"Andara, Lila... Aku pulang duluan, ya." Pamitku kepada kedua sahabatku.
"Hati-hati di jalan, Dhee."
"Tentu saja, Ra. Aku pasti akan berhati-hati."
"Jangan lupa besok kita ada janji pergi ke toko buku bersama."
"Aku ingat, Lila. Bye." Aku langsung keluar dari perpustakaan yang berada di kampus.
Ketika aku sudah sampai di pintu. Tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi jalanku.
Gale. Nama itulah yang langsung terlintas di dalam kepalaku. Dan ternyata tebakanku tidak meleset.
"Hai Dhee..." sapanya sambil memamerkan gigi-giginya yang putih dan berbaris rapi kepadaku.
"Oh, hai Gale. Aku kira siapa, aku duluan ya. Bye." Aku bergegas untuk melanjutkan perjalananku menuju ke parkiran mobil. Namun Gale mengikutiku.
"Tunggu Dhee, bagaimana jika aku antar kau pulang?"
"Tidak terima kasih, Gale. Aku membawa mobilku sendiri."
"Ayolah, Dhee. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."
"Lain kali saja, Gale. Aku membawa mobilku." Aku terus berjalan dan tidak menghiraukan Gale. Namun pria tampan itu tetap saja mengikutiku.
Sebenarnya Gale itu pria yang baik dan tampan. Banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarnya di universitas ini. Gale selalu di kelilingi oleh wanita-wanita cantik. Sebenarnya aku menyukai Gale, demi Tuhan hanya wanita bodoh yang tidak akan tertarik dan jatuh cinta kepada Gale.
Gale yang merupakan kakak tertua Lila sahabatku yang saat ini tengah menyelesaikan studinya di universitas yang sama denganku. Gale itu seorang playboy. Bersama seorang temannya lagi yang bernama James. Aku heran mereka berdua itu memiliki wajah yang tampan. Hanya saja kelakuan mereka tidak setampan wajahnya.
Namun yang membuatku mengambil keputusan untuk mengacuhkan Gale adalah karena Gale selalu memperlakukan wanita seenaknya. Sepertinya wanita-wanita itu tidak ada harganya di matanya meskipun tidak separah James. Dan aku tidak ingin menjadi wanita yang seperti itu. Menjadi wanita yang dengan mudah takluk ke
pelukan Gale.
Aku tidak akan mudah untuk di takluklan, dan hasilnya saat ini Gale terus saja mengejar-ngejarku. Bahkan ia mulai
mengacuhkan wanita-wanita mainannya itu, karena dia hanya ingin menunjukkan bahwa
ia sudah berubah dan hanya akan mencintaiku. Haruskah aku percaya dengan semua perkataannya?
"Dhee..." Gale terus saja mengikutiku, dan berhasil menghentikan langkahku.
Aku membalikan tubuhku sambil berkacak pinggang, "Berhenti untuk terus-terusan mengikutiku, Gale. Kau membuatku risih, tahu." Aku memelototinya.
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk mengejarmu, Dhee. Aku akan terus seperti ini sampai kau berhenti mengacuhkanku. Kau tahu Dhee, jika sedang marah seperti ini kau terlihat sangat cantik sekali. Bunga mawar yang tumbuh di taman rumahkupun tidak menandingi kecantikan wajahmu." Ucapnya sambil merayuku.
"Berhati-hatilah pada bunga mawar, Gale. Atau kau akan tertusuk duri bunga itu sendiri."
"Aku tidak peduli, Dhee. Aku rela tertusuk oleh duri-durimu, asalkan aku bisa bersama denganmu."
"Terserah kau saja, Gale. Kau benar-benar sangat konyol."
"Aku tak peduli, sayang. Jika menjadi konyol bisa membuatmu membuka hati untukku, akan aku lakukan."
Aku membelakakan mataku dengan mulutnya terbuka, ingin rasanya aku tertawa mendengar ucapan Gale itu. Namun lagi-lagi aku menahannya dan hanya tertawa dalam hati saja. Pria setampan Gale yang terkenal sebagai seorang playboy rela menjadi seseorang yang konyol hanya untuk menarik perhatianku saja. Ya ampun.
"Sudahlah Gale, aku mau pulang. Menyingkir dari depan mobilku."
Dengan wajah yang sedih Gale menyingkir dari depan pintu mobilku. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil dan
menyalakan mesinnya. Namun Gale masih berdiri teepat di depan moblku. Aku menurunkan kaca jendela. "Gale... Bisakah kau menyingkir. Aku ingin pulang."
Akhirnya Gale menyingkir dan aku terbebas dari kejaran Gale. Aku sebenarnya sudah mulai merasa risih dengan kelakuannya. Setiap hari dia selalu saja menggangguku di
kampus, di manapun aku berada Gale pasti akan berada di tempat yang sama denganku. Andara dan Lila sudah sering sekali menyuruhku untuk menerima Gale. Namun aku tetap menolaknya, aku belum merasa yakin pada hatiku. Gale belum cukup meyakinkan hatiku.
***
Keesokan harinya sepulang dari kampus aku, Lila dan Andara pergi ke toko. buku bersama-sama. Jika sudah berada di sana kami bertiga akan lupa waktu, karena membaca buku adalah hal yang paling kami
sukai. Setelah selesai kami pergi ke rumah Andara untuk mengerjakan tugas bersama-sama.
"Dhee, mau sampai kapan kau terus-terusan bersikap dingin kepada Kak Gale? Aku tahu bahwa kakak itu seorang playboy. Tapi apakah kau tidak bisa melihat perubahannya sekarang? Semenjak bertemu denganmu Kak Gale menghindari semua wanita yang biasa mengejar-ngejarnya." Lila memecah keheningan diantara kami bertiga.
"Aku tahu Lila, hanya saja... Entahlah, aku bingung dengan perasaanku saat ini." Jawabku sambil mengangkat bahu. Lila memang menyayangi kakaknya itu namun meskipun begitu Lila tidak pernah memaksaku untuk menerima pernyataan cinta dari kakaknya itu.
"Berhenti menyangkal perasaanmu sendiri, Dhee. Kami berdua tahu bahwa kau sebenarnya memiliki perasaan juga kepada, Gale. Ah, jangan bilang bahwa kau masih teringat dengan Adam." Andara menyambung.
"Bisakah kita hentikan pembicaraan ini dan menyelesaikan tugas kita ini? Kumohon."
"Baiklah." Lila dan Andara menjawab bersamaan.
Namun aku tidak bisa berkonsentrasi dan fokus dengan apa yang sedang aku kerjakan saat ini. Pikiranku langsung menerawang pada kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu.
"Dhee, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Takkan ada wanita lain dalam hidupku, karena kau satu-satunya wanita yang berhasil meluluhkanku." Ucap Adam sambil membelai wajahku lembut.
Mendengar ucapannya itu wajahku langsung bersemu merah, aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku, "Adam, aku juga sangat mencintaimu dan aku juga sangat mempercayaimu. Aku percaya bahwa kau tidak akan pernah menyakitiku."
"Terima kasih karena sudah mau mencintaiku dan mempercayaiku, Dhee. I love you." Adam lalu mencium bibirku.
Selama dua tahun aku berpikir bahwa Adam benar-benar mencintaiku dan ia memang tidak pernah menyakitiku. Itulah pemikiran awalku, pemikiran yang selama ini aku pelihara. Sampai pada suatu hari, ketika aku pergi berjalan-jalan. bersama kedua sahabatku Lila dan Andara. Kami jarang bertemu karena aku memilih universitas yang sama dengan Adam daripada bersama dengan kedua sahabatku.
Ketika sedang mengobrol di sebuah kedai kopi Andara melihat Adam sedang bersama seorang wanita. Awalnya aku tidak mempercayai ucapan Andara sampai pada akhirnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.
"Apakah kau ingin menyelidikinya, Dhee? Aku dan Andara pasti akan membantumu," Lila menawarkan bantuannya.
"Ya, aku ingin tahu apa yang sering Adam lakukan di belakangku, La. Aku harus mengetahuinya,"
"Bersikaplah seperti biasa jika bertemu dengan Adam. Kami akan menyelidikinya diam-diam, siapa tahu Adam sedang bersama saudaranya." Tukas Andara.
"Terima kasih, karena kalian berdua selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk mengadu dan berkeluh kesah."
"Itulah gunanya sahabat,Dhee. Kami takkan pernah meninggalkanmu sendiri dalam keterpurukan." Ucap Lila sambil menepuk bahuku, "Ayo kita membicarakan topic yang lain saja setuju, kan?" Sambung Lila, padahal aku tahu sekali bahwa Lila masih saja bersedih tentang Dave. Meskipun saat ini Lila sedang dekat dengan seoran pria bernama Zac.
Sejak hari itu aku mulai menyelidiki segala aktifitas yang di kerjakan Adam di belakangku di temani oleh Lila dan Andara.
Adam sering sekali pergi keluar dengan wanita yang berbeda-beda, aku jadi tahu alas an dia sebenarnya mengapa hanya mengunjungiku di siang dan sore hari saja, itupun hanya sebentar. Ya Tuhan... semua keperyacaan yang aku bangun selama ini hancur seketika. Dan puncaknya adalah. ketika aku mendatangi apartemen Adam. Ya, aku mendapati Adam sedang bersama dua orang wanita dikamarnta dan tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka bertiga.
Selasa, 24 September 2013
Love Doesn't Have To Hurt Chapter 1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar