Jumat, 15 November 2013

Love Under The Rain 3

CLARISS

Di sinilah aku saat ini, di bawah sebuah pohon namun hujan tetap membasahi tubuhku yang sekarang ini sudah basah kuyup. Dalam hati aku terus berharap bahwa sosok Vanno akan muncul. Tubuhku mulai menggigil karena kedinginan, gigiku bergemeletuk menahan dingin. Tuhan, aku mohon pertemukan aku kembali dengan Vanno, kumohon Tuhan pertemukanlah kami, doaku dalam hati.

Tubuhku semakin bergetar hebat di bawah terpaan air hujan yang terus-menerus turun mengguyur kota yang entah kapan akan reda. Kepalaku mulai terasa sakit, pandangan mataku mulai berkunang-kunang dan tidak fokus. Hingga akhirnya aku merasakan tubuhku oleng dan kegelapan langsung menyergapku.

***

VANNO

Seminggu sudah aku tidak bertemu lagi dengan Clariss. Meskipun pada kenyataannya aku tidak benar-benar menjauh darunya. Karena tanpa sepengtahuannya aku selalu mengawasinya dari jauh. Aku masih belum tahu perasaanku pada Clariss, yang aku tahu bahwa aku tak bisa benar-benar menjauh dari Clariss.

Meskipun pertemuan dan pekenalan kami sangat singkat. Clariss berhasil menorehkan kesan yang mendalam di hatiku. Hanya melihat wajahnya saja langsung membuat hatiku di penuhi oleh perasaan yang hangat. Perasaan yang tidak pernah menghinggapi perasaanku selama bertahun-tahun.

Clariss berhasil menyentuh dasar hatiku yang paling kelam dan mulai menyinarinya. Padahal Clariss tidak melakukan apapun. Hanya perasaan nyaman yang aku rasakan ketika berada di dekatnya. Aku belum pernah tidur senyenyak itu sebelumnya.

Mimpi menyeramkan itu selalu saja muncul. Membuatku ketakutan di malam hari dan membuatku terjaga hingga keesokan harinya. Tapi mimpi itu tidak terjadi ketika Clariss berada di sampingku.

Namun aku tak ingin mengambil resiko. Membiarkan Clariss masuk ke dalam kehidupanku hanya akan membuat jiwanya terancam. Orang-orang itu pasti akan berusaha untuk menyakiti Clariss. Aku tidak ingin satu orangpun tahu bahwa Clariss telah menjadi kelemahanku yang terbesar.

Berusaha menjauh, menghindar dan menghilangkan sosoknya dari pikiranku ternyata sangat sulit. Yang aku inginkan adalah melihat wajahnya. Namun semua itu  membuatku ketakutan, ketakutan karena akan terjadi sesuatu jika aku membuka hatiku dan membiarkannya masuk.

Dan saat ini aku hanya bisa berharap bahwa salah satu dari mereka tidak ada yang membuntutiku dan melihatku membawa Clariss. Karena jika mereka sampai melihat Clariss aku takkan pernah membiarkan Clariss pergi dengan bebas berkeliaran di luar sana. Aku takkan membiarkan ia menghilang dari pandanganku. Mungkin aku akan mengurungnya di penthouse milikku. Entahlah, pikiranku saat ini benar-benar kalut.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya aku sampai di penthouse ketika hari mulai memasuki petang. Setelah merasa keadaan sekitar aman dan sepi aku langsung membawa Clariss yang tidak sadarkan diri. Aku buru-buru masuk ke dalam lift khusus yang memberikan akses menuju ke penthouse milikku. Tak sembarangan orang yang bisa memasuki lift khusus ini.

Sesampainya di atas aku langsung membaringkan tubuh Clariss di atas tempat tidur. Tubuhnya menggigil karena kedinginan meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku langsung mengrluarkan beberapa pakaian wanita yang tadi sudah di beli oleh Travis.

Aku langsung mengganti semua pakaian Clariss dengan pakaian yang kering. Aku harus menahan gejolak gairahku dengan begitu kuat ketika melihat tubuh polos Clariss yang terpampang di depanku. Namun aku menekan kuat-kuat gejolak gairahku dan kembali fokus untuk membersihkan tubuh Clariss dan memakaikannya pakaian kering. Dan semua kegiatan yang menyiksa itu berakhir.

Beberapa saat kemudian dokter pribadi kepercayaanku datang dan memeriksa keadaan Clariss. Setelah memberikan obat penurun demam dan antibiotik dokter langsung pamit. Selama Clariss belum sadar aku memutuskan untuk pergi membersihkan tubuhku dan menyiapkan makanan untuk Clariss jika ia sudah sadar nanti meskipun tak ada tanda-tanda Clariss akan bangun. Selebihnya aku habiskan hanya untuk memandangi wajah cantiknya yany terlihat damai.

"Clariss, tahukah kau bahwa aku jatuh cinta kepadaku sejak pertama kali kita bertemu di bawah guyuran hujan beberapa saat yang lalu. Kau tahu sejak pertemuan itu kehidupanku jadi tidak seperti biasanya. Kau telah berhasil menjungkir balikan kehidupanku..." gumamanku terhenti, "Entah apa yang sudah kau lakukan hingga membuatku seperti ini, Clariss. Aku mencoba untuk menjauh dan melupakannu tapi tidak bisa." Lanjutku sambil membelai lembut wajahnya dan mengecup ringan bibirnya yang merah.

"Aku mencintaimu Clariss, sangat mencintaimu." Lalu aku berbaring hingga akhirnya terlelap di sampingnya.

***

Sebuah gerakan gelisah yang berasal dari seseorang yang berada di sampingku mau tak mau membuatku langsung terjaga, aku melirik jam yang ada di nakas baru menunjukkan pukul dua dini hari.  Clariss terlihat gelisah dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat telah membasahi wajahnya.

"Va-Va-Vanno..." suaranya terdengar seperti sebuah bisikan namun aku bisa dengan jelas mendengar kata-katany. "Va-Va-Vanno..." gumamnya lagi menyebut namaku.

Aku langsung memutar tubuhku menghadapnya, "Aku disini sayang, aku disini." Ucapku sambil menyeka bulir-bulis keringat yang membasahi wajahnya.

Tiba-tiba saja kedua mata Clariss terbuka dengan lebar dan iris matanya langsung bertatapan dengan mataku. "Va-Va-Vanno..." panggilnya lirih.

"Ya, ini aku Vanno." Tegasku sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya, "Bagaimana keadanmu sekarang? Apakah sudah jauh lebih baik?" Tanyaku.

"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Vanno." Ucapnya lirih dengan suara yang lemah dan parau. Tangannya yang lemah menggapai dan membelai pipiku dengan begitu lembut. Tanpa sadar mataku terpejam merasakan belaiannya pada wajahku.

Selama beberapa menit yang kami lakukan hanya saling berpandangan. Menyelami isi hati masing-masing. Kami berdua memang saling tertarik satu sama lain. Wanita yang telah berhasil membuat tempat tergelap dalam hatiku kini berada tepat di depanku.

Hanya saja kami tidak boleh bersatu. Tidak dengan keadaanku yang seperti ini. Andai saja aku bisa terbebas dan terlepas dari mereka. Aku pasti akan lebih memilih untuk menghabiskan hidupku bersama Clariss. Namun sayangnya keinginan itu hanya sebuah impian. Sebuah impian yang entah kapan bisa terwujud.

Semakin lama wajah kami semakin mendekat. Hingga akhirnya bibir kami saling bertemu dan berpagutan. Aku mencecap bibirnya dengan penuh damba. Merasakan manisnya dari setiap inchi bibirnya. Lenganku mengangkat dan menahan tubuhnya yang masih lemah berada dalam posisi duduk. Entah hanya perasaanku saja atau bukan rasanya kami berdua seperti memiliki koneksi yang kuat satu sama lain. Perasaan-perasaan yang membuatku berasa nyaman itu semakin kuat aku rasakan.

Cukup lama kami saling berpagutan seperti itu. Aku menarik diri dan menghentikan kegiatan kami itu ketika aku mendengar deru nafas Clariss yang mulai terengah. Aku langsung memeluk erat tubuhnya yang terkulai lemas.

Dengan perlahan-lahan aku kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Beristirahatlah, aku akan membawakanmu sesuatu." Gumamku sambil membelai wajahnya.

Namun Clariss menahan lenganku, "Jangan pergi Vanno, kumohon." Pintanya sambil mencengkram erat lengan bajuku. Aku pun langsung kembali menyandarkan tubuhku di sandaran tempat tidur. Lalu menarik tubuh Clariss ke dalam pelukanku.

"Bagaimana bisa aku berada di sini, Vann? Apa yang sebenarnya terjadi? Seingatku bukannya aku sedang berada di depan kafe." Tanyanya sambil bersandar di dadaku.

"Apa yang kau lakukan, Clariss? Membuat tubuhmu basah hingga kedinginan seperti itu dan berakhir dengan kau yang jatuh pingsan di tengah guyuran hujan?" Tegurku lembut.

"Aku menunggumu, Vanno." Jawabnya dengan lirih sambil memandangku dengan lembut.

Kernyitku langsung berkerut mendengar jawaban yang keluar dari bibirnya, "Menungguku?"

Ia mengangguk lemah, "Ya, aku menunggumu. Kau tahu sebelumnya aku tidak begitu menyukai hujan. Namun semua itu berubah ketika aku bertemu denganmu. Aku jadi menyukai hujan bahkan sangat menantikan hujan turun." Ia berhenti dan menghela nafasnya pelan, "Aku merindukanmu Vanno, aku selalu beharap bahwa kita akan bertemu lagi. Tapi kau menghilang seperti di telan bumi. Aku putus asa, sampai pada akhirnya hujan turun hari ini. Lalu aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan saat pertama kali aku melihatmu." Clariss kembali terdiam, ia terlihat lelah namun tetap bersikeras untuk melanjutkan kata-katanya, "Aku berharap jika aku melakukan hal itu kau akan datang. Dan ternyata kau benar-benar muncul." Clariss mengakhiri perkataannya sambil tersenyum lembut.

"Clariss..." ucapku sambil mempererat pelukanku. Perasaan hangat itu langsung memenuhi dadaku. Ternyata perasaan yang aku rasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Clariss ternyata mencintaiku juga. "Aku mencintaimu Clariss, aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu. Hanya saja kita takkan pernah bisa bersatu dan bersama." Gumamku dengan suara yang berat.

Mendengar kata-kata terakhir yang aku ucapkan Clariss langsung melepaskan pelukanku. Ia memandangku dengan tatapan bingungnya, "Apa maksudmu mengatakan itu? Kau bilang bahwa kau mencintaiku namun kemudia kau bilang bahwa kita tak bisa bersatu dan tak akan bisa bersama? Mengapa kau berkata seperti itu?" Suaranya terisak dan bergetar.

"Maafkan aku Clariss, aku ingin bersamamu tapi itu semua takkan mungkin terjadi." Jelasku dengan menyesal.

"Kenapa kita tidak bersama, Vann?" Tanyanya yang masih berusaha untuk tidak menangis.

"Aku tidak bisa mengatakan ataupun menjelaskannya kepadamu, Clariss. Aku mohon maaf." Ungkapku sambil menundukkan wajah. Aku takkan sanggup jika harus melihatnya menangis di depanku. Karena itu semua akan meruntuhkan semua pertahanan dan membuatku merubah pendirianku.

Akhirnya aku mendengar suara isakan yang berasal dari Clariss. Hatiku sakit seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Bersama denganku hanya akan membahayakan jiwanya. Apalagi setelah aku mengetahui sesuatu tentang diri Clariss. Mana mungkin aku mengambil resiko membiarkan Clariss berada di sampingku dengan bahaya yang selalu mengancam jiwanya setiap saat. Tidak akan pernah.

Biarlah Clariss membenciku asalkan ia aman. Dengan begitu aku bisa terus mengawasinya dari jauh. Takkan ada bahaya yang mengancam nyawanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar