JAMES
Di tengah-tengan pesta tiba-tiba saja Hanna menghilang dari pandanganku. Aku segera mengakhiri perbincanganku dengan salah satu relasiku dan segera mencari Hanna.
Aku berkeliling ke seluruh ruangan untuk mencarinya. Namun aku tak melihatnya juga. Sampai akhirnya aku menemukan sosoknya yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di pojok ruangan dan agak sepi.
Dengan perlahan aku mendekati Hanna yang sedang menutup matanya. Astaga, bisa-bisanya dia tidur di acara resepsi pernikahan kami. Aku harus membangunkannya.
"Hanna... Bangun." Panggilku sambil menepuk pelan bahunya. Tapi Hanna tak bergeming, "Hanna, ayo cepat bangun." Panggilku lagi tapi tubuhnya tetap diam.
Tiba-tiba aku merasa panik. Jangan-jangan... Aku langsung menyentuh keningnya. Astaga badannya sangat panas sekali. Aku langsung memangku Hanna dan membawanya ke kamar yang sudah di sediakan oleh pihak hotel. Banyak mata yang memandangiki tapi aku tak peduli.
Sesampainya di kamar aku langsung membaringkan Hanna di atas tempat tidur. Lalu aku segera menelepon temanku yang seorang dokter.
"Bagaimana keadaannya, Ric?"
"Istrimu demam tinggi, James. Sepertinya dia kelelahan, kau tak perlu panik sebentar lagi dia pasti akan sadar. Ya sudah aku pamit, jangan lupa berikam obatnya jika istrimu sudah sadar." Jelaa Ric panjang lebar.
"Terima kasih Ric, aku akan melakukan apa yang sudah kau jelaskan."
Lalu aku mengantar Ric keluar dari kamar. Setelah itu aku kembali ke dalam kamar. Memandangi tubuh Hanna yang tergolek tak sadarkan diri di atas tempat tidur.
Gaunnya yang memiliki model kemben benar mengekspose bahanya serta belahan dada yang rendah. Membuatku menelan ludah dan ingin segera melepas gaunnya. Astaga astaga astaga. Apa yang sedang aku pikirkan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mandi saja. Daripada harus memandangi tubuh Hanna yang ternyata sangat menggiurkan itu.
Aku menggeram kesal. Aku tutupi tubuh Hanna dengan selimut. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi mandi saja. Semoga dengan mandi tubuhku yang memanas karena gairah akan bisa padam.
Setelah selesai mandi dan berpakaian aku duduk di tempat tidur. Memandangi Hanna yang masih terlelap, karena Ric memberikannya obat tidur.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Hanna? Kau benar-benar membuat hidupku jadi tidak terkontrol." Gumamku pelan sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya itu.
Lalu dengan perlahan aku menciun keningnya dan kembali mencium bibirnya yang merah dan sangat menggoda itu. Aku berbaring di sampingnya sambil terus memandanginya sampai rasa kantuk datang menyerangku.
Keesokkan harinya aku di terbangun karena di kejutkan oleh sebuah teriakan. Yang ternyata teriakan itu berasal dari seseorang yang berada di sebelahku.
Dengan kesal akhirnya aku bangun dan terduduk di atas tempat tidur dan memandang tajam Hanna. "Apa yang kau lakukan berteriak pagi-pagi seperti ini?" Tegurku dengan suara yang serah.
"Ka-kau... Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya gemetaran.
Astaga, sepertinya dia tidak ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi, "Kau tidak ingat dengan apa yang sudah kita lakukan semalam, istriku?" Bisikku tepat di telinganya.
Bisa kurasakan tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Wajah cantiknya yang mulai memucat. Padahal aku hanya menggodanya saja. Tak terjadi apapun pada kami berdua semalam.
Dengan gerakan yang tiba-tiba Hanna langsung melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi. Ia menutup pintu dengan keras hingga berdebam. Aku hanya terkekeh geli melihat tingkahnya itu.
Aku memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar hotel. Tak lama kemudian aku kembali mendengar suara teriakan Hanna dari dalam kamar mandi.
Aha, sepertinya dia sudah melihat hasil karyaku di tubuhnya yang putih itu. Aku tertawa puasa dalam hati. Hahahaha kena kau Hanna.
Lagi-lagi aku mendengar suara pintu yang di buka dan di tutup dengan kasar. Lalu aku melihay Hanna sedang menatapku dengan tatapan membunuh. Aku hanya bisa menelan ludah karena penampilannya saat ini hanya mengenakan bathrobe dengan handuk yang melilit di kepalanya.
"Apa?" Tanyaku.
"Kau... Apa yang kau lakukan padaku, huh?" Tegurnya sambil berjalan menghampiriku.
"Melakukan hal yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang suami." Jawabku cuek.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuhku lagi, James." Hanna mendesis marah kepadaku.
"Bagaimana mungkin aku tidak menyentuhmu, Hanna. Jika..." aku mendekatinya, "... penampilanmu seperti ini. Kau berniat untuk menggodaku, eh?" Bisikku tepat di telinganya.
Hanna langsung mengeratkan pegangannya pada bathrobe yang di pakainya. Lalu ia beranjak dari hadapanku, mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi lagi-lagi sambil membanting pintunya dengan keras.
***
HANNA
Argh... Aku menggeram kesal. Bagaimana tidak, ketika selesai mandi aku memandangi tubuhku di depan cermin. Dan apa yang aku temukan. Terdapat kissmark di sekitar dadaku.
Ya ampun, apa yang telah di lakukan oleh CEO gila itu kepadaku? Aku tahu bahwa ia sudah resmi menjadi suamiku. Tapi untuk melakukan hubungan yang lebih aku tidak bisa. Sama sekali tidak bisa.
Demi Tuhan, aku tidak mencintainya. Pernikahan ini di lakukan tanpa berdasarkan cinta. Tak ada sedikitpun perasaan cinta di antara kami berdua. Meskipun aku tahu bahwa cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.
Tapi, masalahnya adalah aku tidak mungkin mencintai James. Karena aku masih mencintai seseorang. Seseorang yang sudah menghilang selama dua tahun terakhir ini. Sekeras apapun usahaku untuk melupakannya, aku tetap tak bisa melupakan sosok Alex dari dalam hidupku dan hatiku.
Aku tak peduli orang-orang menyebutku bodoh atau apapun. Demi Tuhan, Alex itu adalah cinta pertamaku. Aku tak mungkin melupakannya, meskipun saat ini aku tidak tahu kabar tentangnya. Satu yang membuatku tetap teguh dengan perasaanku ini. Alex berjanji akan kembali kepadaku.
Namun entah apa yang akan terjadi sekarang jika tiba-tiba saja Alex kembali. Apa yang harus aku lakukan? Menyembunyikan pernikahanku dengan James? Itu tidak akan berhasil sedikitpun.
Suara ketukan di pintu langsung menginterupsi pikiranku tentang Alex. Aku yang sudak berpakaian lengkap langsung bergegas membuka pintu dan mendapati James berdiri di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana, huh?" Tegurnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Bukan urusanmu, James." Jawabku dingin sambil berlalu dan menubruk bahunya dengan tubuhku.
Ya, aku masih marah dan kesal karena perbuatannya. Dia pikir aku wanita murahan yang bisa di perlakukan seperti itu? Membuat tanda kepemilikan di tubuhku. Dia pikir aku mau menyerah begitu saja dan rela menjadi miliknya semudah itu. Jangan harap kau bisa menaklukanku James. Kau belum tahu siapa aku sebenarnya.
Aku memutuskan pergi mengambil minum di pantry. Aku langsung meneguk air putih itu langsung dari botolnya.
"Aku tak menyangka bahwa kau ini tidak memiliki tata krama."
Aku langsung berbalik dan mendapati makhluk angkuh nan menyebalkan tapi di anughrahi wajah yang tampan dan rupawan. Astaga apa yang kuucapkan tadi? Sedang bersandar di dinding dekat pantry sambil melipat kedua tangannya.
"Bukan urusanmu." Jawabku dengan ketus, lalu kembali melanjutkan acara minumku.
"Benar-benar seperti gadis barbar." Celetuknya lagi.
Kali ini aku diam tak menggubrisnya. Terserah saja mau memanggilku gadis barbar atau apapun juga. Aku tidak peduli.
"Ayo kita pergi sarapan di restoran."
"Aku tidak mau." Jawabku santai sambil melenggang ke arah sofa. Lalu mengambil remote TV dan menyalakannya.
"Aku sedang tidak berdebat denganmu, Hanna." James terdengar mulai kesal.
"Pergi saja sendiri, aku tidak lapar." Tiba-tiba saja James mencengram pergelangan tanganku, "Awww, sakit James."
"Ayo pergi makan sekarang. Aku tidak mau kau pingsan seperti semalam dan menyusahkanku." Ia mendesis marah.
"Lepaskan tanganmu dan aku akan menurutimu." Bentakku.
Lalu James melepaskan cengkramannya dan membuat tubuhku terhempas.
"Jangan coba-coba membantah atau menentangku Mrs. Arthur." Bisiknya lalu pergi meninggalkanku.
Dan dengan tergopoh-gopoh aku segera menyusulka keluar dari kamar hotel. Selama perjalanan menuju ke restoran James terus mengacuhkanku dan menganggapku tidak ada.
Hal yang paling aku benci adalah di anggap tidak ada sama sekali. Menyebalkan. Argh, aku berteriak di dalam hati.
***
JAMES
Dari sekian banyak wanita yang berani menentangku hanya Lila. Dan sekarang Hanna juga menentangku. Astaga, aku takkan membiarkan diriku kembali menjadi lemah.
"Cepat makan makananmu, Hanna." Aku menjaga agar intonasi suaraku tetap terdengar biasa.
"Sudah kubilang aku tidak lapar, James." Jawabnya malas.
"Makanlah meskipun hanya sedikit, Hanna. Dokter bilang bahwa kau memiliki masalah yang cukup serius dengan lambungmu." Jawabku melembut.
Hanna terlihat mendengus kesal namun akhirnya ia mau memakan sarapannya. Tanpa kusadari bibirku langsung tertarik membentuk sebuah senyuman. Kau mulai gila James.
Namun tiba-tiba saja Hanna tersedak. "Ini cepat minum, makanlah pelan-pelan." Ucapku sambil menepuk pundaknya pelan-pelan.
"Te-terima kasih." Ucapnya tergugu.
Hei ada apa dengan Hanna? Mengapa ia jadi terlihat ketakutan seperti itu? Hanna berusaha menyembunyikan wajahnya yang terlihat pucat.
Aku meraih dagunya dan mengangkat wajahnya, "Hei apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?"
"Ak-aku... Ayo kembali ke kamar, James." Ucapnya tergesa-gesa.
"Tapi kau belum menghabiskan sarapanmu." Aku mengernyitkan kening tak mengerti.
"Aku akan memesan sarapan dan makan di kamar. Kumohon, James." Rengeknya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke kamar saja."
Hanna terlihat lebih rileks ketika kami beranjak dari restoran itu. Sampai tiba-tiba...
"HANNA... Tunggu..."
Tubuh Hanna yang berada dalam pelukanku langsung menegang ketika mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.
Siapakah sebenarnya orang itu? Ada hubungan apa Hanna dengannya? Pikiran-pikiran itu langsung berkecamuk di dalam kepalaku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar