GLADYS
"Glad, kakak boleh masuk?" Teriak Kak Leon dari balik pintu kamarku membuatku terpaksa beranjak dari lamunanku.
"Ah ya, masuk saja Kak. Pintunya tidak di kunci." Teriakku.
Kak Leon masuk lalu duduk di sampingku. "Kau sebenarnya kenapa?" Tanyanya sambil menagytapku.
"Aku hanya merasa kurang sehat saja, Kak." Jawabku dengan suara yang lemah.
"Kau bukan pembohong yang ulung, Glad. Kakak tahu bahwa kau sedang memikirkan pria yang tadi kita lihat di bandara, bukan?" Tebak Kak Leon sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurku.
Degh... bagaimana Kak Leon bisa tahu? Aku pikir tadi kakak tidak memperhatikan gerak gerikku. Ah, bagaimana aku bisa lupa jika Kak Leon itu termasuk salah satu orang yang selalu memperhatikan keadaan sekitarnya dengan begitu detail. "Bu-bukan... Kak Leon jangan sok tahu." Bantahku sambil menyenggol lengannya menggunakan lenganku.
"Semakin kau mengelak kakak semakin yakin pula bahwa kau memang sedang memikirkan pria itu, Glad." Tegurnya lagi sambil menatapku tajam. Tatapan yang langsung bisa menembus apa yang sedang aku risaukau dengan tatapannya itu.
Aku kembali menghembuskan nafasku dengan frustasi. Sepertinya aku memang tak bisa lagi mengelak dari kakakku, "Ya, semua yang kakak katakan itu benar." Jawabku dengan suara lemah. Akhirnya aku menceritakan semua kejadian yang baru saja aku alami saat di berada di bandara.
Dan ketika aku mengakhiri ceritaku itu Kak Leon langsung tertawa terbahak-bahak. Benar-benar menyebalkan sekali. Kak Leon pikir aku sedang melawak karena ia tertawa dengan begitu lepasnya.
"Astaga, kau benar-benar..." ia kembali tertawa tanpa menyelesaikan perkataannya.
"Ah, kakak selalu begitu. Memaksaku untuk bercerita tapi setelah aku menceritakan semuanya kakak malah menertawakanku. Kau benar-benar kakak yang menyebalkan. Keluar dari kamarku sekarang." Bentakku sambil mendorong-dorong tubuhnya dari atas tempat tidurku.
"Oke oke, kakak minta maaf. Kakak berhenti tertawa." Ucapnya sambil berusaha untuk menghentikan tawanya. Aku hanya mencebik kesal melihatnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kak Leon setelah tawanya mereda.
"Entahlah, memangnya kakak pikir aku harus melakukan apa? Mencari tahu keberadaan pria aneh itu? No way, Kak." Tukasku sambil menggelengkan kepalaku kuat-kuat.
Kakak hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban yang keluar dari mulutku. Dan entah apa arti dari anggukannya itu. Terkadang kakakku ini selalu memiliki rencana yang mengejutkan di dalam kepalanya. Lagi-lagi aku hanya bisa mendengus kesal kepada kakakku.
***
Seminggu berlalu sejak pertemuanku dengan pria ajaib itu di airport. Dan jujur saja aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Terkadang pria itu selalu hadir dalam mimpiku.
Ada apa denganku sebenarnya? Argh, aku menggeram dalam hati. Dengan malas aku keluar dari ruang kelas, karena setelah ini aku tak memiliki mata kuliah lagi aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kampus. Aku ingat bahwa hari ini aku ada janji untuk bertemu dengan seorang CEO untuk membicarakan beberapa rencana kerja sama.
Sejak kakakku pergi meninggalkan Seattle akulah yang bertugas menggantikannya untuk menjalankan salah satu perusahaan milik Dad, padahal kuliahku tinggal sebentar lagi selesai. Jadi aku harus benar-benar bisa mengatur jadwalku dengan sebaik-baiknya. Di dalam mobilku selalu ada satu stel pakaian formal untuk ke kantor dan sepasang stiletto.
Sesampainya di perusahaan aku langsung bergegas masuk ke dalam ruanganku. Lalu mengganti pakaian casualku dengan pakaian formal. Setelah sedikit memoles wajah aku langsung keluar dari dalam toilet untuk menyiapkan beberapa berkas yang di perlukan untuk melakukan pertemuan ini.
Dan ketika aku sedang fokus menyiapkan berkas-berkas lagi-lagi aku teringat pria itu. Membuatku menghempaskan kembali tubuhku ke sandaran kursi. Yang aku lakukan hanya memandangi langit-langit ruanganku, padahal tadi Liz memberitahuku bahwa CEO itu sudah datang dan sedang menungguku di ruang pertemuan.
Aku mendengar suara pintu ruanganku terbuka. Namun aku masih tetap pada posisiku. Tak menghiraukan siapa yang telah masuk ke dalam ruanganku.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Glad?" Ternyata itu suara bariton milik kakakku. "Kami sudah menunggumu di ruang pertemuan." Lanjutnya.
Aku meliriknya sesaat dan kembali ke posisiku semula, "Mengapa tidak kakak saja yang memimpin pertemuan itu. Wakili aku saja, suasana hatiku sedang buruk, Kak." Jawabku malas.
"Tidak bisa seperti itu, Glad. Bagaimanapun juga jabatanmu di sini lebih tinggi daripada jabatanku." Jelasnya lagi.
Aku menghela nafas dengan keras, "Ya ya, baiklah aku akan menghadiri pertemuan itu." Ucapku sambil beranjak dari posisi dudukku.
"Kakak yakin kau akan betah selama pertemuan nanti." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Namun aku hanya menatap kakakku dengan kernyitan yang menghiasi keningku.
Selama perjalanan menuju ke ruang pertemuan yang terletak di ujung dari ruanganku. Kak Leon tak henti-hentinya tersenyum, membuatku merasa takut. Kakakku pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Kau baik-baik saja, Kak?" Tanyaku dengan tatapan menyelidik sebelum masuk ke dalam ruangan pertemuan.
"Sangat baik, ayo kita masuk." Jawabnya bersemangat sambil memutar kenop pintu ruangan pertemuan.
Di dalam sudah ada beberapa dewan direksi. Namun ketika mataku tertuju ke arah kiri urangan tubuhku rasanya limbung, untung saja kakak menahan tubuhku.
"Kau baik-baik saja, Glad?" Tanya Kak Leon khawatir.
"Y-ya, a-ku baik-baik saja." Timpalku sambil menarik nafas dalam-dalam. Lalu aku berjalan menuju tempat dudukku.
"Miss Collin, senang akhirnya kita bisa bertemu." Ia berdiri dari tempat duduknya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
Dengan ragu aku menjabat tangannya, "Selamat pagi Mr. Alderman. Maaf sudah membuat anda menunggu lama." Sebisa mungkin aku membuat suaraku terdengar tenang dan tidak gugup.
"Baiklah, bisa kita mulai sekarang." Suara kakak membuatku tersadar dan buru-buru melepaskan jabatan tangannya. Benar-benar memalukan sekali, tunggu pembalasanku Kak, aku menggeram kesal di dalam hati.
Kecanggunganku lambat laun menghilang ketika berada di dekat William ah maksudku Mr. Alderman. Karena aku ingin bersikap profesional dan mengesampingkan perasaanku yang sebenarnya sedang berkecamuk saat ini.
Kata sepakat telah kami setujui. Kerja sama kami akan segera di mulai minggu depan. Itu artinya aku akan lebih sering bertemu dengannya. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung mendadak karena kerja jantungku yang langsung tidak normal ketika berada di dekatnya.
Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiranku ketika bertemu dengan Jake. Sudahkah aku menyebutkan bahwa nama pria aneh itu adalah Michael Jacob Alderman? Astaga bagaimana bisa aku tidak mengenalinya. Padahal ayahnya Bradford Alderman adalah seorang konglemerat dan seorang CEO yang tangguh, handal dan tersukses.
Setelah beberapa hari bertemu dan berbicara dengannya Jake masih tetap saja tidak ingat denganku. Wanita yang tiba-tiba saja ia tolak di bandara tanpa sebab. Kasihan sekali nasibmu, Glad. Setelah di tolak sekarang pria itu tak mengingat kejadian itu sedikitpun. Jadi jangan pernah berharap ia akan meminta maaf kepadaku.
Seperti hari ini, ia datang mengunjungiku untuk membicarakan perkembangan dari proyek yang sedang kami kerjakan bersama. Lagi-lagi ia menunjukan sikap yang sama.
Jake apakah kau benar-benar tidak ingat padaku? Kau tidak ingat pada wajah wanita yang kau tolak mentah-mentah di bandara beberapa waktu yang lalu tanpa sebab? Kau tahu sejak hari itu kau membuat hari-hariku menjadi tidak seperti biasanya. Karena setiap hari aku gunakan hanya untuk memikirkanmu.
Apa yang kau miliki hingga membuatku jadi seperti ini, Jake? Mengapa kau membuat hidupku menjadi berputar-putar tanpa kutahu arah tujuanku? Rasanya ingin sekali aku meneriakan semua kata-kata itu tepat di depan wajahmu, namun aku tak bisa. Kata-kata itu seolah tersangkut dan kembali kembali tertelan.
"Kau baik-baik saja, Glad?" Tanya Jake sambil menatapku.
Tidak, "Ya, aku baik-baik saja, Jake." Jawabku cepat. Sejak kapan aku merasa baik-baik saja ketika bertemu denganmu, Jake.
"Jangan membohongiku, Glad." Tegurnya halus sambil kembali menatapku. Namun tatapannya kali ini berbeda dari biasanya.
"Aku baik-baik saja Jake, sungguh." Jawabku sambil berusaha membuat suaraku tetap terdengar normal.
Ia tersenyum simpul, "Kau tipe orang yang tidak pandai berbohong, Glad." Tebaknya lagi dan itu benar.
"Oh baiklah, aku menyerah. Aku hanya sedang memikirkan tugas akhir kuliahku. Apa itu salah?" Jelasku sambil memandangnya dengan tatapan yang intents. Bisakah kau menemukan kebenaran di mataku, Jake? Bisakah kau melihat bahwa penyebab semua ini adalah dirimu.
Namun yang aku dapatkan adalah ekspresi wajahnya yang tak terbaca. Entahlah, rasa-rasanya aku mulai lelah menebak-nebak. Bahkan aku sendiri tak tahu caranya bagaimana untuk mengatakan semua hal tentangnya yang terus saja berputar-putar di dalam kepalaku.
"Kau sedang jatuh cinta, Glad?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar