SYDNEYA
Aku mencintaimu, kau mencintai sahabatku, tapi sahabatku mencintai kekasihku dan kekasihku mencintaiku. Benar-benar membingungkan bukan.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku akan terlibat dalam sebuah hubungan yang rumit seperti ini. Sangat rumit seperti benang yang kusut dan entah kapan benang itu bisa terurai menjadi benang yang rapi. Ataukah benang ini akan selamanya kusut? Begitupun juga dengan kisah cinta yang aku alami saat ini. Begitu rumit. Begitu memusingkan. Begitu menguras tenaga, hati dan pikiran.
Semuanya berawal ketika aku dan sahabatku Parrish memasuki bangku sekolah menengah atas. Pada suatu hari yang panas aku tetap nekat berlatih bermain bola basket di tengah lapangan sekolah setelah jam belajar berakhir.
Meskipun jam belajar telah berakhir banyak siswa yang masih melakukan berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Namun karena matahari sedang berada di puncak dan sangat terik, kebanyakan dari mereka memilih untuk duduk-duduk sambil mengobrol atau bersenda gurau di tempat yang teduh. Berbagai macam benda mereka gunakan untuk menjadi kipas dan berharap akan mendapatkan sedikit angin dari hasil kipasannya tersebut.
"Woy Sydneya Andreanna, ngapain panas-panas begini di tengah lapangan?" Teriakan sahabatku tersayang itu langsung menginterupsi kegiatanku yang sedang asyik men-dribble bola basket.
Dengan ogah-ogahan akhirnya aku menghampiri Parrish sahabatku tercinta. "Apaan sih Rish, mengganggu kesenangan orang aja." Rutukku.
"Pulang yuk, panas nih. Lagian bukannya kita mesti ngerjain tugas kelompok dari Miss Fanny dan itu harus dikumpulkan besok." Jelasnya sambil menghentak-hentakan kakinya dengan gemas.
"Astaga, aku hampir saja lupa. Mau mengerjakannya di rumah siapa?" Tanyaku sambil sibuk memasukkan handuk kecil yang biasa aku bawa dan aku pakai jika aku melap keringat yang muncul setelah berlatih basket.
"Bagaimana jika di rumahmu saja, Syd. Rumahmu tidak begitu jauh dari sekolah." Timpalnya sambil mengedip-ngedipkan mata dengan genitnya.
"Oke, ayo kita berangkat sekarang." Ucapku sambil memutar-mutar bola basket yang sedang aku pegang.
Lalu aku dan Parrish berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah menuju keluar. Di dalam perjalanan aku bertemu dengan Adam, teman sekelas kami yang dengan terang-terangan mengejarku. Sebenarnya Adam cowok yang tampan hanya saja sifatnya yang petitilan dan agak agresif membuatku jengah.
Lagipula aku menyukai cowok lain. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali masuk ke sekolah ini. Kami sama-sama murid baru. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengannya aku langsung merasakan perasaan yang lain. Berada di sekitarnya membuatku merasa nyaman. Meskipun aku tidak berada di dekatnya dalam artian yang sebenarnya.
Aku terlalu takut dan malu untuk berada di dekatnya. Ethan terlalu sulit untuk kugapai. Ia selalu bersikap dingin kepadaku. Tak pernah sekalipun ia memandangku jika kami secara tidak sengaja bertemu pandang. Ethan akan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hai Sydneya, kamu mau pulang?" Tanya Adam dengan kerlingan matanya yang genit itu.
"Perlu aku jawab?" Aku balik bertanya dengan nada yang tipis.
"Ayolah, mau sampai kapan kamu mengacuhkanku? Kamu tahu bahwa aku suka kamu sejak lama. Dan sebentar lagi kita akan segera lulus." Cerocos Adam sambil terus mengikuti langkah aku dan Parrish.
Kalian tahu Parrish yang sedari tadi berada di sampingku terus menekuk wajahnya. Karena Parrish-lah yang sebenarnya menyukai Adam. Dan Parrish pun tahu bahwa aku menyukai Ethan.
Adam... Adam ingin rasanya aku mengatakan bahwa Parrish menyukaimu. Tapi entah mengapa tiba-tiba bibirku langsung terkatup rapat tiap kali ingin mengatakan hal itu. Aku menghembuskan nafas pelan, berusaha memperbaiki mood-ku yang hancur lebur karena Adam.
"Sydneya, mengapa diam saja? Kasih aku jawaban?" Suara Adam yang kembali terdengar langsung membuatku berhenti melangkah dan berbalik menghadapnya.
"Bisa nggak sih kamu berhenti gangguin aku, Dam? Sudah aku bilang berkali-kali aku nggak suka sama kamu." Hardikku sambil memutar mataku kepadanya.
"Kasih aku kesempatan, Syd. Kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku benar-benar cinta sama kamu dan aku bisa bikin kamu cinta sama aku." Ucapnya sungguh-sungguh. Tak terlihat lagi ekspresi wajahnya yang selalu bercanda.
"Please Dam, kamu jangan jadi konyol begini." Ucapku dengan gusar karena aku bisa merasakan tatapan menusuk yang di berikan oleh Parrish di balik punggungku.
Parrish... Parrish... Please jangan marah sama aku. Kamu tahu sendiri siapa cowok yang aku suka. Kamu juga tahu bagaimana sikapku kepada Adam selama ini seperti apa. Aku berusaha bersikap acuh tapi Adam semakin gila mengejarku. Argh, kenapa cowok yang ditaksir sahabatku mesti naksir aku, sih???
Tiba-tiba Adam meraih tanganku ke dalam genggamannya lalu berlutut di hadapanku. "Ap-apa yang kamu lakukan, Adam?" Mataku membulat sempurna melihat Adam berlutut sambil menggenggam tanganku. Sedangkan Parrish sudah menghilang entah kemana. Ya Tuhan, bagaimana ini?
"Sydneya, di depan anak-anak yang masih ada di sini aku mau mereka jadi saksi kalau aku benar-benar cinta sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku untuk hari ini, besok dan selamanya." Ungkapnya sambil terus menggenggam tanganku.
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam sambil menggigiti bibir bawahku tanpa tahu harus berkata apa. Mengapa Adam malah nekat seperti ini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
"Sydneya... Kamu mau kan jadi pacar aku?" Suara Adam kembali terdengar.
"Aku... Aku nggak tahu harus jawab apa, Dam. Aku bingung sama perasaan aku sendiri ke kamu." Jawabku sambil meringis.
Adam menghela nafasnya, sepertinya ia berusaha menenangkan emosi yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. Entahlah, aku tidak begitu mengerti dengan makhluk yang namanya cowok.
"Aku kasih kamu waktu buat kasih jawabannya saat acara prom night nanti. Cukup kan waktu yang aku kasih? Dan aku berharap kamu kasih jawaban yang menyenangkan." Adam berkata sambil berdiri. Jarak wajah kami sangat dekat. Hembusan nafasnya menerpa wajahku. Membuat detak jantungku jadi nggak karuan. Rasa panaspun segera menjalari kedua pipiku. Astaga perasaan apa ini? Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta sama Adam.
Dan tiba-tiba... CUP... Sesuatu yang lembab, basah dan panas menyentuh keningku dengan lembut, membuat nafasku berhenti sesaat. Suara para siswa yang masih betah berada di sekolah langsung riuh melihat adegan barusan. Oh ya ampun, ini gawat.
"Apa yang kamu lakukan, Dam?" Hardikku sambil mendorong tubuhnya dengan keras, "Dengar sampai waktu yang kamu kasih ke aku belum habis kamu jangan berani-beraninya menggangguku. Atau aku akan memberikan jawaban yang paling menyakitkan kepadamu secepatnya." Lanjutku sambil menatapnya dengan sengit. Dasar Sydneya bodoh, kau sama saja sudah memberinya harapan, aku merutuki mulutku yang kadang sering berkata seenaknya dan tidak menuruti perintah yang di berikan oleh otakku.
"Baiklah, aku terima syarat yang kamu kasih. Yah, meskipun aku nggak bisa janji bisa jauh-jauh sama kamu. Aku pasti bakalan lakuin apapun demi kamu." Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Tanpa mengatakan apapun aku langsung berbalik meninggalkan Adam dan bergegas keluar dari lingkungan sekolah. Parrish tidak mau menerima panggilan telepon dariku.
Bahkan keesokkan harinya hingga kami selesai ujian akhir Parrish masih saja mengacuhkanku. Dia salah paham dan mengira aku sama Adam pacaran. Ketika prom night pun Parrish tidak menyapaku sama sekali.
Kalian mau tahu apa yang terjadi di acara itu? Parrish dan Ethan mengumumkan bahwa mereka berdua sudah resmi pacaran. Aku yang terlalu syok dan merasa telah di khianati oleh sahabat baikku sendiri memutuskan untuk pergi meninggalkan acara yang belum selesai. Bahkan aku mengabaikan Adam, ya aku tahu bahwa aku berjanji mau kasih jawaban dari permintaannya beberapa waktu yang lalu.
Tapi hati aku terlanjur sakit. Sepertinya Parrish sengaja berbuat seperti ini sama aku. Hanya karena cowok, persahabatan aku dan Parrish harus berakhir dengan cara yang menyakitkan.
Karena aku nggak mau terus-terusan sedih gara-gara kejadian itu, akhirnya aku mutusin buat ikut kakak laki-laki aku yang tinggal di Paris. Aku melanjutkan studiku di sana. Berkonsentrasi dengan kegiatan kuliahku yang memang cukup padat dan mulai melupakan tentang Parrish, Adam dan Ethan.
♥♥♥♥♥
Empat tahun kemudian aku kembali ke kota asalku. Aku memulai merintis perusahaan kecilku yang bergerak di bidang fashion dan di bantu oleh kakak perempuanku yang baru kembali dari Italia. Selama itu pula aku harus mendapatkan banyak kerja sama dengan perusahaan-perusahaan konveksi yang bagus.
Dari sekian banyak perusahaan konveksi mengapa hanya perusahaan milik Adam yang tertarik dan ingin menjalin kerja sama dengan perusahaanku. Apakah ini hanya sebuah kebetulan saja? Aku rasa tidak. Ini bukan kebetulan, melainkan jalan yang di kasih Tuhan.
Semenjak kedatanganku dari Paris aku belum pernah bertemu kembali dengan sahabatku itu. Aku tetap menganggapnya sebagai sahabatku meskipun ia kini telah membenciku. Kabar yang aku dapat dari Kak Aldri bahwa Parrish tidak seperti Parrish yang dulu. Aku tak mengerti mengapa kakakku berkata seperti itu. Karena setiap kali aku bertanya dan meminta penjelasan tentang Parrish kakak tidak pernah mau mengatakannya padaku. Dia malah mengatakan bahwa aku harus melihatnya sendiri.
Siang itu aku harus menemui Adam di sebuah restoran Perancis ternama. Sesampainya di sana seorang pelayan langsung mengantarkanku menuju ke sebuah private room yang berada di lantai dua.
Adam sudah menunggu di sana. Ia terlihat lebih tampan di bandingkan saat sekolah dulu. Dengan setelan jas yang mahal dan pas membungkus tubuhnya.
"Akhirnya kamu datang juga Sydneya Andreanna." Adam beranjak dari tempat duduknya untuk menyambutku. Ia menarik sebuah kursi lalu mempersilakan aku untuk duduk, "Silakan duduk." Lanjutnya lagi.
"Makasih, Dam." Jawabku singkat, lalu bergegas untuk duduk.
Aura kecangggungan langsung menyeruak diantara kami. Suatu situasi yang wajar. Mengingat kami sudah lama sekali tidak bertemu di tambah lagi dengan kejadian yang terjadi di antara kami berdua.
Bertahun-tahun aku berusaha menjauh dan melupakan rasa bersalahku. Tapi hari ini aku harus bertemu dengannya lagi.
"Apa kabar Sydneya? Lama nggak ketemu." Sapanya berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Baik, kamu sendiri?"
"As you see, aku baik." Jawabnya sambil mengedikkan bahu. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan. "Jadi apakah proposal yang aku minta sudah selesai?"
"Ah, tentu saja." Aku segera mengeluarkan map berwarna biru dari dalam tas kerjaku lalu memberikannya kepada Adam, "Ini, kamu bisa mempelajarinya sebelum kita berlanjut untuk membicarakan tentang kontrak kerja." Jelasku sambil memberikan map tersebut kepada Adam.
Ia mengambilnya lalu membaca isi dalam map itu dengan cepat. Karena pelayan datang membawakan pesanan, padahal aku belum pesan apapun. Aku hanya mengernyitkan keningku melihat berbagai jenis makanan yang di sajikan di depanku.
"Maaf aku sudah pesan makanan buat makan siang kita. Karena aku nggak tahu kamu biasa makan apa jadi aku pesan beberapa jenis makanan." Jawabnya sambil terkekeh.
"Lalu siapa yang mau menghabiskan semua ini? Aku nggak mau, Dam." Timpalku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Kamu harus menghabiskannya." Ucapnya sambil menopang dagu dengan tangannya.
Aku memberenggut kesal mendengar ucapan terakhirnya. Tanpa menanggapi ucapannya aku langsung menarik salah satu piring yang berisi steak lengkap dengan sayuran dan di siram oleh saus lada hitam. Terdengar suara kekehan dari orang yang sedang duduk di depanku.
Mengapa dia masih saja menyebalkan. Aku pikir beberapa tahun tidak bertemu makhluk di depanku ini sudah berubah. Ternyata masih tetap sama.
"Hey, mau sampai kapan kamu menontonku makan, huh?" Tegurku dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kamu lucu kalau lagi makan." Tukasnya sambil terkekeh geli.
"Kamu menyebalkan." Hardikku sambil memberikan tatapan sinisku.
"Oke oke, aku akan makan juga. Sebenarnya melihatmu makan seperti itu sudah buat aku kenyang." Godanya lagi.
"Berhenti berkelakuan menyebalkan seperti itu Adam. Atau aku akan melemparmu." Ancamku sambil mengacungkan garpu yang berada di tangan kiriku.
Kecanggungan diantara kamipun sirna. Karena pada akhirnya Adam kembali menunjukkan sifat aslinya.
"Jadi kamu langsung kabur ke Paris sehari setelah acara prom night?" Tubuhku menegang mendengar kata-katanya, "Kenapa kamu tiba-tiba menghilang saat acara belum selesai? Apa kamu sengaja mempermainkan aku, Sydneya?"
Topik pembicaraannya kali ini benar-benat membuatku kehilangan selera makan. "Setelah bertahun-tahun kamu masih ingat dengan janji konyol itu, Dam?" Tanyaku.
Ia mengangguk cepat dengan pasti, "Ya, buat aku itu nggak konyol. Aku serius, Syd."
"Kamu tahu, gara-gara kamu Parrish memusuhiku sejak kejadian kamu menyatakan cinta kepadaku lalu dengan seenaknya cium-cium kening aku tanpa permisi. Parrish cinta sama kamu, Dam. Itulah kenapa aku nggak bisa terima kamu, lagipula aku juga nggak cinta sama kamu." Suaraku mengecil ketika mengucapkan kata-kata terakhirku itu.
Adam meraih daguku dan menegakkan wajahku menghadapnya. "Kau mencintai Ethan? Apakah kau tahu bahwa Parrish dan Ethan..." Adam menggantung kata-kata terakhirnya.
"Aku tahu apa yang mau kamu bilang, Dam. Sudah-sudah, aku nggak mau bahas tentang ini lagi." Jawabku sambil menepis tangannya yang masih memegangi daguku.
Sejak pertemuan pertamaku dengan Adam, intensitas pertemuan kami semakin bertambah karena kerja sama yang terjalin di antara kami berdua. Tapi tetap saja Adam masih terus mengejarku dan berusaha untuk meyakinkanku untuk menerimanya jadi kekasihku.
Dan kedua kakakku tersayang sekarang ikut turun tangan untuk menjodohkanku dengan Adam. Benar-benar menyebalkan, mengapa mereka berdua tidak melakukan hal yang lebih berguna saja daripada menjodohkanku dengan Adam. Bahkan Mama dan Papa juga. Dan rencana mereka berdua berhasil. Entah apa yang Adam katakan kepada kedua orang tuaku dan kedua kakakku yang tidak ada kerjaan itu. Sampai-sampai mereka dengan mudahnya memberikan restu kepada Adam.
Seiring berjalannya waktu aku berusaha untuk menerima kehadiran Adam plus dengan sifatnya yang menyebalkan itu. Lagipula aku tidak mungkin terus menerus menghindarinya dan terus berangan-angan suatu hari akan bertemu dengan Ethan.
Untuk itu aku memutuskan untuk mencoba dan belajar mencintainya. Membuka hatiku untuknya, menerima semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Oke, bersikap manislah kepada kekasihmu mulai sekarang Sydney, tekadku dalam hati.
Setelah itu aku bergegas pergi meninggalkan ruanganku. Karena siang ini aku ada janji makan siang di sebuah restoran bersama Adam. Semoga saja aku tidak terlambat, pertemuan tadi benar-benar hampir saja membuatku melupakan janji makan siang ini bersama kekasihku. Ya, saat ini dan seterusnya Adam adalah kekasihku.
♥♥♥
PARRISH
Setelah bertahun-tahun menghilang akhirnya Sydneya yang dulu pernah menjadi sahabatku akhirnya menampakkan dirinya. Dan lagi-lagi aku harus mengakui bahwa Sydney semakin cantik sebagai seorang wanita yang semakin matang. Berbeda terbalik dengan dirinya saat ini.
Menerima pernyataan cinta dari Ethan beberapa tahun yang lalu adalah kesalahan besar. Wajah tampan yang di miliki Ethan ternyata tidak di miliki oleh hatinya. Ethan sangat posesif, apa yang aku lakukan harus meminta ijin terlebih dahulu kepadanya. Kebebasanku otomatis terenggut.
Apakah sekarang ini aku sedang menuai apa yang telah aku tebar sebelumnya? Menerima Ethan sebagai kekasihku hanya untuk menyakiti dan membuat Sydney menderita. Tapi sekarang justru aku menderita sedangkan Sydney tampak begitu bahagia dengan kariernya yang semakin menanjak naik.
Kapan aku bisa mengalahkan dan mengunggulimu dalam semua hal Sydneya Andreanna? Mengapa kau selalu mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Mengapa?
Aku harus segera mendapatkan semua yang dimiliki oleh Sydney, termasuk memiliki Adam. Karena sampai detik ini aku masih mencintai Adam dan berharap akan memilikinya meskipun aku sudah benar-benar kotor. Aku harus kembali mendapatkan Adam. Kalau begitu aku akan segera menemui Adam dan menyambut kedatangan mantan sahabatku tercinta.
Setelah menyusun rencana untuk besok, aku bergegas pergi ke restoran tempat aku bekerja selama ini. Karena perbuatan Ethan kehidupan seperti inilah yang harus aku jalani. Aku bekerja keras siang malam membanting tulang tapi semua uang hasil jerih payahku diambil oleh Ethan. Uang itu ia gunakan untuk berjudi, mabuk-mabukan dan bermain wanita. Aku merasa seperti sapi perah.
Saat ini aku sudah sampai di restoran tempatku bekerja. Setelah mengganti pakaian dengan seragam aku segera menggantikan temanku yang jam kerjanya sudah habis.
Ketika sedang membersihkan salah satu meja, mataku tak sengaja menangkap sosok yang sangat aku kenal. Adam. Cinta pertamaku, pria yang paling aku inginkan sejak dulu. Jantungku langsung berdetak dengan cepat ketika melihat sosoknya yang terlihat semakin tampan dengan setelan jas mahal yang membalut tubuhnya dengan pas.
Setelah merapikan seragamku sedikit, dengan penuh percaya diri aku langsung bergegas untuk menemui Adam. Sepertinya Tuhan mendengar doaku, bertemu dengan Adam di sini bukan cuma kebetulan semata, pasti Tuhan sudah mengaturnya.
Namun baru beberapa langkah aku langsung berhenti dan kembali terpaku di tempatku berdiri saat ini. Ya, dengan anggunnya Sydney tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Adam. Adegan selanjutnya langsung membuat jantungku seperti di lempar oleh ribuan pisau. Terasa sangat sakit sekali. Aku melihat Adam memeluk Sydney dengan begitu posesif lalu mencium bibir Sydney dengan mesra.
Tanpa sadar aku meremas-remas kertas order yang sedang kupegang hingga tak berbentuk. Lalu aku segera berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Sialnya tiba-tiba Adam memanggilku karena waitress yang sedang sibuk dengan para pelanggan yang lainnya. Dengan terpaksa akhirnya aku kembali berbalik dan langsung kembali berjalan untuk menghampiri meja Adam dan Sydneya.
"Selamat siang." Sapaku sambil meletakkan buku daftar menu di meja mereka berdua.
"Terima kasih." Timpal Adam tanpa susah-susah melihat kepadaku, "Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Adam pada Sydney dengan mesra.
"Aku pesan apa yang kamu pesan, sayang." Jawab Sydneya tak kalah mesranya. Seperti mereka berdua masih belum menyadari keberadaanku.
"Kau... Kau Parrish, kan?" Tiba-tiba Sydneya menatap ke arahku. Yup, kau benar mantan sahabatku, jawabku dalam hati. Dan saat ini Adam ikut memandangiku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kepala, membuatku gugup.
"Hai Sydney, Adam... Kejutan biaa bertemu kalian di sini." Ucapku sambil mengontrol setiap kata yang keluar dari mulutku.
"Kau bekerja di sini?" Tanya Sydney sambil mengerutkan keningnya, "Bukankah kau sedang merintis karier sebagai seorang model di Italia?"
"Aku sedang bekerja, bisakan aku mendapatkan pesanan kalian berdua sekarang juga?" Potongku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Beberapa menit kemudian aku telah selesai mencatatkan semua pesanan Adam dan Sydneya. Ingin rasanya aku memasukan racun ke dalam makan milik Sydneya. Karena saat ini dia dan Adam sedang kembali memamerkan kemesraan mereka tepat di depan mata kepalaku sendiri. Entah sengaja atau tidak mereka melakukan hal itu. Yang jelas aku benar-benar sangat muak sekali.
Aku harus merubah semua rencanaku jika seperti ini dan aku juga membutuhkan partner untuk merealisasikannya. Tapi siapa yang bisa aku ajak untuk bekerja sama? Ayo berpikirlah Parrish berpikir. Hingga beberapa menit kemudian, ah aku tahu siapa orang yang sangat tepat sekali untuk membantuku merealisasikan semua rencana ini.
Tunggu kejutan selamat datang dariku wahai kau mantan sahabatku. Karena tak lama lagi kau akan kehilangan Adam. Bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman membayangkan semua rencanaku yang akan berjalan dengan mulusnya.
Malam harinya ketika aku pulang ke flat, aku mendapati Ethan sedang asyik menonton TV. Bagus, aku jadi tidak perlu menunggunya pulang kemari.
"Kamu sudah pulang ternyata." Sapanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Aku langsung mengambil tempat duduk di sampingnya, "Aku butuh bantuan kamu, Ethan." Celetukku sambil ikut menatap televisi.
Ethan mengalihkan pandangannya dari layar televisi dan menatapku, "Bantuanku? Memangnya kamu mau aku bantuin apa?" Tanyanya penuh minat dengan kening yang berkerut.
Aku tersenyum dengan reaksi yang tunjukan oleh Ethan. Aku yakin sekali ia pasti akan sangat senang sekali mendapatkan umpan baru. Meskipun ia selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku, Ethan masih saja tetap main gila dengan banyak perempuan. Namun aku tak peduli dengan kegemarannya di luar, karena aku tidak mencintainya.Apa yang terjadi setiap malam di atas tempat tidur aku hanya menganggapnya untuk bersenang-senang saja.
Setengah jam kemudian aku selesai menjelaskan semua rencanaku keepada Ethan. Dan Ethan sangat tertarik sekali dengan semua rencana yang aku ungkapkan.
"Tumben kali ini otakmu bekerja dengan benar. Benar-benar mangsa yang sangat besar, tapi tenang saja Parrish sayang. Hatiku dan cintaku tetap milikmu." Tukasnya sambil mengecup bibirku lembut.
"Jangan lebay deh, kamu nggak akan cemburu lihat aku sama Adam?" Tanyaku sambil menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Nggaklah buat apa aku cemburu. Aku bukan tipe cowok yang pencemburu. Lagipula mana mau Adam sama kamu, Rish? Inget kamu tuh udah jadi milik aku." Ungkapnya sambil mengetatkan pelukannya di tubuhku.
♥♥♥♥♥
Keesokan harinya Parrish dan Ethan mulai menjalankan rencana mereka. Ethan dengan gencar mendekati Sydneya. Apalagi gadis itu sudah benar-benar berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik, secara fisik Parrish tidak ada apa-apanya dengan Sydneya. Di tambah lagi perusahaan yang sedang di rintis oleh mantan sahabat kekasihnya itu sedang maju pesat. Bisa di bayangkan berapa banyak pundi-pundi uang yang akan di dapatnya jika berhasil Ethan berhasil menaklukan Sydneya.
Berbagai cara di lakukan oleh Parrish dan Ethan untuk memisahkan Adam dan Sydney. Yup, mereka berdua berhasil. Parrish berhasil menjebak Adam lalu mengaku bahwa tengah mengandung benih Adam. Yang membuat Sydney dengan sangat terpaksa melepaskan pria yang mulai di cintainya itu. Sydney pun berusaha untuk menerima kehadiran Ethan di sampingnya. Dan gadis itu dengan terpaksa pula menerima pinangan dari Ethan.
Adam yang menyadari bahwa dirinya telah di jebak, melakukan berbagai cara untuk mendapatkan bukti bahwa bayi yang sedang di kandung oleh Parrish saat ini adalah bukan darah dagingnya.
Kecurigaan Adam terbukti. Hasil tes DNA yant diam-diam di lakukannya telah menunjukan hasil yang sangat memuaskan. Bayi yang di dalam kandungan Parrish bukan darah dagingnya. Selain itu Adam juga memiliki bukti-bukti lain yang cukup kuat untuk menyeret Parrish dan Adam masuk ke dalam penjara.
Hari ini adalah hari dimana Sydney dan Ethan akan melangsungkan pernikahan mereka. Adam memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tak mempedulikan keselamatannya, yang ada di pikirannya sekarang adalah ia bisa sampai di tempat Sydney tepat waktu. Ia harus menyelamatkan wanitanya itu dari bajingan seperti Ethan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan Adam sampai di kediaman Sydney tepat waktu.
"Tunggu, pernikahan itu tidak bisa di lanjutkan." Teriak Adam di ambang pintu. Lalu ia bergegas mendekati Sydney dan Ethan.
Sydney terkejut dengan kedatangan Adam yang tiba-tiba, "Adam, kamu mau apalagi?" Bentak Sydney.
"Dengar sayang, kamu nggak boleh nikah sama laki-laki brengsek ini. Aku punya bukti kejahatan yang dia lakukan bersama Parrish buat misahin kita." Adam menjelaskan, berharap bahwa wanitanya itu akan mempercayai semua kata-katanya.
"Jangan percaya pria itu, sayang." Ethan berusaha menutupi kesalahannya dan mulai mempengaruhi Sydney kembali, "Adam hanya menutupi kesalahannya." Ucap Ethan sambil mencibir ke arah Adam.
"Kalian berdua berhenti." Sydney membentak kedua pria itu. Para tamu yang hadir mulai berkasak kusuk melihat pemandangan yang terpampang di depan mereka. Parrish yang berdiri di belakang Ethan mulai ketar ketir. Wajahnya mulai memucat.
Saat ini ia memang sedang hamil. Tapi ayah dari bayi yang ada di perutnya itu adalah Ethan bukan Adam. Ia sengaja menggunakan kehamilannya untuk menghancurkan hubungan Adam dan Sydney.
"Ini..." Adam memberikan sebuah map berwarna hitam kepada Sydney, "... dan bayi yang sedang di kandung oleh Parrish bukan anakku." Jelas Adam.
Dengan cepat Sydney langsung mengambil map yang di berikan oleh Adam. Wanita itu benar-benar syok, tak menyangka orang yang sudah di anggapnya sebagai sahabat tega melakukan hal kejam seperti itu.
Air mata langsung meluncur bebas menurunin pipinya yang mulus dan putih bak batu pualam. Tubuhnya mulai bergetar. Dengan sigap Adam langsung merengkuh wanitanya itu ke dalam pelukannya.
Parrish dan Ethan hanya terdiam tak bisa berkutik ketika kedok mereka terbuka. Tak ada kata bantahan atau pembelaan yang keluar dari mulut mereka berdua.
Sydney melepaskan diri dari pelukan Adam, "Pergi kalian berdua dari hadapanku. Jangan pernah menampakkan kembali muka kalian lagi. Atau aku akan benar-benar menjebloskan kalian ke dalam penjara." Sydney mendesis marah sambil menggertakkan giginya. Ethan dan Parrish pergi dari sana tanpa mengeluarkan kata-kata.
Tangis Sydney kembali tumpah di pelukan Adam, "Maafin aku Dam, seharusnya aku lebih percaya kamu. Maafin aku." Isaknya.
"Sttt, sudah sayang. Tak ada yang perlu di maafkan, semuanya sudah berakhir." Ucap Adam sambil mengelus punggung wanitanya itu.
"Maaf, apakah pernikahan ini akan tetap di lanjutkan?" Tanya seorang pendeta yang sedari tadi memperhatikan orang-orang di hadapannya dengan kebingungan.
"Tentu saja, pernikahan ini akan tetap di lanjutkan." Ucap Adam dengan jelas dan mantap. Sedangkan Sydney hanya menundukkan wajahnya yang entah mengapa langsung merona.
Akhirnya pernikahan itupun tetap terlaksana dengan Adam yang menjadi pengantin prianya. Semua orang turut bersuka cita untuk mereka berdua.
"I love you my princess." Ucap Adam sambil memeluk erat wanita yang sekarang telah resmi menjadi istrinya itu.
"I love you too my prince." Balas Sydney.
Lalu mereka berdua saling berciuman dengan di iringi oleh sorak sorai dari para tamu undangan yang hadir.
-THE END-
Adaaamm, Adam Pitts kah itu?? Maaf aku baynginnya Adam Pitts lho :D *mklum aku lgi kena virus tmnnya Adam, JoelPeatisasi :p
BalasHapusCeritanya bagus, tapi sayang -_- kurang panjang hehhe
kalo dipanjangin lagi, trus pas konfliknya dijelasin lagi pasti lebih enak.
Aku tunggu yg versi panjangnya. Okeee :D
versi panjangnya kapan2 aje yeee :P hehehehehe
BalasHapusmakasih yooo buat review'nya :D