Jumat, 20 September 2013

Can You Be Mine Chapter 3

Astaga, mengapa aku jadi berada disini? Duduk dan mengikuti rapat yang khusus dan biasa di hadiri oleh para petinggi perusahaan.

Memiliki atasan yang masih muda, tampan dan cerdas memang menyenangkan. Hanya saja atasanku ini benar-benar ajaib. Dan sulit di tebak.

Ternyata rapat yang digelar untuk para staff masih lebih baik daripada rapat untuk para petinggi perusahaan. Karena saat ini aku mulai di landa kebosanan.

Dan alasan yang utama adalah AKU MERASA RISIH, BAGAIMANA AKU BISA BERKONSENTRASI JIKA DI PANDANGI SEINTENS ITU!!! Jeritku dalam hati.

Aku mulai kelelahan dan mulai mengantuk. Entah sudah berapa jam aku duduk di ruangan ini menemani atasanku yang ajaib ini.

Aku agak tersentak ketika Fabian mengakhiri rapatnya. Rasa kantuk yang aku rasakan seketika itu juga langung menghilang.

"Lila, terima kasih sudah mau menemaniku pada rapat hari ini." Ucapnya sambil tersenyum manis.

"Ah, sama-sama, Sir. Kalau begitu saya permisi."

Aku bergegas meninggalkan ruangan meeting. Sesampainya di meja kerja aku langsung membereskan barang-barangku ke dalam tas. Ini sudah satu jam lewat dari jam pulang.

Setelah selesai aku langsung meninggalkan gedung. Aku harus bergegas karena hari ini aku pulang menggunakan bis. Karena mobilku sedang berada di bengkel.

Sudah setengah jam aku menunggu bis di halte. Namun belum ada satupun bis yang lewat. Aku mendengus kesal.
Jarak kantor dan apartemenku memang cukup jauh.

"Mengapa belum ada satupun bis yang lewat. Sedangkan hari semakin malam." Aku menghentak-hentakan kakiku sambil berkali2 melirik jam yang tersampir ditangan kiriku.
Air hujan mulai turun perlahan. Semakin lama semakin deras. Dan mulai membasahi tubuhku.

Aku semakin merutuk kesal di dalam hati. Tubuhku mulai menggigil karena kedinginan.

Tiba-tiba suara klakson mobil mengangetkanku. Mobil itu menepi dan berhenti tepat didepanku. Aku tak bisa melihat dengan jelas siapa pengemudinya.

"Lila, ayo masuk." Fabian langsung membuka kaca jendela mobilnya. Dia turun menghampiriku.

"Mr. Fabian?" Tanyaku dengan suara yang bergetar.

"Jangan panggil aku Sir, ini bukan di kantor. Ayo, cepat masuk. Aku akan mengantarkanmu pulang. Tubuhmu basah kuyup." Perintahnya sambil menghela tubuhku untuk masuk ke dalam mobil.

"Tapi... Tapi..."

"Cepat masuk, nanti kau sakit."
Aku merenggut ketakutan ketika Fabian membentakku. Sepanjang perjalan hanya keheningan yang hadir diantara kami berdua.

"Maaf, tadi aku membentakmu." Ucapnya tiba-tiba memecah kebisuan diantara kami. Tapi dia tetap fokus menyetir.

"Tidak apa-apa, terima kasih sudah mau mengantarkanku."

"Aku tidak bisa diam saja melihat seorang wanita menunggu kendaraan yang lewat pada malam hari ditengah hujan. Kau bisa sakit Lila."

"Tadi pagi mobilku masuk bengkel. Terpaksa aku harus naik bis untuk beberapa waktu."

Selama sisa perjalan kami terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Dan perjalanan menuju ke apartemenku tidak terasa.

Sesampainya di apartemen aku langsung memberikan handuk kepada Fabian untuk mengeringkan tubuhnya. Sedangkan aku pergi mandi.

Setelah selesai berpakaian aku membuat dua cangkir coklat panas.

"Fabian, ini di minum dulu." Ucapku sambil memberikan cangkir berisi coklat panas lalu duduk disampingnya.

"Terima kasih, Lila." Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Jadi kau tinggal sendiri disini?" Tanyanya sambil sesekali meneguk minumannya.

"Iya, aku tinggal di apartemen ini sejak aku duduk di bangku kuliah."

"Orang tuamu?"

"Kedua orang tuaku tinggal di Florida sedangkan kedua kakak laki-lakiku sudah menikah. Dan mereka tinggal di Inggris dan Swiss. Bagaimana denganmu?"

"Aku anak tunggal, Lila. Mungkin kau sudah tahu tentangku dari media."

"Yang aku tahu bahwa banyak sekali wanita cantik yang ingin menjadi kekasihmu."

"Jadi kau percaya dengan gosip-gosip itu, eh?" Tanyanya sambil memandangku dengan tatapan skeptis.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya mendengar saja. Lagipula aku bingung padamu."

"Kau bingung kepadaku?"

Aku menganggukan kepalaku dengan semangat, "Kau ini tampan, muda, sukses dan bergelimangan materi yang berlebih. Tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu bersama seorang wanita?"

Mendengar pertanyaanku Fabian langsung menyimpan cangkir yang sedari tadi dipegangnya dan memutar tubuhnya menghadapku.

"Maaf jika pertanyaanku lancang. Tak usah kau jawab, lupakan saja." Ucapku buru-buru sambil meminum kembali coklat panasku.

"Letakan cangkirmu diatas meja, Lila."
Aku mengerutkan keningku tak mengerti, namun akhirnya aku menuruti perkataannya.

Fabian terus menatapku dengan tatapan yang intens. Tatapan matanya tajam menatap mataku. Membuatku semakin risih dengan sikapnya.

"Kau marah kepadaku?" Fabian hanya menggeleng pelan namun matanya yang menatapku semakin menggelap. "Fabian, kau kenapa?"

Wajah tampannya semakin mendekat. Aku bisa merasakan desahan nafasnya yang panas di wajahku.

Belum sempat aku mengeluarkan kembali perkataanku. Tiba-tiba saja bibirnya mengunci bibirku. Tubuhku langsung menegang. Seluruh tubuhku kaku.

Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan kembali menciumku dengan begitu lembut. Aku yang terkejut hanya terdiam tanpa membalas setiap ciumannya.

Lidahnya mulai berusaha menelusup masuk kedalam mulutku. Perasaan aneh menghinggapiku. Tubuhku mengkhianati karena saat ini aku mulai membalas setiap ciumannya.

Dengan lembut Fabian mencecap seluruh bibirku. Tangannya mulai membelai leherku, ciumannya berpindah. Ia mencium telingaku dan menggigit cupingnya dengan lembut.

Bibirnya turun, menciumi leherku. Membuat tubuhku semakin panas.Tiba-tiba saja alarm peringatan dalam tubuhku berbunyi. Dengan kekuatan penuh aku mendorong tubuh Fabian menjauh.

Nafas kami berdua tersengal. Aku memandang nanar Fabian.

"Kau... Apa yang kau lakukan?" Tanyaku sambil menggertakan gigi.

"Menjawab pertanyaanmu. Maafkan aku, Lila. Maaf aku tidak bisa menahan diriku." Fabian meminta maaf.

"Apa maksudmu? Ah, aku tahu sekarang. Ternyata kau hanyalah seorang lelaki brengsek." Emosiku tiba-tiba saja meledak.

"Tidak!! Aku bukan pria seprti itu." Ia menyangkalnya.

"Lalu apa jika kau bukan pria seperti itu, hah?" Tanyaku sengit.

"Karena aku jatuh cinta padamu, Lila." Akunya tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya.

Aku terdiam mendengar ucapannya. Tidak mungkin. Fabian bilang mencintaiku?? Tidak. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Aku tahu kau pasti terkejut. Namun yang aku katakan jujur, Lila. Aku jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali kau bergabung dengan perusahaanku."

"Tidak mungkin." Aku mengelak dengan suara yang bergetar.

"Tak ada yang tak mungkin, Lila. Asal kau tahu, aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta."

"Aku berbeda dengan wanita-wanita yang berada disekitarmu."

"Karena kau berbeda, Lila. Aku tidak tertarik dengan para wanita yang selalu mengelilingiku. Hanya kau yang berhasil membuatku bertekuk lutut. Maukah kau menjadi kekasihku?"

"Fabian, aku..."

Ia memotong ucapanku, "Kau tak perlu menjawabnya sekarang, Lila. Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya baik-baik. Sudah semakin malam, sebaiknya aku pamit, kau beristirahatlah."

"Terima kasih sudah mengantarku."

Fabian tersenyum lalu beranjak meninggalkan apartemen Lila. Sepeninggalan Fabian, aku hanya duduk termenung disofa.

Memeluk kedua lututku dan menyembunyikan wajahku. Bibirku terasa bengkak karena ciuman Fabian. Panas bibirnya masih bisa kurasakan.

Fabian mencintaiku? Atasanku yang tampan itu mencintaiku? Astaga, apa yang harus kulakukan?

Tuhan, kau tahu isi hatiku seperti apa. Aku hanya mencintai Dave dan Zac. Aku masih berharap bahwa Zac akan membalas cintaku suatu hari nanti. Meskipun aku tak yakin Zac dan Gissel akan berpisah.

Zac terlalu keras kepala. Semuanya tidak akan serumit ini jika saja ia mau menuruti perkataan kedua orang tuanya.  Membuatku terjebak. Adai saja aku menolak permintaan bodohnya itu.

Zac, tak bisakah kau merasakan perasaanku? Hatiku seperti diiris setiap melihatmu bersama Gissel.

Suara Zac terdengar begitu nyaring didepan pintu apartemenku. Dengan tergesa aku membuka pintu.

"Zac, apa yang kau lakukan?"

"Lama sekali, aku sudah berkali-kali memencet bel. Tapi kau tak keluar."

"Maaf, aku tertidur tadi."

Zac masuk ke dalam dan langsung menghempaskan dirinya diatas sofa.

"Kau mau minum apa?"

"Aku akan mengambilnya nanti. Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Tanyaku sambil duduk disampingnya.

Zac memegang keningku, "Badanmu panas, sepertinya kau demam. Mau aku antar ke dokter?"

"Aku baik-baik saja, Zac. Jangan panik seperti itu, mungkin karena tadi pulang kerja aku kehujanan."

"Bagaimana bisa? Kau kan membawa mobil?"

"Tadi pagi mobilku masuk bengkel, Zac." Jawabku santai sambil tertawa.

"Mengapa kau tidak meneleponku?"

"Aku tidak mau mengganggumu dan Gissel."

"Tapi Lila, aku tak ingin kau sakit."

"Zac, aku ini bukan kekasihmu. Dan aku rasa sebaiknya kita akhiri saja semua sandiwara ini."

"Tidak akan, Lila." Zac memandangku dengan tatapan yang menusuk.

"Aku lelah, Zac. Semua sandiwara ini membuatku lelah. Belum lagi kau membuat peraturan bahwa aku tidak boleh dekat dengan pria lain."

Zac mengerutkan keningnya, "Dulu kau tidak keberatan, tapi mengapa... Ah, aku tahu apakah kau sedang menyukai seorang pria?"

Aku mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirku, "Sudah kubilang itu bukan urusanmu. Dan aku ingin semua ini berak.."

Tiba-tiba Zac mencengkram kedua tanganku dengan gerakan yang cepat. Mengunciku. Menghentikan semua ucapanku. Tubuhnya sangat dekat denganku. Menindih tubuhku.

"Katakan padaku, apakah kau sedang menyukai pria lain?" Suaranya berat dan mengancam.

"Bukan urusanmu. Lepaskan tanganmu. Kau menyakitiku."

"Jawab pertanyaanku, Lila." Ia menggeram, suaranya terdengar marah.

"Jangan mencampuri kehidupanku, Zac. Kau.. Bukan kekasihku. Sekarang lepaskan aku."

Zac langsung mencium bibirku dengan buas. Tanpa ampun ia terus menciumiku, bahkan ketika nafasku menjadi terengah-engah karena kekurangan oksigen. Aku berontak namun tubuhnya tak bergeming.

Aku berteriak ketika ia mulai menciumi leherku dengan agresif. Membuat aku meringis kesakitan.

"Zac, lepas-kan aku."

"Aku tak suka dibantah, Lila."

Dengan kasar ia narik kaos yang aku pakai hingga robek. Dan kembali menghujaniku dengan ciuman-ciumannya.

"Kau mau apa, Zac? Lepaskan aku kumohon." Aku menangis, aku ketakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar