Rabu, 13 November 2013

Love Doesn't Have To Hurt 8

DHEE

Dua minggu telah berlalu sejak insiden itu. Saat ini aku sudah merasa sehat dan baik. Meskipun hatiku masih terasa sakit dan begitu terluka. Setiap kali meningingat Gale hatiku langsung terasa sakit. Entah mengapa aku langsung mengingat perbuatannya yang telah menyakiti hatiku.

Meskipun sakit, aku tetap tidak bisa memungkiri bahwa aku benar-benar sangat merindukannya. Aku merindukan sifatnya yang terkadang konyol. Membuatku kesal namun bisa membuatku tertawa dalam waktu yang bersamaan. Ingin rasanya aku pergi menemuinya untuk menghilangkan rasa rindu itu.

Namun Mom dan Dad melarangku untuk menemui Gale. Mom dan Dad memintaku untuk menjauhi Gale, karena menurut mereka Gale bukan pria yang baik dan tidak pantas untukku. Apalagi ia yang menyebabkan aku mengalami kecelakaan hingga koma selama beberapa hari.

Maka dari itu Mom dan Dad meminta sepupuku Daniel untuk mengawasiku. Jika akan pergi kemanapun aku harus di temani olehnya. Bisa di bayangkan bagaimana terkekangnya aku saat ini. Aku bisa merasa bebas jika sedang berada di kampus atau ketika sedang bersama kedua sahabatku Andara dan Lila.

Lila mengatakan bahwa kakaknya yang tak lain adalah Gale kekasihku sudah dua minggu ini menghilang entah kemana. Asistennya saja tidak tahu ia pergi kemana. Ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Mendengar itu perasaan bersalah dan takut menelusup ke dalam hatiku. Apakah Gale sudah menyerah untuk mempertahankan hubungan kami karena tekanan yang di berikan oleh Mom, Dad dan Daniel?

Tidak, itu tidak boleh terjadi. Karena sampai kapan pun juga aku tetap mencintai Gale. Tak peduli jika ia telah menyakitiku baik secara langsung maupun tidak langsung. Hatiku sudah terlanjur jatuh ke dalam genggamannya.

Ya Tuhan, bagaimana jika Gale benar-benar sudah meninggalkanku? Apa yang harus aku lakukan tanpanya? Aku belum sanggup untuk menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya, Tuhan.

Seharian itu aku benar-benar merasa sangat gelisah. Pikiranku selalu tertuju kepada Gale. Karena ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Memberi kabar pun tidak, dan Lila sudah menyerah untuk mencari tahu di mana keberadaan kakaknya itu.

"Apa yang sedang kau lakukan? Kau terlihat sangat gelisah sekali, Dhee." Tiba-tiba Daniel muncul dan duduk di kursi.

"Aku hanya bosan, Dan. Setiap hari tempat yang aku datangi hanya kampus lalu kembali lagi ke rumah. Benar-benar membosankan, aku benar-benar merasa terkekang sekarang." Jelasku dengan kesal.

"Semua ini demi kebaikanmu, Dhee." Ucap Daniel sambil membolak balik majalah yang di ambilnya dari atas meja.

"Kebaikan? Jangan konyol Daniel, ini untuk kebaikan Mom dan Dad bukan untukku. Mereka tidak mempedulikan perasaanku seperti apa." Ungkapku dengan kesal.

"Mereka tahu mana yang terbaik untukmu, Dhee. Dan mereka juga tahu bahwa Gale bukan pria yang baik." Jawab Daniel yang masih asyik dengan majalahnya.

"Jangan coba-coba menasehati atau mengguruiku, Daniel.  Bahkan kau tidak benar-benar kenal dan tahu Gale itu seperti apa. Jangan mencampuri urusanku, kau mengerti?" Cecarku sambil berkacak pinggang.

"Aku melakukan ini karena aku menyayangimu seperti adikku, Dhee." Elaknya sambil berdiri dari posisinya.

"Jangan mengaturku, Dan." Bentakku sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjukku.

Setelah itu aku bergegas masuk ke dalam rumah dan  pergi meninggalkan taman. Aku langsung mengambil kunci mobil milikku dan pergi. Terserah jika Mom dan Dad akan memarahiku nanti, aku tak peduli. Yang aku butuhkan saat ini adalah tempat yang sepi. Aku butuh suatu tempat yang bisa membuat pikiranku jadi tenang dan jernih.

Aku melajukan mobilku menuju ke pantai. Setelah memarkirkan mobil aku turun dan menyusuri pantai itu sambil bertelanjang kaki. Sebuah batu karang yang berada di salah satu sisi pantai ini adalah tempat favoritku untuk melarikan diri.

Namun ketika sedang menuju ke sana mataku menangkap pemandangan yang kembali membuat hatiku terasa sakit dan teriris-iris. Ingin rasanya aku mengelak dan mengatakan bahwa apa yang aku lihat saat ini hanyalah mimpi buruk. Tapi tidak, ini bukan mimpi, ini kenyataan.

Karena lagi-lagi aku melihat Gale pria yang paling aku cintai sedang bercumbu dengan seorang wanita. Sepertinya Gale memang telah melupakanku. Gale menyerah dalam mempertahankan hubungan kami ini. Dan tanpa di sadari bulir-bulir air mata telah jatuh membasahi pipiku.

Aku bergegas segera meninggalkan tempat itu sebelum Gale nyadari kehadiranku. Sambil berlari aku menuju ke mobilku dan segera memacunya keluar dari area pantai. Entah kemana tujuanku kali ini. Pikiranku benar-benar sangat kacau. Luka di hatiku belum sempat sembuh, tapi Gale kembali menorehkan luka baru di hatiku. Sehingga memar di hatiku bertambah parah.

Ya Tuhan, mengapa Gale tega berbuat seperti ini? Tak cukupkah ia telah menyakitiku waktu itu? Mengapa ia tidak jera sedikitpun?

I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did, I did
And you were strong and I was not
My illusion, my mistake
I was careless, I forgot
I did
And now when all is done
There is nothing to say
You have gone and so effortlessly
You have won
You can go ahead tell them
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Falling out of love is hard
Falling for betrayal is worse
Broken trust and broken hearts
I know, I know
Thinking all you need is there
Building faith on love and words
Empty promises will wear
I know, I know
And now when all is gone
There is nothing to say
And if you're done with embarrassing me
On your own you can go ahead tell them
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible!
Ooh impossible (yeah yeah)
I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did...

(Shontelle - Impossible)

Sudah satu minggu sejak kejadian di pantai itu.  Aku merasa sangat kacau, seperti orang yang kehilangan arah hidupnya. Luka yang di torehkan oleh Gale lebih menyakitkan daripada luka yang pernah di torehkan oleh Adam.

Membuatku menjadi seseorang yang lain. Bukan Dheandra yang dulu ceria dan selalu tersenyum. Saat ini aku menjadi seseorang yang amat pendiam dan tertutup. Aku tak mau peduli lagi dengan keadaan sekitarku lagi.

Seberapa keras usaha Andara dan Lila untuk membuatku mau mendengarkan mereka sudah tak mempan. Terkadang aku merasa bersalah, karena tak jarang Andara dan Lila menjadi sasaran kemarahanku. Apalagi Lila yang merupakan adik dari Gale. Mendengar nama Gale membuat emosiku memuncak dan tak terkendali. Bahkan tak jarang aku memberikan tatapan penuh amarah kepada kepada Lila. Sehingga Lila jadi jarang berasamaku dan Andara.

Karena Gale menyakitiku di saat aku sudah benar-benar yakin dan percaya bahwa hanya akan ada dia seorang di dalam hidupku. Ketika aku memutuskan akan menjadikan Gale sebagai masa depanku. Namun apa yang terjadi? Ia malah menyakitiku, membunuhku secara perlahan.

Gale... Tak tahukah kau bahwa aku tersiksa disini? Mengapa kau tega melakukan semua ini kepadaku Gale? Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, karena kaulah sang pemilik hatiku.

Siang itu aku sedang duduk termenung di sebuah kursi yang berada di bawah sebuah pohon, tepatnya di taman yang berada di kampusku. Aku memejamkan mataku sambil bersandar. Saat ini aku sedang berusaha untuk meredakan sakit yang mendera kepalaku sejak semalam. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara Lila memanggilku.

"Dhee... Aku mau minta maaf atas semua kesalahan yang sudah di perbuat oleh Kak Gale. Setelah merenung akhirnya aku benar-benar bisa memahami apa yang sedang kau rasakan saat ini..." ucapnya, namun aku hanya memandangnya dengan tanpa minat, "... Aku juga mengerti mengapa kau jadi bersikap seperti ini kepadaku, karena aku adalah adik kandung dari pria yang telah menyakitimu." Lila berhenti dan tertawa getir, "Aku terima jika kau tak mau menjadi sahabatku lagi. Terima kasih untuk semuanya Dhee dan maaf juga untuk semuanya." Jelas Lila dan  mengakhiri perkataannya dengan menghembuskan nafas panjang. Bisa aku lihat matanya yang berkaca-kaca menahan tangis. Namun anehnya aku tak bergeming, rasanya hatiku sudah beku.

Dan belum sempat aku menjawab, Lila sudah pergi dari hadapanku. Aku hanya bisa memandangi sosoknya yang semakin lama semakin tak terlihat dan akhirnya benar-benar menghilang dari pandanganku.

Bagus sekali Dhee, setelah kau kehilangan kekasihmu sekarang kau kehilangan salah satu sahabatmu. Baiklah, siapa lagi yang akan pergi meninggalkanku sekarang? Meninggalkanku sendiri dalam keterputukan seperti ini. Yang entah sampai kapan aku bisa tetap bertahan menghadapi semua ini. Menangispun aku sudah tak mampu. Air mataku sepertinya sudah habis. Aku hanya bisa terdiam mematung seperti mayat hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar