JAMES
"Cepatlah makan, mau sampai kapan kau memandangi makan-makanan itu, huh?" Tegur Hanna yang sedang menuangkan susu ke dalam gelasku.
"Aku akan makan, terima kasih." Ucapku sambil mengambil gelas yang baru saja di isi oleh susu itu.
Selesai sarapan Hanna memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar danau. Yah, meskipun begitu Hanna masih tetap saja mendiamkanku. Entah apa yang sedang di pikirkan olehnya saat ini. Semoga saja Hanna tidak berniat kabur dariku.
Karena akan aku pastikan Hanna tidak akan bisa pergi dariku. Aku takkan membiarkannya, benar-benar takkan kubiarkan.
***
HANNA
Seminggu berlalu sejak liburanku bersama James di Aspen. Dan sejak kejadian itu pula James tak pernah menyentuhku lagi. Meskipun terkadang ia masih suka mencuri-curi untuk menciumku, tapi tidak lebih.
Astaga Hanna mengapa kau jadi seperti mengharapkan untuk di sentuh olehnya? Tidak, itu tidak boleh terjadi lagi. Cukup satu kali aku lengah dan terbuai oleh rayuannya. Dan kali ini aku harus lebih waspada, aku tidak mau kejadian itu kembali terulang lagi.
Dan aku bersyukur sekali ketika James mengijinkanku untuk melanjutkan kuliahku yang sudah memasuki semester akhir. Ia bilang bahwa tak ingin mempunyai istri yang bodoh dan tidak memiliki gelar sarjana apapun. Dia benar-benar meremehkan kepintaranku, jika aku tidak pintar mana mungkin aku bisa masuk di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama di Miami dan mendapatkan beasiswa. Lihat saja akan aku buktikan bahwa aku tidak bodoh suamiku. Duh, lagi-lagi mulutku keceplosan memanggilnya dengan sebutan 'suamiku' gerutuku dalam hati.
Hari ini aku terlambat keluar dari kampus. Karena aku harus memeriksakan laporan yang sedang aku kerjakan kepada dosen pembimbingku. Belum lagi aku harus mencari bahan-bahan untuk melengkapi materi yang sedang aku susun itu di perpustakaan. Tak heran jika aku keluar dari area kampus ketika hari sudah gelap, karena aku menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan kampus.
Dengan lunglai aku berjalan menyusuri jalanan yang mengarah ke sebuah halte bis yang jaraknya tak begitu jauh dari kampusku. Semoga saja aku masih bisa mendapatkan sebuah taksi. Tadinya aku ingin sekali minta di jemput oleh James atau supir tapi ponselku mati. Jadi dengan terpaksa aku harus menunggu di halte seperti ini.
Berharap James akan memerintahkan salah satu supir.untuk menjemputku. Apalagi malam ini udaranya begitu dingin. Aku takkan sanggup menunggu satu jam lagi di sini, aku benar-benar merasa sangat lelah sekali.
Ya Tuhan, mataku sudah tidak bisa di ajak untuk berkompromi lagi. Aku tidak mau jatuh tertidur di tempat ini. Sedangkan taksi yang kutunggu tak kunjung datang.
Rasa hangat yang menerpa wajahku membuatku membuka mata secara perlahan. Mencoba mengumpulkan kesadaranku dan mencoba mengingat-ingat ruangan yang aku tempati ini. Ah, bagaimana bisa aku berada di kamarku? Seingatku semalam aku sedang menunggu taksi di halte bis dekat kampus.
Dengan perlahan aku melihat ke arah samping dan aku menemukan James yang masih tertidur pulas dengan wajah yang terlihat damai. Jangan-jangan semalam aku tertidur di halte dan secara kebetulan James menjeputku. Tapi bukankah seharusnya saat ini ia sedang berada di New York?
Ah sudahlah, untuk apa aku pusing-pusing memikirkan hal seperti itu. Sebaiknya aku bangun dan mandi saja. Semoga dinginnya air bisa membuatku jauh merasa lebih baik. Lalu aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku, dengan perlahan aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi ternyata James masih belum bangun. Dan ketika aku selesai berpakaian dan keluar dari walking closet James masih belum bangun juga, ini benar-benar tidak seperti biasanya. Ia terlihat gelisah dalam tidurnya dan mulutnya terlihat bergerak-gerak entah mengucapkan apa.
Lalu aku berjalan mendrkat menghampiri James yang masih terpejam. Barulah aku bisa melihat dengan jelas keadaannya. Keringat dingin membasahi keningnya dan yang membuatku syok adalah ketika menedengarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika dalam keadaan setengah sadar.
"James ayo bangun." Ucapku sambil menepuk pipinya, "Ya Tuhan, kau demam tinggi." Aku langsung menempatkan telapak tanganku di keningnya dan benar saja suhu tubuhnya sangat panas sekali. "Tunggu sebentar aku akan mengambil air untuk mengompres." Gumamku sambil hendak beranjak dari posisiku.
Namun tiba-tiba James mencekal pergelangan tanganku "Jangan pergi, kumohon Lila." Racaunya dengan mata yang terpejam.
Hatiku langsung berdenyut dan terasa sakit ketika mendengar James memanggil wanita lain dalam keadaan setengah sadar. Namun yang membuatku semakin terluka adalah James menganggapku sebagai wanita yang bernama Lila itu.
"Ak-aku hanya sebentar, James." Suaraku mulai bergetar menahan tangis. Entah mengapa ramsanya aku ingin menangis dengan kencang. Seharusnya aku tidak terpengaruh dan biasanya saja ketika mendengar James menyembut nama wanita lain di hadapanku tapi... Entahlah, aku benar-benar bingung dengan semua ini.
Dengan tergesa-gesa aku pergi ke dapur untuk mengambil peralatan yang di perlukan untuk mengompresnya. Sekembalinya dari dapur aku segera mengopresnya, aku tidak mungkin pergi ke kampus dengan keadaan James yang seperti ini. Setelah menghubungi temanku, aku langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan sup untuk James. Jika sampai nanti siang panasnya masih tidak turun aku akan menelepon dokter.
Berkutat di dapur tetap saja membuatku memikirkan kata-kata yang terlontar dari mulut James tadi. Astaga, mengapa aku terus-terusan memikirkan kata-kata James tadi? Perasaan tidak nyaman langsung menyeruak begitu saja dalam dadaku, gumamku dalam hati. Tidak, aku harus mengabaikannya aku tidak boleh terpengaruh dengan semua ini. Tidak boleh.
Dengan penuh tekad aku akan mengacuhkan setiap kata yang terlontar dari mulut James. Aku kembali ke kamar sambil membawa nampan, sesampainya di kamar aku menyimpan nampat itu di atas nakas. Dengan perlahan aku membangunkan James yang masih memanggil-manggil nama Lila.
"James, ayo bangun. Aku sudah membuatkan sup untukmu." Ucapku sambil menepuk-nepuk pipinya lembut.
"Lila... Maafkan aku Lila... Aku mencintaimu..." racaunya dengan raut wajah yang gelisah.
Hatiku kembali berdenyut kesakitan mendengar kata-katanya itu. Tuhan, tolong jangan biarkan air mataku terjatuh. Namun yang terjadi adalah aku terisak menahan tangis dengan cara menggigit bibir bawahku. Berharap agar air mataku ini bisa berhenti berjatuhan membasahi pipiku.
Aku segera menghapus bulir-bulir air mata yang sudah terlanjur jatuh membasahi kedua pipiku, "James... Kau harus makan." Ucapku dengan suara yang bergetar. Akhirnya James membuka mata, namun matanya tidak terbuka sepenuhnya. Tatapannya benar-benar terlihat sangat sayu dan tidak fokus.
Aku menyandarkan tubuhnya agar berada dalam posisi duduk. Lalu aku mengambil sup yang tadi aku bawa dan mulai menyuapinya, "Ayo James, kau harus makan agar cepat sembuh. Buka mulutmu." Pintaku sambil menatapnya dengan fokus. Tapi James hanya diam, wajahnya terlihat sangat lelah sekali. "Ayolah, kau harus makan lalu setelah itu kau boleh tidur kembali." Dan akhirnya James mau membuka mulutnya, meskipun hanya beberapa sendok sup yang berhasil masuk ke dalam perutnya. "Nah, sekarang kau boleh kembali itu. Beristirahatlah."
Ketika aku membaringkan kembali tubuhnya tiba-tiba saja James menarik tubuhku sehingga tubuhku berada di atas tubuhnya. Dan ketika aku berniat untuk bangun James malah melumat bibirku dengan penuh gairah. Semua itu bisa kurasakan karena ciumannya begitu menuntut. Tubuhku langsung melemas oleh sensasi yang di timbulkan oleh ciumannya itu.
"Tidak. Apa yang akan kau lakukan, James?" Aku berkata sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Namun tenaga James masih terlalu kuat untuk kulawan. Meskipun saat ini keadaan James sedang sakit.
Otakku menolak dengan keras akan perlakuannya namun berbanding terbalik dengan tubuhku yang begitu mendambakannya. Tubuhku bahkan merespon setiap sentuhan-sentuhannya di sekujur tubuhku. Tubuhku menginginkan perlakuan lebih darinya.
Tiba-tiba James membalik posisi kami berdua. Aku berada di bawah, dalam kungkungan tubuhnya sedangkan bibirnya terus mencecap bibirku dan kedua tangannya sibuk menyentuh tubuhku tanpa melewatka satu inchi pun.
Erangan dan desahan pun mulai keluar dari tenggorokanku. Dan tak lama kemudian James kembali membawaku pada kenikmatan yang aku rasakan ketika kami berlibur di Aspen beberapa waktu yang lalu.
Sore harinya aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhku. Seketika itu pula aku langsung teringat dengan kejadian tadi. Wajahku langsung terasa panas mengingatnya. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa aku kembali jatuh dan terlena oleh pesona James dan kembali menyerahkan tubuhku kepadanya.
Dengan perlahan aku bangun dari tempat tidur, lalu memunguti pakaianku yang tercecer dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai aku segera melihat keadaan James yang masih terlelap, perlahan aku memakaikan kembali piayama yang di pakainya. Setelah itu aku langsung pergi keluar kamar. Aku harus menghidarinya, aku juga tidak mau James tahu tentang kejadian tadi. .
Menjelang waktu makan malam James turun dan bergabung bersamaku di meja makan. "Selamat malam, bagaimana keadaanmu?" Tanyaku sambil mengambilkan makanan untuknya.
"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih sudah merawatku. Aku tidak pernah sampai sakit seperti itu sebelumnya." Jawabnya dengan suara yang serak.
"Kau terlalu keras bekerja James, cobalah untuk lebih memperhatikan kesehatanmu." Timpalku sambil menyendok makanan yang ada di hadapanku.
"Sepertinya kau juga tidak dalam keadaan yang baik juga." Ucapnya sambil menatapku lekat, "Wajahmu terlihat pucat."
"Jadwal kuliahku sangat padat, James. Aku harus segera menyelesaikan skripsiku jika aku ingin mengikuti sidang bulan depan." Jelasku sambil memainkan sisa makanan yang ada di piringku.
"Jaga kesehatanmu, aku tak mau kau sampai jatuh sakit, Hanna." Ucapnya tulus.
"Seharusnya aku mengatakan itu kepadamu, James." Aku menyingkirkan piring yang ada di hadapanku.
"Untung saja kemarin aku menjemputmu. Jika terlambat sedikit entah apa yang akan terjadi padamu jika aku terlambat sedikit saja. Mengapa kau begitu ceroboh Hanna, bisa-bisanya kau tertidur di halte bis seperti itu." Ujar James sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya mengerucutkan bibirku. Mengapa jadi aku yang di ceramahi seperti ini?
Diam-diam aku mengawasi James yang sekarang kembali sibuk dengan makanannya. Aku menghela nafas lega, karena sepertinya James tidak ingat dengan kejadian tadi. Biarlah cukup hanya aku yang menyimpan rahasia ini seorang diri.
Tuhan, aku benar-benar bingung dengan semua ini. Mengapa James selalu bersikap protektif kepadaku jika sampai detik ini ia masih mencintai wanita lain. Bahkan ia tetap mengingatnya dalam keadaan setengah sadar. Aku benar-benar tak mengerti, ia tak perlu seprotektif itu. Tak perlu mengatas namakan kewajiban dan tanggung jawab. Karena pernikahan ini terjadi tanda di dasari oleh cinta.
***
JAMES
Beberapa minggu terakhir ini Hanna terlihat kurang baik. Menurut pengurus rumah Hanna selalu mengeluarkan kembali semua makanan yang telah masuk ke dalam perutnya. Bahkan terkadang Hanna mengeluh dengan rasa sakit di kepalanya.
Dan setiap kali aku menanyakan tentang keadaannya Hanna selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja, semua sakit yang di alaminya karena efek dari sidang yang semakin dekat. Memang yang aku perhatikan Hanna benar-benar bekerja keras untuk menyelesaikan skripsinya. Dan akhirnya ia bisa mengikuti sidang yang akan segera di laksanakan minggu depan.
Tak jarang pulang aku selalu mendapati Hanna tertidur di depan laptop yang berada di ruang kerjaku. Karena sejak kejadian Hanna yang tertidur di halte bis karena mengerjakan tugas akhirnya di perpustakaan kampus aku menyuruhnya untuk memakai ruang kerjaku. Karena di sana terdapat banyak sekali jenis buku. Dan jika ada buku yant tidak di temukannya di ruang kerjaku maka aku langsung menyuruh anak buahku untuk segera mencarinya hingga dapat.
Entah mengapa semakin lama aku semakin tidak bisa menjauh dari Hanna. Namun meskipun begitu aku jadi semakin tidak bisa menghilangan sosok Lila dari pikiranku. Demi Tuhan, sebenarnya aku ingin melupakan Lila dan mencoba untuk menerima keberadaan Hanna di sisiku. Tapi semuanya begitu sulit. Katakan aku brengsek karena selama ini aku menganggap Hanna sebagai sosok Lila yang sangat aku rindukan.
Aku tahu bahwa tak ada kesempatan kedua dan seterusnya untukku mendapatkan Lila kembali. Karena Lila sudah menikah dengan Zachary Alexander, salah satu CEO muda yang sangat berpotensi dengan skill bisnisnya. Zac yang merupakan sahabat Lila ketika masih kuliah dan salah satu pesaing beratku di dunia bisnis selain Gale. Apalagi setelah Zac menikah dengan Lila, perusahan milik Zac dan perusahaan milik keluarga Lila melakukan merger. Mereka menjadi perusahaan yang sangat kuat dan sulit untuk di saingi.
Lila... Lila... Lila... Lila... Nama itu masih terus saja menghantui, padahal aku sedang mencemaskan keadaan Hanna yang kesehatannya semakin menurun karena kelelahan. Melihat kecerobohan dan sifat keras kepala Hanna membuatku seolah-olah seperti melihat Lila. Karena Lila sangat ceroboh dan keras kepala.
Lamunanku terhenti ketika mendengar suara seperti seseorang yang sedang muntah dari dalam kamar mandi. Hanna. Namanyalah yang langsung terlintas di dalam kepalaku. Aku segera bergegas menuju ke dalam kamar dan melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Aku melihat Hanna sedang memuntahkan semua makan malamnya di washtafel kamar mandi. "Kau baik-baik, saja? Bagaimana jika kita pergi ke rumah sakit saja? Atau aku panggil Rick kemari untuk memeriksa keadaanmu." Ucapku sambil mengelus pelan punggungnya.
"Tidak perlu James... Aku hanya perlu tidur saja. Beristirahat akan membuat keadaanku membaik." Jawabnya dengan suara yang terdengar lemah.
See, Hanna tetap bersikeras bahwa ia baik-baik saja. Padahal dengan melihat wajahnya saja orang lain pun bisa melihat bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya aku mengalah dan membawanya ke tempat tidur untuk beristirahat saja.
Hanna... Hanna... Mengapa kau begitu suka membuatku khawatir dan kesal secara bersamaan, gerutuku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar