Alva itulah nama yang baru saja dia goreskan menggunakan pisau dapur pada sandal jepit yang baru saja dibelinya. ini adalah persiapan pertama Alva dalam menyambut Ramadhan tahun ini, mengingat curandal (re:pencurian sendal) begitu banyak berkeliaran pada saat tarawahen. Alva tahu sekali target utama mereka adalah sandal jepit baru untuk, mengantisipasi hal itu Alva susah-susah dan penuh perjuangan menggoreskan secarik nama dalam sandal. Kriuk-kriuk tiba-tiba alarm alami tubuh alva berbunyi suara ketokan palu begitu keras di tabuhkan ke dinding lambung oleh cacing- cacing yang meminta jatah harian mereka yaitu sepiring nasi putih beserta ayam panggang yang lezat. Belum juga ramadhan tapi Alva telah membayangkan hal-hal biasa yang dia makan dibulan ramadhan sama halnya dia membayangkan dan merindukan suara-suara panggilan itu.
***
“Alva… Alva... Alva main, yuk.” suara teman-temannya terdengar dari luar mengajak Alva untuk pergi bermain dan salah satu dari teman-temannya ada satu suara yang sangat membuatnya begitu bersemangat yaitu suara Keysa seorang gadis tomboy sahabatnya yang diam-diam begitu dia kagumi. Pertemuan mereka dimulai saat Alva sedang asyik menggejar-ngejar seekor kucing jantan yang gemuk dan meggemaskan di perkarangan rumahnya, yang baru ia lihat hari itu.
Tiba-tiba saja biji rambutan mendarat di kepalanya, setelah itu terdengar suara teriakan seorang gadis kecil, “Hei, kau jangan ganggu kucingku dasar penjahat kucing.”
“Aduuuh.” Alva menjerit kesakitan sembari melihat ke arah suara yang memarahinya tadi, di sana telah bediri seorang gadis yang cantik tapi tomboy dan galak melihat dengan tatapan tajam ke arahnya. Sama halnya dengan kucing tadi gadis galak ini juga baru ia lihat hari ini.
Ternyata Keysa merupakan tetangga baru Alva. Malam harinya ibu Keysa mengunjungi rumah Alva untuk bersilaturahmi.
Saat melihat sosok Alva berada dalam rumah itu, Keysa langsung berteriak “Hoi penjahat kucing ngapain kamu di sini mau gangguin aku juga, ya?"
“Lha kamu yang ngapain disini? Ini rumahku dasar pawang kucing."Orang tua mereka hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua anak mereka yang ternyata sudah berkenalan.
***
Detik-detik yang sangat membahagiakan di bulan Ramadhan bagi Alva baru saja berlalu yaitu detik saatnya berbuka puasa, semua santapan dan minuman baru saja dia habiskan tanpa ampun sampai badannya susah di gerakkan.
”Alva, ke mesjid yuk, kita tarawihan.” Alva sangat mengenal sekali suara itu. Ya, suara Keysa dia langsung bergegas keluar menemui sahabatnya itu.
“Hai Key baru juga jam tujuh kurang, kenapa kamu buru-buru sekali ngajak pergi tarawih?"
“Alva, sebelum ke mesjid temani aku pergi kelapangan dulu, ya. Kamu tahu ada seseorang yang membuang anak kucing dan di tempatkan di dalam kardus. Kasihan sekali mereka.” tiba-tiba Keysa memasang mimik wajah yang sedih.
”Mmm, baiklah aku ambil sarungku dulu ya di dalam.” sahut Alva tanpa pikir panjang.
Sesampainya di lapangan bukan anak kucing yang mereka temukan tapi keusilan Doni, Reza dan Andri mereka sengaja melemparkan petesan ke arah Alva dan Keysa, seketika tubuh Keysa gemetaran dan wajahnya pucat.
Alva terkejut baru kali ini ia melihat ekpresi sahabatnya seperti itu, selama ini dia hanya tahu jika Keysa itu tomboy dan pemarah. Ia tidak menyangka sahabatnya akan begitu ketakutan, sayup-sayup terdengar suara teman-temannya yang cekekikan menahan tawa, belum sempat Alva memarahi keusilan teman-temannya, tiba-tiba Keysa berlari ke arah sebaliknya sambil menangis. Alva buru-buru mengejarnya, sesampainya di depan mesjid Keysa masih terlihat menangis, Alva agak kikuk dengan kondisi yang seperti ini, tak biasanya ia melihat sahabatnya menangis.
Dengan perlahan alva duduk di sebelah Keysa yang terisak-isak di teras mesjid, “Hoi hoi ternyata preman bisa nangis juga, ya." ujar Alva sambil menyikut pelan sahabatnya.
“Biarin preman juga manusia." jawab Keysa terisak-isak.
“Sudah-sudah yuk masuk mesjid bentar lagi ceramahnya di mulai nih kitakan harus mengisi agenda ramadhan, ayo hapus air matamu.”
“Ya." jawab Keysa pelan, "Tapi Alva sendal jepit kita taruh di mana? Nanti hilang, kan masih baru.”
"Benar juga." Alva terlihat kebingungan, ikut mencemaskan sandal jepit barunya.
”Tunggu aku ada ide," celetuk Keysa, "Gimana kalau sandal jepitnya sebelahan kita tukeran biar warnanya belang. Kalau warna pasangannya beda, pasti orang gak bakal minat sama sendal baru kita. Dan taruh agak jauhan gitu.”
"Oke, brilian juga ide kamu, Key. Bahkan guru matematika kita di sekolah juga gak bakal kepikiran soal ini.”
”Ayo buruan Alva Ustadnya udah mau mulai tuh.”
"Oke jenius,” goda Alva pada sahabatnya itu.
Satu minggu setelah kejadian ini Key harus ikut bersama keluarganya pindah keluar negeri
***
Satu helahan nafas putus asa dari Alva membangunkannya dari lamunan masa kecilnya empat belas tahun yang lalu. Wajar saja Alva menjaga setiap sandal jepit yang di milikinya, sandal belang yang sebelahnya di tukar dengan sandal milik Keysa masih tertata rapi, bejejer dalam lemari pakaiannya sampai sekarang.
”Saatnya ke warnet.” ujarnya dalam hati. KEYSA SEPTYANA itu tulisan pertama Alva di Google setibanya di warnet, berharap mbah Google memberitahunya keberadaan sahabatnya kecilnya itu. Tapi jawaban yang keluar do you mean ACHA SEPTRYASA. Google ternyata tak membantu, berikutnya di twitter dan facebook tapi jawaban yang dia dapat malahan lebih aneh the file is not found. Ini adalah pencarian ke 1001 kalinya semenjak dia mengenal yang namanya internet, namun ia tak kunjung menemukannya.
***
Allahuakbar Allahuakbar tanda Isya telah tiba, ini adalah hari terakhir sebelum ramadhan dan juga hari pertama tarawehan. Alva bergegas meninggalkan rumahnya menuju mesjid terdekat tak lupa sandal jepit yang bertuliskan ALVA di kenakan, selesai sholat dan berdoa tiba-tiba matanya tertuju pada sendal jepit yang berada disebelah sendalnya yang bertuliskan KEYSA SEPTYANA.
”Waduh lengkap banget ini orang nulisin nama di sandal jepit, takut banget di gondol curandal (re:pencurian sendal).” ujar Alva dengan senyum penuh arti, sambil menunggu si pemilik sandal keluar dari mesjid.
Apakah kau sudah kembali Keysa-ku? Tanyanya dalam hati dengan senyuman yang sudah terlebih dahulu menghiasi bibirnya.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar