Senin, 20 Januari 2014

Bloody Love ( The Endless Tormented)

Penyiksaan kini kerap kali aku rasakan. Tak hanya oleh ayahku, tapi kakakku Giovanna pun ikut menyiksaku. Rasa sakit yang di timbulkan karena luka-luka di sekujur tubuhku benar-benar sangat menyiksa.

Sampai aku tidak bisa menggerakan seluruh tubuhku. Mataku hanya bisa tertutup sambil meringkuk di atas lantai yang dingin tanpa alas sehelai pun. Karena semenjak kejadian itu Dad menempatkanku di sebuah ruangan sempit dan gelap yang berada di basement sebuah gudang penyimpanan yang letaknya jauh dari rumah utama.

Terkadang aku selalu berpikir mengapa Dad sampai setega itu kepadaku. Dad memperlakukanku seperti binatang, seolah aku ini bukan putrinya. Atau sebenarnya aku ini memang bukan putri Dad. Hanya Mom dan nenek Rossemary yang masih mau menemuiku disini meskipun tidak setiap hari.

Mom dan nenek akan datang menemuiku jika Dad dan Giovanna tidak ada di rumah. Mereka berdualah yang merawat dan mengobati semua luka-luka di tubuhku ini.

Setiap kali Dad datang menemuiku hanya untuk mencambuk tubuhku. Ia berkata bahwa sudah banyak yang menjadi korban karena kelakuanku. Semakin hari aku hanya semakin membuat warga sekitar menjadi resah dan ketakutan.

Bahwa nama baik keluarga Rossetti sudah tercoreng karena kejadian ini. Dan semua terjadi karena ulahku. Akulah penyebab teror di kota ini. Bahkan jika aku terus-terusan memangsa korbanku Dad tak segan-segan menyerahkanku kepada warga agar mereka sendiri yang memberikan hukuman untukku.

Dan yang tak pernah kumengerti adalah ketika mendengar banyak sekali orang yang telah menjadi korbanku. Sehingga Dad sekarang benar-benar memasungku. Dad membelengguku dengan rantai yang besarnya dua kali lipat dari rantai yang pertama kali Dad ikatkan di tubuhku.

Seluruh tubuhku di tutupi oleh rantai-rantai yang besar itu. Rasanya benar-benar sangat menyakiykan. Luka-luka terbuka yang bertebaran di sekujur tubuhku kondisinya semakin parah dan terinfeksi.

Seluruh otot di tubuhku menjadi kaku tak bisa di gerakkan sedikitpun. Sepertinya tubuhku mati rasa, Dad benar-benar tega padaku. Mengapa Dad sampai berbuat sejauh ini.

Meskipun pelayan sering datang untuk membawakan makanan tapi dengan keadaan yang seperti ini aku tak bisa memakan makanan itu. Aku juga tidak bisa mengharapkan Mom atau nenek Rossemary. Karena mereka tidak bisa datang menemuiku setiap hari.

Tuhan, mengapa hidupku jadi seperti ini? Mengapa aku harus mengalami kejadian yang mengerikan dan membingungkan ini?

***

"Reindhart..." Madeleine memanggil suaminya yang sedang serius membaca buku di ruang baca.

"Ada apa, sayang?" Tanya Reindhart tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang sedang di bacanya.

"Aku ingin membicarakan tentang Emerald, Reind." Ucap Madeleine penuh kehati-hatian.

"Apalagi yang ingin kau bahas? Aku rasa semuanya sudah cukup jelas, bukan?" Timpalnya, sepertinya Reindhart mulai tertarik oleh perkataan sang istri, "Emer benar-benar sudah membuatku malu." Lanjutnya.

"Tapi Emer putri kita Rein, dia darah dagingmu. Kau tak bisa memperlakukannya Emer seperti itu, Rein. Emer hanyalah seorang anak perempuan, ia masih kecil." Ungkap Madeleine tanpa bisa menyembunyikan perasaan sedihnya.

"Dia monster Madeleine, bukan putri kecil kita yang cantik lagi." Reindhart menanggapi ucapan istrinya dengan begitu datar dan nyaris tanpa emosi yang tersirat di wajahnya sedikitpun.

Madeleine benar-benar tak mengerti dengan semua kejadian yang menimpa keluarganya kini. Ia merasa bahwa saat ini keluarganya sedang mendapatkan ujian dari para leluhur.

Bahkan Madeleine sangat yakin sekali bahwa bukan Emer putri kecilnya yang telah melakukan perbuatan keji itu. Ia melihat seperti ada sesuatu di dalam diri Emer dan mengendalikan Emer untuk berbuat hal kejam seperti itu.

Dan mengapa pula Reindhart tak berpikir bahwa bagaimana mungkin anak sekecil Emer bisa melakukan hal yang mengerikan seperti itu. Reindhart malah menyiksa Emer seperti binatang yang tak layak hidup. Bahkan binatang pun memiliki hak untuk hidup mereka.

"Rein, mengapa kau tidak menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada putri kita? Kau bisa melakukan hal yang lebih berguna daripada terus melakukan penyikasaan terhadap Emer." Tukas Madeleine yang mulai merasa jengah dengan semua sikap dan perlakuan suaminya itu terhadap Emer yang tak lain adalah putri kandung mereka berdua.

"Berhenti mengeluarkan kata-kata yang memojokkanku, Madeleine. Seolah bahwa akulah yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini." Hardik Reindhart emosi.

"Kau... dengar Reindhart aku akan melakukan apapun untuk Emer. Karena aku sangat yakin sekali bahwa semua kekacauan ini di luar kendali kesadaran Emer sendiri." Jelas Madeleine menggebu-gebu.

Setelah itu Madeleine langsung pergi meninggalkan ruang baca. Ternyata sia-sia, berbicara baik-baik dengan suaminya sekarang ini menjadi sangat sulit. Padahal Reidhart yang pertama kali di kenalnya dulu tak pernah memakai cara kekerasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Tapi sekarang ia malah melakukan cara kekerasan dengan dalih untuk menghukum Emer. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku ini? Mengapa tak ada titik terang sedikitpun untuk menyelesaikan masalah ini.

***

Reindhart berjalan menuju ke gudang belakang tempat Emerald di kurung. Ia bersama beberapa orang yang kini ia tugaskan untuk memberikan hukuman pada Emer dan sekalian mengawasinya.

Reindhart benar-benar sudah tak tahu harus bagaimana lagi untuk menyelesaikan permasalahan pelik yang kini tengah mendera keluarganya. Jauh di dalam hatinya ia sangat merindukan ketentraman keluarganya itu. Terutama Emer, ia sangat merindukan tawa putri kecilnya itu.

Emer yang ceria, selalu membuat semua orang merasa bahagia ketika melihatnya, kini telah berubah menjadi sosok yang paling di takuti oleh semua orang. Emer yang cantik kini menjadi sosok yang mengerikan.

Laporan terakhir dari warga yang kuterima pagi ini kembali membuatnya menggeram marah karena frustasi. Salah satu tetua di daerah ini di temukan tewas dengan cara yang mengenaskan. Tubuhnya di temukan dengan keadaan luka yang sangat parah. Luka di perutnya terbuka lebar, seluruh organ di dalam tubuhnya tercecer di lantai. Sedangkan organ jantungnya hilang entah kemana. Sama seperti keadaan korban yang sebelumnya.

Bahkan luka-luka sayatan di sekujur tubuhnya pun memiliki pola yang sama. Sudah di pastikan bahwa Emerald-lah yang melakukan tindakan keji itu.

Reindhart tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan semua teror yang di lakukan oleh putri bungsunya. Apalagi ia tak pernah sedikitpun mengendurkan penjagaan dan pengawasan terhadap Emer. Tapi apa yang terjadi? Serangan itu selalu terulang terus menerus bahkan tindakannya semakin kejam.

Dua hari yang lalu keluarga Jenkins menemukan tubuh anak lelaki mereka tebujur kaku dalam genangan darah. Dan yang mengejutkan kepala putra mereka tergantung di langit-langit kamarnya. Dengan darah yang masih menetes dan matanya yang membelalak terlihat sangat ketakutan.

Dengan penuh amarah Reindhart melangkahkan kakinya menuju ke tempat Emer di kurung. Saat sampai di sana ia melihat Emer masih terikat rantai di tempat tidur usang itu. Wajahnya sangat pucat, tubuhnya kurus hanya tulang yang terbungkus kulit.

Ada perasaan sakit yang begitu dalam ketika melihat keadaannya. Semua orang tahu bahwa Raindhart sangat mencintai dan menyayangi Emer. Tapi ia juga tak mengerti mengapa Emer harus berubah seperti itu? Menjadi monster yang terus melakukan teror.

Selama beberapa menit Reindhart terus memperhatikan putrinya. Tak ada pergerakan sama sekali dari tubuh Emer. Hanya bunyi nafasnya yang putus-putus masih sempat ia dengar. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

***

Tengah malam tiba, Madeleine dan nenek Rossemary berjalan beriringan sambil mengendap-endap. Mereka berdua menyusup untuk pergi ke gudang. Madeleine telah mencampur minuman para penjaga dengan obat obat tidur. Ia lakukan agar bebas saat masuk ke dalam.

Ia dan nenek Rossemary telah merencakan sebuah pelarian untuk Emer. Madeleine akan mengeluarkan Emer dari gudang yang sempit dan pengap itu. Tak apa ia harus melepas putri kecilnya pergi asalkan Emer bisa bebas dari siksaan yang di lakukan oleh suaminya itu.

Setelah berhasil membuka pintu Madeleine langsung bergegas melepaskan kunci-kunci gembok yang di pasang di seluruh rantai. Dengan susah payah akhirnya Madeleine berhasil melepaskan seluruh rantai yang mengikat tubuh Emer.

"Emer sayang, ayo bangun." Panggil Madeleine sambil menepuk-nepuk pipi putrinya.

Sedangkan nenek Rossemary mulai mengganti pakaian Emer dan mulai mengoleskan obat di semua luka Emer dan membalutnya dengan perban.

"Emer cucu nenek, ayo bangun sayang." Nenek Rossemary ikut memanggil Emer sambil mengelus kepalanya.

Dengan perlahan kelopak mata Emer terbuka. Matanya yang hijau seperti batu emerald itu terlihat begitu kuyu. Tak ada lagi sinar keceriaan di matanya yang indah itu. Hanya ada ketakutan, kesedihan, kesakitan dan kebingungan dari sorot matanya.

"Maa, Granny." Panggilnya dengan suara yang begitu lemah.

"Cepat berikan obatnya." Perintah nenek Rossemary kepada Madeleine.

Dengan penuh kehati-hatian Madeleine meminumkan obat kepada Emer. Obat itu bertujuan untuk mengembalikan dan memulihkan tenaga Emer. Setidaknya Emer bisa pergi jauh dari daerah ini. Setelah selesai Madeleine membantu Emer duduk.

"Maa, apa yang Maa lakukan di sini besana Granny?" Tanya Emer yang wajah pucatnya kini mulai terlihat berwarna.

"Granny dan Maa akan membebaskanmu dari, sayang." Jelas nenek Rossemary.

Kemudian Madeleine dan nenek Rossemary menjelaskan rencana pelarian yang akan di lakukan oleh Emer. Mereka berdua telah menyiapkan berbagai keperluan untuk Emer selama dalam pelariannya. Setidaknya semua perlengkapan itu cukup sampai Emer mendapatkan tempat yang aman.

Dengan di bantu oleh ibu dan neneknya Emer pergi meninggalkan kediaman Rossetti. Meskipun berat dan sedih tapi Emer harus tetap pergi meninggalkan orang-orang yang di cintainya. Dan untuk kebaikan semua orang. Maka di mulailah perjalanan Emer untuk mendapatkan kehidupannya yang seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar