"Lila, tunggu..."
Aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik ke arah sumber suara yang memanggilku.
Aku mengerutkan keningku ketika mengetahui siapa yang memanggilku, "Zac? Ada apa kau memanggilku?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam. Apakah kau bisa?"
"Tentu saja, Zac. Katakan tempat dan jam berapa aku harus tiba di sana?"
"Tidak,aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Karena Mama dan Papa akan ikut makan malam juga."
"Baiklah, aku akan menunggumu pukul tujuh malam tepat."
"Bagus kalau begitu."
"Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa nanti malam, Zac."
Aku bergegas menuju ke mobilku. Didalam mobil aku menyalakan musik kesukaanku. Aku teringat oleh ajakan Zac tadi.
Selalu saja mengajakku keluar untuk menemui kedua orang tuanya. Sampai kapan aku harus mengikuti permainannya dan terus menerus menjadi "kekasih"nya.
Semua orang mengira bahwa aku dan Zac adalah pasangan yang serasi. Tapi jika mereka bisa lebih peka aku yakin bahwa mereka akan menemukan keganjilab diantara kami berdua.
Aku dan Zac sudah sangat lama sekali saling mengenal. Kami bertemu ketika kami masih dibangku kuliah. Zac sangat tampan, banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarnya.
Selama itu pula perasaanku terhadap Zac muncul. Ya, aku mencintainya dan sudah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini. Dan selama itu pula Zac tidak pernah menyadarinya. Zac hanya menganggapku sebagai sahabatnya saja.
Jika saat ini kami terlihat semakin dekat karena Zac meminta bantuanku untuk menjadi kekasih pura-puranya. Karena kedua orang tuanya ingin menjodohkan Zac dengan wanita pilihan mereka. Setelah kedua orang tuanya menolak untuk menerima Gissel yang sampai saat ini masih menjadi kekasih Zac.
Akhirnya aku mengiyakan permintaannya. Dan seperti inilah aku saat ini, terjebak. Hatiku semakin sakit karena setiap Zac dan Gissel pergi kencan Zac pasti akan mengajakku. Agar kedua orang tuanya percaya bahwa aku memang pergi bersama Zac. Tameng, itulah fungsiku untuk Zac.
Demi Tuhan, tak bisakah kau menyadari bahwa aku mencintaimu sudah sejak lama Zac. Ingin rasanya aku mengungkapkannya namun aku selalu menelan kembali kata-kataku itu.
Perasaan dan situasi seperti ini benar-benar sangat menyiksaku. Aku benar-benar sudah tidak sanggup untuk menjalaninya lebih lama lagi.
***
Tepat jam tujuh malam Zac menjemputku. Malam itu aku menggunakan gaun berwarna putih selutut dengan model bustier. Sehingga bahu dan leher jenjangku benar-benar terekpose. Aku tidak pernah berpenampilan seperti ini sebelumnya.
"Hai Zac."
Mata Zac membulat sempurna melihat penampilanku malam itu, dia memandangiku dari atas hingga ujung kaki, "Lila, kau... kau..."
"Ayo kita berangkat sekarang, Zac. Atau kita akan terlambat."
"Ah, baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekarang."
Akhirnya kami berdua pergi menuju restoran. Selama perjalanan Zac tak henti-hentinya memandangiku. Ekspresinya seperti sedang berpikir, entahlah aku tak ingin terus-terusan memperhatikan wajah tampannya itu.
Kami sampai disebuah restoran Italia yang mewah. Lalu kami segera menuju ke meja tempat orang tua Zac berada. Setelah saling menyapa dan mengobrol sedikit kami langsung makan.
Tak ada hal yang penting pada pertemuan kali ini. Hanya makan malam biasa saja. Setelah selesai Zac mengantarkanku pulang. Malam itu berakhir begitu saja seperti biasanya. Tanpa ada sesuatu yang spesial.
***
Dan aku kembali menjalani rutinitasku seperti biasa. Zac tak pernah menemuiku dikantor karena Zac datang jika dia membutuhkanku.
Karena Zac hanya menganggapku sebagai teman lamanya saja. Tidak lebih. Perasaannya terhadapku sejak dulu sampai sekarang tetap sama, tak ada perubahan sama sekali.
Jumat, 20 September 2013
Can You Be Mine Chapter 1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar