"HANNA... Tunggu..."
Tubuh Hanna yang berada dalam pelukanku langsung menegang ketika mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.
Siapakah sebenarnya orang itu? Ada hubungan apa Hanna dengannya? Pikiran-pikiran itu langsung berkecamuk di dalam kepalaku.
***
HANNA
James sangat menyebalkan. Mengapa sekarang ia bertingkah seperti ibuku. Yah, meskipun aku tahu bahwa yang di lakukannya itu karena ia tidak mau terjadi sesuatu kepadaku. Apakah sekarang ia jadi peduli kepadaku? Entahlah, aku sudah terlanjur illfill kepadanya.
Karena aku sedang malas berdebat panjang lebar dengannya, aku memutuskan untuk menuruti perkataannya saja. Hanya untuk kali ini saja.
Kami makan di restoran dalam keheningan. Baik aku maupun dia sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Baru beberapa suap aku memakan makanan yang ada di hadapanku. Pandanganku tiba-tiba saja menangkap sosok yang paling ingin aku hindari saat ini. Dan ketika seseorang yang tidak aku harapkan itu berbalik memandangku. Aku langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan, Hanna. Ini minum dulu. Kau baik-baik saja, kan?" James menyodorkan segelas air putih kepadaku.
"Terima kasih." Jawabku cepat sambil meminum air yang di berikannya kepadaku. Aku terus menundukkan wajahku agar Alex tidak bisa melihat wajahku.
Namun di luar dugaan tiba-tiba saja James meraih daguku dan mengangkatnya agar memandang wajahnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Bisakah kita kembali ke kamar saja, please?" Rengekku dengan suara yang bergetar.
"Tapi kau baru memakan sarapanmu sedikit, Hanna."
"Aku akan memesan makanan dan memakannya di kamar saja."
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita kembali ke kamar saja."
Akhirnya kamipun beranjak dari kursi dan bergegas meninggalkan restoran. James melingkarkan tangannya di pinggangku. Dan itu membuatku merasa jauh lebih rileks.
Sampai tiba-tiba Alex berteriak memanggil namaku, tubuhku langaung menegang mendengar suaranya. Secara spontanitas aku dan James menghentikan langkah kami.
"HANNA... Tunggu..." teriak Alex.
Aku memandang James yang saat ini sedang menatapku tajam. Akhirnya dengan ragu-ragu aku memutuskan untuk berbalik dan menghadapi Alex saja.
"H-hai Alex, apa kabar?" Tanyaku dengan terbata-bata.
"Astaga ternyata ini benar kau. Aku sempat ragu ketika akan memanggilmu tadi." Jawabnya sambil tersenyum.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi sekarang? Mengapa Alex tiba-tiba muncul di saat yang sangat tidak tepat seperti ini. Mengapa ia muncul di saat aku sedang bersama suamiku. Err apakah barusan aku menyebut James dengan sebutan suamiku? Argh, ini benar-benar menyebalkan sekali.
"Apa kabar, Alex?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku.
"Baik-baik saja dan bertambah baik karena aku akhirnya bertemu denganmu. Kau tahu aku sangat merindukanmu." Ucap Alex dengan tatapan penuh kerinduan kepadaku.
Sedangkan di lain sisi aku bisa merasakan pandangan menusuk dari sampingku. Meskipun aku tidak melihatnya tapi aku bisa merasakan aura membunuh yang berasal dari James.
Aku bingung, tak tahu harus bersikap dan bereaksi seperti apa kepada Alex saat ini. Jauh di lubuk hatiku, aku sangat merindukannya. Ingin sekali rasanya aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya.
Tapi itu tak mungkin, di lain sisi aku tetap harus menghormati James. Karena bagaimanapun jika James itu adalah suamiku secara sah. Tuhan, apa yang harus aku lakukan.
"Kau tidak akan mengenalkannya kepadaku, sayang?" Suara James yang tiba-tiba langsung membuatku membeku.
Alex langsung memandangiku sambil mengernyitkan kening. Sedangkan aku salah tingkah. Tak tahu harus menjawab apa. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba James langsung berkata.
"Perkenalkan aku James Arthur, suami sah dari Hanna Trevelyn. Ah, Hanna Arthur sekarang namanya." Ucap James sambil mengulurkan tangan kepada Alex.
"Kau suaminya, Hanna?" Pekik Alex tak percaya.
Aku bisa melihat kekecewaan yang tersirat di matanya itu. Alex memandangku meminta penjelasan, tapi aku hanya bisa membalasnya dengan pandangan minta maaf.
Wajah Alex langsung terlihat gusar, "Aku benar-benar tak menyangka kau akan berbuat sekejam ini, Hanna. Aku benar-benar kecewa padamu." Cecar Alex dengan emosi yang meluap-luap. Lalu Alex pergi meninggalkan restoran.
"Alex, tunggu..." tapi James menahanku, " Lepaskan aku James, aku tak ingin menyesal seumur hidupku."
"Aku suamimu, Hanna. Kau harus mematuhiku."
"Aku akan mematuhimu James aku akan menuruti apapun yang mau, tapi aku mohon untuk sekali ini saja. Ijinkan aku berbicara dengan Alex." Tiba-tiba cengkraman James mengendur dan melepaskanku, "Terima kasih, James." Ucapku lalu bergegas mengejar Alex.
Aku berlari keluar dari hotel. Untung saja Alex belum jauh. Aku masih bisa mengejarnya di lobi hotel.
"Alex... tunggu!" Panggilku.
Alex langsung berhenti dan berbalik menatapku. Hatiku semakin terasa sakit ketika melihat wajahnya yang menyiratkan luka.
"Hanna..."
"Aku harus bicara denganmu, semua ini tidak seperti yang kau kira, Alex."
"Apa yang ingin kau jelaskan kepadaku, Hanna? Semua sudah cukup jelas." Q
"Bisakah kita berbicara sambil duduk?" Aku menawarkan. Alex akhirnya mengikuti duduk di sofa yang tersedia di lobi hotel.
"Maaf karena kita harus bertemu dengan cara yang seperti ini, Alex."
"Kau tahu tadinya aku senang sekali karena bisa melihatmu. Aku sangat merindukanmu, Hanna. Tapi apa yang aku dapat?" Alex menggeleng-gelengkan kepalanya gusar, "Kau bilang akan setia menungguku, selama itu pula aku percaya bahwa hanya ada aku yang ada di hatimu, Hanna. Kau membuatku kecewa, Hanna."
"Mengapa kau jadi menyalahkanku, Alex? Apakah kau tidak menyadari bahwa aku jadi seperti ini karenamu? Kau pergi bertahun-tahun tanpa memberiku kabar sama sekali-kali." Timpalku dan mulai terisak.
"Jika kau bersabar sedikit lagi. Tadinya aku berniat untuk melamarmu, Hanna. Kau sudah tidak mencintaiku lagi."
"Kau tahu bagaimana perasaanku kepadamu seperti apa, Lex. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu di hatiku."
"Omong kosong, kau tidak mencintaiku. Jika kau mencintaiku kau tidak akan menikah dengan pria itu."
"Aku memang masih mencintaimu, Alex. Aku tidak mencintai, James." Isakku.
"Aku tak percaya jika kau tidak mencintai suamimu itu. Buktinya sekarang kau menikah dengannya."
"Aku dan James menikah tanpa di dasari oleh cinta, Lex."
"Sudahlah, kau membuatku bingung. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa kepadamu sekarang. Kau membuatku gila." Jelas Alex gusar.
Ya Tuhan, cara apalagi yang harus aku lakukan agar Alex mau mempercayaiku dan mau memaafkanku lagi? Aku masih mencintainya, aku tak ingin kehilangannya. Aku menutup mataku sesaat, berusaha untuk menghentikan air mataku.
"Sebaiknya aku pergi. Aku butuh waktu untuk mencerna semua pembicaraan kita ini, Hanna. Sampai jumpa lagi." Pamitnya lalu pergi meninggalkanku termanggu di lobi.
Kau jangan menangis Hanna, semua pasti akan baik-baik saja. Alex hanya terkejut makanya dia bersikap dari itu. Lagi pula Alex tidak akan pergi, ia mengatakan sampai jumpa lagi, ucapku dalam hati. Tapi air mataku tetap jatuh membasahi pipiku.
Aku memutuskan untuk pergi ke toilet sebelum kembali ke kamar. Aku tak mau James mengolok-olokku jika melihat bulir-bulir air mata yang membasahi pipiku. Aku membasuh wajahku, setelah wajahku terlihat lebih baik dari sebelumnya aku langsung bergegas kembali ke kamar.
♥♥♥
JAMES
Tepat seperti dugaanku. Pria bernama Alex itu memiliki hubungan yang spesial dengan Hanna. Buktinya pria itu terlihat terkejut dengan tatapan yang terluka ketika aku memperkenalkan diri sebagai suami Hanna.
Aku takkan membiarkanmu kembali pada lelaki itu Hanna. Akan kubuat kau jatuh cinta dan bertekuk lutut kepadaku. Tidak akan kubiarkan orang lain merebut apa yang sudah menjadi milikku.
Mengapa Hanna belum kembali juga kemari? Jangan-jangan ia melarikan diri bersama pria itu untuk menghindariku? Tidak. Tidak mungkin, aku yakin Hanna tidak akan melakukan hal yang seperti itu. Buktinya saja ia menetapi janjinya untuk menemuiku setelah pertemuan pertama kami di danau benerapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba saja Hanna datang, wajahnya terlihat murung. Aku bisa melihat matanya yang sembab. Apakah Hanna menangis? Tapi kenapa? Apakah Hanna menangis untuk pria itu? Ataukah pria itu yang membuatnya menangis?
"Rupanya kau sudah datang. Cepat makan sarapanmu, Hanna. Aku sudah memesan sarapan untukmu."
"Aku sudah tidak berselera untuk makan, James." Jawab Hanna lesu sambil berjalan menuju ke kamar. Lalu aku mengikutinya dan melihat Hanna membaringkan tubuhnya meringkuk.
"Kau harus makan, aku tak mau kau pingsan lagi, Hanna." Tegurku dengan lembut. Namun Hanna tetap menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu biar aku suapi saja." Lalu aku bergegas keluar kamae mengambil nampan yang berisi makanan dan segelas jus jeruk dan menyimpannya di nakas. Aku menarik salah satu kursi mendekat ke ranjang, lalu aku duduk di kursi tersebut. "Ayo, buka mulutmu kau harus makan Hanna. Atau seharian ini kita hanya akan berada di dalam kamar."
Dengan perlahan Hanna duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur. Dan membuka mulutnya. Seumur hidup baru kali ini aku menyuapi seorang wanita.
"Sudah cukup, aku sudah kenyang. Terima kasih, maaf aku selalu menyusahkanmu." Ucapnya sambil menundukan kepala dalam-dalam.
Aku menyimpan piring yang kupegang di atas nampan. Lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan mengangkat dagu Hanna agar menatapku, "Ceritakan kepadaku jika kau sudah merasa siap. Aku tak ingin kau menyembunyikan sesuatu dariku. Karena bagaimanapun juga kau ini istriku dan aku bertanggung jawab penuh terhadap dirimu. Sekarang beristirahatlah."
"James, sekali lagi terima kasih." Aku hanya mengangguk kemudiam melangkah keluar dari kamar.
Aku keluar sambil mengepalkan tangan kuat-kuat karena menahan amarah yang tiba-tiba saja memenuhi dadaku. Lalu aku mengambil ponselku dan segera menghubungi seseorang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar