Aku langsung membeku ketika mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Jake. Bagaimana bisa ia tahu bahwa aku sedang jatuh cinta? Tapi aku yakin bahwa ia tidak tahu jika aku saat ini sedang jatuh cinta kepadanya.
"Dengarkan saya baik-baik Mr. Alderman yang terhormat, kehidupan pribadi saya tidak ada hubungannya dengan anda. Mau saya sedang jatuh cinta atau tidak kau tak berhak untuk mencampurinya. Dan ya, saya memang sedang jatuh cinta kepada seseorang." Tukasku dengan lantang. Tak tahukah kau bahwa penyebab semua ini adalah kau Jake. Kaulah pria yang telah membuatku jatuh hati.
Aku melihat pendaran kemarahan di matanya, rahangnya terkatup dan mengeras. Terlihat jelas sekali bahwa sedang terjadi pergolakan emosi di dalam dirinya. Tapi aku lebih memilih untuk tetap mempertahankan sikapku saat ini. Aku tidak ingin lemah di hadapannya.
"Dengar miss Collin, apapun yang sedang terjadi padamu menjadi urusanku. Tanggung jawabku." Jelasnya sambil menatap tajam kepadaku.
Belum sempat aku menyadari maksud dari kata-kata yang terucap dari mulutnya Jake pergi begitu saja. Meninggalkanku yang mematung dan terpekur tanpa bisa memahami ucapannya. Astaga, apa maksud kata-katanya itu? Benar-benar pria yang aneh.
Ia masih saja belum ingat dengan perlakuannya kepadaku ketika di bandara. Sangat menyebalkan, bagaimana bisa aku bertemu denga pria aneh seperti dia? Pria aneh yang membuat hidupku jadi tak pernah sama lagi dan jungkir balik.
Penuh warna, penuh kebingungan dan penuh tanda tanya. Sosok Jake masih tetap terpatri dengan begitu kuat di dalam hati dan pikiranku. Tak pernah aku merasakan perasaan yang seperti ini, aku masih sangat ingat pertemuan kami yang terbilang sangat aneh dan menyebalkan. Namun begitu terkesan dan begitu berbekas di dalam ingatan dan hatiku.
Di saat orang yang kini selalu menghiasi mimpiku setiap malam berada dekat di sampingku namun rasanya begitu jauh. Karena Jake tak mengingat kejadian itu sama sekali. Entah harus kulakukan apa agar Jake mengingatnya.
Mengatakan yang sebenarnya tak mungkin kulakukan. Tapi di lain sisi aku tak tahu harus berapa lama menyimpan dan memendam semua perasaan ini sendiri terus menerus. Lama-lama aku bisa gila. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Geramku dalam hati.
Dengan perasaan yang masih campur aduk, aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa mengerjakan semua pekerjaanku dengan suasana hati yang seperti ini. Dan pergi dari tempat ini adalah pilihan yang tepat.
Memacu mobil kesayanganku, aku memilih untuk pergi ke sebuah kafe yang ada di dekat sebuah pantai. Suasana kafe itu tidak terlalu ramai, salah satu tempat yang sering aku datangi ketika aku sedang membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.
Kafe ini begitu damai, suara deburan ombak di kejauhan benar-benar membuat hati menjadi tentram dan damai. Angin laut yang berhembus melalu jendela yang berada di sampingku menerpa wajahku dengan lembut. Mataku terpejam menikmati sensasi itu.
Lautan terhampar luas di depan sana. Terkadang aku selalu berpikir ada apa di sebrang lautan sana. Apakah ada suatu tempat yang benar-benar indah dan begitu tenang? Rasanya aku ingin sekali pergi dan menghilang dari semua ini untuk sementara waktu. Memikirkan Jake membuatku mulai merasa lelah.
Haruskah aku berhenti untuk memperjuangkan cintaku? Haruskah aku membunuh semua perasaanku pada Jake? Oh Tuhan, mengapa jatuh cinta sangat membingungkan dan begitu rumit seperti ini. Jika aku tahu rasanya seperti ini aku tidak mau jatuh cinta kepada siapapun.
Setelah menghembuskan nafas beberapa kali, aku kembali menyesap cappucino ice di hadapanku. Rasanya yang dingin, manis dan sedikit pahit bersatu padu di lidahku. Namun tak kurasakan rasa manis di sana, hanya rasa pahit yang mendominasi. Sepahit hatiku saat ini.
***
JAKE
Aku tahu siapa Glad sebenarnya. Ia adalah wanita yang menjadi korban pelampiasan kemarahanku beberapa waktu yang lalu. Bukannya tidak ingat dengan kejadian itu, hanya saja aku tidak mau terperosok ke lubang yang sama untuk yang kesekian kalinya.
Bagiku wanita adalah wanita yang paling kejam dan tak berperasaan. Senang mempermainkan perasaan setiap pria dengan tampilan fisik yang rapuh. Seolah-olah mereka adalah makhluk paling lemah di muka bumi ini.
Tapi apa yang mereka lakukan ketika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan? Dengan begitu mudahnya ia menendang dan membuang kita seenaknya. Seolah kita ini adalah sampah dan barang yang tak berharga sama sekali.
Siapa bilang pria tak bisa di sakiti? Siapa bilang kami para pria tak boleh menangis? Kami para pria juga memiliki perasaan. Begitu pula denganku, berusaha tegar menghadapi semuanya. Namun pada satu waktu aku akan berada di titik terendah. Aku hanya manusia biasa yang bisa merasakan sakit di khianati, menangis karena tersakiti secara batin.
Pada saat itu aku pergi ke bandara. Teringat akan janjinya lima tahun yang lalu, bahwa setiap satu tahun sekali ia akan datang menemuiku. Namun sosoknya tak kunjung muncul.
Di tahun kelima tanpa sengaja aku melihat sosok Glad di bandara. Ia terlihat seperti sedang mencari-cari seseorang. Sosoknya memingingatkan aku pada dirinya yang tak kunjung muncul. Menghilang bagaikan di telan bumi. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, tiba-tiba saja aku membentaknya.
Sedangkan Glad hanya menatapku dengan pandangan terkejut. Sempat pula aku melihat tatapan terluka dari sorot matanya meskipun sedikit. Wajar saja jika Glad merasa terluka karena secara tidak langsung aku telah melukai harga diri dan egonya sebagai seorang wanita. Walaupun kami tidak saling mengenal satu sama lain.
Tak bisa kupungkiri bahwa sejak pertemuan yang tidak sengaja itu wajah Glad selalu terbayang. Karena hati kecilku terus berteriak-teriak mengatakan bahwa Glad berbeda dengan dia. Sangat berbeda bahkan.
Meskipun begitu jauh di dasar hatiku aku masih mengharapkan dia kembali. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk bersikap acuh tak acuh kepada Glad ketika mengetahui bahwa dialah yang akan menjadi rekan bisnisku.
Aku kembali teringat oleh perkataannya tadi. Ia mengatakan dan bahkan membenarkan bahwa saat ini ia memang sedang jatuh cinta pada seseorang. Mendengar kata-kata itu entah mengapa dadaku terasa sakit, tanganku secara spontan menekan dadaku. Ada perasaan tidak rela jika Glad bersama pria lain. Bahkan emosiku tiba-tiba memuncak ketika membayangan Glad dengan pria lain. Aku tidak akan membiarkan Glad di dekati oleh pria manapun, dengan atau tanpa persetujuannya aku akan menjauhkannya dari para pria yang sedang mendekatinya.
Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi mengelak atau berpura-pura lagi. Mengingkari semua perasaan yang aku rasakan kepada Glad semakin lama semakin membuat dadaku sesak. Yang harus aku lakukan adalah mengubur dalam-dalam sosoknya dengan semua kenangannya.
Aku harus bisa terlepas dari belenggunya, belenggu tak kasat mata yang selama ini mengikatku pada sosoknya. Namun semua belenggu itu mulai rapuh ketika aku bertemu dengan Glad. Ya, hanya Glad-lah yang mampu membebaskanku dari semua ini. Aku harus mencoba membuka pintu hatiku untuk Glad.
***
Malam itu tengah di selenggarakan sebuah pesta yang di hadiri oleh para CEO dari berbagai kota. Glad dan Jake menghadiri pesta tersebut dan tanpa seseorang yang menemani. Baik Glad maupun Jake memiliki kesamaan tidak menyukai pesta, jika tidak terpaksa mereka berdua enggam untuk pergi. Terlebih lagi Glad yang agak tomboy.
Selama ini jika pergi ke kampus atau ke kantor Glad selalu memakai celana panjang dan dengan terpaksa memakai riasan tipis di wajahnya. Glad mengenal berbagai macam perlengkapan make up dari Clariss sahabatnya. Meskipun Clariss senang sekali berdandan namun riasan yang di pakai oleh Clariss terlihat natural. Itu pula yang menjadi alasan Glad ketika Clariss mendadaninya dan mengajarinya berdandan.
Malam itu Glad mengenakan gaun backless panjang menjutai berwarna putih. Warna yang netral dengan sedikit ornamen tetapi tetap terlihat elegan. Dengan rambut berwarna coklat gelapnya yang di biarkan tergerai serta riasan natural Glad berhasil menjadi pusat perhatian di pesta itu.
Tak sedikit para CEO muda yang berusaha mendekatinyan, tapi tanpa Glad sadari Jake selalu membayanginya dan membuat para CEO muda itu mundur secara teratur. Mereka segan karena tatapan setajam pisau yang di tunjukkan oleh Jake ketika ada pria yang berjalan mendekati Glad.
Sedangkan Glad asyik menyesap minumannya sambil sesekali menyahuti sapaan dari orang-orang yang menyapanya. Tapi setelah itu Glad lebih memilih untuk menyendiri, mencari tempat yang sepi dan jauh dari hingar bingar pesta. Maka dari itu Glad lebih memilih untuk pergi ke area balkon yang sepi sambil menikmati pemandangan langit yang kebetulan sedang di hiasi oleh bintang-bintang.
Jika bukan jabatan yang di berikan oleh ayahnya kini Glad takkan pernah mau menghadiri pesta semacam ini. Dan sang ayah tidak mau memberikan jabatannya kepada sang kakak, Leon. Semua orang tahu bagaimana kakaknya itu dalam menangani sebuah bisnis, bahkan sang kakak berhasil mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri tanpa campur tangan sang ayah. Itulah mengapa Leon hanya mendapatkan jabatan di bawah Glad.
Karena tugas Leon sebenarnya adalah mengawasi setiap kinerja Glad. Serta memberikan bimbingan kepada Glad, agar Glad benar-benar mampu berdiri sendiri.
Dalam diam Jake memperhatikan Glad yang sedang tenggelam dalam pikirannya di tepian balkon sambil memandangi bintang-bintang di langit dengan sebuah gelas berada dalam genggamannya. Ia terpesona melihat sosok Glad dalam balutan gaun berwarna putih yang pas memeluk tubuhnya. Sosoknya yang berada di dalam keremangan cahaya dan hanya terkena sedikit cahaya bintang terlihat sangat mengagumkan.
Glad terlihat seperti seorang dewi yang sangat rapuh. Berdiri di tepian balkon seolah-olah seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Akhirnya Jake memberanikan diri untuk menghampiri Glad yang masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Entah apa yang sedang di pikirkan olehnya, apalagi sejak kejadian beberapa hari itu Glad menghindarinya.
Bahkan ketika ada hal yang mengharuskannya berbicara dan membahasnya bersama, Glad tidak datang menemuinya dan Leon-lah yang datang menggantikannya. Leon juga sempat bercerita tentang perubahan sikap adiknya itu. Dan Jake sangat yakin bahwa ia yang menjadi penyebab perubahan sikap Glad. Hanya saja Jake tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.
Jake berhenti tepat di belakang tubuh Glad, wanita itu terlihat begitu ringkih. Keinginan untuk merengkuh tubuh mungil Glad begitu besar, namun ia berusaha keras menahan keinginannya itu. Tapi tiba-tiba tubuh Glad menggigil kedingingan, Jake pun dengan sigap langsung melepaskan jas yang di kenakannya dan menyampirkannya di tubuh Glad.
Tubuh wanita itu langsung menegang ketika ada sesuatu yang tersampir di pundaknya. Glad langsung memutar tubuhnya, ekspresi terkejut langsung terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Kau... Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya sambil hendak melepaskan jas milik Jake yang kini tersambil di tubuhnya.
"Pakai saja, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, Glad." Tutur Jake sambil menatap Glad dengan begitu intens.
"Ah, terima kasih." Jawab Glad singkat, kemudian ia kembali ke posisinya semula.
"Bolehkah aku menemanimu disini?" Tanya Jake.
"Terserah kau saja, Jake." Jawab Glad sambil menyesap minumannya. Akhirnya Jake mengikuti hal yang sama dengan Glad. Memandangi keindahan langit malam dalam diam.
"Langitnya sangat indah, ya." Celetuk Jake.
"Ya, malam ini langitnya memang indah. Akan semakin indah jika ada rembulan yang ikut muncul juga." Jawab Glad dengan pandangan menerawang menatap langit.
"Aku mau minta maaf, Glad." Ucapan Jake yang tiba-tiba itu langsung menarik perhatian Glad.
"Maaf untuk apa, Jake?" Glad menghenyitkan keningnya tak mengerti.
"Aku minta maaf untuk semuanya, Glad. Maaf atas perkataanku beberapa hari yang lalu dan maaf karena selama ini aku berpura-pura tidak mengingatmu atas kejadian di bandara beberapa waktu yang lalu." Tutur Jake.
"Jadi... Jadi selama ini kau berpura-pura tidak mengingat kejadian di bandara waktu itu, Jake?" Pekik Glad. "Kau benar-benar keterlaluan, Jake. Kau... sudahlah." Tukas Glad lelah.
"Aku kacau Glad, benar-benar kacau. Pertemuan denganmu saat itu membuatkj kacau." Tutur Jake.
"Aku... Aku tak tahu apa namanya perasaan yang aku rasakan kini sejak pertama kali bertemu denganmu, Glad. Berusaha menjauhimu hanya mebuatku semakin tersiksa." Jake kembali menjelaskan.
"Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan, Jake." Timpal Glad sambil menghela nafas dengan kasar.
"Aku ingin mencoba membuka hatiku, Glad. Aku tak ingin terus menerus terpuruk pada masa lalu." Ungkapan jujur Jake membuat kerutan di kening Glad semakin dalam.
"Aku semakin tak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, Jake." Glad menatap Jake tepat di iris matanya.
"Bantu aku agar keluar dari gelembung masa laluku, Glad. Sudah terlalu lama aku terperangkap dengan masa laluku." Tutur Jake.
"Aku tak tahu bagaimana harus menolongmu, Jake. Mengapa tak kau cari saja wanita lain." Glad menimpali.
"Tidak bisa Glad, hanya kaulah yang bisa menolongku. Gladysta, maukah kau menjadi kekasihku?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar