Senin, 23 Desember 2013

Bloody Love (When I was a little girl, I'm just a little girl then suddenly...)

Copyright©2013 by MayaKyla. All right reserved.

Di mohon dengan sangat tidak menyadur sebagian atau keseluruhan isi dari cerita ini tanpa izin dari Penulis. Say NO to PLAGIATSM!!!

Kalau banyak kejanggalan di cerita ini mohon maaf. Karena seperti itulah adanya yang ada di kepala saya.

Ini juga pertama kalinya saya menulis cerita seperti ini. Genre dan setting waktu yang saya pakai di cerita yang ini benar-benar baru sekali. Jadi kalau gak nyambung atau aneh mohon maaf.

---------------------------------------------------

Aku terlahir dengan nama Emerald Rain Rossetti, kau boleh Emerald. Tapi aku lebih suka jika kau memanggilku Emer, entah mengapa aku sangat senang dengan nama kecilku yang itu. Usiaku kini menginjak usia sepuluh tahun. Keluargaku merupakan salah satu keluarga terpandang di kota kami.

Mom dan Dad selalu memenuhi semua keinginan anak-anaknya. Kakakperempuanku Giovanna selalu meminta berbagai macam benda. Dari pakaian mewah, topi, sepatu dan berbagai aksesoris pelengkapnya. Bertolak belakang denganku, bagiku semua itu tidaklah penting. Apapun yang di berikan oleh Mom dan Dad aku akan menerimanya dengan senang hati.

Dan berbagai keanehan muncul sehari setelah usiaku genap berusia sepuluh tahun. Saat itu aku pergi ke sebuah taman hiburan bersama kedua orang tuaku. Karena aku hanya minta di temani ke tempat ini sebagai hadiah ulang tahunku. Namun sebelum berangkat Dad menemukan dua ekor kucing di dalam bagasi mobilnya dalam keadaan termutilasi menjadi beberapa bagian. Sangat mengerikan.

Sesampainya di sana aku langsung berlari menuju ke tempat bianglala. Sedangkan Mom dan Dad mengikuti dari belakang. Setelah mengantri cukup lama akhirnya tibalah giliranku masuk ke salah satu bilik di bianglala itu bersama seorang anak perempuan seusiaku yang entah siapa namanya. Aku terlalu kikuk jika bertemu dengan orang baru.

Roda pun mulai berputar, aku yang hanya seorang anak kecil mulai berteriak-teriak senang dengan penuh kegembiraan. Melihat pemandangan dari ketinggian benar-benar sangat indah. Semburat jingga yang menghiasi langit senja ini begitu indahnya. Dan akhirnya aku berada di puncak. Pemandangan yang di sajikan benar-benar lebih indah.

"Hei, pemandangannya benar-benar sangat indah sekali, bukan." Tanpa sadar aku berkata pada anak perempuan yang naik bersamaku itu.

Namun anak perempuan itu hanya menatapku sambil tersenyum aneh yang membuatku tiba-tiba merasa ketakutan. Penampilannya sangat aneh dengan gaun berwarna hitam pekat dengan detail yang tidak biasa, dan rambut panjangnya yang berwarna merah marun. Tatapannya terlihat kosong tapi... entahlah aku seperti melihat sesuatu di dalam sana.

Sesuatu yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Rasa takut yang semakin mencekam diriku, ingin aku berlari dan menjauh dari tatapan aneh anak perempuan itu. Namun tak mungkin, karena saat ini kami tengah berada di posisi paling puncak.

"Saatnya sudah tiba, Emer." Ucapnya dengan suara serak yang aneh dan seringaian menyeramkan tersungging di wajahnya.

Aku hanya bisa terpekik tertahan karena tiba-tiba saja aku mendengar suara sesuatu yang patah. Ya, tiang-tiang penyangga bianglala yang aku tumpangi mulai patah di ikuti oleh suara berdebam dari sebuah benda yang jatuh dari ketinggian yang saling bersahutan. Suara jeritan pun mulai terdengar di sana sini. Kepanikan langsung pecah dimana-mana dan suasanya

Anak perempuan aneh yang berada bersamaku hanya tersenyum. Sebuah senyum penuh kemenangan, entahlah aku tidak bisa mengartikannya. Yang aku lakukan hanya menjerit-jerit memanggil Mom dan Dad sampai suaraku parau dan hampir habis.

Hingga akhirnya bilik yang aku tumpangi terlepas dari tempatnya. Ketakutanku semakin menjadi, mataku terpejam berharap rasa takut yang semakin mencekikku ini berkurang meskipun hanya sedikit saja.

"Mommy......" teriakku sekencangnya dengan suara yang serak dan mulai habis karena menangis dan berteriak-teriak histeris. Hanya satu yang aku ingat dengan begitu jelas sebelum semuanya menjadi gelap.

"Kita akan bertemu lagi, Emer." Ucapnya di iringi dengan suara tawa yang menakutkan. Suara berdebam keras terdengar dan semuanya menjadi gelap.

***

Mataku terbuka perlahan, aku langsung menutup rapat kedua mataku kembali ketika sinar lampu mengenai mataku, rasanya sakit dan menyengat. Setelah beberapa saat mataku sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

Aku mengenali ruangan ini, kamar tidurku. Tapi tunggu dulu mengapa tubuhku tak bisa di gerakan. Rasanya ada sesuatu yang mengikatku di tempat tidur ini. Berkali-kali aku mencoba menggerakkan badanku namun tetap saja. Tertahan. Aku di ikat, tapi mengapa?

"Akhirnya kau bangun juga, pembunuh." Suara khas kakak perempuanku langsung mengalihkan perhatianku yang sedari tadi sibuk untuk melepaskan diri.

"Apa maksudmu, Kak?" Tanyaku tak mengerti.

"Kaulah yang menyebabkan insiden mengerikan itu. Kau juga yang membunuh Bruno anjing kita. Itulah mengapa Dan menyuruh pelayan untuk mengikatmu di tempat tidur." Jelasnya panjang lebar.

Namun semua penjelasannya itu semakin memperbanyak dan memperdalan kerutan di keningku. Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh kakakku. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Giovanna kakakku mengatakan hal yang aneh dan mengerikan seperti itu?

"Sungguh aku benar-benar tak mengerti dengan semua yang kakak katakan." Suaraku terdengar aneh.

"Kau iblis Emer, kau pembawa maut dan kutukan." Teriak Giovanna kepadaku sebelum meninggalkan kamarku.

Lagi-lagi aku hanya terpekur, berusaha untuk memahami semua kata-kata kakakku. Namun aku tetap mengerti. Hingga berhari-hari aku tetap dalam posisi terikat seperti itu. Hanya Mom dan nenek Rossemary yang selalu datang untuk menemuiku.

Tubuhku terasa sakit dan kaku akibat tali-tali yang mengikatku. Namun Mom hanya terdiam pilu ketika aku memohon sambil menangis agar ikatanku di lepas. Sedangkan Dad, hanya sekali ia menemuiku ia memandangku dengan tatapan penuh kebencian. Sama seperti tatapan yang di berikan oleh Giovanna kakakku.

***

Kondisi tubuhku semakin lemah, hingga pada suatu hari Dad melepaskan semua tali yang mengikat seluruh tubuhku.

"Kau kulepaskan, tapi jangan sekali-kali kau menampakkan dirimu di depan banyak orang. Jika kau melanggarnya kau akan mendapatkan hukuman yang lebih parah dari ini." Acam Dad dengan suara sedingin es.

Aku hanya bisa menundukkan kepala sambil menangis terisak. Aku memang hanya anak kecil, tapi mengapa Dad memperlakukan aku seperti itu? Mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Sepertinya Dad sudah sangat membenciku. Dad tidak sayang lagi padaku. Itu terbukti sejak ia melepaskan ikatan yang mengikatku Dad tidak mengijinkan aku untuk ikut makan bersama di ruang makan seperti biasanya. Dad juga tidak lagi membelikanku mainan atau pakaian seperti biasanya.

Sosok Dad yang dulu sangat menyayangiku sudah tak ada lagi. Aku merasa sendirian di rumahku. Bahkan yang terparah Dad melarangku untuk mendekati Mom. Hingga detik ini aku masih tidak mengerti mengapa Dad memperlakukan aku seperti ini.

Hari ini aku memberanikan diri untuk keluar dari kamarku. Aku berani keluar karena kedua orangtua dan kakakku sedang pergi bersama nenek Rossemary menemui salah satu kerabatnya.

Bisa keluar dari kamar rasanya sangat menyenangkan sekali. Membuatku tak henti-hentinya tersenyum sambil berjalan perlahan mengitari setiap ruangan yang ada di sini. Rasanya aku sudah bertahun-tahun tidak keluar dari kamar.
Dan ketika mendekati area dapur aku mendengar suara dari beberapa orang pelayan yang sedang bercakap-cakap. Ternyata mereka sedang membicarakan aku. Ya, aku yang sedang membicarakannya.

Entah mengapa emosiku memuncak ketika mereka menyebutku sebagai pembunuh. Emosi yang sebenarnya tak aku kehendaki. Namun semua terlambat, kemarahan itu kini menguasaiku. Sambil menantap nyalang aku mendekati para pelayan itu sambil memainkan sebuah pisau yang entah darimana asalnya. Karena pisau yang kupegang memiliki pegangan dengan motif yang sangat rumit dan tidak biasa.

Aku langsung menerjang para pelayan itu. Tanpa mempedulikan rintihan dan permohonan maaf mereka.

"Maafkan kami, Nona." Salah seorang pelayan merintih kesakitan akibat sabetan pisau di tangannya sambil memohon-mohon.

Namun aku tak menggubrisnya, aku malah semakin menggila. Aku langsung menerjang salah seorang pelayan yang berada dekat denganku. Lalu aku langsung menghujamkan pisau tepat di jantungnya. Dengan perlahan aku mencabut pisaunya dan menyayat beberapa bagian tubuhnya. Lalu menusuk-nusuknya dengan pisau.

Jeritan kesakitan yang mengiringi pekerjaanku terasa begitu indah. Terlebih lagi ketika pisauku menyayat bagian lehernya. Aku melakukannya dengan sangat perlahan. Ketika sudah setengahnya aku tersenyum puas melihat hasil karyaku kali ini.

Bau amis darah langsung memenuhi ruang dapur. Aku tertawa, sedangkan beberapa pelayan yang lain berteriak histeris melihatku bermain-main dengan tubuh rekan mereka.

Setelah puas aku langsung meninggalkan tubuh yang bersimbah darah itu. Aku tidak menuju ke kamarku, melainkan menuju keluar rumah. Melenyapkan apa saja yang menghalangi langkahku.

***

Aku membuka mataku ketika merasakan tubuhku berguncang dengan hebatnya. Suara teriakan Dad yang penuh amarah langsung membuatku terjaga.

"D-Dad, ada apa?" Tanyaku dengan suara yang bergetar karena ketakutan melihat kemarahan Dad.

"Jangan berlagak polos di depanku, Emer. Dengar, mulai detik ini namamu aku hapus dari daftar keluarga. Kau bukan lagi putriku. Pembunuh." Sentak Dad sambil melayangkan sebuah cambuk ke tubuhku.

Aku langsung mengerang kesakitan ketika Dad mencambukku dengan tiba-tiba. "Ampun Dad, tolong katakan ada apa sebenarnya ini? Aww..." cambuk itu kembali mendarat di tubuhku. Rasanya benar-benar sakit dan menyengat.

"Takkan pernah ada ampun untuk pembunuh sepertimu. Kau benar-benar sudah merusak nama baikku." Teriak Dad sambil melayangkan cambukannya untuk yang kesekian kalinya.

Lagi-lagi aku hanya bisa mengerang sambil menangis. Menahan rasa sakit di sekujur tubuhku, dengan kulit yang mulai mengelupas dan mengeluarkan darah. Namun Dad tetap tidak menghentikan perbuatannya. Ia malah semakin bernafsu untuk mencambukku.

Hampir setiap hari Dad menyiksaku. Memukuli tubuhku dengan berbagai benda. Ia hanya akan berhenti jika aku tidak sadarkan diri. Tak sanggup lagi menahan pukulan yang lebih banyak ini. Tapi Dad tak bergeming, ia akan langsung kembali memukulku jika tahu aku telah sadar dari pingsanku.

---------------------------------------------------

Yeaaahhh, akhirnya bisa menyelesaikan cerita ini. Ya ya saya tahu cerita ini tidak masuk akal dan banyak keganjilan di sana sini. Saya benar-benar awam di genre yang seperti ini.

Jadi mohon masukannya agar saya bisa memperbaiki semua kesalahan sata di chapter yang pertama ini.

Terima kasih sudah mau membaca...

.Adios ♡♡

Tidak ada komentar:

Posting Komentar