Hari itu aku sedang termenung di meja kerjaku sambil mengetuk-ngetukan jariku di atas meja. Pikiranku menerawang jauh...
"Demi Tuhan, jangan tinggalkan aku, Dave" ucapku sambil menggenggam erat tanggan pria yang sangat aku cintai sambil. menangis.
"Li-Li..La..." Jawabnya terbata-bata, berusaha untuk mengeluarkan suaranya dengan susah payah.
"Stop, jangan bicara lagi. Aku... Aku akan segera memanggil dokter." Dengan tergesa, namun ketika aku hendak berdiri Dave menahan tanganku.
"Sayang, ja-nga-n per-gi a-a-aku bu-tuh ka-mu disini."
"Tapi... Tapi..." Dave memotong ucapanku.
Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Aku bu-tuh ka-mu sa-yang."
"Kau butuh dokter, Dave." Air mataku jatuh semakin tak terbendung, "Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu." Aku meletakan telapak tangannya dipipiku.
"Tidak sayang, aku tidak butuh dokter. Kau yang aku butuhkan saat ini." Ia membelai wajahku dengan tatapannya yang sendu.
"Dave..."
"Berjanjilah padaku, Lila." Ucapnya tiba-tiba.
Tubuhku langsung menegang mendengar ucapannya yang tiba-tiba seperti itu, "Apa maksudmu, Dave?"
"Berjanjilah, sayang." Ucapnya dengan suara yang semakin melemah, namun senyum itu kembali tersungging dibibirnya yang tipis itu.
Aku terdiam, mataku menatap tajam matanya.
"Jika aku pergi, aku ingin kau melepasku sambil tersenyum."
"Dave..." Suaraku tercekat mendengar ucapannya.
"Kumohon, berjanjilah. Demi aku." Pintanya sambil membelai wajahku dengan perlahan.
"Tidak Dave, jangan berkata seperti itu. Tidak."
"Lila, kumohon. Berjanjilah, aku tahu kau bisa, karena kau adalah wanita terkuat yang pernah hadir dalam hidupku."
Ya Tuhan, mengapa aku merasa ketakukan karena akan segera kehilangan Dave, belahan jiwaku. Tuhan tolong panjangkan umurnya, aku takkan sanggup hidup tanpanya, doaku dalam hati.
"Berhentilah menangis..." Tangannya menghapus air mata yang sudah jatuh tak terbendung lagi dipipiku, "Sekarang berjanji dan tersenyumlah untukku."
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Berusaha melepaskan semua perasaan sakit yang menghimpitku hingga aku merasa sulit untuk bernafas.
"Iya Dave, aku...aku berjanji." Dengan susah payah aku menyunggingkan senyum dibibirku.
"Kau terlihat sangat cantik jika tersenyum, Lila." Ucapnya sambil terus menciumi tanganku.
"Aku mencintaimu, Dave." Lalu aku mencium bibirnya yang sangat pucat itu dengan begitu lembut dan sepenuh hatiku.
Perlahan aku melepaskan ciumannya, sedangkan Dave terpejam sambil tersenyum. Aku tak bisa mendengar dan merasakan kembali desahan nafasnya.
Ya, akhirnya Dave tertidur. Pada akhirnya Dave menyerah pada sakit yang selama bertahun-tahun menggerogoti tubuhnya.
"Tidurlah sayang, sekarang kau takkan merasakan sakit lagi. Aku mencintaimu Dave." Suaraku bergetar menahan air mata. "Selamat jalan sayang." Aku mengecup bibirnya untuk yang terakhir kalinya. Lalu memutuskan untuk memanggul dokter.
Sore harinya Dave langsung dimakamkan. Pertahanan yang mulai kubangun sejak Dave menghembuskan nafas terakhirnya pada akhirnya runtuh.
Aku menangis histeris ketika tubuh Dave sudah selesai dikebumikan. Aku menangis sambil memeluk batu nisan. Hatiku hancur bekeping-keping.
Sejak saat itu hidupku terasa hampa dan kosong. Hatiku menjad sedingin es dan sekeras batu karang. Menjadikanku sosok yang amat pendiam dan tertutup.
Hingga pada suatu hari aku bertemu dengan Zachary Alexander. Pria tampan yang menjadi rebutan semua wanita di universitas tempatku berkuliah.
Zac memang memiliki ketampanan yang luar biasa. Senyumnya bisa membuat para wanita pingsan dan tatapan tajam dari matanya yang berwarna abu-abu itu mampu menghipnotis orang yang memandangnya.
Merasa beruntung dan tersanjung bahwa Zac mau berteman dan akhirnya bersahabat denganku. Seiring dengan waktu yang berjalan tanpa disadari Zac berhasil menembus benteng pertahanan yang kubangun.
Getaran itu mulai muncul dan aku bisa merasakannya kembali. Sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengakui semua rasa itu. Aku berusaha untuk menyembunyikan perasaan ini dari Zac dan semua orang.
Menjadi sahabatnya saja sudah cukup dan membuatku bahagia. Namun semakin lama aku menjadi semakin terikat dengannya. Membuatku tak bisa menjauh.
Dan perasaan itu semakin tumbuh dan bersemi didalam hatiku. Hingga membuatku merasa kelelahan menahan dan memendan semua perasaan ini.
Sebuah teguran yang halus namun tegas membuyarkan semua lamunanku. Dan memaksaku kembali ke dunia nyata. Dan ketika mengedipkan mata tiba-tiba saja air mataku jatuh membasahi lenganku.
"Apakah kau baik-baik saja Lila?" Fabian yang merupakan atasanku menegur.
"Ahh, maafkan saya Pak." Jawabku tergugup sambil buru-buru menghapus air mataku.
"Yakin kau tidak apa-apa? Kau menangis?" Tanyanya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Saya baik-baik saja, Sir. Tadi ada sesuatu yang masuk ke dalam mata saya." Jawabku sambil tersenyum konyol berusaha untuk mengalihkannya.
"Oh, aku pikir kau sakit. Kau tidak pergi makan siang? Ini sudah waktunya untuk makan siang."
"Tidak, Sir karena ada dokumen yang harus saya selesaikan untuk meeting nanti."
"Ah, aku hampir saja lupa dengan meeting yang membosankan itu. Aku akan kembali ke ruanganku."
Fabian melangkah meninggalkan mejaku dan menuju ke ruangannya.
Aku menghela nafas lega, karena Fabian tidak bertanya macam-macam kepadaku.
Aku mendongkakan kepalaku menatap langit-langit kantor tempatku bekerja.
"Kenangan itu lagi. Dave sedang apa kau disana? Aku sangat merindukanmu. Tuhan mengapa cinta sangat menyakitkan? Jika tahu rasanya seperti ini aku memilih untuk tak merasakannya." Menghela nafas dan aku kembali fokus dengan pekerjaan yang ada didepanku.
***
"Lila... Lila... Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan selama ini? Entah untuk keberapa kalinya aku melihatmu seperti ini?" Fabian yang sudah kembali ke ruangannya itu langsung duduk dimejanya sambil menopang dagu.
Fabian Adrianno, muda, tampan dan kaya raya. Di usianya yang masih muda Fabian berhasil memimpin kerajaan bisnis milik keluarganya.
Fabian sosok pria yang menjadi idaman para wanita. Sayangnya Fabian ini bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Namun jika dia sudah jatuh cinta dan sayang pada seorang wanita. Maka hanya wanita itulah yang akan ada dimatanya.
Fabian akan berusaha untuk membahagiakan wanitanya dan takkan membuat wanitanya menangis dan terluka. Fabian memang dingin terhadap wanita dan sangat pemilih.
Namun semua itu berubah ketika Lila bergabung di perusahaannya. Ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya penasaran.
Fabian mengakui bahwa Lila memiliki wajah yang cantik. Senyumannya selalu bisa membuatnya merasa damai dan teduh. Tapi tidak dengan sorot matanya.
Mata yang indah itu menyimpan begitu banyak misteri. Fabian bisa melihat ada kesedihan yang teramat dalam di sana. Itulah yang saat ini sedang dia selidiki.
Lila berhasil membuatnya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Membuatnya gelisah. Perasaan ingin melindunginya teramat besar. Penampilan Lila memang terlihat kuat, namun cahaya dimata yang indah itu mencerminkan kerapuhannya.
"Kyla Carolinne Rose Adam, apa yang harus aku lakukan agar kau mau membuka diri dan hatimu untukku?"
Suara ketukan dip intu langsung menginterupsi lamunannya. "Ya, masuk." Ternyata Lila datang untuk menyerahkan dokumennya.
"Maaf, Sir ini dokumen yang anda minta." Lila menyimpan map berwarna hitam itu di atas meja.
"Terima kasih Lila. Apakah persiapan untuk meeting sudah siap?" Sebisa mungkin aku mengulur waktu agar aku bisa lebih lama memandangi wajah Lila.
"Semuanya sudah siap, Sir. Para dewan direksi juga sudah siap untuk meeting. Ada lagi yang bisa saya kerjakan, Sir?"
Aku berpikir sambil terus memandangi Lila yang ternyata mulai risih aku pandangi seperti itu. Aku menaikan sebelah alisku karena aku mendapatkan ide untuk berdekatan dengan Lila lebih lama.
"Sir...?" Tanyanya dengan suara yang bisa membuatku melayang.
"Maaf, kau temani aku meeting hari ini." Ucapku cepat sambil berdiri.
"Tapi, Sir..." Bantahnya.
"Jangan membantah Lila."
"Ma-maafkan saya, Sir." Ia meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Ayo kita keruang meeting sekarang." Ucapku sambil memberikan dokumen yang tadi dikerjakannya.
Dengan kikuk Lila akhirnya berjalan mengikutiku menuju ruang meeting. Aku tersenyum dalam hati.
Mungkin aku belum bisa menyentuh hatimu, tapi aku takkan pernah menyerah untuk mendapatkanmu Lila. Suatu hari nanti. Aku yakin.
Jumat, 20 September 2013
Can You Be Mine Chapter 2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar