Saat ini aku sedang berusaha
untuk menjalani hari-hariku yang membosankan ini menjadi menyenangkan. Bersikap menyesal terus menerus takkan
bisa memperbaiki semuanya menjadi seperti semula. Karena lagi-lagi nasi sudah menjadi bubur dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gale sepertinya sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi untukku.
Seperti hari itu aku berada di
kampus hingga malam, karena masih banyak sekali tugas-tugas yang harus aku selesaikan. Sedangkan Lila dan Andara sudah pulang sejak tadi sore. Keadaan di sekitar kampus sudah mulai lengang dan sepi. Aku berjalan tergesa-gesa menuju parkiran.
Ketika aku hendak membuka pintu mobilku tiba-tiba ada seseorang yang memelukku
dari belakang dan membekap mulutku. Aku berusaha untuk berontak dan melepaskan diri dari pelukan orang yang tak kukenal ini. Namun tenaganya
jauh lebih besar dari tenagaku, aku hanya bisa pasrah saat tubuhku di seret menuju ke belakang kampusku. Dengan kasar orang itu menghempaskan tubuhku ke atas rumput.
"Awww..." aku memekik kesakitan sambil berusaha bangun dan tubuhku langsung kaku ketika melihat wajah orang yang sudah membekapku, "ADAM?"
pekikku terkejut.
"Benar sayang, ini aku. Rupanya kau masih bisa mengenaliku dengan sangat
baik sekali." Jawabnya sambil menyeringai.
"Mau apalagi kau?" Bentakku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Aku rasa kau tahu apa yang aku inginkan, sayang." Adam mendekatiku, membungkuk dan membelai wajahku.
Aku langsung menepis
tangannya, "Jangan sentuh aku, Adam."
"Jangan galak seperti itu, sayang. Tapi tidak apa-apa, teruslah bersikap seperti itu karena kau membuatku semakin menginginkanmu, cantik." Jawabnya dengan nada meremehkan.
"Jangan macam-macam atau aku akan berteriak." Ancamku.
"Berteriaklah sekencang yang
kau bisa, cantik. Karena takkan ada yang bisa mendengarkanmu." Adam lalu tertawa.
Aku berniat untuk berlari dari
tempat itu namun Adam dengan sigap langsung menarik kembali tanganku. Dia memeluk tubuhku dan mulai berusaha untuk menciumku. Tubuhku berontak
untuk menghindari ciumannya.
"Lepaskan aku, brengsek." Aku
berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya yang semakin erat dan mulai membuat tubuhku menjadi sakit.
"Tidak akan, sayang. Selama ini belum pernah ada wanita yang menolakku kecuali kau. Dan itu membuatku semakin
bernafsu untuk menaklukanmu, Dheandra." Suaranya terdengar mengancam.
"Jangan mimpi, kau hanya pria
pengecut dan brengsek, Adam."
"Jangan coba-coba untuk
melawanku, Dhee." Ekspresi wajah Adam berubah menjadi menyeramkan. Lalu ia
mendorong tubuhku hingga aku tersungkur kembali di atas rumput.
"Awww..." aku mengaduh kesakitan.
"Sudah kubilang agar tidak
melawanku. Karena aku tidak ingin melukai wajah cantikmu itu, Dhee." Lalu Adam
mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya.
"Kau... Apa yang akan kau
lakukan?" aku mulai merasa ketakutan ketika melihatnya mengeluarkan pisau itu.
"Pisau ini tidak segan-segan akan melukai wajah cantikmu itu jika kau terus melawanku, Dhee." Ancamnya sambil memainkan pisau itu di depan wajahku.
"Tidak... Kau tidak akan berani
berbuat sepert itu." Aku merasakan ujung mataku yang mulai memanas karena ketakutan.
"Aku pasti akan melakukannya,
cantik. Karena aku bukan lagi Adam yang dulu kau kenal." Ancamnya sambil mendekatiku.
Adam semakin mendekatiku,
tangannya menarik kemeja yang kupakai hingga sobek. Dan air mataku sudah tak bisa aku tahan-tahan lagi, aku memohon-mohonpun ia tak. mendengarnya. Justru itu
malah membuatnya semakin beringas.
"Kau akan menjadi milikku,
Dheandra." Namun tiba-tiba tubuh Adam tersungkur ketanah dan aku melihat Gale berdiri di depanku.
"Jangan mimpi, Dheandra hanya akan menjadi milikku." Gale lalu beralih kepadaku, membantuku berdiri dan
memakaikan jaketnya kepadaku. "Apa kau terluka?"
"Tidak Gale..." jawabku dengan
suara yang bergetar.
Namun tiba-tba Adam bangun
dan langsung memukul Gale hingga tersungkur ke tanah.
"Siapa kau berani-beraninya
merusak kesenanganku." Adam berteriak marah.
"Aku adalah pria yang sangat
mencintai dan menghormati,Dhee. Tidak sepertimu yang berkelakuan tidak bermoral."
Gale bangun dan langsung
memukul kembali Adam. Aku hanya bisa diam sambil ketakutan melihat Gale dan
Adam sedang terlibat baku hantam. Aku sangat takut Gale akan terluka, apalagi Adam sedang memegang senjata.
Setelah cukup lama terlibat
baku hantam, Gale berhasil membuat Adam tidak berkutik lagi. Lalu Gale menghampiriku sambil sempoyongan.
"Kau tidak apa-apa, Dhee?" Tanyanya dengan suara yang lemah dan wajah tampannya mulai memucat.
"Aku tidak apa-apa, Gale. Ya
Tuhan, kau terluka Gale." Aku terpekik kaget ketika melihat rembesan darah yang mengotori pakaian Gale.
"Tidak, aku tidak apa-apa, Dhee." Namun tubuh Gale langsung ambruk.
"Demi Tuhan, aku harus
membawamu ke rumah sakit, Gale." Aku mulai menangis melihat Gale tak sadarkan
diri di hadapanku. "Gale... ayo bangun Gale... Buka matamu..." ucapku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku Gale...
Aku... Aku mencintaimu Gale, maafkan aku karena selama ini bersikap buruk kepadamu... Demi Tuhan, aku sangat
mencintaimu Gale, ayo bangun... Gale..." aku menangis sambil memeluk tubuh Gale
"Apakah kau benar-benar
mencintaiku?" Tiba-tiba ia berkata dengan suara yang lemah.
"Gale... Jangan-jangan kau
mengerjaiku." Tebakku sambil cemberut.
"Ya, aku memang mengerjaimu
selama ini, Dhee. Aku menunggu kau mengucapkan kata-kata itu. Ayo, ucapkan
sekali lagi bahwa kau benar-benar mencintaiku." Godanya.
"Ya, aku mencintaimu Gale.
Sangat sangat mencintaimu, maafkan aku."
Gale langsung mengecup lembut
keningku, "Aku juga sangat mencintaimu, Dhee."
"Gale, aku tetap harus membawamu ke rumah sakit."
"Tidak, ini hanya luka kecil. Aku ingin pulang ke rumah saja dan di rawat oleh kekasihku."
"Aku belum bilang bahwa aku
mau jadi kekasihmu, Gale."
"Kau pasti mau karena kau
mencintaiku."
Wajahku memanas, "Berhenti
menggodaku, Gale. Ya Tuhan, kau sedang terluka Gale. Berhentilah menggodaku. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Aku membantu Gale berdiri,
ketika posisi kami sudah dalam keadaan berdiri tiba-tiba Gale menciumku.
Membuat tubuhku tersengat aliran listrik ribuan volt.
"Aku sangat mencintaimu, Dhee." Ucapnya lembut.
"Aku tahu bahwa kau sangat
mencintaiku, sekarang kau harus ke rumah sakit." Aku memapahnya menuju ke mobilku.
"Aku tidak perlu ke rumah sakit, aku akan sembuh asalkan kau ada di sampingku." Katanya dengan keras kepala.
"Berhenti merayuku, Gale. Aku
tidak akan termakan oleh rayuanmu itu." Aku mendengus kesal.
"Ayolah sayangku, cintaku,
belahan jiwaku, permata hatiku." Gale terus mengoceh mengeluarkan semua kata-kata rayuannya itu.
Aku menghentikan langkahku,
"Berhenti mengoceh atau aku akan meninggalkanmu disini!" Aku mengancam sambil memelototinya.
"Astaga mengapa kau masih saja bersikap galak kepadaku. Padahal aku ini sudah menjadi kekasihmu, Dhee."
Aku kembali melanjutkan
perjalanan sambil memapah Gale dan tidak mempedulikannya yang sedang sibuk mengoceh dan mengeluarkan semua jurus
rayuannya kepadaku. Sampai akhirnya ia diam dan memasang wajah yang kesal. Karena aku terus mengacuhkannya. Rasakan kau Gale, aku tertawa di dalam hati.
Akhirnya kami sampai di tempat parkir, setelah masuk ke dalam mobil dan
memasangkan sabuk pengaman untuk Gale aku sudah benar-benar tidak bisa menahan
tawaku melihat ekspresi wajahnya sekarang ini.
"Apa? Kau mentertawakanku?"
Gale melotot kepadaku.
"Kau sangat lucu sekali, Gale." jawabku sambil terus tertawa.
"Kau sangat tidak sopan, Dhee." Ucapnya sambil mendelikan matanya kepadaku.
Aku mendekatkan wajahku lalu
mencium bibirnya, "Aku mencintaimu, Gale."
bisikku kemudian.
Gale terdiam, sedangkan aku
langsung menyalakan mesin mobil dan langsung menuju ke rumah sakit.
Rabu, 13 November 2013
Love Doesn't Have To Hurt 3
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar