CLARISS
Waktu di sekitarku rasanya seperti langsung berhenti berputar. Sosoknya yang hanya di terangi oleh cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela yang tirainya masih terbuka seperti menyihirku.
Dia terlihat seperti makhluk magis yang sedang menebarkan pesonanya kepada mangsa yang di pilihnya, yaitu aku. Seseorang yang selama ini aku rindukan kini sosoknya berada tepat di hadapanku. Sosoknya bak patung adonis yang memukau kini tengah melumpuhkanku dengan tatapan matanya yang tajam.
Kehangatan yang aku rasakan dan aku lihat di matanya saat terakhir kali bersamanya kini tak lagi ada. Yang aku rasakan hanyalah tatapan tajam yang dingin dan menusuk. Pikiranku langsung di penuhi oleh berbagai praduga mengenai apa yang terjadi pada Vanno dan membuatnya menjadi seperti ini.
"Clariss..." panggilnya, namun suaranya begitu asing dan dingin menusuk ke jantungku.
"Vanno..." timpalku sambil berusaha untuk tidak terintimidasi olehnya. Meskipun aku tahu bahwa usahaku akan sia-sia.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Hei, duduklah disini jangan berdiri saja." Ucapnya sambil menepuk sofa yang berada di sampingnya.
Aku berjalan menghampirinya sambil mendengus kesal. Apa-apaan itu tadi? Ini kan tempat tinggalku, mengapa dia yang menyuruhku duduk. Benar-benar tidak sopan, gerutuku dalam hati.
"Apa kabarmu, Vanno?" Tanyaku setelah aku duduk di sampingnya, "Mau aku ambilkan sesuatu?" Tawarku.
"Tidak usah Clariss, terima kasih." Ucapnya masih dengan suara yang dingin dan ekspresi wajah yang datar.
Mendengar jawabannya aku kembali duduk di sofa dan lebih memilih untuk tidak menatapnya. Ekspresinya yang datar dan dingin benar-benar membuat hatiku terasa sakit. Rasanya jantungku seperti di remas dan di tusuk-tusuk.
Tiba-tiba Vanno meraih daguku agar menghadap kepadanya. Manik mata kami langsung bertubrukan, mencoba untuk menyelami isi hati dan pikiran masing-masing. Berharap akan menemukan sesuatu meskipun hasilnya sia-sia. Vanno terlalu pandai untuk menutupi perasaannya dengan ekspresinya yang dingin itu.
Selama beberapa menit kami berada dalam posisi seperti ini. Saling terdiam tanpa ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Vanno menciumku. Ciumannya tidak seperti yang aku rasakan dulu. Aku merasa ada kemarahan, kerinduan dan kesedihan dalam ciumannya kali ini, entahlah.
Ia menggigit pelan bibir bawahku, lidahnya berusaha untuk masuk ke dalam mulutku. Namun yang aku lakukan hanya diam tak meresponnya, hingga akhirnya aku mendorong tubuhnya dengan kuat. Ada tatapan terluka di matanya ketika aku melakukan hal itu.
"Kenapa Clariss? Mengapa kau menolakku? Apakah kau tidak merindukanku?" Tanyanya dengan suara yang datar, "Ah, aku tahu. Ternyata kau memang sudah melupakanku, bukan salahmu. Ini salahku dan seharusnya aku tidak datang menemuimu lagi." Lanjutnya sambil menatapku dengan tatapan yang terluka.
"Bu-bukan begitu, Vann. Aku..." timpalku namun Vanno memotong ucapanku.
"Tidak Clariss tidak, seharusnya aku membiarkanmu bahagia dengan pria itu." Aku tersentak dengan mata yang membelakak mendengar kata-kata terakhir yang terucap dari bibir Vanno. Pria? Apa yang dia maksud itu adalah Kak Leon? Tapi bagaimana dia tahu? Berbagai pertanyaan kembali berkecamuk di dalam kepalaku.
"Kalau begitu aku pergi." Tukas Vanno sambil berdiri dari duduknya.
"Vanno, dengarkan aku..." ucapku sambil berdiri dan memegang lengannya.
"Tidak Clariss, semuanya sudah jelas. Apa yang aku lihat adalah apa yang aku yakini." Tuturnya tanpa menatapku. "Selamat tinggal, Clariss. Jaga dirimu baik-baik." Lanjutnya.
Kemudian Vanno melangkahkan kakinya menuju pintu dan menghilang di balik pintu apartemenku. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan. Tubuhku meluruh di atas lantai sambil menangis tersedu, tanganku bergerak menyentuh dadaku yang terasa sakit. Tuhan rasa sakit ini begitu tak terperi.
Hanya Vanno pria yang aku cintai, dan hingga detik ini. Belum ada satu pun pria yang mampu menggeser posisi Vanno di hatiku. Bahkan Kak Leon sekalipun belum bisa menempati tempat itu.
Isakkanku pecah menjadi tangisan yang memilukan. Mengapa aku harus mengalami hal ini lagi? Dua kali sudah Vanno membuatku begini. Apakah itu pertanda bahwa kami tidak di takdirkan untuk bersatu? Bisakah aku merubah takdir itu? Meskipun aku tahu bahwa hanya nasiblah yang bisa di ubah, tapi tidak untuk takdir.
Jika memang begitu adanya jalan yang terbaik adalah aku harus melupakannya. Ya, aku harus melupakan Vanno. Menghapusnya daru hati dan pikiranku, membunuh semua perasaan yang aku rasakan kepadanya. Ya, aku akan melakukan hal itu meski kutahu semua itu akan berat.
Close enough to start a war
All that I have is on the floor
God only knows what we're fighting for
All that I say, you always say more
I can't keep up with your turning
tables
Under your thumb I can't breathe
So, I won't let you close enough to
hurt me
No, I won't rescue you to just desert
me
I can't give you the heart you think you gave me
It's time to say goodbye to turning
tables
To turning tables
Under haunted skies I see you (ooh)
Where love is lost your ghost is found
I braved a hundred storms to leave
you
As hard as you try, no, I will never be
knocked down, whoa
I can't keep up with your turning
tables
Under your thumb I can't breathe
So, I won't let you close enough to
hurt me,
No, I won't rescue you to just desert
me
I can't give you the heart you think you gave me
It's time to say goodbye to turning
tables
Turning tables
Next time I'll be braver
I'll be my own savior
When the thunder calls for me
Next time I'll be braver
I'll be my own savior
Standing on my own two feet
I won't let you close enough to hurt
me,
No, I won't rescue you to just desert
me
I can't give you the heart you think you gave me
It's time to say goodbye to turning
tables
To turning tables
Turning tables, yeah
Turning, oh
(Adele - Turning Tables)
Hatiku kini seperti padang rumput yang gersang. Karena hujan tak kunjung tiba untuk menyiraminya, yang lama kelamaan padang rumput itu perlahan menjadi tandus.
Sejak saat itu aku berusaha keras untuk melupakan Vanno. Meskipun setiap malam ia selalu datang menghantuiku di dalam mimpi. Semua itu benar-benar menyiksak, tak bisa lagi aku merasakan tidur nyenyak di malam hari. Karena aku takut melihat sosok Vanno di dalam mimpiku.
Dalam waktu yang singkat aku kehilangan berat badanku, mataku jadi terlihat lebih besar karena mataku terlihat cekung dengan lingkaran hitam yang besar. Dan orang yang terlihat sangat khawatir melihat keadaanku adalah Glad, yang tak lain adalah sahabatku.
"Demi Tuhan Clariss, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Tanya Glad sambil mengguncang bahuku. Namun aku tetap tak bergeming. "Clariss please, jangan seperti ini. Aku benar-benar khawatir melihat keadaanmu seperti ini." Lanjut Glad, terdengar jelas dari suaranya bahwa ia benar-benar sangat mengkhawatirkanku.
Maaf Glad, maafkan aku. Saat ini aku benar-benar belum bisa menceritakan semuanya kepadamu. Aku belum sanggup untuk mengungkapkan semua isi hatiku saat ini. Membicarakan tentang Vanno hanya membuat luka di hatiku semakin dalam. Meskipun aku tak menampik pikiranku selalu memikirkan sosoknya dengan sadar atau tanpa sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar