercayaiku?"

"Aku tak tahu, Gale." Jawabnya sambil memalingkan wajah dan menghindari menatapku.

Aku mengacak rambutku dengan frustasi. Aku lebih baik di marahi habis-habisa seperti yang di lakukan oleh Lila daripada di diamkan seperti ini dan di anggap tidak ada.

"Angel, aku mohon. Jangan diamkan aku seperti ini."

Tapi yang terjadi adalah Dhee membuka pintu mobil dan berjalan keluar menuju ke padang rumput. Aku langsung mengejarnya. Namun Dhee semakin kencang berlari. Sampai tiba-tiba saja...

"Angeeeelllll....." aku terpekik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar