JAMES
"A-aku... Aku..." Hanna tergugu menjawab pertanyaanku. Sepertinya ia masih syok dengan kata-kata yang terlontar dari mulutku.
"Apa kau takut aku akan menuduhmu telah menjebakku?" Hanna mengangguk pelan dengan gugup. Sedangkan aku tetap memandanginya dengan intens.
"Astaga Hanna... Aku tidak akan sekejam itu, mana mungkin aku menampik dan tidak mengakui darah dagingku sendiri, Hanna." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak percaya, seburuk itukah penilaian dan anggapan Hanna kepadaku? Sampai-sampai ia berniat menyembunyikan anakku, darah dagingku.
"Karena kau masih mencintai Lila, James. Meskipun Lila sudah menikah dengan pria yang di cintainya, tapi aku sadar jika di bandingkan dengan Lila aku bukan apa-apa." Gumam Hanna dengan suara tertahan.
"Kau bertemu dengan Lila?" Pekikku tertahan, cukup terkejut ketika mengetahui bahwa istriku bertemu dengan mantan kekasihku.
"Ya, aku bertemu dengannya tadi dan kami sedikit berbincang. Pantas saja kau begitu memujanya, James." Ucapnya sarkasme.
"Aku bisa melupakan Lila jika kau menginginkannya, Hanna. Jika kau berjanji kepadaku akan melakukan hal yang sama sepertiku dengan cara melupakan Alex. Kita bisa memulai semuanya dari awal, sebelum bayi kita terlahir ke dunia. Biarkan aku mencintaimu, Hanna." Jelasku sambil menggenggam tangannya.
"James..." Hanna masih terlihat meragukan kata-kata yang terlontar dari mulutku. Meskipun aku bisa melihat kelegaan yang terpancar dari matanya.
"Jadi maukah kau belajar mencintai dan menerimaku sebagai suamimu? Kita sama-sama menata kehidupan yang baru dan meninggalkan semua kenangan masa lalu kita?" Tanyaku sambil menatap tajam kedua manik matanya.
Hanna langsung memelukku dengan begitu erat. Perasaan asing yang menghangatkan dan menyamankan itu kembali terasa menelusup di relung sanubariku. Perasaan yang benar-benar melenakanku, membuatku enggan melepaskan pelukanku.
"Jadi berapa usia kehamilanmu saat ini, sayang?" Bisikku tepat di telinganya.
"Tiga minggu James, maaf aku tidak menceritakan semuanya kepadamu. Kau tahu aku benar-benat kalut dan takut, tak tahu apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku perbuat." Jelasnya sambil terus membenamkan wajahnya di dadaku.
Sepanjang sisa perjalanan kami habiskan dalam posisi seperti itu. Tanpa banyak kata yang keluar hanya saling merasakan dan mempererat pelukan masing-masing hingga mobil berhenti di pelataran parkir di basement sedangkan Hanna terlelap dalam pelukanku. Sepertinya aku harus pindah ke sebuah rumah. Tidak mungkin Hanna dan bayiku nanti terus-terusan tinggal di penthouse ini.
Sudah di putuskan langkah pertama yang akan aku lakukan adalah membeli sebuah rumah yang sesuai dengan keinginan Hanna. Selain itu aku harus benar-benar merubah perasaan yang aku rasakan terhadap Lila. Mungkin jika seperti itu Gale mau kembali berteman lagi denganku. Karena jujur saja aku sangat merindukan sahabatku yang satu itu, yang tak lain adalah kakak dari Lila. Semoga saja hubunganku dengan Gale kembali membaik seperti dulu.
"Sayang, bangun kita sudah sampai." Panggilku sambil menepuk pelan pipinya yang mulai berisi. Mengapa aku tak menyadari perubahan fisiknya.
Hanna menggeliat perlahan dalam pelukanku dan matanya perlahan terbuka. "Maaf aku tertidur." Ucapnya dengan suara serak khas orang yang bangun tidur.
"Tidak apa-apa sayang, kau bisa melanjutkan tidurmu nanti." Gumamku sambil tertawa geli, Hanna ternyata sangat lucu ketika bangun tidur. Dan lagi-lagi aku baru menyadarinya.
Aku membantunya turun dari mobil dan menghelanya masuk ke dalam lift. Tangan kami masih tetap bertautan hingga sampai di penthouse.
"Beristirahatlah, aku harus melakukan beberapa panggilan." Ucapku sambil melepaskan jas dan menyampirkannya di sandaran sebuah kursi.
Sedangkan Hanna hanya mengangguk sambil tersenyum. Sebelum meninggalkan kamar aku mengecum lembut keningnya. Dan rasanya begitu menenangkan hati.
Aku menuju ke ruangan kerja dengan senyuman yang tak hilang dari bibirku. Aku merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja. Benar-benar menggelikan, tapi memang seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Membiarkanku jatuh dan terjerat dalam pesona Hanna, istriku.
***
HANNA
Hari yang panjang dan melelahkan namun menyenangkan. Kata-kata James berhasil membuatku yakin. Yakin untuk belajar mencintainya dan melupakan Alex. Kalau di pikir-pikir sepertinya Alex tidak benar-benar serius dengan kata-katanya yang mengatakan sangat mencintaiku. Sekarang aku hanya tertawa masam jika mengingatnya.
Jujur saja dengan seiring berjalannya waktu kebersamaan yang aku lalui bersama James lambat laun mulai menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Meskipun aku sempat berusaha mematikan perasaan cinta yang mulai tumbuh di hatiku ini ketika mengtahui James masih mencintai Lila.
Tapi sekarang aku tak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Karena James mau belajar mencintaiku dan membuka hatinya untukku. Aku tak perlu merasa takut Lila akan mengambil James dari sisiku, karena Lila sangat mencintai suaminya. Ah, Lila benar-benar wanita yang baik.
Sepeninggalan James, aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Setelah selesai aku memilih untuk mempelajari kembali materi untuk sidang besok. Pengungkapan James hampir saja membuatku lupa dengan sidang besok.
Semua ini rasanya seperti mimpi, membuatku takut untuk bangun dan membuka mataku. Karena jika semua ini hanya mimpi maka yang akan aku dapati adalah James yang dingin dan susah di tebak. Maka aku akan lebih memilih untuk tetap bermimpi, namun semua ini nyata bukan mimpi. Dan aku tak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan semua ini. Bahagia? Tentu saja meskipun ada sedikit perasaan mengganjal di hatiku. Yang sampai saat ini aku masih mencarinya.
"Hey, mengapa kau bukannya pergi tidur?" Suara James tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Ah, kau mengagetkanku. Aku hanya sedang membaca kembali materi untuk sidang besok pagi." Jawabku sambil menutup malakah yang sedang aku baca.
"Tapi kau harus beristirahat, Hanna." Ucap James sambil merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di sampingku. Ia melingkarkan tangannya memeluk pinggangku.
"Aku hanya membaca saja, James." Tubuhku meremang ketika aku rasakan terpaan nafasnya yang mendekati lekukan leherku dan membenamkan wajahnya di sana.
"Kau harus istrirahat, aku tak mau di bantah, sayang." Perintahnya lagi sambil terus mengendusi lekukan leherku. Membuatku tak tenang karena gairah yang mulai terbangun di dalam diriku.
"Ya, aku akan tidur. Mengapa kau jadi cerewet sekali, James." Tegurku sambil membaringkan tubuhku dan James mengikuti berbaring.
"Hmmm, entahlah mungkin saja sebenarnya aku sudah merasa bahwa kau sedang hamil hanya saja aku tak berani untuk menyakinkan diriku atas pemikiran itu." Jawabnya sambil mempererat pelukannya di tubuhku. "Tutup matamu, sayang." Ucapnya sambil mengecup kepalaku. Dan tak lama kemudian kami berdua langsung terlelap.
***
Seminggu berlalu, dan sekarang aku sudah lulus dari fakultas kedokteran. Sebenarnya aku ingin melanjutkan jenjang pendidikanku lagi tapi James melarang. Dengan alasan bahwa aku sedang hamil. Sudah aku bilang berkali-kali bukan bahwa James jadi sangat cerewet sekali. Dan semakin hari tingkat kecerewetannya itu semakin menjadi.
"Sayang, apakah kau sudah meminum susunya?" Teriak James sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi dengan rambut yang penuh dan tertutupi oleh busa.
"Sudah James, cepat selesaikan mandimu." Tegurku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. See, dia jadi cerewet sekali bukan? Aku tak habis pikir pria sedingin James bisa berubah menjadi pria yang penuh kehangatan ketika mendengar bahwa ia akan menjadi seorang ayah.
Tadinya aku pikir bahwa James akan menolak bayi ini dan mengusirku. Tapi ternyata tidak, justru James berubah menjadi seorang suami yang siaga yang sangat posesif dan overprotective. Aku senang dengan semua perhatiannya itu, meskipun terkadang membuatku kesal. Namun aku mensyukuri semua perubahan yang baik ini.
Dan perlu di ketahui saat ini aku dan Lila berteman baik. Ternyata Lila wanita yang sangat menyenangkan sekali. Karena kami sama-sama sedang mengandung kami juga sering sekali sharing. Kami sering menghabiskan waktu untuk pergi berjalan-jalan meskipun kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah orang tua Lila, mengingat kehamilannya sudah besar.
Melihat kemesraan Lila bersama Zac terkadang membuatku tersenyum. Semoga aku dan James bisa seperti mereka. Aku tahu bahwa Lila harus berjuang mati-matian untuk bisa bahagia bersama Zac. Banyak rintangan yang harus di laluinya sebelum akhirnya Lila dan Zac benar-benar bersatu seperti sekarang.
Siang itu aku dan Lila pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Kami pergi ke sebuah toko yang menyediakan perlengkapan untuk bayi. Lila mulai membeli berbagai perlengkapan untuk bayi kembarnya. Astaga, mereka pasti sangat lucu sekali, karena Lila akan melahirkan sepasang bayi kembar. Ahh, aku tak sabar untuk melihat bayi-bayi mungil itu terlahir ke dunia ini. Aku juga tak sabar menanti bayiku lahir.
Setelah selesai berbelanja dan makan siang kami memutuskan untuk pulang. Karena baik Zac maupun James sudah berkali-kali menghubungi kami dan menyuruh untuk segera pulang. Padahal saat ini mereka berdua dengan menghadiri sebuah pertemuan di kota New York.
Ketika akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja Alex muncul dan menghampiriku yang sedang berbincang bersama Lila. Tanpa sepatah kata tiba-tiba saja Alex menarik dan membawaku dengan paksa masuk ke dalam mobilnya. Bisa kudengar dengan jelas suara Lila yang berteriak-teriak memanggil namaku. Ketika supir pribadi Lila mendekat mobil Alex melaju menjauhi area parkir pusat perbelanjaan tersebut.
"Apa yang kau lakukan, Alex?" Tanyaku dengan penuh emosi.
"Menyelamatkanmu dari pria itu, sayang. Kenapa? Sepertinya kau tidak suka, huh?" Jawabnya dengan santai.
"Ya, aku tidak suka. Mengapa kau muncul kembali dalam kehidupanku?" Desisku sambil memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Mengapa kau tidak suka? Bukankah kau masih mencintaiku dan tidak mencintai pria itu. Seharusnya kau senang dan berterima kasih kepadaku Hanna sayang." Tukasnya dengan suara yang menyebalkan.
"Dulu aku memang mencintaimu Alex, sangat mencintaimu bahkan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku sadar bahwa kau tidak benar-benar mencintaiku. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku mencintaiku suamiku, dan aku tak ingin kehilangannya." Jawabku jujur dengan mata yang menerawang. Meskipun aku sempat melihat sekilas wajah Alex yang berubah menjadi tegang.
"Tidak mungkin, kau mecintaiku Hanna." Hardiknya dengan suara lirih yang sarat akan ketidak percayaan.
"Maafkan aku Alex, sekarang aku benar-benar mencintai suamiku. Jadi aku mohon lepaskan aku dan biarkan aku berbahagia bersama James." Ucapku sambil menatap lekat matanya.
"Tidak. Kau tidak boleh mencintai pria itu, kau hanya boleh mencintaiku, Hanna. Hanya aku!" Dengan gusar ia memukul kemudinya dengan tatapan yang membuatku sempat merasa takut.
"Aku tidak bisa mencintaimu lagi, Alex. Semuanya sudah berakhir." Tegasku, "Biarkan aku pulang untuk bertemu suamiku." Lanjutku dengan perasaan yang mulai takut.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke pelukan pria itu, Hanna. Kau milikku dan kau tinggal bersamaku. Aku ingin melihat suamimu itu mati secara perlahan-lahan." Ancamnya dengan suara yang dingin.
Mendengar ancamannya itu aku langsung ketakutkan. Mengapa Alex berubah jadi pria yang menyeramkan seperti ini? Semuanya bisa di selesaikan dengan baik dan memang aku sudah menganggap hubunganku dan Alex berakhir karena ketidak pastiannya kepadaku. Tapi mengapa sekarang ia seperti ini?
Akhirnya tangisku pun pecah, tak kuasa kutahan lagi. Tuhan mengapa tiba-tiba harus seperti ini? Baru saja aku merasakan kebahagian bersama suamiku. Aku dan James baru saja memutuskan untuk belajar saling terbuka dan saling mencintai satu sama lain. Dan ketika benih-benih cinta itu muncul dan mulai bersemi di tengah-tengah kami berdua. Tiba-tiba saja Alex muncul dan merusak semuanya.
***
JAMES
Saat ini aku tengah berada di tengah-tengah pertemuan para CEO yang berasal dari berbagai negara. Gale, Mark dan Zac pun hadir dalam acara ini. Namun entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa khawatir dan resah. Aku terus-terusan memikirkan Hanna, meskipun tadi ketika aku hubungi Hanna sedang bersama Lila, tapi tetap saja perasaan khawatir itu tak mau hilang.
Hingga tiba-tiba ponselku berdering. Keningku mengernyit ketika melihat nama Lila di layar ponsel. Hati dan pikiranku langsung di penuhi oleh berbagai pertanyaan, dengan ragu akhirnya aku jawab panggilan itu " Hallo..." sapaku.
"Ja-mes... Han-na Ja-mes..." ucap Lila terbata-bata dengan suara sesenggukkan.
Mendengar itu detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnyaa. Entah mengapa hatiku begitu yakin bahwa Lila akan menyampaikan kabar yang tidak aku inginkan untuk di dengar. Ya Tuhan, semoga istriku baik-baik saja Tuhan, doaku dalam hati. "Ada apa dengan Hanna, Lila?" Tanyaku, namun Lila terdiam di seberang sana. Sepertinya Lila merasa kesulitan untuk berkata-kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar