Minggu, 12 Januari 2014

Love Under The Rain 5

VANNO

"Aku akan menemui Dad besok tapi dengan syarat." Ucapku datar.

"Pilihan yang bagus sekali adikku. Syarat apakah yang kau inginkan?" Tanya Ray masih dengan senyuman liciknya.

"Jauhi wanitaku. Atau kau dan Dad akan menerima akibatnya." Ancamku sambil memandang tajam dirinya.

"Deal, aku takkan menyentuhnya sedikitpun asalkan kau mengerjakan perkerjaan ini dengan baik dan tidak boleh gagal." Ucapnya.

"Tergantung apa yang harus aku kerjakan. Sebaiknya sekarang kau pergi dari tempatku." Usirku.

"Oke, aku akan pergi dari sini. Jangan lupa janjimu Vanno, atau aku akan mengambil wanitamu yang sangat menggairahkan itu." Timpalnya sambil tersenyum licik.

Rahangku mengatup kaku mendengar kata-katanya. Mengapa mereka masih saja terus menggangguku? Sudah berkali-kali aku bilang bahwa aku sudah tidak ingun bersentuhan dan berurusan lagi dengan hal-hal yang seperti itu. Aku ingun benar-benar lepas dari semua itu agar aku bisa bersama dengan Clariss. Ya, aku akui bahwa sampai detik ini aku masih belum bisa melupakannya.

Semakin kuat keinginan untuk melupakannya hanya membuat ingatanku semakin mengingat sosoknya. Tutur katanya yang lembut namun terkadang manja, sifat cerobohnya dan bibirnya yang membuatku selalu menginginkan untuk terus menerus menciumnya. Aku merindukan semua yang apa pada diri Clariss dan ya aku menyadari perasaanku itu.

Perasaanku kepada Clariss semakin hari semakin kuat. Aku semakin merindukannya ketika malam tiba. Memeluknya setiap malam adalah momen yang paling kurindukan. Karena aku benar-benar bisa merasa nyaman dan terbebas dari mimpi buruk yang selalu menghantuiku ketika tidur.

Setelah Ray pergi meninggalkan tempatku hal pertama yang harus aku lakukan adalah melihat keadaan Clariss. Meskipun aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Tapi setidaknya aku bisa melihat wajahnya. Wajah yang selalu aku rindukan.

Mengendarai ferrari hitam kesayanganku aku langsung pergi meninggalkan penthouse dan langsung menuju ke kediaman Clariss. Aku sudah tahu kegiatan yang di lakukan oleh Clariss setiap harinya. Dan biasanya ia akan berada di kafe favoritnya pada jam-jam segini.

Aku langsung menghentikan mobil di pelataran parkir sebuah toko yang ada di seberang kafe itu. Dan ternyata dugaanku benar. Clariss berada di dalam kafe itu sedang berbincang bersama seorang wanita yang seumuran dengannya. Aku berasumsi bahwa wanita itu adalah teman Clariss.

Melihat wajah Clariss yang tertawa dengan lepasnya membuat hatiku menghangat dan tanpa sadar membuatku ikut tersenyum. Clariss, aku sangat merindukanmu, aku ingin memelukmu, Clariss. Tapi tidak, aku tidak bisa menampakkan diriku di depanmu saat ini.

Ray sudah mengetahui keberadaanmu, aku harus melakukan pengawasaan ekstra agar Ray tidak tahu jati dirimu yang sebenarnya. Aku tidak mau tau terluka, karena secara tidak langsung aku telah menyeretmu dalam hidupku yang hitam.

Takdir belum mengijinkan kita untuk bersatu. Tapi aku berjanji jika suatu hari saat itu tiba aku takkan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku. Aku akan selalu ada ketika kau membutuhkanku, aku akan menjagamu dengan nyawaku dan aku akan membahagiakanmu, Clariss.

Tapi kapankah waktu itu akan tiba? Bisakah aku benar-benar terlepas dari dunia kegelapan itu? Benar-benar terlepas dari ayah dan kakak angkatku, bisakah aku? Bisakah aku pergi ke tempat terang yang di tawarkan oleh Clariss tanpa membuatnya terluka?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepalaku. Sampai akhirnya aku melihat Clariss keluar dari kafe itu, tapi tidak bersama teman wanitanya. Clariss keluar bersama seorang pria yang tampan dan terlihat sangat akrab sekali lali mereka berdua masuk kedalam sebuah mobil dan pergi.

Jantungku berdenyut tidak enak. Rasanya sangat menyakitkan ketika melihat pemandangan barusan. Secepat itukah Clariss melupakanku? Atau selama ini aku terlalu percaya diri beranggapan bahwa Clariss memiliki perasaan yang sama denganku?

***

CLARISS

Hari itu Kak Leon mengantarku pulang. Benar-benar mengejutkan melihatnya tiba-tiba muncul di kafe ketika aku sedang bersama Glad. Meskipun aku tahu dengan pasti bahwa Glad yang menyuruh kakaknya itu untuk datang. Karena setelah Kak Leon datang Glad langsung pamit dan pergi meninggalkanku hanya berdua dengan Kak Leon.

Setelah Glad pergi suasana di antara kami sempat canggung. Mungkin karena kami sudah cukup lama tidak bertemu dan berbincang-bincang. Namun bukan Kak Leon namanya kalau ia tidak bisa mencairkan suasana. Karena beberapa menit berikutnyaia berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Kak." Ucapku sebelum keluar dari dalam mobil.

"Tak perlu sungkan seperti itu, Clariss. Aku senang bisa bertemu denganmu, sebenarnya sudah lama aku ingin menemuimu tapi Glad benar-benar membuatku sibuk dengan pekerjaan di kantor. Benar-benar keterlaluan." Jelasnya sambil memasang wajah kesal.

"Glad benar-benar bos besar." Timpalku sambil tertawa.

"Lama tak bertemu ia banyak sekali berubah. Terlebih lagi semenjak dia bertemu dengan William." Ucapnya dengan mata menerawang.

"Ah, jadi kakak sudah tahu cerita awal pertemuan Glad dan pria bernama William itu?" Tanyaku yang hanya di tanggapi dengan senyuman olehnya.

"Ya, aku tak menyangka William akan memberikan efek seperti itu kepada Glad." Ungkapnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu. Mau mampir?" Tawarku sambil memegang pegangan pintu mobil.

"Lain kali Clariss, aku harus segera kembali ke kantor atau bos Glad akan motong gajiku." Ucapnya sambil tersenyum.

"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi nanti." Pamitku lalu membuka pintu mobil dan keluar. Dan setelah aku berada di dalam barulah aku mendengar deru mesin mobil milik Kak Leon.

Kak Leon pria yang baik dan tampan, ia selalu membuat dadaku berdebar keras ketika ia tersenyum. Ya, Kak Leon memang memiliki senyuman yang memukau.

Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Aku sudah terlanjur jatuh dan terperangkap dalam pesona Vanno yang penuh dengan misteri. Vanno sedang apa kau saat ini? Aku benar-benar sangat merindukanmu.

Dengan langkah lunglai melangkahkan kakiku menuju kr apartemen milikku. Ketika sampai di depan pintu aku langsung mengambil kunci dari dalam tasku lalu memasukannya ke lubang pintu.

Tapi aku langsung terhenyak kaget, karena pintu apartementku tidak terkunci. Keringat dingin langsung memenuhi sekujur tubuhku. Berbagai praduga pun langsung memenuhi pikiranku. Jangan-jangan ada pencuri yang masuk ke dalam apartrmentku. Tunggu dulu bukankah petugas keamanan akan selalu memberitahu jika ada orang asing yang berkunjung ke kemari?

Berkali-kali aku mengatur nafasku untuk menekan perasaan takut yang sedang menggerogotiku saat ini. Dengan segenap keberanian aku pun memutar kenop pintu dan mendorongnya dengan perlahan-lahan.

Lututku langsung terasa lemas, jantungku berdetak tak karuan ketika melihat sosoknya sedang duduk di sofa depan tlTV sambil menyilangkan kedua tangannya dan menatapku dengan tatapan yang begitu intents.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar