Sabtu, 14 September 2013

Try With Me Chapter 4

JAMES

"James, sekali lagi terima kasih." Aku hanya mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamar.

Aku keluar sambil mengepalkan tangan kuat-kuat karena menahan amarah yang tiba-tiba saja memenuhi dadaku. Lalu aku mengambil ponselku dan segera menghubungi seseorang.

"Andres ini aku. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Ya, ini tentang pria yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah sarapan kami tadi, aku ingin kau menyelidikinya... Baiklah aku tunggu." Lalu aku memutus sambungannya.

Dengan kesal aku menghempaskan tubuhku di atas sofa. Alex, ada hubungan apa kau sebenarnya dengan Hanna? Mengapa setelah bertemu dengam pria itu Hanna jadi pendiam? Jika pria itu muncul untuk menjadi pengganggu di dalam pernikahanku, itu takkan kubiarkan. Kau akan tahu siapa sebenarnya Adrian James Arthur.

Berkali-kali aku menghembuskan nafasku untuk menggurangi perasaan sesak yang aku rasakan. Entah mengapa aku merasa seperti ini. Tak rela jika ada pria lain yang mendekati Hanna. Apa yang sudah kau lakukan kepadaku Hanna? Mengapa kau membuatku kehilangan seluruh kontrol diriku?

Untuk waktu yang beberapa lama aku hanya duduk di sofa sambil memindah-mindah saluran televisi namun tak ada satupun yang acara yang menarik.

Aku mendengar suara pintu kamar terbuka. Hanna keluar dengan kedua mata yang sembab. Sepertinya ia menangis sedari tadi.

"Cepat makan makananmu, Hanna. Nanti siang kita akan segera pergi." Ucapku sambil mengalihkan kembali pandanganku ke arah televisi.

"Apa kau sudah makan juga?" Jawabnya sambil duduk di sampingku.

"Aku sudah makan. Cepatlah makan setelah itu kita bersiap-siap pergi." Lanjutku masih menatap televisi.

"Kita mau pergi kemana?" Tanyanya.

"Aku takkan memberitahumu..." Aku berkata sambil menatap lekat wajahnya, "... istriku." Sedetik kemudian wajahnya itu langsung memerah.

"Kalau begitu aku akan makan dan bersiap-siap." Ucapnya dengan terburu-buru lalu pergi meninggalkanku.

Selama menunggu Hanna selesai dengan kegiatannya Fred kembali menghubungiku. Ia berhasil mendapatkan data-data milik Alex. Ternyata ia berasal dari keluarga sainganku. Keluarga Grey salah satu keluarga kaya raya namun tak banyak orang yang tahun bahwa keluarga Grey itu merupakan keluarga mafia yang tak terjamah oleh hukum. Rupanya Alexander Grey yang selama ini menghilang dan tak pernah terekspose akhirnya menampakkan dirinya. Tapi mengapa ia harus memiliki hubungan dengan Hanna istriku? Astaga belum empat puluh delapan jam aku menikah dengannya tapi aku sudah menganggap bahwa Hanna istriku, ada apa denganmu James? Tapi tunggu Hanna memang istriku bukan, jadi apapun yang terjadi aku harus tetap melindunginya.

Yang jadi pertanyaanku sekarang adalah apakah Hanna tahu bahwa Alex itu seorang yang brengsek sama sepertiku dulu? Dulu aku memang brengsek tapi sekarang aku tidak seperti itu lagi. Namun jika Hanna tidak tahu siapa Alex yang sebenarnya aku harus membuat Hanna membuka matanya lebar-lebar agar dia bisa melihat seperti apa Alex yang sebenarnya.

Aku tak boleh lengah mengawasi Hanna. Karena aku belum tahu apa yang sedang di rencakan oleh Alex. Apalagi sepertinya Alex belum menyadari siapa aku yang sebenarnya. Tenang saja Hanna, aku akan segera melepaskanmu dari belenggu seorang Alexander Grey.

"James, apakah kau baik-baik saja?" Suara yang lembut itu mengembalikanku dari pikiran-pikiran di dalam kepalaku.

"Kau rupanya, apakah kau sudah siap?" Tanyaku menutupi keterkagetanku.

"Aku sudah siap, aku sangat penasaran sekali kau akan membawaku kemana." Jawabnya ceria dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Dan membuatnya semakin terlihat lebih cantik. Membuatku tanpa sadar ikut tersenyum. Kau sudah gila James.

"Aku tetap tak akan mengatakannya kepadamu." Tukasku sambil tersenyum jahil.

"Ayolah, katakan kepadaku kita akan pergi kemana." Rajuknya sambil mengerucutkan bibirnya. Membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan sekali. Rasanya aku ingin sekali melumat bibir itu. Tidak. Tidak. Tidak, astaga otakku benar-benar sudah kacau semenjak bertemu dengan Hanna.

Let me know the words inside you, say I do
Tell me it's love it's all I want to hear you say
That we're in love, that you're always gonna feel this way
No matter what, no matter when
You know I'd do it all again
Tell me it's love
Say I'm the one

When it's easier to walk away
Are you strong enough to turn the page
Do you know how to begin again
Would you let me in
I'd get through anything I had to if I've got you

(Westlise - Tell Me It's Love)

"James..." sepanjang perjalanan Hanna terus menerus merajuk. Karena aku tetap tidak mau memberitahunya kemana tujuan kami akan pergi kali ini.

"Tidak sayang, jika aku mengatakannya bukan kejutan namanya." Aku tetap bersikukuh dengan kata-kataku. Diam-diam.aku tersenyum.

Sepertinya apa yang aku rencanakan akan berjalan dengan lancar. Karena yang di lakukan oleh Hanna saat ini adalah berusaha merayuku agar mengatakan kemana aku akan membawanya. Dan aku yakin sekali Hanna sudah lupa dengan pertemuannya dengan Alex tadi pagi dan sempat membuatnya menangis.

"Mengapa kau malah tersenyum seperti orang bodoh begitu? Senang melihatku kesal karena penasaran, huh?" Sebur Hanna sambil mendesis marah kepadaku.
"Aku tidak tersenyum, sungguh." Jawabku sambil berusaha menahan tawaku dan memasan kembali topeng berwajah dinginku.

Hanna berkacang pinggang sambil mendelik marah kepadaku, "Mr. Arthur kau masih saja berkelit dan tidak mau mengaku. Jelas-jelas aku lihat kau tersenyum seperti orang bodoh."

"Aku tidak mentertawakan atau mengejekmu Mrs. Arthur." Timpalku sambil meliriknya sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.

"Huh!" Hanna mendengus kesal kepadaku. Dan sisa perjalanan itu ia terus menekuk wajahnya.

Setelah menepuh perjalanan beberapa menit akhirnya kami sampai di bandara dan segera menuju ke jalur penerbangan khusus pesawat jet pribadi. Lagi-lagi Hanna mengernyitkan keningnya sambil mengerucutkan bibirnya yang sangat menggoda dan menggemaskan itu.

"Apa kita akan pergi dengan benda ini?" Tanyanya sambil menaiki tangga menuju pintu masuk pesawat.

"Ya, Mrs. Arthur. Kita akan pergi menggunakan benda ini." Jawabku berusaha dengan nada datar. Dan hanya di tanggapi "oh" olehnya.

Setelah berada di dalam pesawat Hanna tidak bertanya apa-apa lagi. Ia terlihat asyik memperhatikan setiap sudut pesawat. Aku sudah mengganti semua dekorasi di dalam pesawatku sebelum menikah dengan Hanna. Karena aku ingin Hanna menyukainya.

"Apakah kau suka?" Tanyaku menginyerupsi pikirannya.

"Ya, ini indah sekali." Jawabnya masih mengedarkan pandangannya keseluruh bagian tempat penumpang di pesawat.

"Karena aku telah mengganti semua dekorasi pesawat ini sebelum kita menikah. Aku senang kau menyukainya." Jawabku sambil menatap wajahnya.

Hanna langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. Dahinya mengernyit dan wajahnya terlihat bersemu merah, "Aku merasa tersanjung mendengar perkataanku Mr. Arthur. Tapi, kau jangan terlalu berlebihan." Jelasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tak perlu semua ini James, sungguh." Ucapnya tulus.

"Aku melakukannya karena aku sanggup, Hanna." Jawabku sambil menatap lekat matanya. Lagi-lagi Hanna menghembuskan nafasnya.

"Terserah kau saja, James. Aku mau tidur saja." Jawabnya malas sambil mengatur kursi penumpang agar lebih nyaman di pakai untuk beristirahat. Lalu ia mengambil sebuah penutup mata dan selembar selimut yang tebal. Setelah menggunakan kedua benda itu, Hanna langsung berbaring sambil mengangkat kedua kakinya. Dan beberapa menit kemudian aku bisa mendengar nafasnya yang mulai teratur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar