JUNIOR
"Junior... bangun mau sampai kapan kau tidur, sayang. Nanti kau terlambat masuk sekolah." Suara Mom yang rutin membangunkanku tiap pagi langsung membuatku membuka mata meskipun rasanya mataku masih ingin terpejam.
"Good morning my beautiful Mommy." Ucapku dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Cepat bangun atau kau akan terlambat ke sekolah. Dad dan adik-adikmu sudah menunggu di ruang makan." Mom berkata sambil membuka tirai yang menutupi jendela kamarku.
"Pagi ini Mom terlihat sangat cantik sekali. Pasti Papa Zach semakin terpesona dengan kecantikan yang Mom miliki. Ah, betapa beruntungnya aku memiliki Mommy yang sangat cantik." Godaku sambil mengedipkan sebelah mataku kepada Mom.
Mom langsung menghampiri dan berdiri tepat di depanku sambil melipak kedua lengannya, "Berhenti menggoda Mom, Junior. Karena godaanmu itu takkan pernah mempan untuk Mom. Cepat bangun, jika dalam setengah jam kau belum siap Mom akan menyita semua fasilitas yang di berikan oleh Papamu." Ancam Mom.
"Apa Mom juga akan menyita gitar pemberian, Dad?" Tanyaku dan langsung di jawab oleh anggukan oleh ibuku yang memang pada kenyataannya semakin cantik saja setiap harinya.
Terkadang aku suka berpikir mengapa dulu Dad memilih untuk meninggalkan Mom. Tapi sudahlah, toh yang terpenting bagiku adalah bisa melihat Mom bahagia bersama Papa Zach, "Duh, rayuan yang di ajarkan oleh Uncle Eric ternyata tidak mempan." Gumamku sambil beranjak dari tempat tidur dengan kesal dan menuju ke kamar mandi.
Sebelum menutup pintu kamar mandi aku masih sempat mendengar suara tawa Mom. Ah I love you Mom, ucapku dalam hati. Aku tak peduli dengan teman-teman sekolahku yang selalu mengolok-olokku sebagai anak mami padahal umurku sudah menginjak tujuh belas tahun. Karena pada kenyataannya aku memang sangat menyayangi ibuku.
Setelah selesai mandi dan berpakaian aku segera bergegas turun ke bawah dan menuju ke ruang makan.
"Good morning Pa, morning my lovely twin sister." Sapaku sambil duduk di samping Mommy dan segera melahap makanan yang sudah di sediakan.
"Pelan-pelan Kak, kau tidak sedang berada dalam kontes makan." Tiba-tiba Kayna mengunterupsi kegiatan makanku.
"Aku harus buru-buru jika tidak ingin terlambat." Jawabku dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Apakah kakak mau menjeput Kak Angel?" Tanya Kylie yang hanya aku tanggapi dengan anggukan saja.
"Tak perlu terburu-buru seperti itu Kak. Tadi Kak Angel menelepon dan mengatakan bahwa hari ini kakak tidak usah menjemputnya." Aku langsung tersedak mendengar kata-kata Kayna.
"Pelan-pelan Junior." Tergur Mom sambil memberikan gelas yang berisi air putih kepadaku.
Dengan tergesa aku langsung mengambil gelas yang di berikan oleh Mom dan segera meminunnya. "Kau bilang apa tadi Kay? Jangan bercanda, jika ada apa-apa Angel pasti langsung menghubungiku." Jawabku sambil menghentikan kegiatan makanku, selera makanku langsung menghilang begitu saja.
"Angel tadi memang menelepon kemari. Papa sendiri tadi mengangkat teleponnya. Angel bilang bahwa ponselmu tidak aktif makanya ia menelepon langsung ke rumah." Jelas Papa Zach.
"Astaga, aku lupa mengaktifan kembali ponselku semalam." Ucapku sambil nemepuk dahiku. Dasar Junior bodoh. Pasti Angel marah lagi gara-gara hal ini. Bodoh. Bodoh. Bodoh, aku terus saja merutuki diriku sendiri.
Buru-buru aku mengeluarkan ponsel yang berada di dalam saku celanaku dan segera menyalakannya. Ternyata benar saja, banyak sekali panggilan dan pesan dari Angel. Lagi-lagi aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal berkali-kali.
"Malang sekali nasibmu, Kak." Celetuk Lily sambil terkikik geli.
"Diam kau." Aku memelototinya dengan kesal.
"Jadi kau harus berangkat bersama kami berdua, Kak. Karena Papa tidak bisa mengantarkan kami ke sekolah." Ucap Kay di sela-sela kegiatannya mengunyah sandwich buatan Mom.
"Bilang saja kalau kalian berdua ini ingin pamer kepada teman-teman kalian bahwa kakak kalian ini sangat tampan." Ujarku penuh percaya diri.
Namun yang terjadi adalah Kylie dan Kayna terbatuk-batuk setelah itu tawa mereka berdua langsung meledak. Mereka berdua memang selalu menggodaku. Apalagi jika sudah menyangkut tentang Angel. Aku benar-benar di buat tak berkutik olehnya.
"Oh iya, bolehkah nanti Junior pergi menemui Daddy sepulang sekolah?" Tanyaku sambil menatap Mom dan Papa.
"Tentu saja boleh, Junior. Jangan lupa sampaikan salam dari Papa." Jawab Papa Zach.
"Terima kasih Pa, pasti Junior sampaikan." Timpalku bersemangat.
"Kakak, ayo kita berangkat sekarang. Aku tak mau datang terlambat karena menunggui kakak yang sedang melamun memikirkan Kak Angel." Celetuk Kay dengan manja.
"Iya iya, aku sudah selesai." Jawabku dengan malas. Angel. Nama itu yang membuatku pikiranku kacau.
Setelah berpamitan kami bertiga pun segera berangkat ke sekolah.
***
ANGEL
"Junior sudah menjemput, sayang?" Mom bertanya ketika aku hendak beranjak dari kursi.
"Ummm, tidak Mom. Hari ini Angel pergi ke sekolah bersama Ken." Jawabku sedikit takut karena takut Dad melarangku pergi ke sekolah bersama Ken.
"Ken?" Dad meletakkan koran yang sedang di bacanya di atas meja makan. Lalu memandangku sambil menyipitkan matanya.
"Iya Dad, tadi Kak Junior bilang bahwa ia tidak bisa menjemput dan berangkat bersama-sama ke sekolah." Jawabku berbohong, maafkan aku Mom, Dad.
"Mengapa Junior tidak bisa menjemput?" Astaga Dad mulai menginterogasiku. Ken pasti sudah lama menungguku.
"Dad, Kak Junior kan sebentar lagi lulus. Dia ada pelajaran tambahan pagi-pagi sekali." Lagi-lagi aku berbohong. Astaga, apa yang kau lakukan Angel, rutukku dalam hati.
"Ya sudah, cepatlah berangkat sayang. Kasihan Ken sudah terlalu lama menunggumu." Mom menengahi dan menyelamatkanku dari Dad yang posesif seperti Kak Junior.
"Angel berangkat dulu, ya. Bye Mom bye Dad." Pamitku sambil mengecup pipi kedua orang tuaku.
Dengan tergesa-gesa aku pergi menuju ke teras depan. Karena Ken sudah menunggu di sana. Aku benar-benar bingung, mengapa aku bisa dengan mudahnya menerima ajakan dari Ken untuk pergi ke sekolah bersama-sama.
Sudah bisa di pastikan bahwa Kak Junior akan marah jika mengetahui dan melihatku bersama dengan Ken. Terkadang aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Kak Junior. Tahu dari mana jika Ken itu tidak baik?
Bukankah sekarang ini Kak Junior sedang sangat sibuk sekali mempersiapkan kelulusannya. Belum lagi persiapan untuk melanjutkan ke universitas nanti. Ah, aku benar-benar bingung dengan statusku bersama Kak Junior.
"Selamat pagi Angel." Ken langsung menyambutku dengan senyumannya yang mematikan ketika melihatku datang.
"Hai Ken, maaf membuatmu menunggu lama." Balasku.
"Tidak apa-apa Angel, bisakah kita berangkat sekarang?" Tanyanya sambil mengedikkan bahunya ke arah mobil miliknya. Namun aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
Lalu kami segera berangkat ke sekolah atau kami akan terlambat masuk. Tapi yang terpenting adalah semoga aku tidak berpapasan dengan Kak Junior ketika sedang bersama Ken.
Dalam perjalan menuju ke sekolah aku hanya terdiam. Entah mengada ada perasaan bersalah menelusup dalam hatiku. Apakah ini gara-gara aku pergi bersama Ken? Ah, kau benar-benar membuatku bingung Kak, aku mendesah frustasi.
"Kau baik-baik saja, Angel?" Tanya Ken di sela-sela kegiatannya mengemudi.
"Aku baik-baik saja, Ken. Sebaiknya kau fokus menyetir saja, karena jika sampai terjadi sesuatu denganku mungkin saja kau akan di bunuh oleh ayahku." Jelasku sambil terkikik geli.
"Ayahmu benar-benar menyeramkan, Angel." Timpal Ken sambil tersenyum miris.
"Itu karena kau tidak mengenalnya, Ken. Buktinya Dad sangat akbrab dengan Kak Junior." Jelasku sambil tertawa.
"Jadi ternyata rumor itu benar." Ada sedikit kekecewaan dalam suara Ken.
"Aku dan Kak Junior memang tumbuh besar bersama, Ken. Tapi kami tidak di jodohkan." Jelasku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Tapi kau mencintainya, bukan?" Tanya Ken sambil menatapku tajam.
"Oh ayolah Ken, bisakah kita membicarakan hal yang lain saja. Aku tidak ingin membahas masalah ini." Jawabku dengan kesal.
"Oke, maafkan aku." Timpalnya sambil kembali menatap jalanan di depannya.
Sisa perjalan menuju sekolah kami habisnya dengan saling membisu. Tak banyak kata yang keluar dari mulutku ataupun Ken. Sampai akhirnya kami sampai di parkiran sekolah.
Ketika turun dari mobil aku melihat Kak Junior yang baru sampai juga. Wajahnya langsung berubah jadi tak terbaca ketika melihatku berjalan bersama Ken. Aku pikir Kak Junior akan menghampiriku, tapi ternyata aku salah. Ia berlalu begitu saja tanpa menolehku sedikitpun.
Aku yakin sekali bahwa Kak Junior marah. Meskipun ekspresi wajahnya sangat datar tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan perasaan yang sedang di rasakannya itu.
Susahnya mo komen di blog --". Wow...Jr udh gede skrg, udh jago ngerayu jga. Angel jga udh bisa bikin pikiran Jr kacau nih xD. Eitss tp Angel udh bljr boong nih. Siapa yg ngajarin? #jewer. Awas ya jgn bandel, nanti sm Daddy Gale dipelototin seumur hidup loh >< wkwkwk
BalasHapuswkwkwkwk
BalasHapusgk tau tuh di ajarin siapa. yg jelas bukan di ajarin Jr ya ... hahahaha