Jumat, 13 September 2013

Tell Me It's Love (FanFiction)

Perkenalkan namaku Melvinna Julikova, tapi aku biasa dipanggil Vinna atau Julli. Aku lahir di keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kurang maupun berlebihan.

Aku ini anak tunggal, no brother or sister. Banyak teman-temanku yang bilang kalau jadi anak tunggal itu menyenangkan. But not for me, aku benar-benar kesepian. Mommy dan daddy’ku sibuk bekerja, dari pagi hingga malam. Setiap hari sepulang sekolah rumah selalu kosong. Untunglah aku punya banyak teman, jadi aku tidak merasa kesepian.

Seperti hari-hari biasanya, pagi itu aku tergesa-gesa berangkat ke sekolah. Karena bis sekolahnya sudah menunggu dan sang supir bis sudah kesal. Karena dia terus membunyikan klakson.

“Bye, Mom. Bye, Dad,” ucapku sambil mencium pipi kedua orang tuaku sambil berlari keluar rumah. Mommy dan daddy sudah tidak aneh dengan kebiasaan burukku yang selalu susah untuk bangun pagi.

Segera saja aku memasuki bis dan langsung duduk di sebelah Tysha sahabat baikku sejak kecil.

“Ya ampun Vinn, jangan bilang kalau kamu terlambat lagi bangun,” tegur Tysha ketika aku sudah duduk di sampingnya.

“Hehehehe,” aku cuma tertawa menjawab pertanyaan dari sahabatku itu.

Tiba-tiba ada yang nyeletuk dari bangku belakang tempat aku dan Tysha duduk.

“Dia sih udah kayak kebo, jadi mana mungkin bisa berubah buat bangun pagi,” ujar orang yang duduk di belakang tersebut.

Ternyata eh ternyata si pemilik suara tersebut adalah Mark Feehily, cowok yang menyebalkan bagi Vinna. Karena tiap hari Vinna dan Mark selalu bertengkar.

Meskipun pada kenyataannya banyak sekali cewek-cewek yang tergila-gila sama Mark. Karena Mark termasuk salah satu cowok terpopuler dan tercakep di sekolah, bersama keempat temannya yaitu Nicky Byrne, Shane Filan, Brian McFadden dan Kian Egan.

Pasti kalian bertanya-tanya kan bagaimana aku bisa akrab dengan para cowok popular itu. Itu karena sahabatku tercinta pacaran dengan Nicky Byrne, otomatis kami sering berkumpul, belajar bahkan pergi jalan-
jalan bareng. Dan dari mereka berlima Mark-lah yang paling menyebalkan.

Dia selalu menggangguku, bahkan sampai membuatku menangis. Jauh berbeda dengan keempat temannya yang cool, baik dan ramah. Pokoknya Mark nggak ada bagus-bagusnya di mata aku.

***

Saat istirahat pun tiba. Aku dan Tysha pergi menuju kantin bersama-sama. Dan tentu saja Tysha dan Nicky duduk di satu meja yang sama bersama teman-temannya Nicky. Dan tentu saja si cowok menyebalkan itu pasti ada. Aku benar-benar malas, karena harus makan satu meja dengan dia. “Tuhan, kenapa aku harus selalu bertemu dengan cowok menyebalkan itu sih? Apa salah aku?” keluhku dalam hati.

Kali ini aku memilih untuk banyak diam selama makan, meskipun Mark terus-terusan berusaha untuk memancing emosi. Sampai akhirnya Mark cape sendiri karena aku tidak terpancing oleh keusilannya itu. Dan akupun tersenyum puas dalam hati.

“Eh, jadikan hari minggu besok kita pergi ke pantai?” Kian membuka suara.

“Jadilah, kamu ikutkan, sayang?” Tanya Nicky pada Tysha dengan mesra.

“Memang yang ikut siapa aja?” Tanya tysha.

“Aku, Nicky, Mark, Brian dan Kian,” jawab Shane.

“Ceweknya siapa? Jangan bilang cuma aku.” Jawab tysha dengan pasti.

“Ada pacarnya Shane, Kian sama Brian kok, sayang. Kamu ajak Vinna aja biar kamu ada temennya.” Tambah Nicky.

Aku yang sedang minum langsung
tersedak mendengar ucapan Nicky itu.

“No, aku nggak mau ikutan ah,” jawabku.

“Why? Please, kamu ikut, ya. Aku nggak ada temennya, Vinn,” Tysha memohon padaku.

“Tapi…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Brian langsung bersorak.

“OK, sudah di putuskan. Vinna akan ikut sama kita pergi ke pantai hari Minggu besok.” Ucap Brian sambil berdiri.

Aku pun sudah tidak bisa menolak lagi. Sekilas aku melirik ke arah Mark dan dia tersenyum. Entah apa arti dari senyumannya itu. Well, mungkin dia senang karena dia bisa mengerjaiku lagi di sana nanti.

Sejak hari dimana kami merencanakan untuk pergi ke pantai, mereka semua sibuk bercerita tentang apa saja yang akan di lakukan di sana nanti. Padahal hari Minggu itu masih besok lusa, sekarang aja masih hari Kamis tapi mereka benar-benar terlihat happy dan sangat excited. Sepertinya para cowok itu sudah tidak sabar menunggu hari Minggu tiba.

***

Hari Minggu tiba, kami janjian di depan sekolah. Aku ikut mobilnya Nicky bersama Tysha. Setelah semuanya berkumpul kami pun segera berangkat menuju ke kawasan Strandhill. Ternyata mereka semua datang berpasangan. “Waduh jangan-jangan mereka mengajaku untuk mengenapkan jumlah saja lagi,” rutukku dalam hati.

Sepanjang perjalanan Nicky dan Tysha terlihat sangat mesra, bahkan nggak jarang Nicky mengecup lembut bibir Tysha. Dan aku benar-benar sangat risih melihat pemandangan di depanku saat ini. Akhirnya aku memilih untuk tidur saja, daripada harus melihat kemesrasaan mereka berdua sepanjang perjalanan.

“Eh, sayang, Vinna kok nggak
kedengaran suaranya, ya?” Tanya Nicky sambil terus menyetir mobilnya.

Tysha menengok kebelakang dan
mendapati Vinna sedang tertidur dengan pulasnya.

“She’s sleeping, honey.”

“Vinna tuh sama kayak Mark. Kalau pergi kemanapun pasti sukanya tidur.”

“Tapi, kok Mark sering banget ya ngejek Vinna tukang tidur. Padahal sendirinya juga sama-sama tukang tidur."

“Sayang, masa kamu nggak tahu sih kalau Mark itu orangnya gengsian. Jadi mana mungkin dia mau ngaku kalau tukang tidur juga.”

***

Di Strandhill Beach…
Tysha membangunkan aku dengan suara yang cukup nyaring.

“Iya, iya aku bangun.” Jawabku sambil manyun dan keluar dari mobil.

Setelah semuanya berkumpul merekapun mulai memperkenalkan pacar mereka masing-masing. Dan aku baru tahu kalau nama pacarnya Shane itu Gillian, pacarnya Brian Kerry dan pacarnya Kian bernama Jodi. Aku benar-benar minder, karena mereka memiliki wajah yang cantik, Tysha sahabat tercintaku juga memiliki wajah yang cantiknya setara dengan Gillian, Kerry dan Jodi.

“Hey, ayo berenang,” ajak Jodi.

Dan langsung di jawab setuju oleh Tysha, Gillian dan Kerry. Sedangkan aku hanya duduk dan diam memperhatikan lautan yang luas di depanku.

“Vinn, ikutan, yuk” ajak Gill padaku.

“Duluan, deh. Aku pengen nikmatin pemandangan laut yang biru dari sini,” jawabku. Padahal sih aku nggak bisa berenang.

“Oh, ya sudah deh. Kita tinggal dulu, ya,” jawab Kerry yang lalu pergi meninggalkanku dan menyusul yang lain.

Ternyata Kian membawa papan
surfingnya, ternyata Kian mahir bermain surfing. Pantas saja Jodi bisa jatuh cinta sama Kian, karena Kian memang keren.

Apalagi saat bermain surfing, wuihhh benar-benar keren.  Sedangkan yang lainnya asyik bermain volley pantai.

“Senangnya liat mereka. Apalagi mereka pasangan yang serasi lagi,” ucapku perlahan sambil memperhatikan mereka.

Di tengah lamunanku tiba-tiba Mark datang dan duduk di sampingku.

“Hey, tukang tidur. Ngapain kamu disini? Udah jauh-jauh datang kesini bukannya di nikmatin malah dipake bengong nggak jelas.”

“Sok tahu, memangnya datang ke pantai mesti selalu harus berenang, surfing, main pasir atau main volley? Nggak, kan.” Hardikku.

Tapi Mark tidak membalas perkataanku seperti biasanya. Dia cuma tersenyum sambil memandangku dan bikin aku deg
deg’an. Untung saja Mark langsung mengalihkan pandangannya ke arah laut.

Diam-diam akupun memperhatikannya. Ternyata Mark benar-benar tampan, dia punya mata yang indah dan menyejukkan hati. Aku buru-buru tersadar dari kekagumanku pada Mark sambil menggeleng-gelangkan kepalaku. Gawat ini gawat, jangan sampai kamu masuk perangkap pangeran narsis itu, Vinn.

“Kamu kenapa?” Tanya Mark dengan tatapan bingung.

“Nggak apa-apa, kok,” ucapku sambil memalingkan pandangan dari Mark dengan wajah yang memerah.

Mark cuma tertawa melihat tingkah konyolku itu. Sampai tiba-tiba dia mengambil novel yang sedang aku pegang dan berlari menuju laut.

“Hei, pangeran narsis. Balikin buku aku,” aku berteriak pada Mark.

“Nggak mau. Kalau bisa ambil aja sini,” dia menantang.

“Ishh, dia benar-benar menyebalkan.”

Dengan terpaksa aku pun mengejar dia, untuk menapatkan kembali novel kesayanganku itu. Dia benar-benar mempermainkan aku. Berlari kesana kemari, membuatku lelah. Sedangkan
yang lain cuma tersenyum melihat aku dan Mark berlari-lari seperti Tom and Jerry.

“Masa cuma segitu, sih. Masih kuat ngejar aku?”

“Mau ngerjain aku, ya.”

“Iya, aku mau bikin kamu bergerak,biar nggak duduk-duduk aja. Ayo, cepat. Jangan loyo gitu!”

Akupun kembali mengejar Mark sampai ke pinggir laut. Pakaian kami berdua sudah basah terkena ombak laut. Tanpa di sadari kami ternyata semakin ke tengah sampai akhirnya aku tenggelam.

“Ma…Mark. T..too..long aku..” sambil berusaha naik ke permukaan.

“Jangan bercanda, deh,” ucap Mark sambil berbalik.

Sampai tiba-tiba Tysha berteriak.
“Mark…. Vinna nggak bisa berenang. Cepetan tolong dia,” teriak Tysha dari pinggir laut.

Mendengar itu Mark langsung pucat dan segera menolong Vinna yang sudah tenggelam dan tidak sadarkan diri. Akhirnya Mark berhasil menyelamatkan Vinna.

“Vinn, ayo sadar, please.” Ucap Mark sambil terus memberikan pertolongan pertama pada Vinna.

Teman-temannya heran melihat Mark yang sangat panik dan ketakukan. Tidak seperti biasanya Mark seperti ini.

“Vinn, please. Open your eyes,”

“Coba kasih nafas buatan, Mark. Aku bisa kok,” Tysha menawarkan diri.

“Biar aku aja,” ucap Mark dengan
pandangan mata yang terus terfokus pada Vinna.

Mark pun memberikan nafas buatan pada Vinna. Dan setelah tiga kali Vinna pun terbatuk-batuk dan air laut yang tertelannya pun keluar semuanya. Mark langsung memeluk Vinna dengan sangat erat begitu Vinna sadar.

“Syukurlah, kamu sadar, Vinn. Aku bener-bener takut banget. Aku takut kamu kenapa-napa, Vinn,” Mark terus berbicara sambil memeluk Vinna.

Pemandangan yang nggak biasa itu bikin teman-temannya bertanya-tanya. Mungkin sebenarnya selama ini Mark menyukai Vinna, tapi Mark terlalu gengsi buat mengakui perasaannya itu.

Tapi, itu semua baru dugaan saja. Karena Mark ini susah banget di tebak isi hatinya.

***

Keesokkan harinya. Vinna tidak masuk sekolah, karena terserang demam yang tinggi. Mark yang tidak seharian melihat Vinna pun mulai mencari-cari informasi tentang keadaan Vinna. Sebelum bell, Mark mendatangi kelas Vinna untuk bertanya tentang keadaan Vinna pada Tysha.

“Tysha, Vinna masuk, nggak?” Tanya Mark.

“Vinna nggak masuk, Mark. Mommy’ny tadi telepon aku, katanya Vinna demam tinggi.”

“Apa! Vinna sakit?”

“Iya, Mark. Eh, tapi nggak biasanya deh kamu perhatian kayak gini sama Vinna. Jangan-jangan kamu suka ya sama dia?”

“Ah, enggak, kok. Mana mungkin seorang Mark Feehily jatuh cinta sama cewek kayak Vinna.”

“Jangan bohong, deh, Mark. Sudah terlihat sangat jelas, kok. Kalau kamu itu suka sama Vinna. Paniknya kamu waktu liat Vinna tenggelam kemarin tuh sudah jadi bukti dan tanda yang sangat jelas, Mark” Mark terdiam mendengar ucapan Tysha.

Dugaan Tysha memang benar dan tidak meleset sedikitpun. Sebenarnya sudah sejak lama Mark menyukai Vinna. Jauh
sebelum Nicky dan Tysha jadian. Karena menurut Mark, Vinna itu berbeda dengan kebanyakan cewek yang di kenalnya.

Vinna seperti punya dunianya sendiri dan nggak terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya. Meskipun penampilan Vinna biasa saja, tapi Mark bisa melihat kecantikan Vinna yang tersembunyi di balik penampilannya yang cuek itu.

Cuma satu hal yang bikin Mark belum mau mengakui perasaannya pada Vinna, karena Mark punya rasa gengsi yang besar.

“Mark.. Maaarrkkk,” suara Tysha
membuyarkan lamunan Mark.

“Hah! Apaan?” Mark tersadar dari lamunannya.

“Yeee, malah bengong. Udah bell, tuh. Cepetan masuk kelas sana. Nanti kita ketemu di kantin aja,” jelas Tysha.

“Oh, OK. Bye.” Mark langsung berlari menujun kelasnya karena takut Ms.Bella keburu masuk kelas.

Selama jam pelajaran berlangsung tidak ada satupun mata pelajaran yang masuk ke otaknya. Saat ini yang ada
di pikirannya cuma Vinna seorang.

***

Di kantin. Ketika teman-temannya asyik mengobrol sambil menikmati makanan mereka, Mark hanya memainkan makanan di piringnya tanpa sedikitpun menyentuhnya. Kerjaan dia cuma melamun melamun dan melamun.
Hari ini sikap Mark bikin teman-temannya bingung.

“Eh, Mark kenapa, tuh. Dari pagi aneh banget.” Ucap Brian.

“Tahu nggak, di kelas aja kerjaannya cuma bengong aja. Nggak memperhatikan pelajaran.” sambung Shane.

“Aku tahu Mark kenapa,” ucap Tysha sambil tersenyum.

“Apa, sayang?” Tanya Nicky penasaran.

Tapi Tysha nggak menjawab pertanyaan Nicky. Dia malah menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu memberikannya pada Mark. Ternyata yang ditulisnya adalah alamat rumah dan nomor ponselnya Vinna.

“Apa ini?” Tanya Mark sambil
mengernyitkan dahi.

“Baca aja, Mark. Aku tahu, kok kalau kamu memerlukannya,” jelas Tysha sambil tersenyum.

Setelah membaca tulisan di kertas tersebut, roman wajah Mark langsung berubah dengan mata yang berbinar- binar dia berkata,” Tysha, thanks banget, ya. This is what I need.”

Setelah mendapatkan alamat dan nomor ponsel Vinna, Mark pun kembali bersemangat seperti biasanya. Ketika jam pelajaran usai. Mark langsung menghilang tanpa sepengetahuan teman-temannya.

“Shane, Mark kemana?” Tanya Kian.

“Nggak tau, Ki. Tadi pas bell langsung pergi dia. Nggak tau, deh mau kemana," jawab Shane sambil mengangkat bahunya.

“Jangan-jangan kesambet dia, ya. Habis hari ini kelakuannya sangat aneh." Sambung Brian.

“Orang lagi jatuh cinta, ya kayak gitu.” Celetuk Tysha.

“Mark lagi jatuh cinta?” Tanya Nicky heran.

“Iya, sebenernya Mark itu suka sama Vinna. Cuma Mark malu buat mengakuinya. Kalau nggak suka ngapain dia panik banget waktu abis nolongin Vinna tenggelam? Terus buat apa juga tadi pagi dia dating ke kelas cuma buat nanyain keadaan Vinna.” Jelas Tysha.

“Iya juga ya. Pantesan Mark seneng banget gangguin Vinna. Ternyata di balik semua sikapnya itu Mark menyimpan perasaan cinta sama Vinna.” Sambung Shane.

“Jadi, kira-kira Mark kemana?” Tanya Kian lagi.

“Ya ampun, Kian. Masih aja nanya Mark kemana. Lemotnya kambuh ihh. Udah jelaslah kalau sekarang Mark lagi ada di rumahnya Vinna” jelas Brian gemas.

***

Di depan rumah Vinna…
Dengan ragu-ragu Mark memberanikan diri untuk menekan bell rumah Vinna. Beberapa saat kemudian Vinna membukakan pintu. Tentu saja vinna kaget melihat Mark ada di depan pintu rumahnya.

“Mark? Mau apa kamu? Ah, pasti Tysha yang kasih tau alamat rumah aku.” Cerocos Vinna.

“Vinn, kamu udah mendingan, kan?” Tanya Mark lembut.

Vinna langsung terkatup mendengar ucapan Mark tidak seperti biasanya.

“Aku boleh masuk?” Tanya Mark lagi.

“Oh, Ok. Silakan.” Vinna mempersilakan Mark masuk ke dalam rumah. Mark pun masuk dan duduk di ruang tamu.

“Mau minum apa?”

Nanti aja, deh. Ngomong-ngomong kok sepi sih? Orangtua, kakak sama adik kamu kemana, Vinn?”

“Mommy sama daddy kerja, Mark. Aku anak tunggal.”

“Oh gitu, ya. Eh, keadaan kamu sekarang gimana? Apa perlu ke rumah sakit?”

“Nggak perlu samapai ke rumah sakit, kok. Aku cuma kena demam biasa aja.”

“Maaf, ya. Kalau bukan gara-gara keisengan aku mungkin kamu nggak akan tenggelam. Sungguh, aku benar-benar nggak tau kalau kamu nggak bisa berenang, Vin.”

“Udahlah, Mark. Lupain aja, aku tau kok kalau kamu nggak sengaja dan nggak bermaksud buat seperti itu.”

Mendengar ucapan Vinna, Mark cuma terdiam sambil memandang mata Vinna dengan lekat. Tentu saja Vinna jadi salah tingkah. Apalagi berhadapan langsung dengan cowok seganteng Mark dengan jarak yang sangat dekat cuma lima cm.

Dan semakin lama Mark semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Vinna. Lalu Mark pun mengecup bibir Vinna. Dan Vinna cuma bisa mematung dengan kejadian yang baru saja di alaminya barusan.

“Vinn, maaf. Tapi asal kamu tau, kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Sudah sejak lama, Vinn. Dan hari ini aku pengen mengungkapkan perasaan aku sama kamu.Aku juga pengen kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan, Vinn?”

Ya ampun, aku benar-benar kaget mendengar pengakuan Mark. Aku sendiri bingung, harus senang atau tidak mendengar semua ini. Mark Feehily, cowok cakep yang pintar dan jadi rebutan banyak cewek menyatakan suka padaku. Pada Melvinna julikova, cewek yang biasa-biasa saja.

“Vinn, I need your answer right now!!!”

“Mark… Aku… Aku, juga perasaan yang sama kayak kamu. Tapi aku nggak berani berharap buat bisa pacar kamu. Karena aku cukup tau diri. Kita benar-benar berbeda Mark. Aku kaget denger ucapan kamu.”

“Jadi, kamu mau jadi pacar aku, Vinn?”

Vinna Cuma mengangguk sambil tersenyum. Lalu Mark lanngsung memeluk Vinna dengan penuh kasih sayang. Sambil menciumin kening Vinna terus menerus. Yup, dan akhirnya hari itu Mark dan Vinna resmi pacaran.

“Mark, tell me it’s love?”

“Yes, princess. This is love and I love you so much.”

Tiga bulan sudah Mark dan Vinna
pacaran. Tentu saja teman-teman mereka berdua sangat senang sekali. Karena pada akhirnya Mark menemukan cewek yang tepat, yang mengerti dia apa adanya.

Sampai pada suatu hari di sekolah mereka kedatangan siswa baru
dan kebetulan satu kelas dengan Vinna dan Tysha. Siswa baru itu bernama Yuri.

Yuri ini mempunyai wajah yang cantik, namun sayang sifat dan perangainya benar-benar tidak secantik wajahnya. Yuri ini sangat sombong sekali. Bahkan
Yuri terang-terangan mendekati Mark.

Vinna saat ini masih bisa bersabar
melihat kekasih tercintanya di kejar-kejar oleh Yuri. Apalagi Yuri ini cewek yang sangat agresif.

Di kantin..

“Mark, bisa aku bicara sama kamu
sebentar?” tiba-tiba Yuri dating
menghampiri meja Mark dan teman-temannya.

Mark memandang Vinna dan teman-temannya. Tapi mata mereka mengatakan “tidak tau”. Mark berdiri dan menghadap
Yuri.

“Mau bilang apa kamu? Aku nggak punya banyak waktu, buat ngelayanin cewek sombong kayak kamu.” Ucap Mark ketus.

“Aku Cuma mau kasih kamu ini..” tiba-tiba Yuri mendaratkan sebuah ciuman di bibir Mark.

Bukan cuma Mark yang kaget tapi teman-temannya pun ikut kaget. Apalagi Vinna, dia langsung tersedak, melihat kekasih tercintanya di cium cewek lain.

“Apa-apaan kamu?” ucap Mark marah.

“Aku cuma pengen kamu jadi cowok aku. Apa masih belum jelas juga.” Jawab Yuri dengan ganjennya.

“Aku udah bilang berapa kali. Kalau sampai kapanpun aku nggak sudi jadi pacar kamu!”

“Denger, Mark. Sekalipun kamu bilang udah punya pacar. Aku bakalan terus ngejar kamu. Karena aku bakalan bikin kamu sama pacar kamu itu putus, inget
itu, Mark!!” ancam Yuri.

Vinna hanya tertunduk sambil  menangis terisak.

“Princess, why you cry? Don’t be afraid. Karena sampai kapanpun aku nggak pernah berpaling dari kamu!” ucap Mark sambil memeluk Vinna.

“Iya, Vinn. Si cewek sombong itu pasti cuma menggertak aja”Hibur Nicky.

Kata-kata dari kekasih tercinta dan teman-temannya bisa membuat Vinna tenang. Meskipun setelah kejadian itu, Vinna masih selalu merasa resah. Dan hal yang di takutinya pun terjadi juga.

Yuri akhirnya tau bahwa dirinyalah kekasih Mark. Vinna terus-terusan mendapatkan ancaman dari Yuri. Tapi Vinna masih diam dan sabar. Meskipun
Tysha sudah sangat marah melihat perlakuan Yuri pada Vinna. Sudah beberapa kali Tysha akan melaporkan hal ini pada Mark, tapi Vinna selalu melarangnya dan menyuruhnya untuk diam. Padahal tak jarang Vinna mendapatkan kekerasan fisik dari Yuri.

“Denger ya, Vinn. Kalau sampai besok kamu belum juga mau memutuskan Mark. Aku pastiin kamu akan mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Dan jangan harap kamu bisa melihat matahari terbit lagi.”

Itulah isi pesan singkat dari Yuri kepada Vinna. Dan Vinna hanya bisa menghela nafas sambil mengelus dadanya saja. Dan berusaha tidak terpancing oleh ancaman itu. Vinna yakin semakin berat cobaan yang menimpa hubungannya dengar Mark.
Akan semakin kuat pula cinta mereka berdua.

Dan batas waktu yang diberikan
Yuri sudah lewat. Yuri masih saja melihat kemesraan Mark dan Vinna. Malam itu Vinna di ajak Mark menemui orang tuanya di kota Sligo dan ada kemungkinan Vinna akan menginap di rumah Mark.

***

Orangtua Mark dan kedua adik laki-lakinya sangat menyukai Vinna, karena Vinna adalah gadis yang baik. Malam itu Vinna begadang bersama keluarga Feehily, mereka berbincang dan bercanda. Benar- benar keluarga yang sempurna, itulah penilaian Vinna tentang keluarga kekasih tercintanya itu.

Lama-lama Yuri cape sendiri. Meskipun sudah berkali-kali mengancam bahkan menjahati Vinna. Tetap saja tidak membuat Vinna gentar dan mundur. Vinna tetap mempertahankan cintanya, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.Akhirnya, Yuri pindah ke sekolah lain. Karena dia tidak bisa mendapatkan Mark.

Dan sejak saat itu hubungan Mark dan Vinna semakin kuat. Bahkan ketika lulus sekolah dan melanjutkan ke universitas mereka berdua masih tetap pacaran.

Apalagi kedua orangtua masing-masing sudah saling bertemu dan memberikan restu. Begitupun juga dengan teman-teman mereka berdua, yang awet dengan pasangannya masing-masing.

Melvinna quotes “Loves come without warning. Karena kita nggak pernah tahu cinta itu ada dimana dan kapan datangnya. Bisa jadi orang yang menurut kita menyebalkan bisa jadi cinta sejati kita. Tell me it’s love.”

`~THE END~`

Tidak ada komentar:

Posting Komentar