Selasa, 28 Januari 2014

Try With Me 12

JAMES

Setelah berhasil membuat ketiga perusahaan keluarga Grey yang dipegang oleh Alex mengalami kebangkrutan, beberapa orang kepercayaanku langsung mengabariku di mana Alex berada saat ini. Karena mereka meyakini bahwa Hanna ada bersama Alex.

Setelah mendapatkan informasi secara detail aku langsung pergi ke tempat Alex menyembunyikan Hanna, istriku. Dengan penerbangan paling awal aku segera berangkat menuju ke Texas, karena Hanna berada di sebuah peternakan yang ada di Texas.

Selama di dalam pesawat aku terus menerus merasa gelisah. Aku khawatir jika salah satu anak buah Alex akan mengetahui kedatanganku. Jika sampai mereka tahu aku yakin sekali Alex akan segera memindahkan Hanna ke tempat yang lain. Dan mungkin kali ini aku takkan pernah bisa untuk melihat istriku kembali selamanya.

Tidak. Tidak, itu tidak boleh terjadi karena aku takkan membiarkan Alex lolos kali ini. Aku takkan membiarkan ia kembali merebut istriku. Aku langsung menyuruh orang-orangku mencari keberadaan Hanna. Hati kecilku mengatakan bahwa Hanna ada di salah satu ruangan di rumah ini. Tak lama kemudian sosok Alex muncul. Ia terlihat syok melihat kedatanganku.

"Di mana kau menyembunyikan istriku, Alex." Geramku sambil memberikan pandangan membunuh kepadanya.

"Kau... bagaimana kau bisa menemukanku?" Pekiknya, keterkejutan itu terlihat jelas di matanya.

"Katakan kepadaku di mana Hanna!" Geramku sambil menggertakkan gigiku.

"Hanna tidak ada bersamaku, asal kau tahu aku takkan pernah menyerahkan Hanna kepadamu. Hanna milikku, hanya aku yang berhak atas dirinya." Tutur Alex dengan emosi yang menggebu-gebu.

"Hanna milikmu? Jangan mimpi Alex, sudah jelas bahwa Hanna itu adalah istriku. Dia adalah ibu dari bayiku yang kini sedang tumbuh di rahimnya." Sergahku.

"Apa maksudmu mengatakan bahwa Hanna adalah calon ibu dari bayimu?" Ekspresi keterkejutan dan kebingungan terlihat jelas di wajahnya.

"Ya, Hanna sedang mengandung darah dagingku. Hanna milikku." Jawabku dengan mantap.

"Tidak mungkin! Kau pasti sudah menjebaknya, aku tahu Hanna takkan semudah itu menyerahkan tubuhnya. Kau benar-benar licik, James. Aku akan membunuhmu." Geram Alex yang tiba-tiba mendaratkan pukulannya tepat mengenai rahangku.

Rasanya sakit memang, bahkan aku bisa merasakan darah di mulutku. Tapi luka ini takkan mempengaruhiku, aku takkan mundur. Sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankan Hanna, takkan ada satu orangpun yang boleh memisahkan aku darinya.

Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mempertahankannya. Cukup Lila yang telah aku sia-siakan, takkan aku biarkan Hanna mengalami hal sama. Diriku kini telah berubah, Lila dan Hanna telah mengajarkan aku banyak hal dalam hidup. Terlebih lagi dalam hal berkomitmen, bagaimana cara menghargai pasangan dan komitmen itu sendiri.

"James..." suara yang begitu familiar dan sangat aku rindukan tiba-tiba terdengar.

Hanya dengan mendengar suaranya saja membuat hatiku terasa hangat. Membuat semua beban berat yang selama ini menumpuk di hati dan pundakku terangkat. Kelegaan yang begitu besar melingkupiku sekarang, ucapan syukur pun tak henti-hentinya aku ucapkan. Karena akhirnya Tuhan menjawab semua doaku, Tuhan telah mempertemukan kami kembali dan istriku dalam keadaan yang baik.

"Sayang..." aku langsung memeluk tubuh Hanna. Berkali-kali kuciumi puncak kepalanya, kuhirup aroma tubuhnya yang selama ini sangat kurindukan. "Aku sangat merindukanmu, terima kasih kau ada dalam keadaan yang baik-baik saja." Ucapku sambil memeluk erat tubuhnya.

"Aku baik-baik saja James, aku juga sangat merindukanmu." Balas Hanna.

"Berhenti mempertontonkan hal yang menjijikan seperti itu di depanku." Alex menggeram melihat kemesraan aku dan Hanna.

"Kau hanya iri Alex, karena pada kenyataannya aku dan Hanna selalu bersikap seperti ini setiap hari." Nada sarkasme terdengar dari nada suaraku. Ada senyuman kemenangan yang terbentuk di bibirku.

"Katakan padaku bahwa kau tidak bahagia, Hanna? Katakan bahwa pria ini telah memperalatmu." Geram Alex gusar. Terlihat jelas sekali kekecewaan yang terpancar dari wajahnya.

"Maaf Alex, sayangnya semua ini benar dan tanpa adanya paksaan. James tidak memperalatku, aku tulus mencintainya. Bukankah sudah berkali-kali aku katakan bahwa perasaanku padamu sudah berubah." Jelas Hanna, masih dengan posisinya memeluk tubuhku.

"Tapi aku sangat mencintaimu, Hanna. Aku rela meninggalkan semuanya hanya untukmu." Tutur Alex dengan nada suara yang terdengar sedih. "Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi." Lanjutnya.

"Aku tidak bisa Alex, keadaanku saat ini sudah benar-benar berbeda. Saat ini aku sedang mengandung anak James, anak kami tepatnya. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, saat ini aku dan James sedang menata kehidupan kami yang baru." Hanna berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya, "Carilah wanita yang lain Alex, buktikan bahwa kau memang sudah berubah. Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku."

Wajah Alex langsung terlihat kebingungan ketika mendengar penuturan dari Hanna yang panjang lebar. Ada perasaan bersalah dalam hatiku ketika melihat Alex. Sungguh aku tak bermaksud untuk merebut Hanna darinya. Karena sebelumnya aku tidak tahu jika Hanna sudah memiliki kekasih. Mungkin Hanna merasa segan untuk bercerita karena sifatku yang arogan.

Tapi itu dulu, sekarang aku sudah berubah. Aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Hanna dan bersama anak-anak kami kelak. Aku tak mau membuat kesalahan yang sama lagi, aku bersumpah takkan menyia-nyiakan Hanna seperti yang telah aku lakukan kepada Lila di masa lalu.

"Jadi mohon lepaskanlah aku, Alex. Tolong biarkan aku bahagia bersama James, karena hanya itulah yang akan membuatku merasa bahagia." Suara Hanna langsung membawaku kembali pada masa kini.

Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Alex. Kini ia terlihat begitu bingung, sedang terjadi pergulatan batin di dalam dirinya. Semua itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Aku tahu seperti apa perasaan Alex, namun aku tak mau mengalah untuk Hanna. Kali ini aku akan mempertahankan cintaku.

Namun tiba-tiba saja Alex mendaratkan sebuah pukulan di wajahku. Membuat badanku terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Hanna menjerit ketakutan melihat aku dan Alex terlibat baku hantam. Wajah kami berdua babak beluk, penuh luka lebam, memar dan darah yang mengucur.

Aku menyuruh salah satu bawahanku untuk menjauhkan Hanna. Di saat itulah Alex langsung menarik Hanna. Seharusnya aku tidak mengendurkan kewaspadaanku tadi. Aku pikir Alex sudah tak akan melakukan perlawanan karena kondisi kami berdua benar-benar parah. Namun ternyata dugaanku salah.

"Lepaskan istriku, Alex." geramku.

"Tidak akan, Hanna hanya akan bahagia bersamaku." pekiknya sambil terus mencengkram pergelangan tangan Hanna.

"Alex, kumohon. Tolong lepaskan aku, biarkan aku bahagia bersama James, Alex." Hanna memohon sambil menangis terisak.

Melihat Hanna menangis seperti itu membuat jantungku seperti di cabut paksa dari tempatnya. Namun aku bisa melihat dengan jelas sekali pergerakan Alex yang mulai goyah.

"Pergilah. Sekarang. Juga. Jangan. Sampai. Aku. Berubah. Pikiran." Ucapnya dengan kata-kata yang di penggal-penggal.

"Terima kasih, Alex." Ucap Hanna dengan penuh suka cita.

"Cepat pergi dari sini Hanna." Tegas Alex sambil memalingkan wajahnya.

Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi aku langsung menggandeng Hanna. Kami keluar dari tempat itu dan segera menuju ke bandara. Aku meminta supir untuk memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa aku harus bergegas. Karena perasaanku seketika berubah jadi tidak menentu. Sepanjang perjalanan aku terus merasa gelisah.

Entahlah aku benar-benar tak begitu yakin dengan kata-kata yang diucapkan oleh Alex. Sepertinya ia memiliki rencana lain di dalam kepalanya.

"Sayang, ada apa? Mengapa kau terlihat gelisah dan tegang seperti ini?" Tanya Hanna yang sedang menyandarkan kepalanya di bahuku.

"Aku tidak apa-apa sayang, tapi entah mengapa aku merasa sangat khawatir. Sepertinya kita tidak akan kembali pulang ke Miami, sayang." Jelasku sambil membelai rambutnya.

Hanna mendongkakkan kepalanya menatapku dengan dahi yang berkerut, "Lalu kita akan kemana?"

"Kemanapun kau mau, sayang. Katakan kepadaku kau ingin pergi kemana?" Tanyaku sambil memangku tubuhnya ke dalam pangkuanku.

Hanna langsung menampilkan ekspresi wajah seperti orang yang sedang berpikir. "Hmmm, kemana ya?" Ucapnya dengan ekspresi yang menggemaskan. "Ah, bagaimana jika kita pergi ke Belgia saja?" Celetuknya dengan sangat antusias.

"Brussel? Ide yang menarik sayang." Ucapku sambil mencubit hidungnya dengan gemas. Kemudian aku langsung mengeluarkan ponselku dan menghubungi John untuk menyiapkan segala keperluan kami ke Belgia.

Sesampainya di bandara kami langsung melakukan penerbangan ke Belgia menggunakan jet pribadi milikku. Sepanjang perjalanan Hanna selalu tertidur, mungkin karena pengaruh kehamilannya Hanna jadi lebih cepat merasa lelah.

Tak terbayangkan betapa bahagianya aku bisa kembali melihat, menyentuh dan memeluk kembali Hanna. Aku sangat merindukan kebersamaan kami, terlebih lagi saat mengawasinya ketika tidur. Itulah salah satu kebiasaan baru yang aku lakukan.

Wajahnya yang damai ketika tidur membuatku merasa damai. Tuhan, aku sangat mencintai wanita ini. Terima kasih karena telah mengirimkan bidadari penyelamat dalam hidupku yang di lingkupi oleh kegelapan.

"Terima kasih untuk semuanya, sayang. I love you." Bisikku sambil mengecup lembut keningnya.

***

HANNA

Aku benar-benar tak menyangka bahwa James akan langsung menuruti keinginanku untuk pergi berlibur ke Belgia. Tak tanggung-tanggung kami berada di sana hampir selama satu bulan. Benar-benar menyenangkan, puas sekali rasanya berlibur di sana. Meskipun liburan kami harus sedikit terganggu oleh urusan pekerjaan James.

Tapi itu tak masalah, karena James selalu berada di sampingku dan tetap melayani semua permintaanku dengan sabar. Menurut James, Alex sempat melakukan pembobolan di salah satu perusahaan milik James untuk membalas dendam. Tapi untunglah saja Alex belum berhasil mendapatkan data-data penting milik perusahaan.

Saat ini masalah itu sedang di tangani oleh pihak kepolisian. Pengacara James yang menangani semuanya. Dengan begitu James tak perlu buru-buru pulang ke Miami.

Sepulang dari berlibur aku merasa lebih segar. Menjalani kehamilanku dengan ceria dan tanpa beban. Bahkan aku bisa kembali bertemu dengan Lila. Bicara tentang Lila ia saat ini sudah melahirkan bayi kembar perempuan yang sangat cantik.

Sempat terjadi kesalah pahaman antara James dengan kakak Lila yang merupakan sahabatnya, Gale. Kedua bayi Lila sempat menjadi korban penculikan oleh mantan kekasih Zac yang menurutku sangat gila.

Tapi untung saja Keyra dan Keyna berhasil di temukan dengan selamat. Meskipun Lila sempat mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan dan tertekan karena bayinya di culik. Hampir saja kami kehilangan Lila untuk selamanya. Bersyukur Lila berhasil bertahan dan kembali lagi bersama kami.

Dan di sinilah aku sekarang, berada di rumah Zac dan Lila. Aku senang sekali melihat kedua malaikat mungil Lila yang cantik. Rasanya aku ingin cepat-cepat melahirkan bayiku. James juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya yang masih harus menunggu selama tiga bulan lagi.

=END=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar