DHEE
Sudah satu minggu sejak aku memutuskan untuk mengambil cuti kuliahku selama tiga bulan. Dan saat ini aku sedang berada di Paris, di salah satu mansion milik Dad. Aku juga sudah berpesan kepada Mom dan Dad agar tidak menggangguku. Karena saat ini yang aku butuhkan adalah waktu untuk diriku sendiri.
Banyak hal yang ingin aku lupakan dan yang ingin aku perbaiki. Termasuk tentang Gale, karena sampai detik ini aku masih belum benar-benar bisa untuk melupakan Gale.
Terlalu besar perasaan cinta dan sayangku kepadanya. Meskipun mulutku berkata bahwa hubungan kami sudah selesai, tapi tidak dengan hati kecilku.
Hati kecilku menangis meraung-raung, menolak keputusan sepihakku untuk mengakhiri hubungan ini dengan Gale. Gale benar-benar membuat emosiku menjadi labil serta naik turun dengan begitu cepat seperti sebuah roller coaster.
Namun justru karena hal-hal itulah yang membuat hidupku jadi pernuh warna, tidak monoton. Karena efek dari kerikil-kerikil itulah yang membuat perasaanku kepada Gale menjadi semakin kuat dengan sadar ataupun tidak. Tapi ya, aku mengakui bahwa perasaanku kepada Gale semakin kuat. Meskipun saat ini aku sedang berusaha keras untuk menampiknya.
Tapi apa yang aku lakukan saat ini? Pergi hanya untuk menghindarinya, melihat sosoknya membuatku sakit. Gale... aku sangat merindukanmu. Sedang apa kau saat ini? Aku ingin bertemu denganmu Gale, gumamku dalam hati.
Dengan gusar aku pergi meninggalkan mansion dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Berharap pikiranku akan semakin tenang dan bisa mengalihkan pikiranku dari Gale. Dengan perlahan aku menyusuri jalan yang menuju ke menara Eiffel, karena mansion milik Dad berada tak jauh dari salah satu dari tujuh keajaiban dunia itu.
Udara sore ini cukup dingin, membuatku harus mengetatkan mantel yang aku gunakan. Mataku menyusuri berbagai macam objek yang ada di sepanjang jalan. Semua itu bisa sedikit membuatku merasa lebih baik.
Akhirnya aku memutuskan untuk naik ke puncak menara Eiffel. Aku ingin sekali melihat pemandangan matahari terbenam dari sana. Pasti akan sangat indah sekali, dari sana pula aku bisa menikmati keindahan kota Paris dari ketinggian.
Sesampainya di puncak aku langsung menghela nafas dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan banyak udara. Berharap dengan cara seperti itu seluruh beban yang selama ini menyesakkan dadaku terangkat semuanya.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Paris memang selalu indah dari atas sini. Andai saja Gale juga ada di sini, pasti akan sangat menyenangkan sekali. Tidak, tidak, apa yang kau pikirkan Dhee. Berhenti memikirkan pria itu, geramku dalam hati.
Tuhan, mengapa nama itu lagi yang terlintas di dalam kepalaku? Sepertinya otakku memang bermasalah, rutukku dalam hati. Untuk apa aku terus menerus memikirkan pria yang sudah tidak mencintaiku dan menginginkanku lagi? Ingin sekali rasanya aku hilang ingatan saja, agar perasaan ini tidak menyesakkan dadaku.
Tuhan, mengapa kau tidak membuatku hilang ingatan saja saat kecelakaan itu? Mungkin dengan begitu hidupku saat ini akan jauh lebih tenang. Karena aku bisa menghilangkan dirinya dari pikiranku.
Jika kami memang tak ditakdirkan untuk bersatu, maka jauhkanlah dia dari hidup dan pikiranku. Namun jika ia memang ditakdirkan untukku, pertemukanlah kami kembali. Berilah kami petunjuk untuk menyelesaikan semua permasalahan kami yang semakin pelik ini, doaku dalam hati.
Kemudian aku kembali menikmati pemandangan di sekitar. Hari ini tidak begitu ramai seperti biasanya, hanya ada beberapa pasangan saja disini dan beberapa orang yang datang untuk menyendiri seperti yang tengah aku lakukan saat ini.
Sampai akhirnya mataku menatap sosok yang sangat familiar dan sangat aku rindukan selama ini. Gale. Apa yang sedang ia lakukan disini? Sangat tidak mungkin Mom dan Dad memberitakukan keberadaanku kepada Gale. Mengingat kedua orang tuaku begitu menentang hubungan kami berdua.
Gale tengah menengadahkan kepalanya menghadap langit sambil memejamkan matanya. Terlihat sekali bahwa ia sedang melakukan hal yang sama sepertiku. Mencari ketenangan. Ingin sekali aku berlari ke arahnya dan memeluknya dengan begitu erat. Namun entah mengapa kakiku menjadi kaku, membuatku terpaku di tempatku berdiri saat ini.
***
GALE
Saat ini aku sedang berada di Paris, aku memutuskan untuk menghilang dan rehat sejenak dari rutinitasku. Tapi kali ini aku memberitahu Lila kemana aku akan pergi, aku tak mau membuat Lila khawatir seperti waktu itu.
Banyak yang bilang bahwa Paris adalah kota yang romantis. Cocok bagi orang-orang yang memiliki pasangan, tapi bagi orang-orang yang sedang memiliki permasalahan sepertiku Paris adalah kota yang cocok untuk menyendiri.
Entah mengapa Paris terlintas begitu saja dipikiranku. Aku sangat ingin sekali mendatangi kota ini tanpa alasan yang begitu jelas. Berandai-andai aku akan bertemu dengan wanita yang paling kucintai di kota ini, Dhee. Meskipun aku tahu bahwa itu tidak mungkin.
Dhee tidak mungkin berada di sini, keberadaannya saat ini pun masih belum diketahui. Aku tak ingin menyerah dan putus asa dalam mencari keberadaannya. Namun Dhee benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
Tuhan, jika Dhee memang jodohku, kumohon pertemukan kami kembali. Namun jika ia bukan jodohku maka jauhkanlah kami. Jangan pertemukan kami lagi di manapun. Biarlah waktu yang menjawab semuanya, ketidak pastian ini akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.
Mataku perlahan terbuka, semburat jingga kini telah menghiasi langit kota Paris. Sangat indah, andai saja Dhee ada di sini pasti akan lebih indah, gumamku dalam hati sambil menikmati indahnya senja membuat bibirku menyunggingkan senyum dengan sendirinya.
Ketika memutar tubuhku tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sangat aku rindukan sedang menatapku. Sosoknya begitu indah diterpa oleh sinar mentari berwarna jingga. Ingin aku menghampiri namun yang aku lakukan hanya terdiam mematung. Berharap bahwa yang aku liat kini bukanlah ilusi semata.
Setelah beberapa menit hanya saling berpandangan, akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya. Berjalan perlahan sembari melihat setiap pergerakan yang dilakukan oleh Dhee. Aku tak ingin membuatnya berlari menjauhiku. Saat ini juga aku harus menyelesaikan semua permasalahan kami berdua. Atau takkan ada kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.
"Dhee..." panggilku perlahan setelah berada tepat dihadapannya. Di luar dugaan Dhee langsung memeluk tubuhku dengan begitu erat.
"Gale, maafkan aku." Isaknya dalam pelukanku.
"Stt, sudahlah Angel kau tak perlu meminta maaf. Ini semua salahku." Ucapku sambil berusaha menenangkannya.
Dhee menengadahkan wajahnya menatapku, matanya yang indah kini telah basah oleh air matanya. Hatiku kembali berdenyut sakit melihatnya, "Tidak Gale, aku yang salah. Seharusnya aku mau mendengarkan semua penjelasanmu, bukannya langsung memutuskan hubungan kita begitu saja. Aku benar-benar pengecut Gale, karena yang aku lakukan adalah lari darimu." Jelasnya sambil terisak.
"Sudah Angel, berhentilah menangis. Setelah kau merasa jauh lebih tenang kita bisa membicarakan semua ini dengan kepala dingin." Tuturku sambil menangkup wajahnya. "Tapi untuk saat ini biarkanlah aku memelukmu." Lanjutku sambil menarik kembali tubuh mungilnya kedalam pelukanku.
Rasa syukur berulang kali kuucapkan. Perasaan bahagia membuncah tak terbendung di dalam dadaku. Tuhan benar-benar telah mendengarkan doaku. Aku takkan melepaskan Dhee untuk yang kedua kalinya. Apapun rintangan yang menunggu di depan sana aku akan melewatinya. Aku takkan menyerah lagi.
It's late at night and I can't sleep
Missing you just runs too deep
Oh I can't breathe thinking of your smile
Every kiss I can't forget
This aching heart ain't broken yet
Oh God I wish I could make you see
Cause I know this flame isn't dying
So nothing can stop me from trying
Baby you know that
Maybe it's time for miracles
Cause I ain't giving up on love
You know that
Maybe it's time for miracles
Cause I ain't giving up on love
No I ain't giving up on us
I just wanna be with you
Cuz living is so hard to do
When all I know is trapped inside your eyes
The future I cannot forget
This aching heart ain't broken yet
Oh God I wish I could make you see
Cuz I know this flame isn't dying
So nothing can stop me from trying
Baby can you feel it coming
You know I can hear it, hear it in your soul
Baby when you feel me feeling you
You know it's time...
(Adam Lambert - Times For Miracle)
Senja kali ini akan menjadi salah satu senja terbaik dan terindah dalam hidupku. Karena senja kali ini wanita yang sangat aku cintai ada didalam pelukanku, senja yang penuh keajaiban. Demi Tuhan, aku takkan melepaskannya. Biar hujan badai menerjang aku takkan gentar menghadapinya.
Tak henti-hentinya aku menciumi pucak kepalanya. Kerinduan yang kurasakan tak terbendung lagi, maka yang kulakukan hanya seperti ini. Cukup saling berpelukan, dengan begini aku berharap Dhee akan merasakan kerinduan yang selama ini kupendam.
"Bagaimana jika kita mencari sebuah restoran. Udara disini sudah mulai dingin, aku tak mau kau sakit." Bisikku. Dhee hanya mengangguk dalam pelukanku.
Langit telah berubah gelap ketika pelukan kami terlepas. Bintang-bintang kini telah menghiasi langit yang berwarna gelap. Sangat indah. Sebenarnya aku ingin lebih lama berada di sini, namun aku takut Dhee sakit jika kami terlalu lama berada di ketinggian.
Sambil bergandengan tangan kami pergi meninggalkan puncak menara Eiffel. Rasanya sangat bahagia karena akhirnya aku bisa menggenggam kembali tangan Dhee yang begitu hangat, halus dan lembut. Hanya dengan menggenggamnya seperti ini hatiku merasa begitu tentram, tak ada hal yang membahagiakan dari ini.
Kami berjalan menyusuri jalanan yang ramai sambil bergandengan tangan. Mencari kafe yang cocok untuk kami berdua. Aku tak henti-hentinya memandangi wajah Dhee yang kini berada di depanku. Terlihat agak tirus namun tak mengurangi kecantikan alami yang di milikinya.
"Mengapa terus memandangiku seperti itu, Gale?" Dhee bertanya sambil memandangku.
"Tidak ada apa-apa, bukankah sejak dulu aku memang senang memandangi wajahmu seperti." Jawabku sambil tersenyum.
"Rupanya kau masih belum berubah, Gale." Timpalnya sambil terkekeh.
"Aku tidak akan berubah, Angel. Kau tahu bagaimama perasaanku padamu seperti apa." Tuturku sambil meraih tangannya, kemudian kukecup. "Mari kita mulai semuanya dari awal, Angel. Biarkan aku memperbaiki semua kesalahanku." Lanjutku.
"Tentu, Gale." Jawabnya tulus.
Malam itu kami menghabiskan waktu bersama. Membicarakan berbagai hal. Setidaknya malam ini akan menjadi awal hubungan kami yang baru. Apapun yang terjadi kami sekarang sudah jauh lebih siap untuk menghadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar