HANNA
Semakin lama James semakin memperkecil jaraknya denganku. Aku bisa merasakan terpaan nafasnya yang panas di wajahku. Membuat seluruh tubuhku meremang. Ingin rasanya aku mendorong tubuhnya agar menjauh. Namun tubuhku tak dapat bergerak.
Sampai akhirnya James mencium bibirku dengan begitu lembut dan hati-hati, mencecapnya dengan mendamba. Perlahan aku membuka bibirku, memberikan akses agar lidahnya bisa dengan mudah bereksplorasi.
Tangannya membelai tengkukku dengan begitu lembut. Semakin lama tempo ciumannya menjadi berubah. Ciuman yang lembut itu menjadi ciuman yang liar, panas, posesif dan menuntut. Membuatku sesak karena pasokan oksigen di paru-paruku yang semakin tipis. Anehnya aku malah membalas setiap ciumannya dan tidak ingin semua ini berakhir.
Kedua lenganku melingkar di lehernya yang kokoh, menikmati setiap sentuhan tangannya yang mulai bergeriliya di seluruh tubuhku. Tangannya menyusup masuk ke balik bathrobe yang kupakai. Sentuhannya yang langsung di kulitku membuat tubuhku gemetar. Tubuhku menuntut dan menginginkan sentuhan yang lebih lagi. Sepertinya aku mulai mengabaikan alarm yang berdentang dengan keras di dalam kepalaku.
Kali ini tanganku jatuh menuju dadanya yang bidang itu. Mengusapnya dengan perlahan dan membuka satu-persatu kancing kemejanya. Ia mendesah ketika tanganku menyentuh dadanya yang sudah tidak terhalang oleh apapun. Sedangkan tangannya yang bebas membuka tali pengikat bathrobe, seketika itu pula tubuhku langsung menegang.
"Ah..." suara itulah yang lolos dari mulutku ketika tangannya entah sengaja atau tidak menyentuh puncak payudaraku yang sudah menegang ketika James dengan intensnya menciumku.
Melihat aku yang sudah benar-benar di kuasai oleh gairah mata James berkilat. Bisa aku rasakan ia tersenyum. "Terus seperti itu, sayang." Bisiknya dengan suara yang berat dan serak.
Ciumannya turun ke arah leher jenjangku, menuju ke bahuku dan berhenti di tengah-tengah belahan payudaraku. Menggigit kecil kulitku dengan lembut. Lalu ia mulai mengecup, mencium dan mempermainkan kedua payudaraku dengan penuh mendamba dan dengan begitu lembut. Ia juga mulai meremasnya dengan perlahan dan semua itu membuat pikiranku jadi semakin berkabut oleh gairah. Semua ini terlalu banyak dan intens untuk aku terima.
Seberapa keras aku berusaha untuk mengelak namun pada akhirnya otakku menyerah oleh gairah dan kebutuhan, aku menuntut untuk di puaskan oleh suamiku. Tanganku bergerak dengan sendirinya melepas kemeja yang di pakai oleh James. Badan atletis milik James yang selama ini tertutupi oleh kemejanya terpampang jelas di hadapanku. Tanpa sadar aku menelan ludah melihat tubuhnya yang saat ini sedang aku sentuh.
Bibir kami masih berpagutan sedangkan tangan kami saling menyentuh satu sama lain. Dan entah sejak kapan kain yang ada di badan kami terlepas semua. Karena saat ini tubuh kami berdua tanpa penghalang. Kulit tubuh kami saling menempel dengan tanpa cela sedikitpun.
Aku bisa merasakan ada sesuatu keras di bawah sana dan berusaha mendesak masuk ke dalam tubuhku. Setelah puas mengeksplorasi kedua payudaraku, James kembali menciumin bibirku, menggigit leherku dengan penuh gairah. Aku bisa merasakan bibirnya di sekujur tubuh. Hingga kepalanya semakin turun menuju ke pusat diriku yang sudah sangat basah.
Lalu ia membenamkan wajahnya di sana, melumat serta menggigit kecil di sana. Lalu menusuk-nusukkan lidahnya serta menghisap klirotisku dengan kencang. Erangan pun semakin keras keluar dari mulutku. Tubuhku bergerak gelisah, karena James menahan kedua kakiku agar tetap diam dan terbuka dengan lebar.
Sampai akhirnya aku merasakan tubuhku menegang dan mulai bergetar hebat. James semakin membawaku jauh ke pinggiran jurang kenikmatan yang belum pernah aku rasakan. Dan ketika gelombang kenikmatan itu datang aku berteriak memanggil namanya.
"James..." teriakku dengan kepala yang semakin terbenam di atas bantal. Ketika aku masih mengalami euforia karena orgasme pertama yang aku dapat aku merasakan bahwa James telah menarik mundur bibir dan lidahnya dari pusat diriku. Ada perasaan kecewa dan kehilangan saat ia melakukan hal itu.
Namun beberapa detik kemudian ada sesuatu yang keras dengan ukuran yang cukup besar berusaha merobos masuk ke dalam diriku. Nafasku tertahan ketika James berusaha melakukan penyatuan. Rasa sakitpun mulai menjalari bagian sensitifku.
"Ja-James..." pekikku tertahan karena rasa sakit yang semakin menjadi. Akal sehatku sudah benar-benar tertutupi oleh gairah yang berhasil di bangkitkan oleh James. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku takkan menyerahkan milikku yang paling berharga kepada James. Tapi ternyata pertahananku runtuh. "Ugh..."
"Tahan sebentar sayang, aku berjanji bahwa kau akan mendapatkan kenikmatan setelah ini." Bisiknya di telingaku dengan suara yang parau.
Nafasku semakin tercekat dengan mata yang terpejam setiap kali merasakan miliknya yang masuk dan semakin tenggelam di dalam diriku. Hingga ia berhenti karena ada sesuatu yang menghalangi jalannya di dalam sana.
"Buka matamu dan tataplah mataku, sayang." Perintahnya sambil mempermainkan telingaku.
Dengan perlahan mataku terbuka. Dan mata berwarna abu-abu itu kini berada tepat di depan mataku. Jaraknya sangat dekat sekali. Sampai akhirnya ia menghujamkan dirinya dengan keras ke dalam diriku. Merobek penghalangnya.
"Ah..." aku menjerit karena rasanya sangat sakit sekali. Aku mencakar punggungnya dengan kuku jariku. Ya Tuhan, rasanya benar-benar sakit sekali, aku tidak kuat, racauku dalam hati sambil berusaha mendorong tubuhnya dari atas tubuhku.
"Tenang sayang rileks, sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang. Percayalah kepadaku, kau akan baik-baik saja." Ucapnya sambil berusaha menenangkanku. Setelah ia merasa yakin bahwa aku sudah mulai tenang, James mulai menggerakan tubuhnya secara perlahan. Membuat mulutku kembali mengeluarkam erangan-erangan yang kecil.
James benar, rasa sakit itu berangsur menghilang di gantikan oleh kenikmatan yang membuatku semakin tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang tiada tara. Dan tubuhku kembali menegang, "Ja-James..." bisikku sambil mengeratkan pelukanku di tubuhnya.
"Berikan kepadaku sayang." Balasnya sambil terus bergerak keluar masuk dengan tangan dan bibirnya yang bergantian menggoda kedua payudaraku. Sekali lagi aku terperosok semakin dalam ke jurang kenikmatan.
James mulai mempercepat tempo gerakannya. Bisa aku dengar giginya yang bergemertak menahan gairahnya. Sampai akhirnya ia menghujamkan dirinya dengan sangat keras. Membenamkan miliknya dalam-dalam di tubuhku. Detik berikutnya ada sesuatu yang menyembur dan terasa hangat memenuhi rahimku. James mencium bibirku lembut dan memeluk tubuhku erat ketika ia mendapatkan pelepasannya.
Tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Nafasnya terengah dengan hebat, tak jauh beda dengan keadaanku. Selama beberapa menit kami berada di dalam posisi seperti ini. Saling menyelaraskan debaran jantung kamu yang berdetak dengan cepat. Setelah nafas kami berdua kembali normal, James mengeluarkan dirinya dari dalam tubuhku secara perlahan, aku meringis ketika ia melakukannya.
Lalu James berguling ke samping, menarik tubuhku merapat dengan tubuhnya. Pelukannya di tubuhku benar-benar membuatku merasa nyaman, "Tidurlah, kau pasti sangat lelah sekali." Bisiknya sambil mengecup lembut kepalaku. Aku tersenyum sebelum memutuskan untuk memejamkan mataku dan tertidur dengan pulasnya. Aku merasa sangat lelah sekali.
¤`¤,¤`¤,¤
JAMES
Aku yakin bahwa saat ini Hanna pasti sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya aku juga merasa lelah, namun entah mengapa mataku sulit terpejam. Otakku langsung teringat pada kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
See, aku memang sudah benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku bisa bercinta dengannya dan mengambil hakku sebagai seorang suami secepat ini? Meskipun aku tak memungkiri bahwa Hanna sudah berhasil membuat gairahku menjadi tidak terkendali setiap kali berada di dekatnya.
Selama itu pula aku berusaha mati-matian untuk menahannya. Dan hari ini aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Apalagi melihatnya dengan tubuhnya terbungkus oleh bathrobe, aku yakin bahwa tak ada sehelai kainpun di balik bathrobe yang di kenakannya itu.
Pada akhirnya semua itu terjadi, sempat terpikir bahwa Hanna akan menolak mentah-mentah semua cumbuan yang aku berikan. Tapi ternyata aku salah, Hanna begitu mudahnya terbuai dan terlena. Yang membuatku sangat terkejut ternyata aku adalah pria pertama baginya. Aku pikir Alex sudah berhasil meniduri Hanna. Tapi ternyata aku salah, akulah pria yang pertama bercinta dengannya.
Keuntungan yang bagus untukku, karena dengan begitu Hanna tidak akan berani kabur dariku. Yang jelas Hanna harus menjauh dan melupakan Alex selama. Jika Alex berani datang aku tak segan-segan akan membuat perhitungan dengannya.
Aku memandangi wajah Hanna yang terlelap dengan damainya di sampingku. Hanna terlalu polos untuk di permainkan, ia hanya aku jadikan sebagai pelarian karena aku tidak bisa mendapatkan Lila. Demi Tuhan, mengapa Lila masih saja terus menghantuiku hingga detik ini. Semakin kuat keinginanku untuk melupakannya semakin kuat pula keinginanku untuk memilikinya.
Aku tak peduli bahwa Lila sudah menikah dengan Zac. Aku mengalihkan pandanganku dari wajah Hanna. Terduduk di atas tempat tidur dan mengacak rambutku dengan frustasi. Aku tidak bisa seperti ini terus, karena akan orang yang tersakiti jika aku terus-terusan mengejar Lila.
Meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaan Hanna terhadapku. Karena sepertinya sulit sekali membuat Hanna mencintaiku, karena Alex. Pria itu telah memiliki Hanna lebih dulu. Apa yang harus aku lakukan?
Kembali membaringkan tubuhku. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Yang pasti aku harus mencari cara untuk memecahkan persoalan ini. Tanpa harus ada yang tersakiti. Kelelahan dan rasa kantuk datang menyerangku. Akhirnya aku menyerah dan memejamkan mataku dan tertidur.
Keesokan harinya aku terbangun dengan suara teriakan yang berasal dari seseorang yang ada di sampingku. Dengan sedikit kesal aku terpaksa membuka mataku, "Apa yang kau lakukan, huh? Berhenti berteriak, kau mengganggu tidurku." Bentakku sambil terduduk.
"Kau... Apa yang kau lakukan padaku?" Tanyanya tergugu, tangannya dengan erat memegangi selimut yang kini membungkus tubuhnya.
"Kau tidak ingat dengan apa yang sudah kita lakukan?" Tanyaku dengan ekspresi yang pura-pura terkejut. "Aku tak menyangka bahwa kau begitu mudahnya melupakan percintaan panas kita semalam." Jawabku dengan suara yang di buat kecewa.
"Tidak mungkin... Kau pasti melakukan sesuatu kepadaku hingga aku mau melakukan itu denganmu." Tukasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dengar Hanna, aku tidak melakukan hal-hal picik seperti yang kau pikirkan itu. Kita melakukannya dalam keadaan SADAR. Aku pikir kau akan menolaknya, tapi ternyata aku salah. Kau sangat menikmatinya, kau menyukainya, bukan? Ah, aku senang sekali karena ternyata aku adalah pria pertama yang bercinta denganmu." Jelasku panjang lebar sambil melipar kedua lenganku di depan dadaku.
Wajah Hanna berubah menjadi merona mendengar penjelasanku. Well, aku tidak berbohong atau mengada-ada, karena memang seperti itulah kenyataannya. Hanna tertunduk di hadapanku, aku yakin sekali emosinya sedang berkecamuk.
"Cepatlah pergi mandi, aku berjanji akan mengajakmu ke suatu tempat." Namun Hanna tak bergeming, ia tetap dengan posisinya. "Hanna, apakah kau ingin aku memandikanmu, huh?" Mendengar ucapanku Hanna tersentak, ia langsung berlari dengan tertatih-tatih menuju ke kamar mandi dengan menutup pintu keras, aku yakin sekali bahwa Hanna masih merasa sakit di bagian sensitifnya itu. Aku terkekeh geli melihatnya.
Karena aku sudah terbangun mau tak mau akupun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar lain untuk membersihkan tubuhku. Setelah puas membersihkan diri aku keluar dan kembali ke kamar.
Aku melihat keadaan kamar yang sudah rapi. Seprai dan selimut sepertinya sudah di ganti bahkan ada pakaian yang terlipat rapi di atasnya. Apakah Hanna yang melakukan semua ini? Aku tersenyum sambil memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Hanna. Setelah selesai aku segera keluar dari kamar.
Ketika turun aku mendapati Hanna sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan bersama Mrs. Trent. Tak jarang Hanna tertawa dan tersenyum di sela-sela kegiatan memasaknya. Aku memutuskan untuk duduk di depan meja yang langsung menghadap ke dapur. Memperhatikan Hanna yang bergerak begitu nyaman di sana.
"Selamat pagi Mr. Arthur, rupanya anda sudah bangun." Sapa Mrs. Trent yang menyadari kehadiranku. Mengetahui aku sudah bangun Hanna hanya melirikku sebentar lalu kembali lagi memasak. Ckckck apakah ia marah kepadaku?
Beberapa menit kemudian makanan untuk sarapanpun telah tersaji di hadapanku. Perutku langsung protes minta di isi karena makanan yang tersaji di depanku benar-benar sangat menggugah selera.
"Cepatlah makan, mau sampai kapan kau memandangi makan-makanan itu, huh?" Tegur Hanna yang sedang menuangkan susu ke dalam gelasku.
"Aku akan makan, terima kasih." Ucapku sambil mengambil gelas yang baru saja di isi oleh susu itu.
Selesai sarapan Hanna memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar danau. Yah, meskipun begitu Hanna masih tetap saja mendiamkanku. Entah apa yang sedang di pikirkan olehnya saat ini. Semoga saja Hanna tidak berniat kabur dariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar