Senin, 20 Januari 2014

Night Passion Of A Grey Eyed Man

PROLOG

Hingar bingar musik di dalam sebuah klub tidak menyurutkan langkah dari seorang pria yang memiliki penampilan bak adonis. Tubuhnya yang sempurna terbalut oleh setelan jas mahal dengan kain yang terbaik.

Sepasang matanya yang berwarna abu-abu mengawasi setiap sudut klub yang di datanginya itu dengan tajam. Ia sedang mencari objek yang bisa menjadi tempat pelampiasannya.

Matanya menangkap sesosok wanita yang sedang asyik bergoyang mengikuti alunan musik ditengah lantai dansa. Tubuhnya terbungkus oleh pakaian yang sangat minim dan ketat sekali. Bahan pakaiannya yang tipis membuat sesuatu yang berada di balik pakaian itu bisa dengan jelas terlihat. Banyak pula pria yang berusaha mendekati dan menyentuh wanita itu. Namun si wanita terlihat tak peduli dan tertarik dengam sekitarnya.

Dengan langkah mantap si pria langsung berjalan menuju si wanita berada. Aura yang menguar dari tubuh si pria membuat beberapa orang menyingkir dan menjauh. Tanpa banyak kata si pria langsung menarik lengan si wanita yang ternyata sedang dalam keadaan setengah mabuk itu keluar dari area lantai dansa.

Langkah kaki mereka menuju ke arah sebuah private room yang memang disediakan oleh pihak club. Si pria langsung saja menyerbu wanita itu dengan ciuman-ciuman yang panas dan liar. Tanpa ampun dan tanpa jeda sedetikpun, seperti dikejar oleh sesuatu yang sangat mendesak dan memaksanya untuk melakukannya dengan cepat.

Si wanita yang semula kaget kini terlihat lebih rileks dan sangat menikmati cumbuan yang diberikan oleh si pria. Tanpa basa basi si pria langsung mendorong turun gaun si wanita dan menangkup kedua payudaranya, meremas dan memilin bagian putingnya dengan keras, membuat si wanita melenguh keras karena nikmat.

Kini bibirnya menggantikan tangannya yang sejak tadi bermain-main di kedua gundukan kenyal itu, karena kini tangannya telah menyusup masuk ke dalam thonk si wanita dan merobeknya. Mencari titik paling sensitif yang akan membuat wanita itu berteriak-teriak.

Saat ia menemukan apa yang dicarinya, tanpa ampun si pria memainkan jari-jarinya di sana, membuatnya semakin membengkak dan cairan kenikmatan tak henti-hentinya keluar dari liang organ intim si wanita. Kini jari-jarinya yang panjang dan besar tengah bersarang dan mulai mengaduk-aduk dinding organ intim si wanita.

Dua jari kini telah bersarang di dalam organ vitalnya. Si pria tersebut menggerakkan ketiga jari-jarinya dengan cepat. Membuat si wanita mengerang dan menggerakkan pinggulnya untuk mendapatkan kenikmatannya. Tapi si pria tak begitu saja memberikannya, karena dengan cepat ia mengeluarkan jarinya dari dalam sana.

Si pria kini kembali memdaratkan bibirnya di bibir si wanita. Menciumnya dengan lembut, mencecap rasa manisnya. Tangannya meremas dengan pelan kedua payudaranya, mempermainkannya dengan lembut. Sedangkan si wanita mendaratkan tangannya pada gundukan yang masih tertutupi oleh kain itu. Gundukan yang sudah sangat keras, bahkan denyutannya terasa.

Lalu dengan cepat si pria membuka restleting dan ikat pinggangnya, membebaskan miliknyanya yang sudah mengacung tegak dan keras. Ia meraih kepala si wanita dan mengarahkan miliknya masuk ke dalam mulut mungil si wanita. Awalnya si wanita merasa kesulitan karena ukuran milik si pria yang memiliki ukuran yang cukup besar. Susah payah ia mengulum dan menjilati miliknya yang besar itu. Memasukannya hingga mengenai dinding tenggorokannya dan hampir tersedak.

Hampir tersedak rupanya tidak mengurungkan niat si wanita untuk terus melakukan hisapan dan jilatan pada milik si pria. Hisapan dan jilatan yang di berikan si wanita membuat si pria menggeram dan melengguh penuh kenikmatan.

Si pria mencengkram kuat rambut si wanita sambil menggerakkan badannya. Geraman terdengar dari si pria ketika ia hampir mencapai pelepasannya. Akhirnya ia memuntahkan semua benihnya di dalam mulut si wanita dan menahannya. Sehingga mau tak mau si wanita menelan habis cairan si pria. Saking banyaknya cairan itu meleleh keluar dari mulutnya.

Si wanita terlihat terkulai lemah di atas sofa, namun itu tak menyurutkan si pria untuk terus melampiaskan nafsunya. Terlebih lagi penisnya masih dalam keadaan keras dan siap untuk kembali bertempur. Ia mengeluarkan seutas tali yang sudah terpotong menjadi dua bagian dari dalam saku jasnya.

Ia memutar tubuh si wanita dalam posisi menungging dan menumpu tubuh bagian atasnya di atas meja. Membuka lebar-lebar kedua kakinya, lalu dengan terampil mengikat masing-masing kaki dan tangannya menjadi satu dengan tali yang ia bawa. Itu memungkinkan untuk memperkecil gerakan si wanita.

Tanpa peringatan si pria langsung menyerang bagian intim  si wanita dengan mulutnya. Ia menjilat lipatan organ intim itu dengan rakus, lidahnya yang kasar mencecap setiap inchi organnya. Lidahnya dengan cepat menusuk liangnya membuat tubuh si wanita bergetar dengan erangan yang tertahan. Ia terus melakukan itu dan dengan cepat menghentikannya ketika si wanita hampir mendapatkan pelepasannya.

Erangan frustasi pun keluar dari mulut si wanita namun itu tak membuat si pria bergeming. Dengan gerakan tiba-tiba ia memukul pantat si wanita dan membuatnya menjerit. Begitu seterusnya hingga pantat si wanita berwarna merah dan terasa panas. Liang organ intim si wanita kini sudah basah kuyup oleh cairannya.

Dengan sekali hentakan ia menghujamkan miliknya ke dalam organ intim si wanita. Lalu memompanya dengan begitu keras sambil sesekali memberikan tamparan di pantatnya. Suara erangan, tamparan dan gesekan tubuh mereka berdua memenuhi semua sudut ruangan yang sengaja dibuat kedap suara.

Si pria mencengkram pinggang si wanita dengan keras, seirama dengan gerakannya yang semakin cepat menusuk organ intim si wanita. Otot-otot vagina si wanita mulai bereaksi dan mulai meremas miliknya tanpa ampun. Beberapa tusukan dalam dan keras ia hujamkan, dan merasakan cairan hangat yang menyembur di dalam sana. Dua kali tusukan si pria membalik tubuh si wanita dan memuntahkan semua cairannya di atas payudara si wanita dengan lenguhan panjang.

Setelah miliknya mengecil ia mengeluarkan tissue basah untuk membersihkan miliknya dan merapikan kembali pakaiannya. Kemudian ia melepaskan ikatan wanita itu lalu mengeluarkan segepok uang dan menyimpannya di atas meja. Si pria itupun pergi meninggalkan si wanita yang terbaring lemas di sofa dengan ekspresi kepuasan yang tercetak jelas di wajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar