CLARISS
Patah hati... Ya itulah yang saat ini sedang aku rasakan. Penolakan tak masuk akal yang Vanno utarakan kepadaku beberapa hari yang lalu benar-benar membuat hatiku hancur. Mengapa ia tidak memberiku alasan yang lebih masuk akal meskipun hanya sedikit.
Di saat aku baru saja merasakan perasaan berbeda pada seseorang tapi perasaanku tak berbalas. Meskipun Vanno telah mengungkapkan semua perasaannya kepadaku tapi dia tetap tak bisa membalas perasaanku, itu sama saja dengan bertepuk sebelah tangan, bukan?
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Glad sahabatku yang baru saja tiba. Saat ini kami sedang berada di kantin kampus.
"Hai Glad." Sapaku dengan enggan. Rasanya semangat hidupku hilang entah kemana.
"Kau tidak biasanya seperti ini. Ada masalah apa?" Tanyanya lagi.
Aku menghela nafas, "Aku... patah hati, Glad." Gumamku.
"APA?" pekik Glad, "Kau patah hati? Sejak kapan seorang Clariss bisa patah hati? Lalu siapa pria yang telah berhasil membuatmu patah hati?" Ia langsung memberondongku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Bertanyalah satu-satu, Glad. Kau membuat kepalaku jadi bertambah sakit." Tegurku sambil meminum minumanku. Beginilah Glad kalau sudah penasaran, sama seperti kakaknya Kak Leon. Ngomong-ngomong tentang Kak Leon sejak dia kembali kesini aku belum bertemu dengannya.
"Hey, ayo jawab pertanyaanku? Mengapa kau senyum-senyum tidak jelas seperti itu?" Glad menyikut pinggangku.
"Hey, aku sedang minum Glad. Bisakah kau bertanya padaku dengan cara yang normal?" Tegurku sambil memelototinya. Terkadang aku heran dengan Glad yang sangat tomboy, padahal saat ini ia sedang memimpin sebuah perusahaan yang cukup besar dan bonafid.
"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu, Clasrissa?" Ia malah balik bertanya kepadaku sambil memutar kedua bola matanya.
Yah beginilah kami, terkadang kami bisa bertengkar seperti ini. Tapi pertengkaran kami tidak lama, kami seperti ini hanya main-main. Aku dan Glad merupakan dua pribadi yang memiliki perbedaan dalam segala hal. Namun karena perbedaam itulah kami bisa menjadi sahabat karib dari kami masih kecil sampai saat ini.
"Lalu bagaimana dengan masalah hatimu dengan pria tak di kenal yang tiba-tiba saja menolakmu di bandara?" Tanyaku, wajah Glad langsung berubah menjadi memerah.
"Dia ternyata seorang CEO, kemarin kami bertemu dan membicarakan rencana kerja sama perusahaan kami. Dan sepertinya ia tidak ingat padaku." Jelasnya, aku bisa merasakan bahwa ada perasaan sedih dari setiap kata-kata yang terlontar dari bibir Glad.
Aku hanya bisa menepuk pelah bahunya. Aku bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Glad saat ini. Sejak pertemuannya dengan pria itu Glad terlihat seperti mayat hidup. Pria itu berhasil memporak porandakan hati seorang Gladysta yang terkenal tomboy dan sangat cuek meskipun banyak pria yang mengejarnya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Glad." Gumamku, "Dan kau tahu Vanno mengungkapkan perasaannya kepadaku beberapa waktu yang lalu. Tapi tanpa alasan yang jelas dan masuk akal ia mengatakan bahwa kita tidak bisa bersama." Jelasku, dengan rasa sakit yang berdenyut-denyut di hatiku.
"Mengapa nasib percintaan kita sama-sama tidak mulus." Desahnya sambil menghembuskan nafas dengan frustasi beberapa kali.
"Setidaknya kau masih bisa mendapatkan cinta pria itu, Glad. Apalagi kalian akan lebih sering bertemu. Tidak sepertiku yang entah kapan bisa melihat Vanno lagi." Ucapku menghibur Glad.
"Jangan berkata seperti itu, Clariss. Aku sangat yakin sekali bahwa kau dan Vanno akan di persatukan suatu hari nanti. Tetaplah percaya pada hatimu, Clariss." Glad berkata sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
See, beginilah kami berdua. Setelah saling ejek dan "bertengkar" yang terjadi selanjutnya adalah kami saling menguatkan satu sama lain. Ah, aku sangat menyayangi sahabatku ini. Entah apa yang akan terjadi jika aku tidak memiliki sahabat seperti Glad di sampingku saat ini.
Mungkin saja aku takkan pernah pergi ke kampus lagi. Yang aku lakukan hanya menangis dan termenung di dalam kamar apartemenku entah sampai kapan.
It's midnight and I'm awake in this empty room
Thinking of you
Alone it's just me and my heart and the truth
What do I do?
Should I?
Should I let you in?
Should I?
And let this thing begin
Cause I'm tired of hiding from you
I need to know if it's the right thing to do
Cause you got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinkin of you
No more wakin to a dream that is oh so true
And baby you do
You got me shaken shaken
My world's shaken shaken
Got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinking of you
My world's shaken
Tonight I am waiting on the kiss of life (and to look in your eyes)
But for now all that I can do is fantasize that you'll be mine
Should I?
Should I blame me so bad?
When I wish I hadn't gone back
Cause I'm tired of hiding from you
I need to know if it's the right thing to do
Cause you got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinkin of you
No more wakin to a dream that is oh so true
And baby you do
You got me shaken shaken
My world's shaken shaken
Got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinking of you
My world's shaken
I've been waiting (oh)
I'm, I'm so confused
I just wanna be close to you
(Oh) You got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinkin of you
No more wakin to a dream that is oh so true
And baby you do
You got me shaken shaken
My world's shaken shaken
Got me shaken
And I don't know what to do when I'm thinking of you
No more waking to a dream that is oh so true
And baby you do
You got me shaken shaken
My world's shaken shaken
(Said you got me) shaken
And I don't know what to do when I'm thinking of you
My world's shaken
Shaken
Shaken!
My world's shaken
(Samantha Jade - Shaken)
***
VANNO
"Apa yang kau lakukan disini, Ray?" Tanyaku sambil memberikan tatapan sengit.
"Easy adikku, apakah kau tidak merindukan kakakmu ini, huh?" Ucapnya sambil tersenyum.
Raymond memang kakakku, tapi kami tidak pernah aku sejak kami masih anak-anak. Aku sudah lama sekali meninggalkan keluargaku, mereka keluarga angkatku. Meskipun Mom menyayangiku tapi tidak dengan Dad. Semenjak Mom meninggal Dad kerap kali memukulku jika aku tak mau mengikuti kemauannya.
Karena dialah aku menjadi seperti ini. Menjerumuskanku ke lembah kenistaan yang penuh dengan kejahatan. Tanganku kotor oleh darah orang-orang yang tak bersalah. Dad kerap kali mengancamku jika aku tak mau melakukan perintahnya untuk membunuh orang-orang yang di kehendaki oleh para kliennya.
Keluarga angkatku memang akrab dengan dengan dunia hitam. Bahkan Dad memiliki banyak sekali teman mafia. Berurusan dengan mafia sama saja dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri. Meskipun aku sudah melakukan tugas-tugas yang mereka berikan dengan baik, aku tetap saja mendapatkan siksaan dari mereka.
Mereka menempatkanku di sebuah ruangan yang kecil dan pengap. Seluruh tubuhku di lilit oleh rantai dan tergantung. Dalam posisi seperti itu mereka bisa dengan leluasa menghajarku. Mengoreskan pisau tajam ke lenganku berkali-kali, memukuliku dengan berbagai benda. Menjeritpun percuma, karena mereka takkan mau menggubris. Luka-luka di tubuhku mengeluarkan darah, tapi tak mereka hiraukan hingga akhirnya luka dan darah itu mengering dengan sendirinya. Bahkan ayah dan kakakku hanya tertawa ketika melihatku di siksa oleh mereka.
Hingga akhirnya aku bisa melepaskan diriku dari mereka dan mulai merintis perusahaanku sendiri. Dan inilah aku sekarang, orang-orang mengenalku sebagai seorang CEO muda yang sukses.
Tak seorang pun yang tahu bahwa aku "Black Shadow" pembunuh bayaran berdarah dingin yang terkenal di dunia hitam sana. Dan aku tak ingin orang-orang tahu tentang masa laluku yang teramat kelam itu. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu. Itulah mengapa aku tak ingin Clariss masuk ke dalam hidupku. Aku tak ingin dia terluka. Apalagi jika ayah dan kakakku tahu tentang Clariss yang sebenarnya.
"Apa yang kau inginkan?" Tukasku, aku tahu sekali jika kakakku datang kemari dia pasti menginginkan aku untuk melakukan sebuah pekerjaan.
"Bagaimana kabar kekasihmu itu?" Tanyanya sambil menuangkan whisky ke dalam gelas yang di pegangnya.
Tubuhku menegang, rasanya seluruh darah di dalam tubuhku berhenti mengalir, "Dia bukan kekasihku. Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku?" Desakku sambil mengalihkan pembicaraannya agar tak membicarakan Clariss. Bagaimana bisa Ray tahu tentang Clariss?
"Oke oke, jika wanita itu bukan kekasihmu berarti dia boleh jafi mainanku." Gumamnya dengan nada yang menyebalkan.
Dengan gerakan yang spontan aku langsung mendorongnya merapat ke tembok dan mencengkram kuat kerah kemejanya dengan kedua tanganku. "Jangan sentuh dia, atau kau akan berurusan denganku." Desisku marah.
"Mengapa tak kau katakan saja jika perempuan itu kekasihmu, Vanno." Ucapnya masih dengan senyuman licik di wajahnya.
"Apa yang kau mau?" Aku mengulangi pertanyaanku entah untuk yang keberapa kali.
"Dad ingin kau melakukan sebuah pekerjaan." Ucapnya sambil merapikan pakaiannya setelah cengkramanku terlepas.
"Pekerjaan apa?" Tanyaku dengan datar.
"Dad menunggu kedatanganmu besok siang di tempat biasa untuk menjelaskan semuanya." Jelasnya singkat.
"Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?" Tantangku.
"Maka wanitamu itu akan terkena imbasnya. Kau pilih saja mau yang mana." Jawabnya sambil mengibaskan tangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar