Jumat, 13 September 2013

Love Under The Rain Chapter 1

CLARIS

Is it Love...
Is it Rain...
Is it all about you and me...

Hal apakah yang akan terjadi di kala hujan turun mengguyur permukaan bumi? Ada yang menjawab mencari tempat berteduh, tidur atau tetap berdiam diri di rumah yang pasti melakukan kegiatan yang berada di dalam ruangan.

Tapi aku memiliki jawaban yang berbeda dari orang kebanyakan. Karena di saat hujanlah aku bertemu dengan seseorang yang berhasil mengalihkan duniaku, membuat tidurku tak nyenyak dan membuat kerja jantungku tidak seperti biasanya.

Pertemuan yang terjadi ketika hujan deras beberapa bulan yang lalu benar-benar menorehkan kesan di dalam hatiku. Entah mengapa sosoknya terlihat begitu menawan ketika hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Matanya yang berwarna abu-abu begitu tajam. Rasanya ia bisa membaca pikiranku hanya dengan di tatap seperti itu. Aku membeku di tempatku berada. Entah apa yang aku lakukan saat ini. Karena tiba-tiba saja aku berlari dari kafe tempatku menghabiskan waktu di sore hari seperti biasa dan menghampiri pria tersebut.

Aku melihat seorang pria sedang berdiri dekat pohon di tengah hujan seperti ini. Tubuhnya basah kuyup karena air hujan. Apa yang sedang ia lakukan di tengah hujan seperti ini? Ia pasti akan sakit jika terus-terusan berada di tengah hujan.

Lalu aku menghampiri salah satu pelayan di kafe ini untuk meminjam sebuah payung lalu segera pergi keluar untuk menghampiri pria tersebut.

Ketika melangkahkan kaki di luar kafe, angin yang kencang menerpa tubuhku. Bahkan hampir menerbangkan payung yang sedang aku pegang saat ini. Dengan tertatih-tatih aku berusaha menembus hujan yang sangat deras.

Pria itu kemudian menundukkan wajahnya ketika aku sampai lalu memayungi tubuhnya. Dan mata abu-abu itu langsung membakar tubuhku di tengah hujan yang begitu deras seperti ini.

"K-kau bi-sa s-sakit ji-ka te-terus b-ber-ada di te-ngah hu-jan." Ucapku sambil menggigil kedinginan. Meskipun aku memakai payung namun hujan itu telah membasahi tubuhku.

Pria itu langsung mengambil alih payung yang kupegang lalu menggiringku menyebrangi jalanan. Lalu masuk ke dalam kafe tempatku menghabiskan waktu tadi.

"Terima kasih." Ucapnya dengan datar. Lalu ia memanggil seorang pelayan dan memesan dua gelas coklat panas untuk kami berdua.

"Kau sedang apa di tengah hujan seperti itu? Kau bisa sakit." Tanyaku sambil menggosok-gosok tanganku. Ya ampun tubuhku menggigil.

"Yang jelas bukan urusanmu." Lagi-lagi ia dengan datar lalu mengalihkan pandangannya ke luar kafe.

Aku tercenung memperhatikan makhluk tampan yang ada di depanku ini. Rahang yang tegas, sepasang alis yang tebal membingkai matanya yang indah namun penuh misteri itu, bibirnya yang tipis merah begitu menggoda. Rasanya aku ingin sekali melumat bibir itu. Sejak kapan otakmu jadi mesum seperti ini Claris, tegurku dalam hati. Rambutnya yang berwarna coklat basah oleh air hujan, tetesan air yang jatuh membuatnya terlihat err seksi, di tambah tubuhnya yang atletis dengan otot-otot yang tercetak jelas di balik kemeja lengan panjang berwarna hitamnya yang menempel memeluk tubuhnya.

Menelan ludah berkali-kali, itulah yang aku lakukan. Mengapa pria ini benar-benar terlihat panas dan begitu menggoda. Aku ingin menyentuh setiap inchi tubuhnya itu dan.... Argh kenapa otakku jadi mesum seperti ini. Fokus Claris fokus. Menggeleng-gelengkan kepala, berharap semua pikiran-pikiran tak senonoh itu menghilang dari otakku.

Jangan sekali-kali berpikir bahwa aku termasuk orang yang menganut freesex. Dengan tegas kutekankan bahwa aku bukan wanita yang seperti itu. Aku hanya membaca berbagai adegan romantis nan erotis itu dari novel-novel yang aku baca. Jika otak dan tubuhku sudah mulai terbakar oleh gairah aku akan segera mencari kegiatan yang bisa mengalihkan pikiranku.

Astaga kenapa pikiranku jadi melantur seperti ini? Aku terkesiap ketika mendongkakkan wajahku. Pria itu sedang memandangiku dengan tatapan yang tajam. Di pandangi seperti itu membuat wajahku memanas serta salah tingkah dan aku hanya  bisa tersenyum bodoh.

"Cepat habiskan minumanmu, lalu akan aku antar kau pulang." Ucapnya sambil terus memandang menyelidik terhadapku.

"Ah, te-terima kasih." Lagi-lagi suaraku tergugu, apa yang sudah kau lakukan kepadaku wahai kau makhluk tampan? Jeritku dalam hati. Aku segera meminuman coklat panas yang sudah tidak panas lagi.

"Bagus, cepat habiskan karena aku akan segera mengantarmu pulang." Jawabnya sambil lalu.

"Tidak, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri dengan taksi. Terima kasih." Ucapku buru-buru.

"Hujan seperti ini akan lama sekali redanya. Dan tak akan ada taksi yang lewat. Jangan membantahku." Tegasnya sambil memelototiku.

Aku hanya bisa menganga mendengar kata-kataku. Astaga pria ini benar-benar sangat bossy sekali. Dia pikir dia itu siapa, namanya saja aku tidak tahu. Lagipula aku bisa pulang ke apartemenku dengan selamat. Argh, benar-benar menyebalkan sekali. Ternyata wajahnya tak seperti sifatnya.

"Ayo kita pergi, aku tak mau kita kemalaman di jalan." Lagi-lagi ia berkata dengan nada memerintah.

Aku segera membenahi barang-barangku yang ada di atas meja. Memasukannya dengan rapi di dalam tasku. Sambil mendengus kesal aku beranjak dari tempat dudukku dan mengikutinya dari belakang.

Di luar kafe sudah terparkir sebuah mobil bentley berwarna hitam dengan seorang supir yang membawakan payung untuk kami. Saat kami mendekati mobil supir itu membukakan pintu untuk kami setelah sebelumnya ia membungkuk hormat kepada pria angkuh namun seksi yang berada di depanku saat ini.

Di dalam mobil selama perjalanan kami hanya terdiam setelah ia bertanya alamat tempat tinggalku. Sepertinya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, begitupun denganku. Aku lebih memilih untuk memandangi hujan yang masih turun membasahi kota.

Lama kelamaan rasa kantuk menyerangku. Sebesar apapun usahaku untuk tetap membuka mataku tetap tak berhasil. Akhirnya aku menyerah pada rasa kantukku dan akhirnya terlelap.

》》》》》

VANNO

Entah apa yang sedang aku pikirkan. Karena ketika sadar aku sedang berdiri di bawah sebuah pohon besar dalam keadaan basah kuyup. Hujan yang terus menerus menerpa tubuhku tak membuatku bergeming dari tempat itu.

Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menghampiriku dan memayungi tubuhku. Benar-benar wanita bodoh. Untuk apa dia repot-repot menembus hujan yang lebat ini? Karena payung yang yang di pakainya itu tetap saja membasahi sebagian tubuhnya.

"K-kau bi-sa s-sakit ji-ka te-terus b-ber-ada di te-ngah hu-jan." Ucapnya sambil menggigil kedinginan. Meskipun ia memakai payung namun hujan itu telah membasahi tubuhnya yang mungil. 

Aku hanya memandangi wajah dan tubuh mungilnya yang bergetar karena kedinginan. Bodoh. Benar-benar wanita bodoh, apa yang di pikirkannya? Mendatangiku yang merupakan orang asing. Bagaimana jika aku berniat jahat kepadanya? Rutukku dalam hati.

Tanpa banyak kata aku langsung mengambil alih payung yang di pegangnya. Mencengram lengannya lalu membawanya menyebrangi jalan dan masuk ke dalam kafe.

"Terima kasih." Ucapku dengan datar. Lalu aku memanggil seorang pelayan dan memesan dua gelas coklat panas untuk kami berdua.

"Kau sedang apa di tengah hujan seperti itu? Kau bisa sakit." Tanyanya sambil menggosok-gosok tangannya dan tubuhnya menggigil kedinginan.

"Yang jelas bukan urusanmu." Aku menjawabnya dengan datar lalu mengalihkan pandangannku ke luar kafe.

Meakipun aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Aku yakin sekali bahwa wanita di depanku ini sedang terpesona memandangi wajah tampanku. Yah, aku memang tampan dan kaya. Tak heran banyak sekali wanita yang tergila-gila bahkan memohon untuk mendapatkan perhatian dariku.

Sayangnya aku tak pernah tertarik kepada para wanita matrealistis itu. Bagiku mereka hanya memuas nafsuku sesaat, jika aku sudah bosan aku akan segera menendang mereka menjauh dariku.

Terserahlah apa kata orang. Aku tak peduli jika mereka menyebutku pria brengsek, tak punya hati atau apapun. Ya, aku memang brengsek dan tak punya hati. Bagiku bersikap baik kepada orang-orang tak berguna termasuk wanita hanya membuang-buang waktuku saja.

Aku tak percaya dengan cinta ataupun kasih sayany sejak aku kecil. Karena suatu hal yang membuatku jadi orang yang tak memiliki hati nurani. Hal yang selalu menyiksaku hingga saat ini.
Kedatangan pelayan yang membawa pesananku langsung menginterupsi pikiranku. Setelah mengucapkan terima kasih aku langsung menikmati coklat panas yang masih mengepul itu. Menyesapnya dengan perlahan.

Sedangkan wanita di hadapanku ini masih saja memandangiku dengan tatapan yang sepertinya ingin melahapku bulat-bulat.

"Cepat habiskan minumanmu, lalu akan aku antar kau pulang." Ucapku sambil terus memandanginya penuh selidik.

"Ah, te-terima kasih." Lagi-lagi ia menjawabku dengan gugup. Lalu ia segera meminuman coklat panas yang bisa aku pastikan sudah tidak panas lagi.

"Bagus, cepat habiskan karena aku akan segera mengantarmu pulang." Jawabku sambil lalu.

"Tidak, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri dengan taksi. Terima kasih." Ucapnya buru-buru.

"Hujan seperti ini akan lama sekali redanya. Dan tak akan ada taksi yang lewat. Jangan membantahku." Tegasku sambil memelototinya.

Wanita itu hanya membuka mulutnya mendengar kata-kataku. Lalu ia mendengus kesal sambil minum kembali minuman coklatnya.

Dan lagi-lagi aku memergokinya sedang memandangiku kembali. Astaga, apa ia tidak bisa melakukan sesuatu lain daripada hanya memandangiku? Andai saja aku tahu apa yang sedang di pikirkannya. Ia terkejut ketika melihatku sedang menatapnya. Wajahnya langsung memerah dan ia hanya tersenyum bodoh.

Astaga, benar-benar wanita aneh yang memiliki kebiasaan berkhayal dan memandangi orang dengan terang-terangan. Aku akan terlihat begitu bodoh jika berada di tempat ini lebih lama lagi.

"Ayo kita pergi, aku tak mau kita kemalaman di jalan." Tegurku dengan nada memerintah.

Wanita itu segera membereksan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas. Beranjak dari kursinya lalu berjalan mengikutiku di belakang.

Di luar Fred sudah menungguku. Lalu ia membungkuk hormar kepadaku dan membukakan pintu mobil untuk kami setelah kami mendekat. Keheningan langsung menyergapku ketika kami sudah duduk di dalam. Setelah aku menanyakan di mana alamat tempat ia tinggal, wanita itu langsung kembali sibuk dengan pikirannya.

"Benar-benar bodoh, bisa-bisanya kau tertidur di dalam mobil bersama seorang pria yang asing." Gumamku ketika melihatnya tertidur di dalam mobil.

"Sir, apa kita akan tetap mengantarkannya pulang?" Tanya Fred.

"Tidak, kita langsung saja pulang ke penthouse milikku." Perintahku sambil terus memandangi sosok yang sedang tertidur dengan damainya di sampingku.

"Baik, Sir." Jawab Fred.

Aku tetap asyik memperhatikan wanita itu tertidur. Wajahnya terlihat sangat damai dan terlihat sangat cantik. Ketika di kafe aku tidak mengadarinya bahwa ia memiliki wajah yang sangat menggoda. Dan bibirnya yang merah dan penuh itu sangat menggoda sekali, aku ingin sekali menciumnya. Benar-benar cantik. Hembusan nafasnya yang teratur membuatku nyamun namun berdesir.

Aku melumat bibirnya dengan lembut, mencecap rasanya yang begitu manis dan begitu hangat. Semakin lama aku tak bisa menahan diriku lagi. Namun gerakan tubuhnya langsung membuatku tersadar. Astaga, apa yang sudah kau lakukan Vanno?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar