ALEX
"Bagaimana bisa semua itu terjadi, huh?" Bentakku kepada salah satu tangan kananku lalu aku segera memutuskan sambungan telepon. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana bisa dalam waktu kurang dari satu minggu tiga anak perusahaan milik keluargaku bangkrut dalam waktu yang bersamaan.
Aku berjalan mondar mandir di ruang tamu. Saat ini aku sedang berada di salah satu properti milik keluargaku yang berada di Texas. Hanya tempat inilah yang muncul dalam kepalaku ketika membawa paksa Hanna. Menjauhkan Hanna dari jangkauan pria itu, James.
Niatku adalah membuat Hanna kembali mencintaiku dan melupakan pria yang menjadi suaminya saat ini. Aku tak bisa menerima semua ini, apapun akan aku lakukan untuk membuat Hanna kembali mencintaiku.
Namun entah mengapa Hanna saat ini begitu sulit untuk kudapatkan. Ia betada dekat tapi berada begitu jauh secara bersamaan. Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apalagi untuk kembali mendapatkan cinta Hanna.
Ia wanita pertama yang mampu membuatku meninggalkan kebiasaan burukku yang selalu bermain dan berganti-ganti wanita seperti mengganti pakaian. Ia juga yang telah mengajariku apa itu cinta. Bagaimana caranya melindungi orang yang kita cintai. Namun di saat aku yakin untuk melabuhkan hatiku Hanna sudah menjadi milik orang lain.
Aku tahu bahwa akulah yang bersalah atas semua ini. Pergi selama bertahun-tahun tanpa memberikan kabar sedikitpun. Semua itu aku lakukan karena aku ingin benar-benar memantapkan hatiku.
Memantapkan dan meyakinkan hatiku sendiri bahwa aku memang benar-benar siap melabuhkan hatiku hanya untuk satu wanita, yaitu Hanna. Itu semua aku lakukan karena aku tak mau menyakiti Hanna jika kami telah menikah nanti. Tapi semuanya tak berjalan sesuai dengan seperti yang aku harapkan dan aku rencanakan.
Setelah sekian lama berpisah dan akhirnya di pertemukan kembali Hanna sudah tidak sendiri. Ia malah menikah dengam pria lain. Seketika itu pula semua harapanku hancur berkeping-keping. Rasanya hatiku begitu remuk tak berbentuk.
Duniaku runtuh, semuanya yang telah aku siapakan untuk melamarnya sia-sia. Itulah mengapa pada akhirnya aku bersikeras untuk mengambil Hanna secara paksa dari James. Aku tahu bahwa yang kulakukan ini merupalan tidakan dari seorang pengecut. James takkan diam begitu saja, aku tahu bahwa James bukan orang sembarangan.
James bisa melakukan apapun dan berbuat sesuka hatinya. Apalagi yang aku ambil darinya adalah istrinya. Tapi aku sangat mencintai Hanna, entah mengapa aku begitu yakin bahwa James ada di balik semua kekacauan yang terjadi pada ketiga perusahaanku yang bangkrut.
Mengingat reputasi James yang bisa berbuat apa saja, keyakinan akan hal itu semakin membuatku yakin. Bahwa James telah membuat ketiga perusahaan yang aku pegang mengalami kebangrutan dalam waktu singkat. Aku mengakui bahwa James memang unggul dalam dunia bisnis.
Rivalku memang bukan orang sembarangan. Dan sampai detik ini aku masih penasaran, bagaimana Hanna bisa bertemu dan berkenalan dengan James? Setahuku James itu orang yang sangat sibut, dan yang jelas Hanna itu jauh sekali dengan wanita-wanita yang pernah berkencan dengan James.
Berbicara tentang Hanna, hari ini aku belum melihatnya. Apakah ia masih marah dan mengurung diri di dalam kamar? Ah, sebaiknya aku temui saja Hanna di kamar.
Selama aku menyekapnya di sini Hanna masih menunjukkam sikap tak sukanya. Ia selalu menjauh jika aku mendekatinya, ia tak sedikitpun memberikan kesempatan padaku untuk berbicara. Dan sikapnya itu benar-benar membuatku semakin gila.
Setelah merasa cukup tenang aku memutuskan untung langsung pergi menuju kamar yang di tempati oleh Hanna. Dengan perlahan aku memutar kenop pintu kamarnya. Ketika melangkahkan kaki ke dalam kamar aku melihat Hanna yang sedang tertidur.
Melihat wajahnya yang sedang terpejam benar-benar membuatku merasa damai dan melupakan sejenak semua permasalahan yang sedang aku hadapi saat ini. Hanna benar-benar cantik dalam posisi ini.
Dengan perlahan aku mendekati ranjang dan duduk di sampingnya dengan pelan. Lalu aku merapikan rambutnya yang menghalangi wajah cantiknya itu. Hanna, apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali padaku? Jangan perlakukan aku seperti ini, Hanna.
Aku terus memandangi wajahnya, memperhatikam seluruh tubuhnya. Tapi ada yang berbeda dengan tubuh Hanna. Tubuhnya terlihat lebih berisi, apalagi di bagian perutnya yang agak membesar. Jangan-jangan.... tidak... tidak... itu tidak mungkin.
Aku langsung pergi meninggalkan kamar Hanna dengan emosi yang sudah tak bisa aku bendung lagi. Aku langsung mengacak-acak meja kerjaku. Tidak mungkin, semua ini benar-benar tidak mungkin. Hanna... Hanna benar-benar telah menyerahkan dirinya kepada James dan saat ini Hanna sedang hamil.
Tidak, lagi-lagi aku menolak untuk mempercayai kenyataan yang sudah kulihat. Hanna tidak mungkin menyerahkan tubuhnya begitu saja. Aku yakin bahwa James telah menjebak Hanna, aku yakin sekali.
Tapi tidak, mungkin saja Hanna tidak hamil. Mungkin saja Hanna terlihat berisi karena ia jadi senang makan. Bukankah itu hal yang bagus, bersamaku Hanna terlihat bahagia sehingga nafsu makannya jadi berubah. Kalimat-kalimat penyangkalan itu terus bergema di dalam kepalaku.
Rasanya akan semakin sulit untuk menerima pemikiran bahwa Hanna sedang hamil. Meskipun pikiran itu sempat menelusup masuk, namun aku segera menepisnya. Aku takkan membiarkan diriku terpengaruh oleh pemikiran itu. Takkan pernah.
Lalu aku keluar dari kamar Hanna. Aku harus mendinginkan kepalaku yang sangat panas ini agar tidak meledak. Setidaknya aku harus tetap bisa menjaga kewarasanku dalam menghadapi semua ini. Karena aku tak mau gegabah atau salah langkah, atau aku akan semakin terpuruk dalam kehancuran.
Aku memutuskan untuk duduk di gazebo halaman belakang. Menatap hamparan rumput yang terawat di depanku sedikit membuatku rileks. Dengan perlahan aku menyesap wine dari gelas yang aku pegang. Pikiranku menerawang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku melihat Hanna saat pertama kali.
Siang itu merupakan siang yang cukup cerah di hari Minggu di musim semi. Aku yang sedang malas mengikuti acara kumpul-kumpul yang rutin di adakan oleh keluarga besarku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke pusat kota.
Aku mengendarai mobil Ferrari merahku dengan kecepatan yang sedang. Sengaja aku membuka kap atas mobilku membiarkan angin musim semi menerpa wajahku. Mengedarkan pandangan ke sekeliling di sela-sela kegiatan menyetir berharap ada sesuatu yang menarik minatku. Karena jika tidak pasti aku akan berakhir di ranjang sebuah hotel dengan seorang wanita panggilan dalam keadaan telanjang. Tapi aku sedang tidak berminat untuk bermain dengan wanita-wanita panggilan itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan mobilku di sebuah taman kota. Keadaan di sana cukup ramai tapi tidak begitu ramai, sepertinya aku bisa menghabiskan waktuku hari ini di tempat. Aku memilih tempat buku di sebuah bangku yang berada di bawah sebuah pohon yang rimbun melindungiku dari sengatan matahari tentu saja.
Aku langsung duduk dan mulai memperhatikan keadaan di sekitar taman sambil sesekali menyesap cappucino yang tadi aku beli di jalan. Banyak sekali orang yang menghabiskan waktu mereka di taman ini. Tak hanya anak-anak tapi orang tua pun ada di sini, bisa kubilang dari semua orang dengan umur yang berbeda terlihat menikmati waktu mereka di sini.
Tapi ada satu pemandangan yang membuatku tertarik dan memaksaku untuk memberikan perhatian lebih. Seorang wanita yang sedang kerepotan mengejar-ngejar anjing peliharaannya yang tiba-tiba saja berlari. Ia berteriak-teriak sambil terus berlari bahkan ia sempat tersandung beberapa kali. Benar-benar sangat lucu dan menggemaskan sekali.
Tanpa sadar aku tertawa melihatnya, sampai akhirnya aku merasa gemas sendiri melihatnya yang masih belum bisa menangkap anjingnya itu. Aku langsung saja menangkap anjing itu karena kebetulan sekali berlari ke arahku.
"Ter-ma ka-sih... Su-dah mem-bantu menangkap Snoppy... " ucapnya dengan nafas yang terputus-putus.
"Spertinya anjingmu bosan denganmu." Ucapku asal. Ekpresi wajahnya langsung berubah jadi terlihat kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan itu membuatnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Apa maksudmu mengatakan itu, huh?" Tukasnya dengan suara yang kesal.
"Buktinya dia berlari darimu, tapi lihatlah ia begitu tenang dan nyaman dalam pangkuanku." Jawabku sambil menahan tawa.
Wanita itu mendengus kesal sambil mengambil paksa anjingnya yang berada di dalam pelukanku. "Ayo kita pulang Snoppy." Ia berkata pada anjingnya itu.
Lalu wanita itu berlalu dari hadapanku. Sedangkan aku hanya memandangi sosoknya hingga menghilang. Sejenak aku termenung, karena wajah wanita itu tiba-tiba saja langsung memenuhi pikiranku. Aku tak memungkiri bahwa wanita yang tidak sempat aku tanyakan namanya memiliki wajah yang cantik.
Ia memiliki kecantikan yang alami dan sangat bersahaja. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang sering berkencan denganku selama ini. Ia benar-benar sangat cantik dan begitu polos. Perasaan posesif dan ingin memilikinya pun muncul.
Sejak saat itulah aku terus mencari keberadaan wanita itu. Ketika aku sudah mendapatkan segala informasi tentangnya aku langsung melakukan pendekatan. Salah satu hal yang tak pernah aku lakukan. Semua orang tahu aku seperti jika mrmperlakukan seorang wanita.
Hanya Hanna yang mampu membuat hidupku jungkir balik. Memporak porandakan hatiku yang mencairkan kebekuannya. Hanna satu-satunya wanita yang dengan suka rela aku memberikan seluruh hatiku.
Wanita yang aku jadikan pusat kehidupanku, pelabuhan terakhirku. Karena sejak bersamanya kehidupanku berubah 180 derajat. Tentu saja kehidupanku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun di tengah-tengah kebahagianku terselip perasaan ragu.
Bukan keraguan terhadap Hanna, tapi keraguan atas diriku sendiri. Aku takut jika perasaan yang aku rasakan pada Hanna selama ini hanya sementara. Aku takut menyakitinya. Dan ketika keraguan itu semakin besar dan tak dapat aku tanggung lagi, akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Hanna. Menjauh darinya untuk sementara waktu.
Namun aku harus menelan kekecewaan ketika kembali dari tempat pengasinganku. Aku harus menerima kenyataan bahwa Hanna telah menikah dengan pria lain. Seketika itu pula hatiku remuk redam.
Suara gaduh dari dalam rumah langsung menginterupsi renukanku. Secepat kilat aku langsung bergegas berlari ke dalam untuk melihat apa yang yang terjadi. Tubuhku langsung membeku melihat sosok yang telah membuat keributan di tempatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar